Awal Mula Rusaknya Generasi: Ketika Semua Orang Memilih Diam
Saya baru selesai menonton sebuah drama berjudul Boyhood. Sekilas, drama ini terlihat seperti kisah remaja tentang perundungan…
Awal Mula Rusaknya Generasi: Ketika Semua Orang Memilih Diam
Saya baru selesai menonton sebuah drama berjudul Boyhood. Sekilas, drama ini terlihat seperti kisah remaja tentang perundungan, perkelahian, dan balas dendam. Namun, semakin jauh ceritanya berjalan, saya justru merasa tokoh yang paling menyeramkan bukanlah para pelaku kekerasan.

Poster drama Boyhood — The Korea Herald
Yang paling menyeramkan adalah banyaknya orang dewasa yang menganggap semuanya biasa.
Jang Byeong Tae hanyalah seorang siswa yang ingin menjalani masa sekolah dengan tenang. Ia bukan petarung. Ia bukan pahlawan. Ia hanya ingin berhenti dipukul.
Sayangnya, ketika seorang anak terus-menerus dipermalukan, dipukul, dan kehilangan tempat untuk meminta pertolongan, yang perlahan rusak bukan sekadar tubuh si anak, melainkan cara pandang dia terhadap dunia. Ia mulai percaya bahwa keadilan tidak akan datang. Bahwa satu-satunya cara bertahan adalah membalas dengan kekerasan.
Di titik itu, balas dendam tidak lagi lahir karena keberanian melainkan karena keputusasaan. Dan ini yang sangat berbahaya.
Yang menarik, Boyhood tidak sedang bercerita tentang satu anak yang menjadi korban. Drama ini sebenarnya sedang memperlihatkan kegagalan sebuah ekosistem.
Guru tidak cukup peka.
Sekolah menganggap perkelahian sebagai kenakalan remaja.
Orang tua sibuk dengan urusan masing-masing.
Teman-teman memilih diam karena takut menjadi korban berikutnya.
Ketika semua orang menganggap kekerasan adalah bagian dari proses "menjadi laki-laki", kekerasan itu akhirnya tumbuh menjadi budaya.
Bukankah gambaran ini terasa dekat dengan Indonesia hari ini?
Kita masih sering mendengar kalimat seperti, "Namanya juga anak-anak." Atau, "Dulu waktu saya sekolah juga berantem, nanti juga dewasa sendiri."
Kalimat-kalimat seperti itu terdengar biasa aja. Namun, tanpa disadari, ia menjadi bentuk normalisasi atas sesuatu yang sebetulnya menyimpang.
Padahal, banyak kasus perundungan di sekolah Indonesia tidak berhenti pada ejekan. Ada yang berujung penganiayaan, trauma berkepanjangan, bahkan kematian. Ironisnya, perhatian publik sering baru muncul setelah sebuah video viral atau ketika korban sudah tidak bisa diselamatkan.
Ini menunjukkan bahwa kita sebagai bagian dari masyarakat sering bereaksi setelah tragedi terjadi, bukan mencegahnya sejak awal.
Banyak orang yang berpikir bahwa solusi ada pada aparat penegak hukum. Padahal, hukum hampir selalu datang setelah ada korban.
Kontrol sosial sesungguhnya dimulai jauh sebelum polisi datang, sebelum hakim mengadili, bahkan sebelum sebuah perkara masuk ke pengadilan.
Kontrol sosial dimulai ketika orang tua mau meluangkan waktu untuk mengenal kehidupan anaknya.
Ketika guru berani menganggap perundungan sebagai persoalan serius, bukan sekadar kenakalan.
Ketika teman sekelas memilih melapor daripada ikut menertawakan.
Ketika masyarakat tidak lagi menganggap kekerasan sebagai bagian normal dari masa remaja.
Boyhood bukan hanya tentang seorang anak yang membalas dendam.
Drama ini mengingatkan kita bahwa generasi tidak rusak dalam satu malam. Ia rusak sedikit demi sedikit, setiap kali orang dewasa memilih diam, setiap kali masyarakat menormalisasi kekerasan, dan setiap kali kita merasa bahwa persoalan itu adalah urusan orang lain.
Sebab, ketika kita gagal melindungi satu anak hari ini, bukan hanya masa depannya yang dipertaruhkan. Cepat atau lambat, masyarakatlah yang akan menerima akibatnya.
메타데이터
- post_id
- b5f285a90bb2
- slug
- awal-mula-rusaknya-generasi-ketika-semua-orang-memilih-diam-b5f285a90bb2
- url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/awal-mula-rusaknya-generasi-ketika-semua-orang-memilih-diam-b5f285a90bb2
- canonical_url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/awal-mula-rusaknya-generasi-ketika-semua-orang-memilih-diam-b5f285a90bb2
- author_url
- https://medium.com/@boydosaragih70
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-08 18:29:56