The Perks Of Being A Generalist Reader
Sore ini, aku menonton episode terbaru dari siniar The Reading Chamber oleh Pramudya A. Oktavinanda dan Prasetya Dwicahya yang membahas 2…
The Perks Of Being A Generalist Reader
Sore ini, aku menonton episode terbaru dari siniar The Reading Chamber oleh Pramudya A. Oktavinanda dan Prasetya Dwicahya yang membahas 2 buku terkait kasus-kasus hukum dengan balutan psikologi sebagai unsur yang melengkapinya. Sebagai sarjana psikologi (I’m really reluctant to admit it, but I wanted to give a little academic background as a solid foundation, lol sok banget bahasa gue?), aku cukup tertarik dengan topik ini. Dan ternyata, tidak menyesalinya sama sekali.
Kasus-kasus hukum yang dibahas di sini menarik, to some extent… it’s extremely uncomfortable to read in person (I guess?). Buku ‘kasus’ pertama berjudul Four Seasons of Loneliness: A Lawyer’s Case Stories karya J.W. Freiberg. Ada 4 kasus yang diangkat, mewakili keempat musim: Spring, Summer, Autumn, Winter. Keempat kasusnya memiliki satu kesamaan: kisah sad ending orang-orang yang berurusan dengan isu kesendirian.
Buku kedua bertajuk Surrounded by Others and Yet So Alone: A Lawyer’s Case Stories of Love, Loneliness, and Litigation yang ditulis oleh penulis yang sama. Yang ini terasa lebih “dark comedy” dibandingkan buku pertama yang lebih gloomy and sadness nuansanya. Bayangkan saja, ada seorang pengacara yang didakwa ‘memaksa’ kliennya untuk tidak melakukan plea bargain (negosiasi di mana terdakwa mengaku bersalah untuk mendapatkan keringanan hukuman, red) supaya bisa mendapatkan upah perjam yang lebih banyak, padahal alasan sebenarnya? Dia hanya ingin punya teman, which is adalah kliennya sendiri (karena saking kesepiannya doi :’)).
Selain buku-bukunya yang oke punya, sepanjang satu jam lebih siniar ini berlangsung, hal yang paling kusoroti adalah betapa pentingnya memiliki banyak pengetahuan di berbagai cabang ilmu. Aku, si paling random baca buku yang menarik minatku di saat-saat tertentu, merasa tercerahkan setelah mendengarkan diskursus mereka. Tercerahkan dalam artian, membuatku ‘berhasil’ sedikit menarik garis hubung antara satu bacaan dengan bacaan yang lain. Satu ilmu, ke ilmu yang lain. Seperti kata Bang Sabda PS, yang intinya: Kita harus memiliki kemampuan untuk menghubungkan seluruh ilmu yang kita pelajari. Connecting the dots, so we can understand the world as a whole.
Dulu, kukira aku adalah pembaca yang kurang linear dalam memilih buku yang ingin kubaca. Bacaannya lebih sering random: bisa tiba-tiba baca tentang Geopolitik, Pertanian, Filsafat, kembali ke Islami, lalu Psikologi (meski jarang sejak lulus, haha), dan muaranya ke genre fiksi lagi. Rasanya aku seperti menolak menjadikan diriku spesialis di satu bidang utama, misal Psikologi. Entah mengapa, gagasan akan kemungkinan terlingkupi oleh rasa bosan akibat membaca seabrek jurnal Psikologi, atau bahkan buku-buku Psikologi yang lebih populer pun, membuatku urung menenggelamkan diri dalam kedalaman specialized world. Dan gara-gara ini, aku sempat merasa kurang percaya diri dengan ilmu-ilmu ‘dangkal’ dari bacaan yang kupilih.
Namun, hari ini, aku menemukan kerangka berpikir atau mindset yang berbeda dari perasaan ‘inferior’ yang selama ini menghantuiku; bahwa mungkin saja, aku lebih cocok masuk kategori pembaca tipe generalist karena Allah ingin aku memanfaatkan sisi kreativitas dalam diri untuk menghubungkan satu bacaan dengan bacaan lainnya.
Contoh sederhananya adalah saat Mas Pras (Prasetya Dwicahya) mengoreksi Mas Pram (Pramudya A. Oktavinanda) yang keliru menyebut Rusia ketika membahas soal Stalin. Otakku langsung mencari data tentang sejarah Rusia yang kubaca di buku Prisoners of Geography (Tim Marshall), dan ternyata memang Stalin bukanlah pemimpin Rusia, melainkan Uni Soviet. Nama-nama lain seperti Mao Zedong dan Deng Xiaoping juga turut membawaku ke loker-loker data dalam otak, menelusuri sejarah Tiongkok dari buku yang sama hingga siniar Endgame-nya Pak Gita Wirjawan.

Itu baru sebagian kecil dari semesta ilmu pengetahuan yang berhasil kuhubungkan. Tak terbayang betapa ‘indah’ dunia ketika perlahan semuanya terhubung; ketika aku bisa memahami lebih banyak hal, ketika aku bisa menulis esai dengan lebih baik berkat konektivitas yang terjalin di antara ragam bacaan yang ‘kulahap’.
Wow, sih, pastinya.
메타데이터
- post_id
- 2cdc8c3bfe99
- slug
- the-perks-of-being-a-generalist-reader-2cdc8c3bfe99
- url
- https://medium.com/@hiprary/the-perks-of-being-a-generalist-reader-2cdc8c3bfe99
- canonical_url
- https://medium.com/@hiprary/the-perks-of-being-a-generalist-reader-2cdc8c3bfe99
- author_url
- https://medium.com/@hiprary
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-09-09 11:00:53