Doa Yang Menjadi Tulang
Pagi buta ia memulai hari, melangkahkan kaki dengan menyeret matahari beserta seisi semesta. Bukan karena ia mencintai langit, melainkan…
Doa Yang Menjadi Tulang
Pagi buta ia memulai hari, melangkahkan kaki dengan menyeret matahari beserta seisi semesta.
Bukan karena ia mencintai langit, melainkan karena ada rumah yang menunggu langkahnya seperti doa yang tak pernah selesai diaminkan. Bahunya ditumpuki fajar yang sayup-sayup menjadi lembayung yang menumpuk seperti debu pada rel tua, ia pendam diam di sela hela napas yang tak sempat kau hitung. Di jalan-jalan yang panjang, ia meninggalkan sebagian umurnya. Sedikit di lampu merah, sedikit di kursi kendaraan, sedikit di meja kerja. Orang-orang melihatnya sebagai langkah, sebagai angka, sebagai nama yang hilang di daftar hadir. Ia tak pandai bicara, hanya memendam cerita yang ia kantongi sendiri di saku kemeja kerja. Ia tak mahir menangis, hanya bersembunyi di balik peluhnya yang hilang dalam usapan lengan baju. Sebab di rumah, ada sepasang mata yang percaya bahwa dunia tidak pernah sejahat kenyataannya. Maka ia membiarkan dirinya habis. Tahun demi tahun, tubuhnya menjadi kalender yang dicoret waktu secara kejam. Keriput tumbuh seperti catatan kaki dari pengorbanan yang tak pernah ditulis sejarah. Namun ketika pulang, ia selalu menyimpan senyum di tempat yang sama— di antara lelah dan kehancuran yang berhasil disembunyikannya. Sebab ada cinta yang tidak hidup di bibir, melainkan menjelma tulang, menopang orang lain sampai dirinya sendiri nyaris runtuh
메타데이터
- post_id
- 1bd6c8a34ed3
- slug
- doa-yang-menjadi-tulang-1bd6c8a34ed3
- url
- https://medium.com/@melaniawr03/doa-yang-menjadi-tulang-1bd6c8a34ed3
- canonical_url
- https://medium.com/@melaniawr03/doa-yang-menjadi-tulang-1bd6c8a34ed3
- author_url
- https://medium.com/@melaniawr03
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30