← Back to list

Meromantisasi Anak Perempuan Pertama

Tidak semua anak sulung memikul beban dunia. Beberapa hanya duduk diam, mencoba memvalidasi rasa sepinya sendiri.

Erin in Berbagi & Berdampak · 2026-04-25 04:57 · 251 claps · 2.5 min read
#self-awareness #bahasa-indonesia #berbagi-dan-berdampak #esai #family
Open on Medium ↗
Wiki topics: 👨‍👩‍👧 · Family & Parenting

Meromantisasi Anak Perempuan Pertama

Tidak semua anak sulung memikul beban dunia. Beberapa hanya duduk diam, mencoba memvalidasi rasa sepinya sendiri.

Ilustrasi dari Matilda via Pintrest

Ilustrasi dari Matilda via Pintrest

Ada seorang anak perempuan sulung yang sering merasa ganjil setiap kali membaca narasi tentang *eldest daughter syndrome *di media sosial.

Istilah populer ini digunakan untuk menggambarkan tekanan psikologis dan sosial yang dirasakan oleh anak perempuan pertama. Mereka biasanya diberikan tanggung jawab yang besar sejak kecil, mulai dari mengurus adik, membantu orang tua, hingga tak jarang diharapkan menjadi figur pengganti ibu dalam beberapa situasi.

Ketika banyak orang membagikan keluh kesah mengenai beratnya beban tersebut, anak perempuan ini justru terdiam. Pengalamannya tidak terasa seperti itu. Alih-alih merasa memikul tanggung jawab yang teramat berat, hal yang paling sering menghampiri malah sebersit ‘diamnya penyesalan’.

Terkadang, ia menengok ke belakang dan membatin, membayangkan skenario masa lalu tentang bagaimana respons atau perlakuan yang sebetulnya ia harapkan. Namun, setiap kali pikiran itu muncul, ia dengan cepat memeluk permakluman dengan hangat: pada saat itu, orang tuanya sekadar belum mengerti. Menjadi anak pertama pada dasarnya adalah menjadi teman belajar bagi dua orang dewasa yang juga baru pertama kali menyandang peran sebagai orang tua.

Sering kali, apa yang dirasakan oleh anak perempuan ini bukanlah akibat dari tindakan yang disengaja. Psikolog klinis dr. Jonice Webb memberikan perspektif melegakan melalui *Psychology Today* yang jika disimpulkan:

Pengabaian emosional sering kali bukan tentang apa yang dilakukan orang tua kepada anaknya, melainkan tentang apa yang tanpa sengaja luput mereka lakukan.

Pandangan ini membantunya memahami bahwa rasa sedih yang sesekali muncul bukanlah karena orang tuanya bermaksud mengabaikan, melainkan sekadar ketidaktahuan manusiawi di tengah proses belajar membesarkan anak.

Meski begitu, ada satu hal yang kerap membuatnya tersenyum getir jika diingat-ingat. Di rumah, ia adalah anak yang paling antusias. Ia suka bercerita dan selalu ingin membagikan setiap detail kegiatannya dengan energi yang meluap-luap. Namun, entah mengapa, detail-detail tentang dirinya justru yang paling mudah menguap dari ingatan keluarganya. Logikanya, anak yang paling banyak berbicara seharusnya paling diingat.

Iya, kan?

Ia sering merenung: apakah karena ia terlalu bersemangat bercerita, suaranya perlahan melebur menjadi sekadar suara latar belakang di rumah yang sibuk? Apa mungkin, bukan karena tidak disayangi, melainkan karena kehadirannya yang selalu ceria dianggap sebagai sebuah kepastian yang tak lagi perlu diperhatikan detailnya?

Sebuah ironi yang manis namun menyisakan sedikit sepi; ketika antusiasme yang begitu besar justru menjadikannya mudah dilupakan.

Setiap kali rasa sepi itu datang, ia sering kali merasa bersalah pada dirinya sendiri. Secara material, hidupnya cukup. Orang tuanya selalu memastikan ia mendapatkan fasilitas dan pendidikan yang baik. Hal ini memunculkan dilema batin: ia merasa tidak tahu diri jika masih menuntut lebih, seolah itu saja sudah cukup untuk membungkam kebutuhan emosionalnya.

Padahal, secara psikologis, keduanya berjalan beriringan tanpa saling menggantikan. Penyediaan materi dan dukungan emosional adalah dua pilar pengasuhan yang berbeda; yang satu tidak dapat mengompensasi ketiadaan yang lain.

Kalimat ini menjadi penawar bagi rasa bersalahnya, menyadarkan bahwa mendambakan rasa didengar di tengah segala kecukupan fasilitas adalah hal yang sangat manusiawi.

Pada titik ini, ia menyadari bahwa mencari tahu “siapa yang salah” adalah hal yang sia-sia dan tidak relevan. Orang tuanya sama sekali tidak salah; mereka telah mencurahkan kasih sayang yang luar biasa melalui bahasa cinta yang paling mereka pahami, yaitu memberikan kehidupan yang layak dan nyaman.

Di saat yang sama, anak perempuan ini juga tidak salah. Merasa kecewa karena cerita antusiasmenya terlupakan adalah emosi yang sangat wajar.

Ia mulai belajar menerima dualitas ini dengan damai: bahwa sebuah keluarga bisa sangat saling menyayangi secara utuh, sembari tetap memiliki ruang-ruang kecil yang butuh diperbaiki cara komunikasinya. Memeluk kenyataan ini seutuhnya membantunya merilis penyesalan masa lalu, tanpa harus menyalahkan siapa pun, termasuk dirinya sendiri.

[embed]


메타데이터
post_id
a06206cdb14d
slug
meromantisasi-anak-perempuan-pertama-a06206cdb14d
url
https://medium.com/berbagi-berdampak/meromantisasi-anak-perempuan-pertama-a06206cdb14d
canonical_url
https://medium.com/berbagi-berdampak/meromantisasi-anak-perempuan-pertama-a06206cdb14d
author_url
https://medium.com/@ewrinaa
status
ok
fetched_at
2026-06-23 17:05:31