← Back to list

ABYSSAL-BAB 1 [HANSAPLAS]

“Beberapa orang percaya hidup berubah karena keputusan besar. Ian tahu hidupnya berubah karena seorang perempuan yang memilih berhenti di…

Naiaoctavia · 2026-06-22 10:56 · 0 claps · 12.0 min read
#dark-romance #psychological-thriller #obsessions #suspense #logic
Open on Medium ↗
Wiki topics: PSY · Psychology 💑 · Relationships

ABYSSAL-BAB 1 [HANSAPLAS]

“Beberapa orang percaya hidup berubah karena keputusan besar. Ian tahu hidupnya berubah karena seorang perempuan yang memilih berhenti di tengah hujan.”

Hujan turun lebih cepat sore itu.

Langit yang sejak siang dipenuhi awan kelabu akhirnya melepaskan isinya tepat ketika bel pulang sekolah berbunyi. Dalam hitungan menit, halaman SMA itu berubah riuh. Para siswa berlarian menuju gerbang, sebagian menutupi kepala dengan tas, sebagian lagi tertawa sambil saling mendorong agar lebih dulu mencapai kendaraan yang menunggu.

Di tengah keramaian itu, Ian berjalan seorang diri.

Seragam putih abu-abunya masih rapi meski ujung lengan kirinya sedikit basah terkena tempias hujan. Tas hitam tergantung di bahu kanan, sementara langkahnya tetap tenang, seolah suara gaduh di sekelilingnya tidak pernah benar-benar sampai ke telinganya.

“Ian!”

Suara seseorang memanggil dari belakang.

Ian berhenti, lalu menoleh perlahan.

Empat siswa berdiri beberapa meter darinya. Yang berada paling depan memiliki postur lebih tinggi dibanding teman-temannya. Rambutnya sedikit acak, dasinya longgar, dan senyum tipis di wajahnya selalu berhasil membuat orang lain mengikutinya tanpa banyak berpikir.

Saga.

“Buruan pulang. Katanya anak orang kaya nggak suka kehujanan.”

Tiga temannya langsung tertawa.

Ian hanya menatap mereka beberapa detik sebelum kembali melangkah.

Ia sudah hafal.

Jika berhenti, mereka akan semakin lama mengganggunya.

Jika menjawab, mereka akan mencari alasan baru untuk mengejek.

Diam adalah cara tercepat agar semuanya selesai.

Atau setidaknya, begitu pikir Ian.

Namun langkahnya baru mencapai gerbang ketika sebuah dorongan keras mengenai bahu kirinya.

Tubuh Ian kehilangan keseimbangan. Lututnya menghantam aspal yang mulai licin, sementara tasnya terlempar beberapa langkah ke depan. Buku-buku di dalamnya berserakan, sebagian terbuka, sebagian lain jatuh ke genangan air yang terbentuk di sisi jalan.

Tawa kembali terdengar.

“Kok gampang jatuh?”

“Kurang makan, kali.”

Saga berjalan mendekat tanpa sedikit pun berniat membantu. Ujung sepatunya menyentuh salah satu buku Ian, lalu mendorongnya hingga masuk lebih dalam ke genangan air.

Ian tidak segera mengambilnya.

Ia memandangi halaman yang perlahan berubah basah, tinta yang mulai melebar, lalu mengangkat kepala.

Tatapannya berhenti pada Saga.

Bukan tatapan marah.

Bukan pula tatapan takut.

Hanya diam.

Seolah sedang mencoba memahami sesuatu.

Saga mengangkat sebelah alis.

“Apa?”

Ian tidak menjawab.

Ia hanya memperhatikan.

Cara Saga berdiri sedikit condong ke kiri.

Jari telunjuk kanannya terus mengetuk paha tanpa sadar.

Teman yang memakai jaket hitam selalu tertawa paling keras, tetapi baru setelah Saga lebih dulu tersenyum.

Sementara anak berkacamata di paling belakang tidak benar-benar ikut mengejek. Ia hanya tertawa kecil agar tidak terlihat berbeda.

Ian mengingat semuanya.

Bukan karena ingin membalas.

Otaknya memang bekerja seperti itu.

Detail-detail kecil datang sendiri tanpa pernah ia minta.

“Udah, bosan.”

Saga mendecakkan lidah. “Ayo.”

Keempatnya pergi begitu saja, meninggalkan Ian bersama buku-bukunya yang basah.

Beberapa siswa lain melewati tempat itu. Ada yang melirik sekilas, ada yang berbisik pelan, tetapi tidak satu pun berhenti.

Ian berjongkok, mengambil buku yang paling dekat dengannya. Air hujan menetes dari ujung rambutnya, membasahi halaman yang sudah kusut.

Tangannya berhenti sesaat ketika melihat noda lumpur di sampul buku itu.

Lalu, tanpa ekspresi, ia membersihkannya perlahan menggunakan sapu tangan yang selalu tersimpan di saku seragam.

Seolah yang baru saja terjadi hanyalah kecelakaan kecil.

Bukan penghinaan.

Bukan sesuatu yang perlu dirasakan.

Di kejauhan, suara petir menggelegar.

Ian memasukkan buku terakhir ke dalam tas, kemudian berdiri.

Lutut kirinya terasa perih.

Hangat.

Ia tahu kulitnya pasti robek.

Namun ia tetap melangkah meninggalkan sekolah, menyusuri trotoar yang mulai sepi di bawah hujan yang semakin deras.

Ia belum tahu…

Bahwa sore itu akan menjadi hari yang terus ia tulis berulang kali selama bertahun-tahun.

— — — — —

Trotoar yang menghubungkan sekolah dengan halte mulai lengang. Hujan yang semula hanya rintik kini turun semakin deras, memantul di atas atap toko-toko yang berjajar di sepanjang jalan. Beberapa pemilik kios sibuk menurunkan tirai besi lebih awal, sementara kendaraan melintas lebih cepat dari biasanya, meninggalkan cipratan air di sisi jalan.

Ian berjalan tanpa tujuan yang tergesa. Lutut kirinya semakin terasa nyeri setiap kali ia melangkah, tetapi rasa sakit itu tidak cukup mengganggu untuk membuatnya berhenti. Yang lebih mengganggunya justru suara tawa yang masih terngiang di kepalanya.

Bukan karena ia tersinggung.

Ia hanya tidak mengerti.

Mengapa manusia merasa perlu menertawakan orang lain agar bisa merasa lebih baik?

Pertanyaan itu sudah lama ada di kepalanya, namun belum pernah menemukan jawaban yang benar-benar memuaskan.

Beberapa meter di depannya, sebuah halte berdiri nyaris kosong. Cat birunya mulai memudar dimakan usia. Atap sengnya bocor di beberapa bagian sehingga air hujan menetes membentuk genangan kecil di lantai semen.

Ian memilih duduk di ujung bangku yang masih kering.

Ia meletakkan tas di sampingnya, lalu membuka resleting perlahan. Buku-buku yang tadi jatuh sudah mulai mengering, tetapi beberapa halaman mengerut akibat air hujan.

Tangannya berhenti pada sebuah buku matematika.

Sampulnya sobek.

Ia mengusap sobekan itu dengan ibu jari, kemudian menutup buku tersebut tanpa mengubah ekspresi.

Di seberang jalan, lampu minimarket menyala terang. Orang-orang keluar masuk membawa payung, kopi hangat, atau sekadar berteduh beberapa menit sebelum melanjutkan perjalanan.

Ian memperhatikan mereka satu per satu.

Seorang pria berjas berlari kecil sambil menutupi kepala dengan tas kerja.

Dua siswi SMA berbagi payung yang terlalu kecil hingga salah satunya tetap kebasahan.

Seorang ibu menggandeng anak laki-lakinya menyeberang jalan sambil sesekali memarahi bocah itu yang terus melompat di atas genangan air.

Mereka semua tampak memiliki tujuan.

Sementara Ian hanya menunggu hujan reda.

Atau mungkin…

Menunggu alasan untuk pulang.

Rumah yang besar tidak selalu membuat seseorang ingin segera kembali.

Suara pintu halte bergeser pelan.

Ian mendongak.

Seorang perempuan masuk sambil melipat payung bening yang masih dipenuhi tetesan air. Ia mengenakan kemeja putih dengan blazer krem yang sedikit basah di bagian bahu. Rambut hitamnya diikat rendah, beberapa helai terlepas dan menempel di pipinya karena hujan.

Ia tampak lelah.

Tas kerja kulit berwarna cokelat menggantung di lengan kirinya, sementara di tangan kanan terdapat map berisi beberapa dokumen.

Perempuan itu mengembuskan napas pelan sebelum duduk di bangku yang berseberangan dengan Ian.

Ia belum menyadari keberadaan anak laki-laki itu.

Ian hanya melirik sekilas.

Lalu kembali menatap jalan.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Hanya suara hujan yang memenuhi ruang kecil di dalam halte.

Sampai akhirnya perempuan itu tanpa sengaja melihat tetesan darah yang mulai bercampur dengan air hujan di sekitar sepatu Ian.

Alisnya sedikit berkerut.

Tatapannya turun ke arah lutut Ian yang robek.

Kemudian ke buku-buku yang masih tampak lembap.

Lalu kembali ke wajah Ian.

“Kamu terluka?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Bahkan nyaris tenggelam oleh suara hujan.

Ian menoleh perlahan.

“Iya.”

“Habis jatuh?”

Ian terdiam sejenak.

Kalau menjawab “iya”, itu tidak sepenuhnya salah.

Kalau menjawab “dibully”, perempuan itu mungkin akan merasa kasihan.

Ia tidak menyukai tatapan kasihan.

Akhirnya ia mengangguk singkat.

“Sedikit.”

Perempuan itu memperhatikan lututnya beberapa detik lagi.

“Lukanya lumayan dalam.”

Ian ikut melihat ke arah lututnya.

“Darahnya nanti berhenti sendiri.”

Jawaban itu membuat perempuan tersebut tersenyum tipis.

“Bisa saja berhenti.”

Ia berdiri.

“Tapi kalau dibersihkan dulu, biasanya lebih cepat sembuh.”

Ian tidak sempat bertanya ketika perempuan itu membuka kembali payungnya dan berlari kecil menyeberang menuju minimarket.

Ian mengikuti sosoknya dengan pandangan datar.

Ia melihat perempuan itu berbicara sebentar dengan kasir, mengambil sesuatu dari rak obat, lalu kembali keluar sambil melindungi barang yang dibawanya dari hujan.

Kurang dari tiga menit kemudian, ia sudah kembali ke halte.

Di tangannya kini terdapat sebungkus kapas alkohol, sebotol kecil antiseptik, dan sekotak hansaplas.

Perempuan itu berjongkok di depan Ian.

“Boleh aku lihat?”

Ian membeku.

Tidak ada yang pernah bertanya seperti itu kepadanya.

Bukan karena ia tidak mampu mengurus dirinya sendiri.

Tetapi karena… tidak ada yang benar-benar peduli.

Tatapan mereka bertemu beberapa saat.

Ian akhirnya mengangguk pelan.

“Terima kasih.”

Perempuan itu tersenyum lagi.

Senyum yang sama sekali tidak dibuat-buat.

Dan tanpa disadarinya…

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ian merasa seseorang benar-benar melihat keberadaannya. Perempuan itu membuka bungkus kapas alkohol dengan hati-hati. Aroma antiseptik yang khas segera memenuhi ruang kecil di dalam halte, bercampur dengan bau tanah basah yang terbawa hujan.

“Aku bersihkan dulu, ya.”

Ian mengangguk pelan.

Begitu kapas menyentuh luka di lututnya, rasa perih langsung menjalar hingga ke ujung kaki. Otot rahangnya menegang, tetapi ia tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

Perempuan itu menyadarinya.

“Sakit?”

“Sedikit.”

“Kalau sakit, bilang.”

Ian hanya mengangguk lagi.

Tangannya mengepal di atas bangku. Bukan karena rasa sakitnya, melainkan karena ia tidak terbiasa berada sedekat ini dengan orang lain. Bahkan sejak ibunya lebih sering menghadiri acara sosial daripada makan malam di rumah, tidak banyak orang yang menyentuhnya dengan perhatian seperti ini.

Perempuan itu bekerja dengan telaten. Setiap gerakannya pelan, seolah takut menambah rasa sakit yang sudah ada.

“Aku bukan tenaga medis, jadi hasilnya mungkin nggak terlalu rapi.”

Ian memperhatikan jemari perempuan itu yang bergerak hati-hati.

“Tidak apa-apa.”

Perempuan itu terkekeh kecil.

“Jawabanmu formal sekali.”

Ian terdiam.

Ia memang tidak tahu harus menjawab apa.

Beberapa detik kemudian luka itu selesai dibersihkan. Perempuan tersebut membuka kotak hansaplas, memilih yang ukurannya paling besar, lalu menempelkannya perlahan di atas lutut Ian.

Ia menekan kedua ujungnya sebentar agar perekatnya menempel sempurna.

“Nah.”

Selesai.

Ian menunduk melihat lututnya.

Hansaplas bergambar garis-garis sederhana itu tampak sangat biasa.

Namun entah mengapa…

Ia merasa lututnya tidak lagi terlalu sakit.

“Beres.”

Perempuan itu merapikan kembali barang-barangnya.

Ian masih menatap hansaplas itu.

“Terima kasih.”

Kalimat itu keluar pelan.

Namun cukup jelas untuk membuat perempuan tersebut tersenyum.

“Sama-sama.”

Ia mengangkat kantong plastik kecil berisi obat-obatan yang baru dibelinya.

“Untung minimarketnya dekat.”

Ian mengerutkan dahi.

“Ini… beli?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Perempuan itu tampak sedikit heran.

“Karena kamu terluka.”

“….”

“Bukannya memang begitu kalau lihat orang terluka?”

Ian tidak langsung menjawab.

Ia memandang perempuan di depannya cukup lama.

Baginya…

Jawaban itu terdengar asing.

Tidak rumit.

Tidak filosofis.

Tidak pula terdengar seperti seseorang yang ingin dipuji.

Sesederhana…

“Karena kamu terluka.”

Kalimat sesederhana itu justru membuat Ian kesulitan memahaminya.

Perempuan itu melihat jam tangan di pergelangan kirinya.

“Aduh.”

Ekspresinya berubah panik.

“Busku sebentar lagi.”

Ia segera memasukkan sisa kapas, antiseptik, dan kotak hansaplas ke dalam kantong plastik.

Lalu tiba-tiba berhenti.

“Hampir lupa.”

Ia mengulurkan tangan.

“Aku Sirena.”

Ian menatap tangan itu selama beberapa detik.

Lalu perlahan menyambutnya.

“Ian.”

“Salam kenal, Ian.”

Tangannya hangat.

Tidak terlalu kuat.

Tidak terlalu pelan.

Sekadar cukup untuk memperkenalkan diri.

Sirena melepaskan jabat tangan itu sambil tersenyum.

“Kamu kelas berapa?”

“Kelas dua.”

“Oh.”

Sirena mengangguk pelan.

“Masih SMA.”

“Iya.”

“Aku kira mahasiswa.”

Ian sedikit bingung.

“Kenapa?”

“Tinggi.”

Ian tidak tahu apakah itu pujian.

Ia hanya mengangguk kecil.

Keheningan kembali menyelimuti halte.

Namun kali ini tidak terasa canggung.

Sirena duduk kembali di bangku, memperhatikan hujan yang mulai mengecil.

“Kadang aku suka hujan.”

Ian menoleh.

“Kenapa?”

“Karena hujan bikin orang berhenti sebentar.”

Ian mengikuti arah pandangnya.

Jalanan yang tadi ramai kini melambat.

Orang-orang berteduh.

Kendaraan mengurangi kecepatan.

Semua seolah dipaksa berhenti.

“Kalau nggak hujan…” lanjut Sirena pelan, “…orang sering lupa istirahat.”

Ian tidak menjawab.

Ia tidak pernah memikirkan hujan seperti itu.

Baginya hujan hanyalah air yang turun dari langit.

Namun ketika Sirena mengatakannya…

Entah mengapa hujan terdengar sedikit berbeda.

Sebuah bus berwarna biru memasuki halte dengan suara rem yang berdecit pelan.

Sirena berdiri.

“Nah, busku.”

Ia mengambil payung dan tas kerjanya.

Sebelum melangkah menuju pintu bus, ia kembali menoleh ke arah Ian.

“Jangan lupa bersihkan lukanya lagi nanti malam.”

Ian mengangguk.

“Dan…”

Sirena tersenyum untuk terakhir kalinya.

“Hati-hati di jalan.”

Pintu bus tertutup.

Perlahan kendaraan itu meninggalkan halte, membawa Sirena pergi bersama hujan yang mulai reda.

Ian tidak segera berdiri.

Ia tetap duduk di tempatnya.

Tatapannya mengikuti bus itu sampai benar-benar menghilang di tikungan.

Baru setelah tidak lagi terlihat…

Ia menunduk.

Tangannya menyentuh pelan hansaplas yang menempel di lutut kirinya.

Lalu, nyaris tanpa suara, ia mengulang satu nama yang baru saja didengarnya.

“…Sirena.”

Untuk pertama kalinya.

Ia takut melupakan sebuah nama.

— — — — —

Hujan mulai mereda.

Suara rintiknya tidak lagi memukul atap halte sekeras tadi. Langit masih kelabu, tetapi cahaya sore perlahan kembali menembus sela-sela awan.

Ian masih duduk di tempat yang sama.

Bus yang membawa Sirena sudah lama menghilang dari pandangan. Namun pandangannya tetap tertuju ke jalan yang kosong, seolah berharap kendaraan itu kembali.

Ia mengangkat tangan kanannya.

Masih ada sedikit rasa hangat yang tertinggal di telapak tangannya.

Bekas jabat tangan.

Ian mengepalkan jemarinya perlahan.

Lalu melepaskannya lagi.

Perasaan itu aneh.

Tidak menyenangkan.

Tidak pula mengganggu.

Ia hanya… baru.

Beberapa menit kemudian sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan halte.

Seorang pria paruh baya turun dari kursi pengemudi sambil membawa payung.

“Tuan Ian.”

Ian mengalihkan pandangan.

Pria itu sedikit membungkukkan badan.

“Maaf saya terlambat.”

Ian berdiri tanpa menjawab.

Pria itu adalah sopir keluarga yang setiap hari menjemputnya. Biasanya mobil sudah menunggu di depan sekolah sebelum bel pulang berbunyi. Hari ini jalanan macet akibat hujan.

Pria itu baru menyadari luka di lutut Ian saat mereka berjalan menuju mobil.

“Astaga… Tuan jatuh?”

“Iya.”

“Perlu ke rumah sakit?”

“Tidak.”

“Kalau begitu nanti saya panggil dokter keluarga.”

Ian membuka pintu belakang mobil.

“Tidak perlu.”

“Tapi — “

“Sudah diobati.”

Pria itu menghentikan kalimatnya.

Tatapannya jatuh pada hansaplas yang menempel rapi di lutut Ian.

“Oh…”

Ia mengangguk pelan.

“Syukurlah.”

Ian masuk ke dalam mobil.

Pintu tertutup.

Dunia kembali sunyi.

Mobil melaju meninggalkan halte.

Gedung-gedung pertokoan perlahan berganti menjadi kawasan perumahan yang lebih tenang.

Ian duduk di kursi belakang sambil memandangi tetesan air yang mengalir di kaca jendela.

Sesekali ia menunduk melihat hansaplas di lututnya.

Tanpa sadar.

Berulang kali.

Sopir yang melihat dari kaca spion hanya mengira Ian sedang memastikan lukanya tidak bertambah parah.

Padahal bukan itu.

Ian sedang mengingat.

Suara perempuan itu.

Cara bicaranya.

Cara tersenyumnya.

Cara ia mengatakan…

“Karena kamu terluka.”

Kalimat itu terus berputar di kepalanya.

Seolah otaknya menolak membiarkannya hilang.

Rumah keluarga Ian berdiri di ujung jalan yang dipenuhi pepohonan rindang.

Gerbang besi terbuka otomatis ketika mobil mendekat.

Halaman depan begitu luas hingga suara ban yang melewati batu-batu kecil terdengar menggema.

Rumah itu megah.

Dinding berwarna putih gading.

Jendela-jendela tinggi.

Lampu taman menyala meski matahari belum benar-benar tenggelam.

Semuanya tampak sempurna.

Namun ketika Ian masuk ke dalam…

Yang menyambutnya hanyalah kesunyian.

Seorang asisten rumah tangga datang menghampiri.

“Selamat sore, Tuan Ian.”

Ian mengangguk kecil.

“Ayah sudah pulang?”

“Belum, Tuan.”

“Ibu?”

“Nyonya sedang menghadiri acara amal.”

Ian tidak bertanya lagi.

Jawaban itu sudah cukup.

Atau mungkin…

Sudah terlalu sering ia dengar.

Ia menaiki tangga menuju lantai dua tanpa tergesa.

Lorong rumah dipenuhi lukisan-lukisan mahal yang tidak pernah benar-benar ia perhatikan.

Di ujung lorong terdapat sebuah pintu berwarna cokelat tua.

Kamar Ian.

Begitu pintu tertutup, suasana berubah.

Ruangan itu sangat rapi.

Rak buku memenuhi satu sisi dinding.

Meja belajar berada tepat di depan jendela besar yang menghadap taman belakang.

Tidak ada poster.

Tidak ada foto keluarga.

Tidak ada benda yang menunjukkan siapa pemilik kamar itu selain buku-buku yang tersusun berdasarkan ukuran.

Ian meletakkan tasnya.

Melepas jam tangan.

Lalu membuka laci meja perlahan.

Di dalamnya hanya ada beberapa alat tulis dan sebuah buku bersampul putih yang ujung-ujungnya mulai sedikit kusam karena sering dibuka.

Ian mengeluarkan buku itu.

Meletakkannya di atas meja.

Ia membuka halaman pertama yang masih kosong.

Tangannya meraih pena hitam.

Namun…

Ujung pena itu berhenti beberapa sentimeter di atas kertas.

Ia tidak langsung menulis.

Ia menatap halaman kosong cukup lama.

Lalu tanpa sadar mengucapkan satu nama.

“Sirena.”

Nama itu terdengar asing di telinganya.

Tetapi tidak sulit diingat.

Ian menuliskannya perlahan.

Sirena.

Hanya satu kata.

Tidak lebih.

Ia menatap tulisan itu beberapa detik.

Lalu menutup buku kembali.

Belum.

Masih terlalu sedikit.

Masih terlalu banyak yang belum ia pahami tentang perempuan itu.

Ia ingin mengingat semuanya dengan benar.

Tidak boleh ada yang salah.

Tidak boleh ada yang terlupakan.

Di luar jendela, hujan akhirnya berhenti sepenuhnya.

Sementara di dalam kamar yang sunyi itu…

Seseorang baru saja menulis nama yang akan mengubah seluruh hidupnya.

— — — — —

Malam turun perlahan.

Dari balik jendela kamar, lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di atas rumput yang masih basah setelah hujan sore. Rumah itu tetap sunyi. Tidak terdengar suara televisi, tidak ada percakapan keluarga saat makan malam, bahkan langkah kaki di lorong pun nyaris tidak terdengar.

Ian selesai mandi dan mengganti seragamnya dengan kaus hitam sederhana serta celana panjang abu-abu. Rambutnya yang masih sedikit lembap meneteskan air ke bahu, tetapi ia tidak memedulikannya.

Tatapannya kembali tertuju pada meja belajar.

Buku bersampul putih itu masih berada di sana.

Belum berpindah.

Belum disentuh lagi sejak ia menuliskan satu nama beberapa jam yang lalu.

Ia duduk perlahan di kursi, membuka laci yang sama, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi alat tulis. Di antara pulpen dan pensil mekanik terselip sebuah pembatas buku berwarna biru tua.

Tanpa sadar ia mengambil pembatas itu, lalu menyelipkannya di halaman yang berisi satu tulisan sederhana.

Sirena.

Ian menatapnya cukup lama.

Baginya, mengingat nama bukanlah hal yang sulit.

Namun ada sesuatu yang mengganggunya.

Ia tidak bisa mengingat wajah semua orang yang pernah berbicara dengannya hari ini.

Guru matematika.

Petugas perpustakaan.

Bahkan beberapa teman sekelasnya.

Semuanya mulai kabur.

Tetapi wajah perempuan di halte itu…

Masih sangat jelas.

Cara ia mengikat rambut.

Nada suaranya.

Senyumnya.

Kalimat sederhana yang diucapkannya tanpa berpikir panjang.

“Karena kamu terluka.”

Ian memejamkan mata.

Lalu membuka kembali.

Kenapa?

Kenapa seseorang melakukan itu kepada orang asing?

Ia mencoba menjawab pertanyaan itu dengan logika.

Mungkin perempuan itu memang baik.

Mungkin ia kasihan.

Mungkin memang sudah terbiasa menolong orang lain.

Satu demi satu kemungkinan muncul.

Namun tidak ada satu pun yang terasa cukup.

Ia akhirnya menutup buku itu perlahan.

Belum.

Ia belum punya jawaban.

Suara ketukan terdengar dari balik pintu.

“Tuan Ian.”

Ian menoleh.

“Asisten rumah tangga membawa makan malam.”

“Masuk.”

Pintu terbuka pelan.

Seorang perempuan paruh baya mendorong troli kecil berisi semangkuk sup hangat, nasi, dan segelas air putih.

“Nyonya menelepon tadi.”

Ian tetap duduk.

“Apa katanya?”

“Beliau meminta maaf karena tidak bisa makan malam bersama.”

Ian hanya mengangguk.

“Lalu Tuan Besar mengabarkan bahwa besok pagi langsung berangkat ke Singapura.”

“Baik.”

Asisten rumah tangga itu menunggu beberapa detik.

Seolah berharap Ian mengatakan sesuatu.

Namun ruangan tetap sunyi.

Akhirnya ia membungkukkan badan pelan.

“Kalau begitu saya permisi.”

Pintu kembali tertutup.

Ian memandangi makanan di atas meja kecil dekat jendela.

Masih hangat.

Tetapi entah mengapa ruangan itu terasa semakin dingin.

Malam semakin larut.

Jam digital di samping tempat tidur menunjukkan pukul 22.47.

Ian belum tidur.

Ia berdiri di depan jendela sambil memandang hujan yang kembali turun tipis.

Lutut kirinya masih terasa sedikit nyeri.

Hansaplas yang ditempelkan Sirena mulai terangkat di salah satu ujungnya.

Ian mengangkat kaki ke atas kursi.

Ia menekan kembali perekat yang mulai lepas itu dengan hati-hati.

Sangat hati-hati.

Seolah benda kecil itu tidak boleh rusak.

Setelah memastikan hansaplas menempel rapi, ia kembali berdiri.

Pandangannya jatuh ke arah meja belajar.

Lalu ke buku bersampul putih.

Dan untuk pertama kalinya…

Ia membuat sebuah keputusan.

Besok.

Ia akan kembali ke halte itu.

Bukan karena berharap bertemu.

Hanya…

Karena ia ingin tahu.

Apakah perempuan bernama Sirena benar-benar melewati halte itu setiap sore.

Atau…

Hari ini hanyalah sebuah kebetulan.

Ian mematikan lampu kamar.

Ruangan langsung gelap.

Hanya cahaya bulan yang samar masuk melalui sela tirai.

Di atas meja belajar, buku bersampul putih itu tetap tergeletak dalam diam.

Halaman pertamanya hanya berisi satu nama.

Sirena.

Nama yang belum diketahui pemiliknya…

Bahwa sejak hari itu, tanpa sengaja, ia telah menjadi satu-satunya orang yang membuat seorang anak laki-laki mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pahami.

Bukan tentang hujan.

Bukan tentang luka.

Melainkan tentang…

mengapa seseorang memilih untuk peduli.


메타데이터
post_id
581f1ab859fb
slug
abyssal-bab-1-hansaplas-581f1ab859fb
url
https://medium.com/@naiaoctavia641/abyssal-bab-1-hansaplas-581f1ab859fb
canonical_url
https://medium.com/@naiaoctavia641/abyssal-bab-1-hansaplas-581f1ab859fb
author_url
https://medium.com/@naiaoctavia641
status
ok
fetched_at
2026-06-23 17:05:31