Ketika Saya Marah pada Pak Suami
Reaksi Tubuh Saya, Diluar Dugaan
MENIKAH ITU INDAH#9
Ketika Saya Marah pada Pak Suami
Reaksi Tubuh Saya, Diluar Dugaan
Bagaimana rasanya, saat kamu lelah, dan tak mampu berpura-pura lagi? Ini tentang rasa dan hati dua manusia yang berikrar menjalani hari bersama sehidup semati. Hanya sebuah refleksi, tentang bagaimana saya mengelola konflik dalam pernikahan.
Terhalang payar? gabung member Medium, atau klik tautan ini untuk akses baca penuh
Foto oleh Zoha Gohar di Unsplash
Saya berpikir sekian kali untuk menuliskan kisah ini..
“Bagaimana jika, ini seperti membuka aib sendiri?”
“Bagaimana jika pembaca memiliki tafsir lain?”
Tapi..
Bukankah konflik adalah hal wajar dalam pernikahan?
Ketika kita bisa menceritakan momen bahagia, mengapa tidak menuliskan sedikit kisah ‘kecewa' yang memang kita alami.
Kecewa pada diri sendiri.
Saya tidak mengerti, mengapa malam itu, saya berteriak keras kepada Pak Suami, sesuatu yang belum pernah saya lakukan dalam 23 tahun pernikahan saya, bahkan dalam 45 tahun usia saya.
Teriakan membela diri yang sangat tegas. Diiringi argumen dengan nada penekanan, tak bisa dibantah.
Lalu pak suami menjawab; “Ya sudah” dengan nada lirih.
Selanjutnya beliau diam sepanjang malam.
Saya tahu bahwa saya salah, karenanya saya meminta maaf, dan saya tahu bila teriakan saya membuat pak suami marah, karenanya saya paham bahwa beliau akan diam.
Beliau akan mendiamkan saya tiga hari! Wah, berabe ini.
Bagaimanapun saya mengenal tabiatnya. Biarlah jika ingin marah, tapi saya tidak meladeni. Saya memilih memeluk beliau sepanjang malam.
Paginya, saya tidak baik-baik saja. Diare! Sesuatu yang terjadi bila saya stress.
Saya berusaha mengatasinya dengan bersikap biasa. Membuatkan kopi untuk pak suami (yang buruknya, bahkan pak suami bangun lebih awal). Mengajak beliau bercakap-cakap, dan diluar dugaan, beliau menjawab pertanyaan saya, walau dengan jawaban-jawaban pendek. Syukurlah. ..
Sayangnya, sepertinya semua belum selesai. Siang itu, kebetulan pak suami mampir ke puskesmas, saat mengantar anak saya foto KTP di kecamatan. Dan pak suami bilang bahwa tensi darahnya tertinggi seumur hidup; “Kaget, diteriakin semalam.” ujar beliau.
Ah, saya jadi tambah bersalah. Walau saya masih membela diri; ”Aku udah kerja keras, menahan capek. Jadi kalau di komplain, nggak bisa terima….. Hanya saja.. aku juga kaget kok bisa teriak… “
Kami mengakhiri malam itu lebih awal, saya tidur dengan membawa sakit kepala yang belum pernah saya rasakan selama ini. Beruntungnya saya, kepala yang sakit ini mau diajak tidur, karena saya pernah sakit gigi, dan gigi ini mengajak kepala berjaga sepanjang malam. (sebagai catatan, saya anti minum obat pereda nyeri)
Ketika saya terbangun dini hari, tubuh saya tidak baik-baik saja. Ini adalah pagi kedua, sesudah ‘teriakan keras saya’. Dan saya membangunkan badan saya;
“Udah pagi, udah siap bangun?”
Suara lain di kepala saya menjawab;
“Sebentar, masih lemes. “
Oke.. saya tidak memaksanya untuk bangun. Tapi, kepala saya juga tidak mau tidur lagi. Ia mengajak saya jalan-jalan, menelusuri hari-hari ‘sakit' yang pernah saya lalui.
Ketika melahirkan anak pertama, Pak suami hadir di sana.
Lalu kelahiran anak kedua yang berlangsung begitu cepat. Ketika pak suami hadir, si adek sudah lahir dengan bahagia.
Kelahiran anak ketiga, semudah yang kedua.
Keguguran anak keempat, dimana darah dari ‘perut' saya dikuras habis habisan sepanjang malam. Semua saya lalui bersama pak Suami.
Kelahiran anak kelima yang harus operasi Caesar.
Kelahiran anak keenam, (anak perempuan pertama) melalui persalinan normal yang sangat menyenangkan, karena dokter spesialis yang sangat-sangat baik dan bersahabat.
Lalu anak ketujuh, seperti melahirkan sendiri. Entah dimana dokter dan bidan, mereka lari-lari menyusul ke ruang bersalin, waktu saya bilang, adek udah mau lahir.
Anak kedelapan, yang lahir normal dan sehat, namun diambil kembali oleh penciptanya di usia hampir 100 hari.
Disusul kelahiran anak kesembilan, (bayi perempuan kedua) lagi-lagi harus operasi Caesar dan kami memilih sekaligus kb steril di usia saya 40 tahun lebih 6 bulan.
Ya lelaki itu selalu hadir di saat-saat sakit saya. Hadir dengan hati, diri dan dompet tebal. Saya selalu memilih menjadi pasien mandiri, tidak pernah memanfaatkan fasilitas BPJS, atau unicef atau apa pun itu untuk membayar biaya persalinan.
Beliau tidak pernah pergi. Beliau adalah orang yang menjadikan saya berstatus ibu.
Status ibu yang membuat semua orang iri (atau mungkin dengki, entahlah); Kok bisa ngelahirin anak segitu banyak?
Dan saya akan menjawab, bukan saya yang hebat. Tapi sponsornya. Jaman begini, berapa banyak ayah yang bersedia menanggung beban hidup sekian anak?
Beliau, pak suami saya bukan hanya bersedia, tapi memberikan yang terbaik, mendukung penuh cita-cita setiap anaknya.
Ya, saya sangat beruntung, karena lelaki itu meminang saya 23 tahun silam.
Setelah melanglang buana, mengingat masa-masa sakit dalam hidup, saya tersenyum, masih dengan mata terpejam, masih terbaring, di remangnya kamar pada dini hari menjelang shubuh. Dan bertanya;
“Udah hilang pusingnya?”
Udah
“Udah segar badannya?”
Udah
“Yuk, aktivitas lagi!!! “
dan saya pun melompat dari tempat tidur. Dengan seluruh hati, badan dan kehendak untuk memulai hari.
“Saya bersyukur menikah dengannya, dan saya akan menjaga rasa itu seumur hidup saya”
“Saya akan bersabar dengan kehadirannya. Seperti beliau telah bersabar memiliki pasangan seperti saya.”
رَبَّنَآ اَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَّتَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ
“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan matikanlah kami dalam keadaan berserah diri kepada-Mu."
Kita sering berpikir, bahwa kesabaran dibutuhkan untuk hal-hal besar, seperti ancaman Fir’aun, ancaman penguasa yang zalim. Padahal sabar dalam mengelola emosi, jauh lebih berat. Setidaknya bagi diri saya sendiri.
Bagaimana dengan dirimu?
Berapa banyak orang yang menjalani hari dengan ‘burnout' karena tak mampu mengelola emosi?
Berapa banyak orang yang akhirnya, menyudahi penderitaan dengan cara yang fatal, karena kurangnya kesabaran?
Doa yang terukir dalam Qur’an surat Al-A’Raf: 126 diatas, benar-benar ‘mantra' yang kita butuhkan saat ini.
Hidup tidak baik-baik saja, baik dari diri sendiri, orang disekitar kita, sampai kebijakan negara dan kondisi global. Ancaman “Fir’aun” itu nyata, bila kita biarkan mungkin burnout bisa menghabisi makna hidup kita.
Bersabarlah dan bahagiakan hatimu mulai dari dirimu sendiri. Konflik apa pun yang kamu alami. Cobaan apa pun yang hadir, adalah bagian dari hidup itu sendiri.
Mungkin kamu butuh teman cerita?
Saya selalu online di WA, menjadi pendengar setia (khusus perempuan ya 👌😍)
Salam Hangat, kak DyPa Dinara 🤗🤗✨✨
메타데이터
- post_id
- b20d46d8a5e5
- slug
- ketika-saya-marah-pada-pak-suami-b20d46d8a5e5
- url
- https://medium.com/perspektif-perempuan/ketika-saya-marah-pada-pak-suami-b20d46d8a5e5
- canonical_url
- https://medium.com/perspektif-perempuan/ketika-saya-marah-pada-pak-suami-b20d46d8a5e5
- author_url
- https://medium.com/@dypa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 13:13:48