← Back to list

Grand Tour, dan Pencerahan dari Utara Indonesia

Perjalanan ke salah satu daerah terluar di Indonesia, Natuna. Mencerahkan pandangan saya tentang wisata berbasis komunitas, atau disini…

wandeour · 2024-12-02 12:47 · 1 claps · 5.6 min read
#tourism #desa-wisata #natuna
Open on Medium ↗
Wiki topics: ✈️ · Travel

Grand Tour, dan Pencerahan dari Utara Indonesia

Perjalanan ke salah satu daerah terluar di Indonesia, Natuna. Mencerahkan pandangan saya tentang wisata berbasis komunitas, atau disini jamak dibahasakan sebagai desa wisata.

Pantai Batu Kasah. Dokumentasi Pribadi.

Pantai Batu Kasah. Dokumentasi Pribadi.

Tempat ini tidak pernah terpikirkan untuk saya datangi sebelumnya. Jauh dari bayangan orang-orang. Atau lebih parahnya, banyak orang tidak kenal tempat ini? Pada penghujung tahun 2022, sebuah pesan singkat masuk:

“Kita butuh anak pariwisata nih buat masuk tim KKN Pesona Natuna”

Tanpa berpikir dua kali, ajakan ini saya iyakan. Sebuah program besar diajukan: rebranding wisata di salah satu kecamatan di Pulau Bunguran. Baik. Walau sayang seribu sayang tim ini tidak berhasil mendapatkan lokasi dan program yang direncanakan di awal, tak apalah. Kita tetap ke Natuna!

Yang kita tempati selama 50 hari ini adalah Pulau Bunguran, pulau terbesar di Kabupaten Natuna yang juga pusat kehidupan di Natuna. Lupakan program kerja soal pariwisata, akan saya ceritakan apa-apa saja yang sudah kulewati selama 50 hari, yang terkait dengan pariwisata.

Sebagai daerah kepulauan, jangan tanya soal pantainya. Tiada tanding indahnya. Sekedar duduk-duduk di pinggir laut, berenang, snorkling, menyebrang ke pulau-pulau sekitar. Kalau anda tipikal pengunjung yang memiliki tujuan untuk liburan, jelas Natuna tidak akan mengecewakan anda.

Pulau Senoa. Dokumentasi Pribadi.

Pulau Senoa. Dokumentasi Pribadi.

Liburan ya, liburan. Holiday. Mari bicara soal wisata, tourism. Entah bagaimana anda mendefisikan dua hal yang terkesan sama ini. Bagi saya, sekedar menikmati pemandangan atau sekedar berfoto di landmark yang menarik itu liburan. Berbeda dengan wisata, dimana saya berkiblat pada Grand Tour di abad 17–18. Suatu perjalanan yang dilakukan para bangsawan muda Eropa untuk mendapatkan pengalaman baru dan mempelajari budaya di tempat lain.

Saya bisa bilang, 50 hari saya disana adalah Grand Tour versi saya sendiri. Tak perlu saya bersusah-payah mencari, hal-hal yang dicari para bangsawan muda Eropa saat Grand Tour bisa saya dapatkan dengan mudah. Mari saya narasikan Grand Tour versi saya itu:

Belajar budaya? Tentu, bayangan saya mengawang pada budaya Melayu yang selama ini baru saya sentuh melalui kartun Upin dan Ipin. Sebagai pemuda Jawa yang seumur hidupnya hanya mendiami Pulau Jawa, tentu semangat saya untuk hidup di ‘rumah’ suku lain sangatlah membara. Dan bara tersebut padam saat saya mengetahui, lokasi saya tinggal adalah sebuah desa tempat transmigran Jawa tinggal selama kurang lebih 50 tahun.

50 tahun! Mereka masih berbahasa Jawa, dengan musik-musik dangdut Jawa, bahkan mereka yasinan tiap malam Jumat! Pada acara pernikahan, lagu yang didendangkan juga lagu Jawa. Pertunjukannya pun, reog dan kuda lumping! Disaat warga Pulau Jawa menggaungkan keresahan tentang wong jowo ilang jowone, para transmigran ini dengan bangga menyatakan, budaya ini harus dipertahankan! Orang Melayu akan senang karena mereka bisa menonton pertunjukan Jawa tanpa harus ke Pulau Jawa! Mungkin saya bukan orang yang tepat untuk menilai, apakah ini bentuk kebanggan yang baik terhadap budaya sendiri, atau, chauvinism? Tapi dari sudut pandang orang yang belajar untuk memperdagangkan sesuatu untuk menjadi daya tarik wisata, that’s cool.

Pertunjukan Reog di Desa Air Lengit. Dokumentasi Pribadi.

Pertunjukan Reog di Desa Air Lengit. Dokumentasi Pribadi.

Saya bahkan tidak sempat mencicipi satupun aspek kehidupan berbudaya Melayu selama 50 hari itu. Tapi satu tajuk mungkin bisa didiskusikan dari fenomena tersebut: Bagaimana dua kebudayaan di Natuna ini berdinamika? Apakah selamanya mereka bisa hidup berdampingan? Apakah salah satu dari mereka harus hilang?

Sebelum bicara soal mencari pengalaman baru disini, saya mulai dengan mencari tahu. Apa yang disebut warga disini sebagai masalah terhadap pariwisata di Natuna. Pertama, yang mutlak: Akses. Hanya sedikit opsi untuk anda mengunjungi pulau cantik ini. Naik pesawat, yang tarifnya hampir pasti di atas 2.5 juta dari Jakarta. Atau naik kapal yang hanya seminggu sekali itu. Iming-iming keindahan pantai dan kepulauan yang dikemas dalam branding 3S (Sea, Sun and Sand) oleh pemerintah, seketika ‘dilepeh’ oleh wisatawan domestik setelah mendengar harga dan sulitnya akses kemari. Kenapa harus kemari? Sumatra have Mentawai and Bangka Belitung, Jawa have Karimunjawa and Pulau Seribu, Kalimantan also have Derawan!

“Tempat seperti Natuna, mending target langsung ke turis manca aja!”

Jangan lupa, bahkan orang Indonesia lebih mengenal Natuna sebagai daerah konflik ketimbang daerah wisata. Dari bisik-bisik yang saya dapat, wisatawan asing akan sangat tidak nyaman disini. So, lupakan saja wisatawan asing.

Ah, bicara wisatawan asing. Wisatawan asing dikenal di Indonesia sebagai pengunjung yang menganut konsep tourism ketimbang holiday yang biasa dianut wisatawan domestik. Pengalaman baru sangat didambakan oleh mereka. Kembali lagi bicara pengalaman. Lalu apa yang bisa Natuna tawarkan untuk memenuhi hasrat tourism ini? Selain foto-foto di pantainya?

Pada waktu-waktu terakhir, saya mendapatkan jawabannya. Saya ‘diculik’ ke salah satu sudut di Pulau Natuna, yang cukup jauh dari pusat keramaian. Memasuki Desa Mekar Jaya melalui hutan mangrove, disambut oleh salah satu local heroes disana, Bapak Ahdiani. Senior kami sudah mewanti-wanti akan ada penculikan oleh seseorang ber-nickname cikgu besar ini (cikgu besar=kepala sekolah). Ya, beliau adalah seorang kepala sekolah, namun saya kira makna cikgu besar di beliau ini berarti lebih di mata saya. Tabik.

Cikgu Besar Menanti Kedatangan Kami. Dokumentasi Pribadi.

Cikgu Besar Menanti Kedatangan Kami. Dokumentasi Pribadi.

Beliau dengan senang menceritakan tentang pengalaman yang seharusnya didapat oleh semua wisatawan yang datang ke Natuna, yang tiada duanya di belahan dunia manapun! Presbytis natunae, atau biasa disebut Kekah. Primata kecil lucu ini adalah hewan endemik Natuna. Melalui branding Kekah Watching, kami diajak untuk melihat Kekah di habitat aslinya.

Maman, Seekor Kekah. Dokumentasi Pribadi.

Maman, Seekor Kekah. Dokumentasi Pribadi.

Semangat ini muncul dari kerisauan akan menipisnya populasi Kekah ini, dan cikgu besar menginginkan wisatawan untuk memahami bahwa melihat satwa eksotis ini akan terasa lebih memuaskan saat melihat di habitat aslinya. Saya putuskan saat itu juga. Kalau ada yang mencari hidden gem wisata di Natuna, inilah hiddem gem sesungguhnya. Bukan Pantai Batu Kasah atau Teluk Depeh. Sebagai mahasiswa pariwisata, saya merasa bangga juga merasa kecil. Di Tengah demam desa wisata, yang di Jawa rasa-rasanya apapun diklaim sebagai desa wisata asal lokasinya berada di pedesaan, Mekar Jaya seakan memberi pencerahan soal penerapan desa wisata yang tepat. Potensi yang harus ‘dibahasakan’ oleh warga lokal agar dapat dinikmati wisatawan, sehingga kunci berkunjung kesini bukanlah ekosistem mangrove atau Kekahnya. Kunci berkunjung kesini adalah masyarakatnya, yang menjadi pathfinder untuk melihat kekah; menjadi interpretator untuk menceritakan satwa unik ini. Tanpa masyarakatnya, saya juga tidak akan mendapatkan pengalaman yang maksimal. Pariwisata yang bergantung ke masyarakat, bukan masyarakat yang tergantung pada wisata. Kecuali anda hanya ingin berfoto di jembatan kayu di hutan mangrovenya, sih. Saya rasa saya salah kalau mengilhami desa wisata hanya dari atraksinya untuk berfoto-foto. Lokasi wisata yang sudah photogenic, tidak perlu jadi desa wisata untuk mengundang wisatawan berkunjung kan?

Pengalaman-pengalaman lain yang didapat, tentunya relatif rasanya bergantung dari manakah anda datang. Sebagai manusia yang hidup jauh dari laut, berkeliling kesana kemari menggunakan kapal, mengunjungi Pulau Sedanau yang warganya hidup di atas air laut, atau berbelanja ke pasar sembari nyemplung sedikit ke laut tentu pengalaman yang menyenangkan Yang pasti, butuh Grand Tour yang lebih lama lagi untuk mengenal pulau kecil ini. Maafkan apabila tulisan ini tercipa dari sudut pandang yang cukup sempit. Ahh, Natuna, kapan kiranya daku kembali kesana?

Suatu pencerahan saya dapat disini. Tepat sebelum saya mengakhiri masa perkuliahan saya, menjadikan ilmu ini ilmu yang sangat berharga yang saya dapat selama masa berkuliah di bidang pariwisata. Desa wisata tidak hanya sekedar tempat yang photogenic, yang didiamkan saja sudah bisa mendatangkan wisatawan, lalu meminta warga terlibat di pengelolaannya dan menambahkan sedikit pertunjukan budaya. Bukan. Lebih dari itu. Desa wisata seharusnya menjual keorisinilan, yang diharmonisasikan dengan masyarakatnya sebagai wajahnya, menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Orisinalitas itu tidak hanya wujud benda seperti pantai atau gunung, tapi juga spirit. Seperti Desa Air Lengit atau desa transmigran orang Jawa lain di Natuna, yang berprinsip wong jowo ora ilang jowone. Atau Desa Mekar Jaya dengan semangat melestarikan Kekah yang saat ini hanya hidup di desa tersebut.

Belum ada satu tahun saya meninggalkan Natuna, muncul headline yang menarik pandangan saya di sosial media: Desa Wisata Cemaga Tengah, desa dimana Pantai Batu Kasah berada, masuk 50 besar Anugrah Desa Wisata Indonesia. Really?!


메타데이터
post_id
8f0422d032c6
slug
grand-tour-dan-pencerahan-dari-utara-indonesia-8f0422d032c6
url
https://medium.com/@adam.indraprasta/grand-tour-dan-pencerahan-dari-utara-indonesia-8f0422d032c6
canonical_url
https://medium.com/@adam.indraprasta/grand-tour-dan-pencerahan-dari-utara-indonesia-8f0422d032c6
author_url
https://medium.com/@adam.indraprasta
status
ok
fetched_at
2026-07-21 21:44:54