← Back to list

Bukan Hanya Aku, Bukan?

Tapi sungguh, aku harap bukan hanya aku. Bukan?

Tanda Tanya · 2025-07-12 11:56 · 1 claps · 2.6 min read
#jo #arunika
Open on Medium ↗

Bukan Hanya Aku, Bukan?

Malam turun perlahan di kota kecil tempatku tinggal. Hujan baru saja reda, menyisakan bau tanah basah yang mengendap samar di sela jendela kos yang tak rapat. Di sudut kamar berukuran tiga kali empat itu, aku duduk bersila di atas kasur. Tangan kiriku memegang cangkir kopi favorit — secangkir kopi salted caramel kesukaanku.

Rasanya manis di awal, lalu menyisakan jejak asin yang tertinggal di lidah — seperti perasaan yang sedang ku coba cerna malam ini. Seolah aku bisa menumpahkan semua pikiranku ke dalam cangkir itu, lalu menyeruputnya perlahan, satu-satu.

Aku baru saja menulis ulang satu halaman catatan jurnal kecil, tentang dia — lelaki yang membuat segalanya berubah tempo. Cinta yang datangnya bukan dengan kembang api atau degup-degup awal yang liar, tapi justru hadir seperti kabut tipis yang lama-lama menyelimuti segalanya.

Di saat aku mulai mencintainya lebih dalam — lebih jauh dari sekadar rasa yang muncul di awal pertemuan. Bukan lagi hanya tentang siapa dia bagiku, tapi tentang dunia yang ia cintai, yang perlahan jadi bagian dari caraku memandang segalanya.

Aku mulai menyukai musik yang dulu tak pernah masuk ke daftar putarku. Lagu-lagu yang ia putar sambil menyetir, sambil memasak, sambil diam-diam tenggelam dalam pikirannya. Aku mendengarkannya, tak hanya dari nada dan lirik, tapi juga dari cara matanya berbinar saat lagu itu berbunyi.

Aku juga senang mendengar cerita-ceritanya: tentang hutan, tentang udara dingin di puncak, tentang matanya yang sempat bertemu babi liar di antara kabut, atau tentang betapa takutnya ia pada ketinggian. Setiap petualangan itu ia simpan seperti harta, dan aku jadi ingin ikut menjaganya. Bahkan jika tubuhku ini tak sekuat kakinya yang bisa mendaki berjam-jam, aku masih ingin mencoba. Menyusuri jejaknya. Menemukan apa yang membuatnya jatuh cinta pada dunia yang luas itu.

Tapi kadang aku bertanya: Apa aku bisa? Apa cintaku cukup kuat untuk berjalan sejauh itu? Atau, justru aku hanya sedang berusaha menjadi seperti dia — agar aku tetap bisa berdiri di sisinya?

Kembali pada Jo.

Lelaki itu baik. Terlalu baik, mungkin, hingga aku kesulitan membenci dia — meski kadang, rasanya ingin. Pun ketika orang-orang menilainya rendah, menyebutnya dingin, terlalu tertutup, atau terlalu santai dalam menanggapi dunia. Tapi, heii? Siapa yang peduli soal itu? Bagi mereka, dia sekadar sosok yang sulit dipahami. Bagiku, justru itulah yang membuatnya menarik.

Dia adalah dia. Dan entah sejak kapan, aku mulai ingin menjadi seperti dia.

Kala itu, cuaca cerah dan angin bergerak pelan dari celah jendela, aku duduk di sampingnya. Rasanya tenang. Lalu, dengan harapan kecil yang kuselipkan dalam senyum, kuperlihatkan film dari sutradara favoritku — film yang, menurutku, bisa menjelaskan banyak hal yang tak sempat kuucap. Bukan supaya dia menyukai apa yang aku suka. Tidak sesederhana itu.

“Eh, kamu tahu sutradara favoritku itu siapa?” tanyaku, membuka percakapan ringan.

Jonathan menoleh sebentar, lalu mengangkat bahu. “Yang filmnya banyak adegan hening itu, ya?”

Aku tertawa kecil. “Nggak semua sih. Tapi… ya, semacam itu. Nih, aku mau kasih kamu judul film terbarunya. Mungkin kamu bisa nonton. Kalau ada waktu. Tapi.. kayaknya emang wajib nonton sih,” jawabku tersenyum.

Ku sodorkan ponselku, memperlihatkan judul film yang ku maksud. Jo hanya menatap sekilas, lalu mengangguk.

“Oke, nanti aku lihat, ya,” jawabnya singkat.

Tapi aku tahu betul arti “nanti” darinya. Itu bisa berarti besok. Atau tidak sama sekali.

Aku mencoba melakukan hal yang sama. Beberapa kali.

Mengirimkan tautan YouTube, potongan film, bahkan potongan catatan yang, bagiku, punya pesan tersembunyi.

“Ini bagus banget,” tulisku.

Pesanku dibaca. Tapi tak dibalas. Sampai malam berganti pagi, dan minggu beranjak menjadi bulan.

Saat kami kembali bertemu, ku coba tanyakan padanya.

“Kamu nonton nggak, yang aku kirim waktu itu?” tanyaku, mencoba terdengar santai.

Jonathan mengerutkan alis, “Yang mana ya?”

Aku hanya tersenyum, menunduk, menyembunyikan kecewa yang perlahan tumbuh jadi kesal.

“Nggak apa-apa,” jawabku canggung.

Aku hanya ingin menunjukkan perasaanku, dengan caraku sendiri. Seperti dia, yang kadang mengungkapkan isi hatinya lewat musik yang dia bagikan. Ya, kadang ia lupa. Kadang hanya membaca, tapi tak bertanya. Atau mungkin — dia memang mengabaikannya sejak awal.

Lalu, Apakah hanya aku saja? Yang memperhatikan, mencatat hal-hal kecil, menunggu, dan berharap?

Tapi sungguh, aku harap bukan hanya aku. Bukan?


메타데이터
post_id
792d7cd0ebde
slug
bukan-hanya-aku-bukan-792d7cd0ebde
url
https://medium.com/@alhanuna.najmal16/bukan-hanya-aku-bukan-792d7cd0ebde
canonical_url
https://medium.com/@alhanuna.najmal16/bukan-hanya-aku-bukan-792d7cd0ebde
author_url
https://medium.com/@alhanuna.najmal16
status
ok
fetched_at
2026-08-29 19:58:42