Cerpen : Kembali Pulang
Kakiku melompat turun dari 1 anak tangga terakhir suatu mobil bus. Di tengah langkahku, aku sempat berhenti di depan sekelompok burung…
Cerpen : Kembali Pulang
Kakiku melompat turun dari satu anak tangga terakhir suatu mobil bus. Di tengah langkahku, aku sempat berhenti di depan sekelompok burung merpati yang tengah asik menikmati makanannya. Di seberang jalan sana, terdapat banyak bangunan menjulang tinggi memantulkan cahaya sore. Kumpulan burung tadi berterbangan melintasi gedung-gedung besar sekitar sini. Aku terus berjalan mengikuti langkah ayah dan ibuku. Jalanan ini dipenuhi oleh deretan penjual kaki lima, ruko, hotel, bahkan mall besar. Semua ada. Uniknya, tak banyak kendaraan roda empat yang melintas. Pemandangan dibuat asri oleh para pejalan kaki dengan kesibukannya masing-masing.
Sorot mata salah satu penjual tertuju padaku. Tiba-tiba saja ia berseru dengan antusias.
“Syahrini, cantiiq. Bole lima riyal, bole, kamari”. Aku hanya terkikih akan susunan kalimatnya. Aku menimpali dengan senyuman sambil mengulurkan kedua jemariku yang disejajarkan, orang tersebut tersenyum hangat. Sepertinya asal Arab asli.
“Syahrini? maa syaa Allah cantiiq, 15 riyal. sekali bole bole. tasbih, Murah-murah, gelang bagus bole”.
Tawaran pun semakin berdatangan tanpa henti. Aku kewalahan melayaninya dengan senyuman. Sontak ayahku menarik tanganku yang berjarak terlalu dekat dengan para penjual, melindungiku di antara badan ayah dan ibuku. Kami pun meneruskan langkah.
Photo by Kerem Colakoglu on Unsplash
Ketika melewati pintu hotel, terhirup wewangian dari lobby. Kuat sekali menusuk hidungku. Mengingatkanku pada perpaduan aroma pahit, getir, dan mistis. Bedanya kali ini sedikit harum dan menenangkan. Seolah membaca rasa penasaranku, ayahku langsung menjelaskan.
“De, ini namanya aroma ‘Bukhoor’ ”.
“hoo, hah? Ta — ”. Lagi-lagi belum selesai kujawab, ayahku sudah menimpali.
“Menyan versi arab”. Aku mengangguk mengerti.
Ujung pilar hotel megah yang telah kami lewati menandakan perbatasan kami dengan lokasi tujuan. Tiba-tiba saja seorang penjual berkata “Halal, halal” berkali-kali — tepat di samping lokasi kami berdiri. Ayahku sigap mengambil salah satu wadah berisi anggur hijau. Setengah menit kemudian, penjual tersebut mengubah kalimatnya.
“Five riyal! la!! khams riyal , la!!“.
Tampak penjual tersebut membentangkan kedua tangannya melindungi dagangan. Aku agak kasihan melihatnya, sepertinya ia terselip lidah. Sayangnya ungkapan ‘Halal’ erat dengan makna gratis. Menyadari perubahan kalimatnya, kerumunan pun mulai memudar, sebagian baik hati merogoh kantong. Aku terkejut melihat ayahku kegirangan mendapat kesempatan ‘gratis’ tersebut. Sambil menyodorkan buah, ia menawariku. Walau tak enak hati, aku ikut mencobanya. Aku dan ibuku bersamaan mengerucutkan alis dan memejamkan sebelah mata kami. Masam sekali! Aku menimpali ayahku.
“nah kan pah, ga berkah nih kayaknya huu”. Sebal, ia dapat membalas.
“Yang ini nggak tuh. Dede aja sedang tidak beruntung”. Aku hanya mendengus pelan lalu melirik pemandangan sebelahku.
Terpana. “MAA SYAA ALLAH! paah maah Masjidil Haram”.
Mulutku secara otomatis terbuka lebar, tangan kananku ikut menutupi pintu mulut. Mataku berlinang bak melihat surga. Seolah teriknya suhu 47ºC sore itu tidak mempengaruhiku lagi. Ayah dan ibuku turut tersenyum dan mengajakku melanjutkan langkah. Ini masih halaman masjid, kami masih harus masuk ke dalam. Aku berjalan sambil digenggam ibuku yang masih sangat terpana memperhatikan arsitektur bangunan sekeliling. Setiba kami di pintu masjid, aku dikagetkan oleh dua petugas keamanan berperawakan tinggi mancung berkulit sedikit gelap. Ia mengenakan seragam bercorak hijau, coklat, putih, dan hitam. Salah satu petugas menunjuk sandal yang kukenakan. Ia berbicara Bahasa Arab, tentu aku tidak mengerti. Ia menyilangkan tangannya terhadap sendalku. Aah! aku harus melepasnya. Rupanya benar, ayah ibuku juga tengah melakukannya.
Saat melepas sendal, aku terpaku oleh lantai marmer masjid. Jemari ini bergerak sendiri, dingin terasa. Udara pintu masjid pun ikut menerpa wajahku, sejuk sekali… padahal matahari begitu terik. Aku menyusul langkah ayah ibuku menuju lantai dua. Setibanya kami di tempat, deretan tempat isi ulang air zamzam menyambut langkah kami. Banyak sekali 5 hingga 10 keran isi ulang, berjejer setiap 10 meter. Aku berlari kecil melintasi dan memisahkan diri menuju balkon melengkung masjid. Aku menyebrangi area tawaf.
Maa syaa Allah, ka’bah. Aku melihat ka’bah… Aku memeluk tiang penyangga, menempelkan pipi dan tubuhku, bagai ada yang memeluk hatiku dengan hangat. Mata dan hidungku terasa perih sekali. Tanganku turut merasakan ketakjuban itu seraya bergetar meraba pelan marmer balkon. Seperti berada di rumah yang selalu menyambutku dengan kehangatan kasih. Tiba-tiba aku menyadari sesuatu, kemana ayah ibuku? Aku menengok ke belakang menemukan tatapan mawas ibuku. Ia melampai mengajakku kembali sembari membuka dan mengangkat kedua tangannya setinggi bahu seperti gerakan takbiratul ihram. Aku segera kembali ke seberang sana. Ayahku langsung menambahkan, “kita shalat tahiyatul masjid dulu, baru tawaf, De. Masih punya wudhu, kan?”. Aku mengangguk sambil mengusap wajah dan hidungku.
Aku berdiri lalu mengangkat kedua tanganku setinggi bahu. Gema takbir melenggangkan hati dan pikiranku selama beberapa saat, seperti dipeluk ketenangan dan kenyamanan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Entah mengapa tiba-tiba ketika mencapai gerakan sujud, tangisku tumpah ruah, hati ini merasakan kehadiran Allah sedekat ini, tanpa sekat apapun. Allah telah mengizinkan jiwa yang hina ini berkunjung ke rumah-Nya. Bibirku bergetar, lidahku tertatih melafalkan do’a shalat sembari mengingat arti setiap bacaannya. Sementara kepalaku sibuk menelusuri kembali dosa-dosa.
“Allahummaghfir li, ….” suara kecilku resmi tercekat, bibirku mematung, mataku terpatri pada satu titik bayangan. Bayangan tersebut terasa lebih nyata akibat dibantu tubuhku yang sedang merinding membayangkan berada dalam kobaran api dalam jangka waktu seribu tahun setara dengan satu hari saja. Tak peduli seberapa memohon pun aku. Tak ada orang tuaku. Maupun mungkin suamiku yang tak bisa dimintai tolong. Mataku terpejam dalam-dalam.
“Warhamni…” suaraku semakin lirih memeluk harapan dengan sangat erat. Memohon kasih dari Dzat yang menciptakanku.
Setelah salam, tubuhku kehilangan dayanya. Gadis muda yang tengah asik berkeliling perhatikan sekitar itu kini tengah menangis tergugu dalam sujudnya. Do’a ampunan kupanjatkan dengan panjang-panjang, semakin menjadi-jadi, semakin terisak sesak. Mengucapkan pengaduan maaf berulang kali, menggemakan penyesalan terdalam. Semakin jauh menelusuri memori, semakin menyeruak rasa maluku terhadap-Nya. Anehnya, camukan emosi turut mengundang rasa syukur karena dipertemukan dengan momen seindah ini. Sandaran lemahku terasa ditopang oleh-Nya. Mengelus kepalaku dengan lembut dan penuh kasih. Seperti belaian ibu sewaktu kecil, menjadi penenang hatiku yang tengah merasa sangat bersalah. Aku mengangkat kepalaku, menggulirkan mata pada dinding Ka’bah, berbisik lemah meminta kekuatan. Lagi-lagi pikiranku teringat berbagai tausiyah yang kudapati di masjid maupun teman-teman baikku. Terutama mengenai hidup, kepemilikan diri, juga tujuanku diciptakan.
Hatiku yakin berucap “Aku… ingin perbaiki diriku seumur hidupku, setersesat apapun aku, sesukar apapun prosesnya. Sekejam apapun tantangan yang harus kuhadapi. Kefanaan dunia ini tak boleh buatku goyah. Benar. Seharusnya aku hidup benar-benar untukMu wahai Rabbku…”. Kepalaku kembali menunduk, semakin mendekatkan kedua tanganku yang tengah menengadah. “Aku takkan mampu jika andalkan kuatku Ya Rabb… kumohon temani selalu prosesku ini”. Walau dihujani rasa takut yang menggetarkan hati, namun aku tetap meyakini demikian. Kecupan pada lantai masjid mewakili komitmen awalku terhadap berbagai perbaikan diri yang sangat ingin kulakuka, untuk membuat-Nya senang memiliki hamba sepertiku. Aku, akhirnya kembali pulang, pada dekapan-Nya.
-Ts
메타데이터
- post_id
- 40bd0acfaefb
- slug
- short-story-mecca-40bd0acfaefb
- url
- https://medium.com/@sugiarti.itih/short-story-mecca-40bd0acfaefb
- canonical_url
- https://medium.com/@sugiarti.itih/short-story-mecca-40bd0acfaefb
- author_url
- https://medium.com/@sugiarti.itih
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-12 00:12:25