Sistem Pertahanan Diri yang Bernama "Secukupnya"
Dulu, kalau ada orang yang diminta mendeskripsikan diriku, kata "ceria" dan “friendly” pasti akan selalu berada di urutan teratas. Aku…
Sistem Pertahanan Diri yang Bernama "Secukupnya"
Photo by Clay Banks on Unsplash
Dulu, kalau ada orang yang diminta mendeskripsikan diriku, kata "ceria" dan “friendly” pasti akan selalu berada di urutan teratas. Aku adalah tipe orang yang energinya seolah tidak ada habisnya, selalu menyapa lebih dulu, dan selalu berusaha membawa suasana hangat di mana pun aku berada. Ceria yang benar-benar ceria, tanpa beban, dan temanku bilang rasanya semua orang bisa dengan mudah mengakses energi positifku itu.
Namun, waktu berjalan dan fase hidup berubah—terutama sejak aku mulai memasuki dunia kerja. Dunia kerja ternyata mengenalkanku pada banyak realitas yang belum pernah aku temui sebelumnya. Menghadapi berbagai tekanan pekerjaan, memahami karakter orang yang berbeda-beda, hingga melewati dinamika yang menguras energi, perlahan-lahan mulai membentuk ulang cara pandangku. Aku sadar ada yang berubah dari dalam diriku. Berbagai pengalaman yang aku lalui di sana menuntutku untuk tidak lagi memandang segalanya dengan kepolosan yang sama seperti dulu .
Sebagai orang baru, dahulu aku terlalu polos dan selalu berpikiran positif pada semua orang. Kenyataannya, dunia kerja tidak selembut yang aku bayangkan. Kepolosan itu justru membuatku dimanfaatkan. Tidak sampai di situ, aku juga sempat berada di titik di mana aku direndahkan oleh seseorang.
Rasanya sakit? Pasti. Muncul rasa kecewa yang mendalam, dan jujur, semua hal itu sempat aku batinkan sendiri. Tapi di tengah semua perlakuan buruk itu, aku mengambil keputusan besar: aku tidak akan membalas mereka dengan sikap yang sama buruknya. Aku tidak ingin mengotori hatiku hanya untuk membalas orang-orang seperti itu. Jadi, ketika mereka mengajakku berbicara, aku tetap merespons dengan baik dan profesional. Aku tidak pernah mengambil pusing secara terang-terangan, meski batinku harus berjuang keras menyembuhkan lukanya.
Dari rentetan pengalaman pahit itulah, cara pandangku akhirnya bergeser. Perubahan yang aku rasakan sekarang bukan berarti aku bertransformasi menjadi orang yang cuek, sinis, atau dingin. Wajahku tidak lantas berubah menjadi datar tanpa ekspresi. Aku tetaplah orang yang menghargai keramahan.
Hanya saja, perubahan ini adalah bentuk respons alami yang cerdas dari tubuh dan jiwaku sendiri. Setelah melewati sekian banyak hal yang melelahkan dan menguras air mata, sistem di dalam diriku seolah menyalakan mode pertahanan diri dan berbisik, "Sudah, tidak perlu terlalu gimana-gimana lagi. Biasa aja."
Tubuhku tahu kapan ia harus mengerem agar aku tidak gampang dimanfaatkan atau tumbang lagi. Menyadari hal itu, aku yang sekarang akhirnya memilih untuk berjalan di titik tengah yang aman. Kini, kalau sedih, ya secukupnya saja—aku menikmatinya tanpa harus membiarkan diriku terpuruk terlalu dalam. Kalau bahagia, juga secukupnya—aku mensyukurinya tanpa harus melambung terlalu tinggi.
Keceriaan yang dulu meledak-ledak kini telah melunak, bertransformasi menjadi sebuah ketenangan dewasa yang bertugas menjaga langkah dan kedamaian isi kepalaku.
Dari semua seri kehidupan yang aku lewati pahit manisnya, berada disini adalah salah satu hal yang sangat aku syukuri sampai saat ini.
메타데이터
- post_id
- 0ceaec461edb
- slug
- sistem-pertahanan-diri-yang-bernama-secukupnya-0ceaec461edb
- url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/sistem-pertahanan-diri-yang-bernama-secukupnya-0ceaec461edb
- canonical_url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/sistem-pertahanan-diri-yang-bernama-secukupnya-0ceaec461edb
- author_url
- https://medium.com/@jurnalkia
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 03:39:16