← Back to list

Cerpen #1 : Saat Ombak Menyentuh Awan

Bab 6 : Gunung Kembar

TeraNetra_Write · 2025-06-26 14:38 · 0 claps · 6.3 min read
#cerpen-indonesia #cerpen #fantasi #sihir #monsters
Open on Medium ↗

Cerpen #1 : Saat Ombak Menyentuh Awan

Bab 6 : Gunung Kembar

Karya : Renzzyy

“Ayo, Sherly! Cepat!” suara Moluo terdengar serak, terengah, namun penuh desakan.

Tanpa menoleh, Sherly mempercepat langkahnya, jubahnya tersangkut ranting, namun ia tak peduli. Nafasnya memburu, jantungnya menggedor seperti genderang perang. Di belakang mereka, langit seolah terbelah. Kawanan burung hitam berhamburan ke angkasa, terbang liar dalam kepanikan purba.

Itu tandanya. Ragot masih mengejar. Dan ia semakin dekat.

Dari celah-celah pepohonan tua yang berbisik dalam kegelapan, sihir kelam merayap seperti kabut pekat. Di suatu tempat jauh di seberang hutan, seorang penyihir berdiri dalam lingkaran cahaya merah darah. Doti, si pengendali kegelapan. Di tangannya, bola kristal merah menyala, memantulkan bayangan dua remaja yang kini menjadi buruannya.

“Kalian tak akan bisa bersembunyi.” Desisnya, pelan, penuh racun. Senyumnya miring, dingin. “Monster Ragotku mencium aroma sihir, dan kalian… sudah kutandai.” Matanya berkilat. Bola kristalnya berdetak seperti jantung yang lapar.

Moluo dan Sherly masih berlari, napas mereka menjadi senjata terakhir yang tersisa. Energi sihir mereka nyaris habis. Mereka kini tak lebih dari dua remaja ketakutan yang bertaruh nyawa di tengah hutan yang bahkan cahaya pun enggan menembusnya.

“Sher, Mira, apa bisa menemukan tempat persembunyian?” tanya Moluo, suaranya nyaris hilang dibawa angin.

Sherly menggertakkan giginya. “Mira bisa… tapi sihirku tak cukup kuat untuk memastikan tempat itu aman.” Jawabnya. Matanya terus mengawasi sekitar, tubuhnya bergetar karena lelah dan ketakutan.

Tiba-tiba Moluo menghentikan langkah. Sherly nyaris menabraknya.

Di depan mereka menganga jurang dalam, seolah memisahkan dunia yang hidup dan dunia yang telah dilupakan.

Sebuah jembatan tua tergantung di atasnya — kayu-kayunya lapuk, tali penggantungnya telah dimakan usia. Satu hembusan angin bisa merobohkannya.

“Kita harus menyeberang. Satu-satunya tempat aman… ada di Gunung Kembar itu,” ujar Moluo lirih, namun pasti.

Sherly memandang puncak kembar yang menjulang jauh di seberang. Kabut mengelilinginya, menyembunyikan apa pun yang tersembunyi di dalam. “Ada apa di sana, Moluo?”

Moluo tidak menjawab. Matanya menatap kosong, seolah sedang menggali kembali kenangan yang tak ingin ia ingat kenangan yang mengandung jawaban, dan mungkin, alasan mengapa tempat itu aman dari monster Ragot.

“Kita harus menyeberang… sekarang. Sebelum Ragot menemukan kita.” Nada suara Moluo berubah tajam, tegas, dingin.

Sherly menggigit bibirnya. “Tak ada mantra yang cukup untuk membawa kita ke seberang dengan aman,” pikirnya cepat.

Namun sebuah ide meledak di otaknya.

“Kita bisa. Tapi ini akan butuh kecepatan… dan sedikit keajaiban dari otot, bukan sihir.” gumamnya. Wajahnya kini dipenuhi tekad.

Mereka mulai bergerak. Moluo merapal mantra api ringan, cukup untuk menghanguskan ujung kayu, agar kuat disambung. Tapi sihir itu menyedot tenaganya wajahnya pucat, tubuhnya gemetar. Sherly, tanpa menunggu, memikul batang kayu satu per satu, mengaturnya secara diagonal, sementara matanya terus melirik ke balik pepohonan. Setiap suara — daun jatuh, angin berdesir, ranting patah bisa jadi pertanda Ragot sudah tiba.

“Kita harus selesaikan ini sebelum gelap,” ucap Sherly, keringatnya mengalir deras, matanya nyalang.

Moluo mengikat serabut akar sebagai penguat penyangga. Di sisi lain, Sherly memasang jebakan magis sederhana, jebakan terakhir. Bukan untuk mengalahkan Ragot, tapi cukup untuk memperlambatnya.

Tiba-tiba… tanah bergetar pelan.

“Sherly…” bisik Moluo. “Dia datang.”

Dari kedalaman hutan, terdengar deru napas kasar. Pohon-pohon bergetar. Seekor siluet hitam dengan mata merah menyala muncul di balik kabut.

Monster Ragot telah menemukan mereka.

Dan waktu mereka hampir habis.

Langit di atas Hutan Botu memerah, seperti luka yang menganga. Awan-awan bergulung berat, menandakan malam sebentar lagi akan mencengkeram bumi. Di tepi jurang, Moluo dan Sherly berdiri di samping sebuah katapel raksasa yang mereka bangun dengan tangan gemetar dan sisa sihir terakhir. Sebuah keajaiban dari kerja keras, keberanian, dan keputusasaan.

Mereka duduk, tidak untuk beristirahat, tapi menunggu dengan tubuh siap melompat, dan jantung menunggu aba-aba dari bahaya.

Monster Ragot.

Ia adalah kunci dari misi ini. Dan mereka tahu: satu langkah saja meleset, kematian bukan lagi kemungkinan, tapi kepastian.

Tanah bergetar.

Kerikil-kerikil kecil meloncat dari tanah, rumput melambai panik, udara berdesir berat. Getaran itu bukan sekadar pertanda itu adalah alarm dari neraka.

Moluo berdiri, memegang pergelangan tangannya yang masih tergores akibat pertempuran sebelumnya. “Dia datang… Sherly, percayalah pada rencana kita.” Suaranya rendah, tapi penuh keyakinan yang hampir putus asa.

Sherly hanya mengangguk, tangan gemetar namun mata tajam. Di balik matanya, rencana itu terus diputar ulang, seolah berdoa agar dunia tidak mengejek keberanian mereka.

Dan lalu “AKU MENEMUKAN KALIAN!!”

Suara itu mengoyak hutan. Seperti guruh yang dipelintir iblis, disusul tawa menyeramkan yang menusuk ke sumsum.

“KALIAN TAK AKAN BISA LARI… HAHAHAHA!!”

Ragot muncul dari balik pepohonan. Raksasa hitam dengan mata membara, taring merah darah, dan tanduk bengkok yang menusuk langit. Ia berlari seperti badai, pohon-pohon tercerabut, tanah pecah, dunia bergetar.

Tiba-tiba: “CLAKK!!”

Satu jebakan tanah terbuka. Monster itu jatuh. Moluo dan Sherly tak bersorak karena mereka tahu, itu hanya pengalih.

Benar saja.

Dengan dentuman yang membuat tanah berguncang, monster Ragot melompat keluar dari lubang perangkap. Tanah di sekitar bergetar saat ia mendarat, wajahnya menampilkan tawa mengejek.

“JEBAKAN MURAHAN! KALIAN MENGIRA ITU CUKUP UNTUK MENGHENTIKANKU?!”

Seketika ia melesat maju, melompat ke arah mereka. Dan tepat saat monster itu menjejak tanah di belakang mereka.

“PRANGGGG!!”

Tali pengikat katapel terlepas. Suara gemuruh dan hempasan sihir menyatu. Tubuh Moluo dan Sherly melesat ke udara, membelah angin dengan kecepatan luar biasa. Mereka terlempar seperti anak panah raksasa, melintasi jurang menganga.

Monster Ragot melolong marah, lalu melompat mengejar, cakarnya hampir menyentuh kaki Moluo.

Hanya sejengkal.

Tanduk monster itu hanya menyambar udara. Dan detik berikutnya.

“GRRAAAAA… AAAAAHH!!”

Monster Ragot jatuh ke jurang, raungannya menggema hingga ke langit yang semakin gelap.

Moluo dan Sherly terhempas keras di sisi seberang. Tubuh mereka terbanting di atas batu-batu cadas. Napas tercekat. Tulang terasa remuk.

“AWW, sakit banget, Sher…” keluh Moluo, meringis saat Sherly menempelkan tangan di luka punggungnya dan merapal mantra penyembuh. Cahaya lembut keluar dari telapak tangannya, mengalir masuk ke dalam luka Moluo.

Sherly tak berkata banyak. Tapi matanya tajam, masih menyimpan pertanyaan.

Setelah diam sesaat, ia bertanya lirih namun tegas, “Sekarang jawab, Moluo. Ada apa sebenarnya di Gunung Kembar ini?”

Moluo menatapnya. Lama. Hening. Seperti sedang menimbang apakah ia siap membuka pintu masa lalu yang telah lama ia kunci.

Akhirnya ia bicara. Pelan, berat, namun jelas.

“Gunung Kembar… adalah tempat yang dulu menjadi pusat sihir alam. Konon, di lembah antara dua puncaknya, terdapat sebuah desa tersembunyi… Di sana, para penjaga kuno mempelajari dan menguasai lima elemen dasar sihir: Api, Air, Tanah, Udara, dan Cahaya.”

Sherly menelan ludah. Matanya membelalak.

“Dan… mereka bukan sekadar penyihir. Mereka bisa memadukan elemen-elemen itu menjadi kekuatan baru yang belum pernah dipahami oleh siapapun…”

Sherly berdiri. Kini pandangannya bukan lagi pandangan seorang gadis pelarian. Tapi pejuang.

“Kita harus mencarinya, Moluo. Desa itu. Kalau kekuatan itu benar-benar ada, itu satu-satunya cara kita bisa melawan Doti dan semua kegelapan yang ia bangkitkan.”

Langit di atas mereka telah berubah kelam. Petir menyambar dari kejauhan.

Di kejauhan, di balik kabut tipis gunung, seberkas cahaya samar menyala dari balik hutan rimba. Seperti undangan.

Dan cerita mereka… baru saja dimulai.

Langkah kaki Moluo dan Sherly menyusuri lereng curam Gunung Kembar menggema pelan, menyatu dengan desir angin yang membawa aroma basah lumut dan kabut. Kabut putih tebal menyelimuti sekeliling, membentuk tirai ilusi yang membuat jarak terasa kabur, seolah mereka sedang berjalan di antara dunia nyata dan yang tak terlihat.

Dedaunan di sekitar mereka mengeluarkan cahaya samar kehijauan, seperti bernapas dalam denyut sihir purba. Setiap napas yang dihirup terasa ringan namun pekat, seperti mengandung sesuatu yang hidup dan kuno.

Tiba-tiba, Sherly berhenti.

Matanya membesar. Tubuhnya gemetar ringan.

“Moluo… kekuatan sihirku…” Ia merentangkan tangannya. Cahaya ungu keperakan menyala di ujung jemarinya, berdenyut kuat seperti baru dilahirkan.

“Kekuatanku… pulih,” bisiknya, penuh heran dan takjub. Napasnya tercekat, seolah baru menyentuh sesuatu yang sakral.

Moluo menoleh, tak terkejut, hanya mengangguk dengan serius, seperti seseorang yang sedang melihat sebuah kepingan takdir jatuh di tempat yang seharusnya.

“Itulah keajaiban Gunung Kembar,” ucapnya tenang. “Akumulasi sihir di tempat ini sangat pekat hingga bisa meresap langsung ke inti sihir setiap makhluk hidup. Di sini, kau tak hanya pulih… kau akan tumbuh.”

Sherly menatap lekat-lekat ke sekeliling, dan untuk pertama kalinya, ia merasa seolah seluruh hutan bernyanyi untuknya. Bukan nyanyian yang merdu, tapi irama kuno, irama sihir yang tertidur selama ribuan tahun.

Mereka terus melangkah. Menembus kabut, melawan semak dan ranting, hingga akhirnya pepohonan mulai menipis dan tanah mulai rata. Udara di sini terasa berbeda, lebih hangat, lebih padat dengan sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

Namun mereka tak tahu…

Di balik pepohonan… mata-mata telah mengintai.

Puluhan sosok berpakaian loreng hutan menyatu sempurna dengan lingkungan. Di tangan mereka, sihir murni sudah berkumpul, api, air, batu, angin, dan cahaya. Kelima elemen menggeliat liar seperti binatang buas yang dikekang.

Seseorang berdiri di antara mereka. Sosok tinggi dengan rambut keperakan yang diikat rapi, matanya tajam seperti elang tua yang telah melalui ratusan musim perang. Ia mengenakan jubah pelindung dari sisik kayu ajaib dan simbol segel kuno tergurat di dada kirinya.

Kapten Saefurubi. Sang Penjaga Gunung Kembar.

“Kapten Furubi,” bisik seorang penjaga di sebelahnya. “Mereka hampir tiba di batas desa. Perintah?”

Kapten Furubi tidak langsung menjawab. Matanya memicing menembus kabut, menatap dua sosok muda yang datang mendaki dari jauh.

Sherly. Dan Moluo.

Ia menyipitkan mata, lalu perlahan tersenyum kecil,senyum yang bukan karena rasa aman, tapi karena sebuah kenyataan yang akhirnya terwujud.

“Tak perlu serang,” ucapnya pelan, namun suaranya tegas seperti batu karang dihantam badai.

“Dia sudah datang… anak dalam ramalan.” Suara Furubi nyaris seperti doa, atau mungkin peringatan yang telah ditunggu selama puluhan tahun.

Para penjaga saling berpandangan. Beberapa merapalkan mantra perisai, berjaga-jaga, tapi tak satu pun berani bergerak maju tanpa perintah.

Kabut berputar. Angin mulai berubah arah.

Dan langkah kaki Moluo dan Sherly terus mendekat.

Tanpa mereka sadari, pintu menuju rahasia sihir purba telah terbuka.

Dan nasib dunia mungkin baru saja bergeser dari porosnya.


메타데이터
post_id
2c6c422955c3
slug
cerpen-1-saat-ombak-menyentuh-awan-2c6c422955c3
url
https://medium.com/@teranetra/cerpen-1-saat-ombak-menyentuh-awan-2c6c422955c3
canonical_url
https://medium.com/@teranetra/cerpen-1-saat-ombak-menyentuh-awan-2c6c422955c3
author_url
https://medium.com/@teranetra
status
ok
fetched_at
2026-07-19 06:49:44