← Back to list

Teater yang Merambat ke Luar Gedung

Waktu itu saya belum sampai setahun di Kota Palu. Saya belum tahu kalau gedung terbengkalai di tengah puing entah-apa-ini pernah jadi…

Adi C.W. Atmaja in Komunitas Blogger M · 2026-01-17 12:11 · 160 claps · 9.1 min read paywalled
#teater-indonesia #arsip-peristiwa-seni #sulawesi-tengah #kota-palu #jurnal
Open on Medium ↗
Wiki topics: ⚖️ · Law & Justice

Teater yang Merambat ke Luar Gedung

Ilustrasi: Pementasan Teatrikal “Gaza” oleh Lentera Silolangi, Taman Gor Palu, 11 November 2024. (Dok: Istimewa)

Ilustrasi: Pementasan Teatrikal “Gaza” oleh Lentera Silolangi, Taman Gor Palu, 11 November 2024. (Dok: Istimewa)

Waktu itu saya belum sampai setahun di Kota Palu. Saya belum tahu kalau gedung terbengkalai di tengah puing entah-apa-ini pernah jadi jantung geliat seni di kota. Termasuk jantung dari anak teater yang pentasnya akan saya tonton malam itu.

Di tengah semak dan lembab sisa hujan seharian, mereka gotong royong bikin pentas bertajuk Anti-Tokoh pada awal November 2019. Belakangan baru saya tahu kalau gedung itu bernama Golni, sisa dari taman budaya yang ludes dihantam bencana tahun 2018. Juga belakangan baru saya tahu kalau mereka adalah kumpulan dari beragam nama yang bekerja kolektif; ada Dapur Seni 45, empunya acara malam itu yang basisnya di SMK 2 Palu, ada Technocrat 12 dari SMK 3 Palu, ada Sanggar Seni Lentera, alumni dari kedua sekolah tadi.

Usai menonton, saya memutuskan untuk tongkrongi sirkel mereka agar bisa terus nonton teater di kota ini.

*Baca gratis di sini

Niat disambut momen. Dalam kurun waktu yang dekat, teater bermunculan. Palu Monolog Festival diselenggarakan beberapa hari kemudian, dari 10 sampai 12 November. Saya cuma hadir di hari pertama dan kedua, menonton empat dari sembilan pertunjukan. Semuanya bermonolog[1], sesuai nama festivalnya.

Mereka main dalam panggung kecil yang berdiri di halaman rumah Rumah Seni Sjahrir Lawide. Penonton duduk persis di depan teras rumah, dinaungi pohon mangga dengan dahan yang lebar. Sepintas saya dengar percakapan tentang ayam yang sudah diusir sejak sore, biar tidak nongki di dahan dan buang hajat di kepala penonton. Ternyata rumah ini juga basis dari Komunitas Seni Lobo, inisiator kegiatan kali ini.

Sumber: Instagram Komunitas Lobo

Sumber: Instagram Komunitas Lobo

Sekian minggu kemudian, sirkel Lentera dan adik-adiknya tampil lagi di Golni. Mereka bikin pertunjukan berbayar dengan harga tiket yang terlalu murah. Lima ribu rupiah. Tajuknya 2 Malam 4 Karya. Kali ini tanpa membawa nama kelompok sama sekali. Empat monolog disajikan dalam dua malam; ada Rifaldi dengan Matinya Toekang Kritik (Agus Nur), ada Annisa Saskia dengan Kunci Kontak (Yusef Muldiana), ada Taufik Nugraha dengan Nagina (Nano Riantiarno), dan Anggie Marzelina dengan Balada Sumarah (Tentrem Lestari).

Pada malam pertama, listrik padam. Lampu motor dan senter hape mengganti lampu corong yang hilang gunanya. Sejak malam ini, saya harus mendengar lebih dari 3 pertanyaan yang sama; Kenapa pertunjukannya dihargai murah sekali?

UU KPK direvisi. Rasisme viral di Surabaya. Demo meluas seantero negeri. Gerakan mahasiswa dan tagar-tagar anti pemerintah mencuat di arus utama, mengubur kabar pandemi yang bikin panik dunia. Minggu berganti bulan.

Akhir Desember, sirkel yang sama muncul sebagai Rumah Akting dan tajuk Pulang Bae. Drama realis dari tulisan dan garapan Arifin Nur — lebih akrab dengan nama Ipin TL. Kali ini mereka ramai dengan wajah baru, harga tiketnya juga lebih layak, tapi saya lupa persisnya berapa. Saya dibebaskan masuk, mungkin sudah dianggap satu sirkel. Kemudian tahulah saya kalau wajah-wajah baru itu datang dari macam-macam sanggar kampus. Tapi selalu ada wajah yang sama dan macam-macam nama.

Sumber: Instagram Rumah Akting

Sumber: Instagram Rumah Akting

Ketika tahun berganti 2020, sirkel ini saya bujuk untuk tampil di Nemu Buku. Perpustakaan komunitas yang saya tongkrongi sejak awal tiba di Palu. Kali ini mereka tampil dengan nama yang beda lagi — Sanggar Seni Gimba, dari Fakultas Sastra Unisa. Konsepnya dialog, dan Kunci Kontak jadi karya pertunjukan yang akan memantik diskusi. Annisa Saskia jadi aktor, Dili Swarno jadi sutradara. Diskusi usai pentas melebar ke soal perempuan, feminisme, dan posisi sastra di antaranya. Maklum, penonton punya bermacam latar belakang, ada LSM, ada pegiat literasi, dan orang-orang yang sulit ditandai pakai satu label saja.

Masih pakai nama yang sama, sirkel tadi mengajak saya berangkat untuk ikut kompetisi monolog di Solo[2]. Meski nama kampus yang dibawa tidak beri dukungan untuk berangkat, kami berhasil terbang pakai dana urunan dari banyak nama pula. Sanggar ini pun berangkat, dapat juara dua dan hadiah uang yang dipakai pesan tiket pulang. Hingar bingar kemenangan dan rentetan pentas berakhir di sini. Pandemi tiba di Palu, ruang publik di tutup, panggung redup.

Dunia mengunci pintu, mekah kehilangan jemaat, kantor tutup, bisnis gulung tikar, di depan mata saya seorang lelaki kena jambret pada siang bolong di Jl. Gajah Mada. Teater? megap-megap. Kerumunan dilarang, sekolah pindah ke internet, remaja yang baru mulai berteater pun harus ikut pensiun dini.

Pertengahan April, anak teater berusaha tetap eksis dengan acting challange. Hanya 15 akun yang ramaikan tagar ini sepanjang 17 sampai 21 April. Penggalan drama jadi trend sebentar dikalangan mereka sendiri — dan seperti halnya trend, redup segera. Pada 22 Juli, Nisa dan Dili presentasikan garapan juara mereka. Meminjam teras dari kantor PRD[3] di Thamrin. Setelah itu, harapan diinfus oleh lomba teater daring. Satu demi satu muncul, dan Palu tidak membawa kabar apa-apa. Seorang kawan bernama Nazar (juga anak teater) mengajak saya untuk menanam jagung, saya setuju karena takut krisis. Teater tidak lagi nampak sampai tahun habis.

Dok. Istimewa

Dok. Istimewa

Ketika pandemi gelombang pertama reda pada awal 2021, rumput menjalar di golni kembali dipangkas. Gabungan seniman lintas kelompok, disiplin, dan usia rembuk untuk merespon Hatedu**[4]**. Disutradarai oleh Lahamudin Yoto, mereka mementaskan Aum gubahan Putu Wijaya.

Gelaran ini dibelakangi oleh bermacam nama kelompok, di antaranya ada; Sanggar Seni Lauro, Sanggar Seni Lentera, Komunitas Seni Tadulako, Jaring Teater, Ruang Kreatif Nusantara, Pelaku Teater Indonesia, dan Sinekoci. Teater Nol Dua, salah satu kelompok yang terlibat di produksi Aum bahkan lebih dulu memakai Golni untuk pentas. Mereka pentaskan teater berjudul Istidroj, ditulis sekaligus disutradarai oleh Sastra Lingga Adiaramu. Dua perhetalan ini jadi pemecah keheningan panjang dari teater selama pandemi.

Sementara proses kreatif Aum berlangsung, Dili meminta saya untuk meneruskan selembar draft naskah yang ingin ia sutradarai. Naskah itu kemudian diproduksi oleh Sanggar Seni Lentera, Dili jadi sutradaranya, disajikan sebulan kemudian sebagai drama musikal berjudul The Backstage. Pementasan berlangsung selama dua hari, 9 sampai 10 April, meraup lebih dari 400 penonton.

Tangkapan Layar Dokumentasi Pementasan Aum karya Putu Wijaya (Sumber: Youtube Sinekoci Palu)

Tangkapan Layar Dokumentasi Pementasan Aum karya Putu Wijaya (Sumber: Youtube Sinekoci Palu)

Panas yang dipantik sejak Hatedu terus disambung oleh Komunitas Lobo. Teater dari Rumah ke Rumah jadi tajuk yang mengudara. Tampil pertama kali pada 4 Mei dengan Pinangan, saduran Suyatna Anirun dari Anton Chekov. Karya ini disajikan di teras rumah warga Jl. Anoa. Suatu usaha untuk menjawab absennya ruang pasca bencana, sekaligus pembatasan sosial selama pandemi. Tapi lanjutan acara ini harus diurungkan sebab siapa sangka kalau pandemi pecah lagi?

Varian delta tiba di Palu pada musim kemerdekaan. Pembatasan sosial diperketat lagi. Sirene ambulans ramai lalu-lalang, kabar duka terus mengudara lewat toa mesjid.

Di tengah kegamangan, Lentera sedang merekam monolog berjudul Tukang Kubur. Ipin TL menggarap Dili Swarno yang memainkan naskahnya sendiri dalam gedung Fakultas Sastra Unisa — hanya sekian langkah dari mesjid agung yang toa-nya keras terdengar sampai sekian blok. Rekaman ini kemudian disajikan sebagai satu dari 38 penampil PAMONASPATI[5], parade monolog daring oleh Pelaku Teater Indonesia. Selama 30 hari sejak 17 Agustus, teater merayakan kemerdekaan di antara batas dan duka.

Pada titik ini, saya telah masuk lebih dalam ke sirkel mereka; bahkan jadi pengurus dari Lentera. Barulah saya paham kalau sekian banyak gedung di kota ini tidak cocok untuk teater. Kalau bukan masalah akustik, panggungnya sempit, atau tidak punya backstage, atau biayanya terlalu mahal, atau banyak pungutan liar, dan atau-atau-atau yang lain.

Ketika memilih gedung, standar minimal adalah bisa disiasati. Kain hitam jadi satu alat serbaguna dalam bersiasat; jadi backdrop, permulus akustik, dan memberi nuansa gedung teater pada gedung kondangan. Sementara itu, mengakses kain hitam dengan modal tipis pun harus bersiasat dengan meminjam; dibayar rendah dengan isilah “biaya perawatan, atau dibayar dengan tempel logo di poster (kau harus akrab untuk bisa begini).

Segala soal siasat ini pun tidak lepas dari masalah pendanaan; dari ketersediaan akses, tata kelola keuangan kelompok, sampai pengetahuan untuk mengakses anggaran itu sendiri dari macam-macam kantong. Soal gedung ini bikin teater harus merambat seperti rumput liar. Lihat saja variabel ruang dari pentas teater sepanjang 2021; Hatedu di gedung terbengkalai, Lobo di teras rumah warga, sampai Lentera yang meminjam ruang lobi fakultas, dan lantai dua kantor perusahaan swasta[6].

Sumber: Instagram Lentera Silolangi

Sumber: Instagram Lentera Silolangi

Tapi sejarah selalu menceritakan pandemi yang sudah berakhir, begitu juga pandemi covid-19 ini. Memasuki tahun 2022, sanggar seni pelajar mulai bergaung. Mereka diaktivasi oleh sekumpulan remaja hampir lulus yang merasa proses kreatifnya nanggung sejak 4 tahun dihantam berlapis bencana. Ada Fajar dari Technocrat 12, ada Ajan dari Dapur Seni 45, dua wajah baru dari nama yang akrab. Mereka gerilya mengaktivasi sanggar sekolah, lalu urun daya bikin pentas kolab.

Beruntung, Technocrat bisa mengakses halaman sekolah untuk latihan sampai malam, juga aula sekolah (yang tentunya bisa disiasati) untuk pentas. Penampilan perdana mereka dinamai Techda Show, jadi awal proses regenerasi baru. Sekolah kembali bertatap muka.

Pandemi reda. Anak-anak kembali belajar dan bergaul seperti biasa. Tawuran meletus. Mereka dilarang latihan sampai malam. Kemudian dilarang juga pakai aula sekolah untuk pentas. Panggung mereka pun ikut merambat seperti rumput liar.

Pada bulan Oktober, Dapur Seni 45 harus urungkan niat unjuk gigi di sekolah setelah sekian lama vakum. Alasannya masih soal gedung — tidak ada gedung yang cocok untuk karya mereka di sekolah. Remaja SMK ini harus menyewa gedung aula milik Dinas Pendidikan Provinsi. Dua teater karya Bakdi Soemanto hadir sekaligus malam itu[7]. Kemudian remaja ini tobat pakai gedung setelah arti dari biaya tak terduga; uang makan dan rokok penjaga keamanan, dan akses fasilitas yang harus diraih pakai urat leher.

Kawan mereka dari Technocrat 12 akhirnya menyewa gedung milik Museum Provinsi. Pentasnya menyusul pada Januari tahun berikutnya di Museum Sulawesi Tengah[8]. Lentera yang juga sedang kembali merintis, ikut jadi pendukung setia; dari menyutradarai, ikut merancang pola kerja, sampai mengarsip proses mereka.

Sumber: Instagram Technocrat 12

Sumber: Instagram Technocrat 12

Meski repotnya bukan main, generasi mereka tambah ramai. Setidaknya punya banyak teman untuk pusing ramai-ramai dalam menyiasati ruang, cari tempat latihan, juga cari uang makan dan minum. Entah bagaimana, mereka terjaring dengan sanggar sekolah lain dan bikin latihan gabungan.

Latihan gabungan pertama mereka dihelat tidak lama setelah Techda Show, pertengahan tahun 2022. Banyak nama sanggar pelajar yang padam sejak bencana dan pandemi akhirnya bertemu; ada Flaminggo dari SMA 6 Palu, Narangguni dari SMA Al-Azhar, Kadera dari SMA Labschool, Lingkar Lima dari SMA 5 Palu, Kuas dari SMA 2, Teater Spontan dari SMA 1, Teater Nol Dua dari MAN 2, Caraka dari SMA 3 Palu, dan Toveaku dari SMK Toveaku. Pertemuan mereka seakan menguak fenomena gunung es; keresahan eksistensial teater pelajar yang tidak terdengar, bahkan di telinga saya.

Selepas tahun 2022, pandemi reda. Masker dibuka. Gelaran publik kian ramai. Gedung-gedung olahraga dibangun. Teater? masih merambat — tapi dengan penanda yang penting disebut:

Sumber: Instagram Yayasan Tadulakota

Sumber: Instagram Yayasan Tadulakota

Komunitas Seni Tadulako (KST) tampil melalui gelar karya bertajuk “Tadulako Neolitikum Voice” pada tahun 2023. Garapan ini jadi puncak dari program dukungan Dana Indonesiana yang diterima oleh kelompok payungnya; Yayasan Tadulakota.

Setelahnya, nama mereka terus mencuat ke publik melalui ragam pertunjukan; ada Tadulako Mpo Raego (2024) yang ditampilkan dalam festival folklore internasional di Kalimantan[9], dan Tadulako Memeas (2024) yang tampil di Festival Budaya Panji. Komunitas Lobo dapat rejeki nomplok dari program fasilitas Kemendikbud pada akhir tahun 2024. Tiga buah panggung mereka bangun di Lapangan Koni. Pentaskan teater bertajuk Pramupintu Tomene selama dua hari. Acara ini ditonton oleh ratusan (mungkin hampir ribuan) warga Kota Palu.

Sementara itu, Lentera masih bergiat dengan modal pas-pasan. Terbatasnya daya untuk berteater di daerah bikin Lentera sibuk menangkap peluang di luar kota (tanpa pusing siasati gedung). Sepanjang tahun 2022 sampai 2023, Lentera bawa tiga kabar baik lewat penghargaan dan eksibisi nasional[10].

Sisanya, sumber daya mereka sibuk merawat semangat teater pelajar yang kian ramai. Setiap tahun mereka bikin lebih dari satu pentas, tiap sanggar sekolah bergilir dan saling dukung — meski sejak pertama kali saya kenal mereka, sekretariatnya sudah tujuh kali ganti.

Memasuki tahun 2025, Gedung Kesenian sudah bisa digunakan. Komunitas Seni Tadulako jadi pembuka dengan Tadulako Folk Art. Tapi sejak pertama kali saya masuk ke dalam, saya dan banyak kawan segera mengubur ekspektasi tentang gedung teater yang layak. Kabar tentang pembangunan kembali muncul belakangan, tapi drama sudah berjalan dan (terus hidup) tanpa gedung teater sekalipun. Pandemi sudah jauh usai. Konser muncul di mana-mana. IKN dibangun dan mandek. Teater terus merambat dan bersambung.

[1] Monolog: Jenis pertunjukan teater yang dimainkan oleh satu aktor saja.

[2] Artefac UNS: Kompetisi seni gelaran Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sebelas Maret, Solo, 2020.

[3] PRD: Partai Rakyat Demokratik

[4] HATEDU: Hari Teater Dunia, dicetuskan 27 maret 1961 oleh International Theatre Institute.

[5] PAMONASPATI: Parade Monolog Nasional Pelaku Teater Indonesia.

[6] Pentas Mini Stage Lentera di lantai dua PT. Rumah Cerdas, Jl. Tj. Pangimpuan — 17 sampai 19 Juni.

[7] Nompamula Art: perayaan proses kreatif tahunan dari Dapur Seni 45, SMK N 2 Palu — 22 Oktober 2022.

[8] Technocrat Art Show: perayaan proses kreatif tahunan dari Technocrat 12, SMK N 3 Palu — 7 Januari 2023

[9] East Borneo International Folklore Festival 2024, Samarinda, Kalimantan Timur

[10] Festival Seni Bali Jani 2022, Festival Kala Monolog 2022, Festival Seni Bali Jani 2023,

Esai ini adalah versi lebih panjang dari esai berjudul “Kronik Anak Teater Pasca Bencana”, salah satu esai dalam kumpulan esai “Palu yang Anu”. Publikasi terpisah dari esai ini sudah disepakati bersama penerbit.


메타데이터
post_id
7f5ed4c3aba6
slug
teater-yang-merambat-ke-luar-gedung-7f5ed4c3aba6
url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/teater-yang-merambat-ke-luar-gedung-7f5ed4c3aba6
canonical_url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/teater-yang-merambat-ke-luar-gedung-7f5ed4c3aba6
author_url
https://medium.com/@admaja2199
status
ok
fetched_at
2026-08-03 14:14:40