← Back to list

Hilangnya Seni Mendengarkan

Seperti biasanya, aku berusaha menghubungkan apa yang aku baca dengan kejadian apa yang sedang kualami. Meminjam perkataan dari Pak…

Fajar Sidik · 2025-05-11 14:54 · 117 claps · 3.7 min read
#indonesia #ulasan-buku #literasi #pengembangan-diri #mendengarkan
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment

Hilangnya Seni Mendengarkan

Photo by Brett Jordan on Unsplash

Photo by Brett Jordan on Unsplash

Seperti biasanya, aku berusaha menghubungkan apa yang aku baca dengan kejadian apa yang sedang kualami. Meminjam perkataan dari Pak Fahrudin Faiz, “kita itu harus nyari kerelevanan atas apa yang kita pelajari dengan hidup yang kita jalani”. Tentu, hal tersebut tidak lain dan tidak bukan agar kualitas kehidupan kita ter-upgrade.

Tepatnya, di saat momen Idul Fitri yang baru saja terjadi di tanggal 30 Maret 2025 kemarin aku menyadari suatu hal. Di dalam aturan Islam, ketika seorang khatib (penceramah) berdiri di atas mimbar maka semua jamaah yang menghadiri diharuskan diam dan menyimak apa yang disampaikan. Di tengah-tengah zaman yang bising ini, diam beberapa waktu saat khutbah dibacakan menjadi suatu salep ketenangan yang menyembuhkan.

Setiap penjuru berisik, apalagi di era media sosial yang memberikan ruang kepada setiap orang untuk menjadi “berisik”. Setiap orang seakan berlomba menonjolkan diri, setiap orang seakan ingin berbicara seperti pakar, meskipun julukannya sebagai pakar “Universitas Google”. Disibukkan dengan kabar satu, juga kabar yang lainnya. Terkadang saling menghujat, terkadang juga saling memberikan feedback yang baik. Tentu ada baiknya, ada buruknya juga. Akan tetapi, di tengah-tengah tuntutan seperti itu, maka lahirlah penyakit-penyakit baru seperti FOMO (takut ketinggalan info terbaru), anxiety, dan masih banyak lagi penyakit-penyakit sosial dan mental belakangan ini.

Ketika momen mendengarkan khutbah Idul Fitri kemarin semua orang fokus kepada si penceramah. Sisanya, hening. Semuanya tidak terdistraksi. Namun, ada beberapa kebisingan tentunya seperti dari bayi yang menangis, bayi yang tertawa, suara batuk, atau bersin. Tapi justru ketika tidak “banyak suara” terjadi, maka permasalahan-permasalahan yang seharusnya menjadi pusat perhatian kita bersama menjadi jelas terlihatnya. Barangkali, di era yang serba bising ini, semua orang jadi sulit mendengar mana yang penting dan mana yang tidak penting. Bahkan, bisa saja kita melewatkan hal-hal yang seharusnya penting kita dengarkan, malah kita lewatkan begitu saja. Tenang, di sini aku tidak sedang membahas soal pengalihan isu yang sering dilakukan pemerintah planet Namek. Meskipun masing-masing dari kita pasti bisa menilainya.

Kate Murphy Di dalam bukunya yang berjudul You’re Not Listening: Hal-Hal Penting yang Kita Lewatkan Ketika Kita Tidak Sungguh-Sungguh Mendengarkan menjelaskan pentingnya kemampuan mendengar tersebut. Dia membahas terkait pentingnya kemampuan mendengarkan satu sama lain, cara menjadi pendengar yang baik, mendengarkan dari bahasa nonverbal, sampai topik terkait kapan kita harus mendengarkan.

Di dalam salah satu babnya yang berjudul “Hilangnya Seni Mendengarkan” dia menjelaskan permasalahan-permasalahan yang terjadi dewasa ini. Saya sudah menjelaskannya di pendahuluan tulisan ini, terkait perkembangan teknologi yang memiliki dampak untuk kehidupan sosial, dan bagaimana cara kita berinteraksi satu sama lain. Tentunya, teknologi hanyalah salah satu permasalahan saja. Akan tetapi, baru saja masalah teknologi sudah banyak sekali permasalahan yang terjadi. Belum lagi yang lainnya. Jika kita biarkan begitu saja, barangkali kita akan ikut hanyut juga ke dalamnya.

Entah ada pengaruhnya dari “rasa ingin tampil” di media sosial atau tidak. Pun di percakapan sehari-hari kita benar-benar sudah kehilangan seni untuk mendengarkan tersebut. Jika kita pernah bertemu dan bercakap-cakap dengan orang yang inginnya mendominasi pembicaraan dan selalu memotong apa yang diucapkan orang lain, selamat, kita sudah merasakannya secara langsung. Rasanya tak akan pernah ada rasa nyaman jika duduk terlalu lama dengan orang yang memiliki ego yang selalu ingin didengarkan tanpa mau mendengarkan. Nah, menurut Kate Murphy, pola komunikasi seperti ini tidak akan efektif. Sebuah percakapan yang seharusnya menjadi wadah untuk saling bertukarnya isi pikiran, malah didominasi oleh salah seorang saja. Jelas pola komunikasi tersebut tidak akan menemukan kesepakatan. Kita tentu bisa membedakan mana khutbah, mana juga obrolan sehari-hari. Ya, seharunya.

Bahkan bagi sebagian orang yang sering tidak didengar. Terkadang mereka berpikir, “apakah sebetulnya ada orang yang ingin mendengarkannya?”. Oleh karena itu, mereka ingin terus didengarkan. Berisik di media sosial, juga berisik di dunia nyata. Memotong dengan cara yang tak sopan, dan berujung kesalahpahaman. Oleh karena itu, mereka yang berpikiran seperti ini terus “mencari orang yang bisa mendengarkannya”. Padahal, dia lupa, jika setiap orang mencari yang bisa mendengarkan, maka sampai kapan pun tidak akan ada orang yang mau menjadi orang yang mendengarkan.

Sederhana, alih-alih kita ingin didengarkan maka menjadi pendengar yang baik adalah sebuah pilihan yang lebih baik. Adakalanya kita menarik diri terlebih dahulu dari kebisingan-kebisingan yang ada, berusaha “mendengarkan” yang tak bisa diungkapkan oleh keberisikan tersebut. Lalu, menjadi seorang pendengar yang baik bagi sekitar kita. Pendengar yang baik, adalah mereka yang ketika mendengar, juga merasakan apa yang didengarnya. Tidak harus semuanya kita dengarkan, terlebih di era kebisingan sekarang. Pilih hal yang terbaik, di keheningan, kita mendengar apa yang seharusnya kita dengarkan. Agar besok-besok kita tidak melewatkan sesuatu yang berharga dalam kehidupan.

Berikut saya kutip penggalan paragraf di buku Kate Murphy tersebut:

“To listen well is to figure out what’s on someone’s mind and demonstrate that you care enough to want to know. It’s what we all crave; to be understood as a person with thoughts, emotions, and intentions that are unique and valuable and deserving of attention. Listening is not about teaching, shaping, critiquing, appraising, or showing how it should be done (“Here, let me show you.” “Don’t be shy.” “That’s awesome!” “Smile for Daddy.”). Listening is about the experience of being experienced. It’s when someone takes an interest in who you are and what you are doing. The lack of being known and accepted in this way leads to feelings of inadequacy and emptiness. What makes us feel most lonely and isolated in life is less often the result of a devastating traumatic event than the accumulation of occasions when nothing happened but something profitably could have. It’s the missed opportunity to connect when you weren’t listening or someone wasn’t really listening to you.”


메타데이터
post_id
02f0eeeb3ee0
slug
hilangnya-seni-mendengarkan-02f0eeeb3ee0
url
https://medium.com/@fajars04/hilangnya-seni-mendengarkan-02f0eeeb3ee0
canonical_url
https://medium.com/@fajars04/hilangnya-seni-mendengarkan-02f0eeeb3ee0
author_url
https://medium.com/@fajars04
status
ok
fetched_at
2026-08-10 01:05:38