Beng-beng Palsu dan Warung Tidak Kapitalis
Sukri berjalan di tepian jalan raya yang ramai sambil menendang-nendang sampah gelas plastik. Tangannya menggenggam uang kertas lusuh…
Beng-beng Palsu dan Warung Anti-Kapitalis

Sukri berjalan di tepi jalan raya yang ramai sambil menendang-nendang sampah gelas plastik. Tangannya menggenggam selembar uang kertas lusuh bergambar Sultan Mahmud Badaruddin II.
“Hmmm, ada ceban, beli somay apa makan di warteg ya?” gumamnya dalam hati. “Eh, tapi ga laper laper banget sih,” ia berhenti sejenak. “Oke fix, jajan aja!”
Ia pun kembali berjalan, meninggalkan gelas plastik bekas yang sudah tidak menarik lagi baginya. Mini market adalah tujuan Sukri, hanya beberapa ratus meter jaraknya dari lokasinya tadi.
Ditariknya pintu kaca bertuliskan “DORONG” dan dengan mantap ia memasuki mini market tersebut. Sebelah tangannya menepuk-nepuk paha, matanya seolah memindai semua barang dagangan. Sapaan “selamat siang kakak, selamat berbelanja” tak sedikit pun ia pedulikan.
“Wah, ada modelan beng-beng, nih!” gumam Sukri saat ia menemukan snack yang bertuliskan Soyjoy pada bungkusnya. Ia pun langsung mengambil 4 buah beng-beng tersebut.
“Jadi semuanya dua puluh empat ribu, kak” ucap si mbak kasir sambil tersenyum.
Sukri kaget. Terdiam. Terhenyak. Bibirnya bergetar. Matanya berkaca-kaca. Kemudian..
“Aaah bangsaaattt, tai lu semua!!!”
Sukri memaki semua kasir di depannya. Ia melempar satu per satu beng-beng di tangannya ke arah kasir. “Terkutuklah kalian kapitalis laknat!!!”
Sukri pergi, mendorong pintu kaca bertuliskan “TARIK” dan keluar dari tempat itu, meninggalkan para karyawan dan pelanggan lain yang sama terkejutnya bahkan mungkin lebih terkejut daripada Sukri sendiri.
Sukri berlari menyebrangi jalan, menuju warung rokok tepat di seberang mini market tadi. Ia melihat beng-beng, yang kali ini bertuliskan “beng-beng”. “Berapa bang?” “Seribu, dek.” “Hmmm, tai kan emang kapitalis anjing!” “Kenapa, dek?” sang abang warung rokok bertanya. “Masa di situ enem rebu bang!” “Hah? Serius? Banyak bener ya ngambil untungnya. Emang mahal belanja di situ mah. Kumpeni semua itu. VOC.”
메타데이터
- post_id
- 92c19bbdc343
- slug
- beng-beng-palsu-dan-warung-tidak-kapitalis-92c19bbdc343
- url
- https://medium.com/@janzuar/beng-beng-palsu-dan-warung-tidak-kapitalis-92c19bbdc343
- canonical_url
- https://medium.com/@janzuar/beng-beng-palsu-dan-warung-tidak-kapitalis-92c19bbdc343
- author_url
- https://medium.com/@janzuar
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-15 20:49:13