← Back to list

Semua akan baik-baik saja

Oleh: Al,afgan Kakambong

Al, Afgan Kakambong · 2025-08-20 15:21 · 4 claps · 2.5 min read
#kuat
Open on Medium ↗

Semua akan baik-baik saja

Oleh: Al,afgan Kakambong

Sekitar tujuh tahun lalu di mana suasana rumah diselimuti kehawatiran, harapan, dan doa-doa. Selepas saya sholat isya, kerumunan orang-orang di depan rumah ada juga di dalam rumah. Langkah kaki segera saya percepat, di depan pintu bapak langsung memberitahu saya, bahwa, ibu sebentar lagi akan melahirkan. Namun wajah bapak digerogoti kehawatiran.

Waktu itu ibu berdoa sambil tangannya mengeluskan perutnya. Siang berganti malam, jam dinding terus berputar dan berbunyi. Ibu dengan pikiran tempat para hantu-hantu bersarang.

Malam itu bapak berkelindan kesana kemari memanggil orang-orang sedangkan saya, menjaga ibu yang masih terjaga. Tidak menunggu waktu lama bapak datang sekaligus membawa orang yang biasa mengatasi masalah tersebut. Saya keluar dan menunggu, beberapa orang mengelus kepalaku dan berkata, “berdoa supaya mama dengan ade selamat”.

Saya duduk termangu mengigat bagaimana waktu saya dilahirkan. Kau tahu kawan, kata orang-orang tua selepas saya lahir ibu sungguh saya langsung berpulang, ada yang bilang menjelang dua hari ia menghembuskan napas terakhirnya. Dikarenakan darah putih naik di kepala. Kata kakek saya, sebenarnya ibu akan di bawah ke rumah sakit tapi ia menolak. Saya mendengar cerita-cerita itu, bersamaan dengan air mata yang membasahi tanah kelahiranku. Bajingan kenapa harus dia!

Sepertinya saya harus menjahit pelan-pelan luka masa lalu. Seketika tangan bapak berada di pundakku, menghentikan kehawatiranku sekali lagi. Kata bapak “berdoa saja, tidak perlu hawatir.” saya tahu, apa yang saya rasa bapak juga merasakannya. “kenapa tidak di bawah ke rumah sakit saja?” timpal saya. “tidak mau, maunya mama melahirkan di rumah saja”. Dilubuk hati paling dalam saya ingin bertanya, apakah kejadian ini akan terulang kembali? Tentu saja tidak, saya tak berani menanyakan hal semacam itu.

Seketika ibu memanggil saya dan masuk ke dalam kamar, saya tahu apa yang dirasakan ibu sakitnya tidak main-main. Tapi ibu, menahannya dengan sebuah harapan; semua akan baik-baik saja.

Saya langsung duduk di sampingnya, barangkali menenangkan hatinya dan meredakan rasa sakit. Tapi tidak! Bayi itu terus meronta, mungkin ingin keluar secepatnya. Air mata saya berkucur tak berdaya bersamaan teriakan ibu menahan sakitnya melahirkan.

Sekali lagi hati terus berucap dan berdoa. “Ya Tuhanku, maha pengasih lagi penyayang, kepada siapa lagi hamba mengemis pertolongan selain engkau, tolong jangan kau ambil salah satunya seperti kau ambil dia sebelumnya, selamatkan keduanya”. Bapak tiba-tiba langsung masuk, tak menunggu waktu lama saya langsung keluar, jangan sampai bapak melihat anak lelakinya yang gagah perkasa berlinang air mata!

Barangkali rasa sakit itu saat kau berusaha menahannya sambil tersenyum.

Seketika teriakan berubah menjadi teriakan seorang Bayi, saya langsung masuk melewati kerumunan orang-orang. Memang betul kata mereka teriakan bayi tidak bisa dihentikan, tunggu saja toh pada akhirnya dia akan berhenti berteriak.

Bukan itu yang saya pikirkan kawan, yang saya pikirkan adalah apakah dua-duanya selamat? salah satu orang keluar dari kamar dan memberitahu kepadaku bahwa mereka berdua selamat. Saya duduk dan tersenyum sambil meratapi dalamnya malam. Terus terjaga bersama harapan dan doa orang-orang.

Perlahan saya masuk melihat bayi kecil dan ibunya, betul kata bapak, semua akan baik-baik saja. bapak menyuruhku untuk mengendong malaikat kecil ini teriakannya perlahan berhenti saat aku mengecup pipinya. Rumah seketika diselimuti kebahagian tanpa henti.

Sebelum jam pulang sekolah, kadang-kadang saya pulang lebih dulu untuk bermain dengan bayi kecil. Kau tahu kawan, setiap bermain dengan bayi itu, saya sering kali menceritakan dongeng-dongeng, entah itu dongeng Kancil atau Lucifer.

Dan sebelum bertolak ke Gorontalo, untuk melanjutkan sekolah bapak dan ibu terus berpesan, “jaga kesehatan, jangan pulang larut malam, jangan lupa belajar dan berdoa”. Sejenak adik kecil ku gendong untuk terakhirnya sambil berbisik “jangan nakal, nanti selepas dari Gorontalo kita bermain lagi.”

Barangkali betul kita sebagai manusia hanya bisa berjuang, bermain tebak-tebakan, dan berdoa.


메타데이터
post_id
bb6ee2f4a228
slug
semua-akan-baik-baik-saja-bb6ee2f4a228
url
https://medium.com/@afgankakambong/semua-akan-baik-baik-saja-bb6ee2f4a228
canonical_url
https://medium.com/@afgankakambong/semua-akan-baik-baik-saja-bb6ee2f4a228
author_url
https://medium.com/@afgankakambong
status
ok
fetched_at
2026-06-24 16:30:55