← Back to list

Kopi Tubruk Sedikit Gula, dan Ketakutan Menjadi Pengangguran Berijazah Paling Tidak Berguna

Perihal hidup yang kian hari kian menuntut untuk ditebus dengan angka-angka, malam ini saya pulang dengan isi kepala yang nyaris retak…

Hafiedz Fachroellatief · 2026-06-24 18:32 · 1 claps · 4.5 min read
#mahasiswa #kampus #ukt-mahal #karir
Open on Medium ↗

Kopi Tubruk Sedikit Gula, dan Ketakutan Menjadi Pengangguran Berijazah Paling Tidak Berguna

Secangkir ketenangan untuk idealisme yang terbentur iuran KKN dan tagihan UKT semester depan

Secangkir ketenangan untuk idealisme yang terbentur iuran KKN dan tagihan UKT semester depan

Perihal hidup yang kian hari kian menuntut untuk ditebus dengan angka-angka, malam ini saya pulang dengan isi kepala yang nyaris retak. Rutinitas rasanya berubah menjadi monster yang pelan-pelan mengunyah kewarasan. Dalam kepungan lelah yang teramat sangat, tidak ada pelarian yang lebih karib selain berjalan gontai ke sudut dapur. Saya menyalakan kompor, membiarkan api biru memanaskan air, sementara jemari saya sibuk menakar bubuk kopi hitam ke dalam cangkir dari bonus membeli kapal api dua puluh lima ribuan. Dua sendok makan kopi dan setengah sendok makan gula, itu selera saya.

Ada magis yang ganjil saat air mendidih itu perlahan melarutkan kehitaman di dalam cangkir. Aromanya menguar, pekat dan menusuk, seolah berbisik bahwa rasa pahit pun punya cara tersendiri untuk menenangkan. Sembari menyesap cairan hangat itu perlahan, membiarkan pahitnya membakar lidah yang kelu, lalu mengiringinya dengan isapan surya, pikiran saya justru melayang bebas melintasi pagar-pagar kampus. Saya teringat tingkah laku sosial sekelompok manusia muda yang belakangan ini kerap membuat saya termenung, mereka yang kerap kita sebut sebagai mahasiswa pragmatis.

Di koridor-koridor kampus yang dulu konon riuh oleh kepulan asap rokok dan perdebatan sengit tentang nasib kelas pekerja, kini suasana berganti menjadi desas-desus sunyi tentang bagaimana cara tercepat menembus korporat multinasional. Tingkah laku sosial mahasiswa zaman sekarang telah bergeser ke arah yang amat dingin, sebuah gerak mekanis yang sepenuhnya tunduk pada hukum pasar. Ketika ada ruang aula yang menggelar diskusi publik mengenai konflik agraria atau perampasan hak-hak buruh, bangku-bangku akan melompong dan hanya menyisakan ruangan yang dingin sebab angin ACnya tidak teresap kulit manusia. Pemandangan semacam itu akan kontras dengan antrean yang mengular di ruang sebelah, tempat di mana lokakarya penyusunan daftar riwayat hidup dan strategi memoles portofolio digital sedang berlangsung. Bahkan wadah gerakan yang dulunya menjadi episentrum perlawanan kini mengalami domestikasi yang akut. Organisasi kemahasiswaan diburu bukan lagi karena gairah memperjuangkan keadilan sosial atau meruntuhkan sekat kelas, melainkan demi selembar sertifikat kompetensi yang siap disematkan sebagai pemikat bagi para pemilik modal. Mahasiswa bergerak menyerupai mesin hitung berjalan, yang mana setiap denyut sosial mereka dikalkulasi dengan cermat untuk satu tujuan tunggal untuk menaikkan nilai jual komoditas diri mereka sendiri sebelum akhirnya dilempar ke pasar.

Gejala tingkah laku sosial yang serba hitung-hitungan ini sebenarnya mengonfirmasi bagaimana sistem ekonomi telah berhasil meresap jauh ke dalam sumsum kesadaran manusia muda. Ketika pengetahuan tidak lagi dipandang sebagai senjata pembebasan melainkan sebagai modal individu untuk berkompetisi, di sanalah alienasi terjadi secara paripurna. Karl Marx dalam lembar-lembar pemikirannya yang membosankan pernah menegaskan bagaimana kerja dan aktivitas manusia di bawah cengkeraman kapitalisme berbalik menjadi kekuatan asing yang menguasai penciptanya.

Karl Marx, Economic & Philosophic Manuscripts of 1844

Karl Marx, Economic & Philosophic Manuscripts of 1844

“Semakin banyak pekerja menghabiskan dirinya sendiri, semakin kuat dunia objektif asing yang dia ciptakan yang bertentangan dengan dirinya sendiri, semakin miskin dia dalam kehidupan batinnya, dan semakin sedikit dia memiliki dirinya sendiri. Hal yang sama berlaku dalam produk kerjanya, yang bukan miliknya melainkan milik orang lain.”

begitu kiranya dawuh uncle Marx jika kuterjemah menggunakan nalar “english” ku yang jauh di bawah rata-rata.

Ketika belenggu alienasi ini mewujud dalam keseharian mahasiswa, kampus berubah fungsi dari laboratorium intelektual yang revolusioner menjadi sekadar pabrik penghasil sekrup-sekrup baru bagi mesin industri. Mereka dipaksa mengasingkan diri dari realitas sosial masyarakatnya. Nilai-nilai luhur seperti kesadaran kelas, solidaritas komunal, atau empati pada mereka yang tertindas pelan-pelan dianggap sebagai anomali, sebuah beban tidak efisien yang hanya akan memperlambat masa studi dan merusak peluang karier.

Di sinilah letak kepahitan yang sesungguhnya menyerang isi kepala saya, mengalir lebih pekat daripada cairan hitam yang sedang saya genggam saat ini. Sangat mudah bagi kita yang merawat nalar kritis untuk menunjuk hidung mereka dan melemparkan makian egois, apatis, atau borjuis kecil yang mati rasa. Kita bisa dengan sinis mengutuk mengapa mereka memilih diam dan bersembunyi di balik gawai saat ketidakadilan sosial terjadi di depan pagar kampus mereka sendiri atau bahkan lewat di FYP Tiktodnya. Namun, jika kita berani menanggalkan kepongahan moral kita sejenak dan melihat struktur yang menjepit mereka, sebuah dilema yang luar biasa mencekik akan langsung menyergap dada. Bagaimana mungkin kita tega menyalahkan sepenuhnya anak-anak kelas pekerja yang ketakutan ini? Mereka hidup dalam struktur pendidikan yang luar biasa brutal, sebuah era di mana Uang Kuliah Tunggal melambung ke angka yang tidak masuk akal, membuat setiap semester yang molor berubah menjadi teror finansial baru bagi orang tua mereka yang juga sedang diperas oleh sistem. Mereka dihadapkan pada realitas cadangan tenaga kerja yang melimpah, yang mana lulus tanpa kualifikasi yang dikehendaki oleh pasar berarti bersiap masuk ke dalam jurang kemiskinan yang lebih dalam.

Maka di sinilah badai dilema itu mengamuk tanpa ampun dalam pikiran saya. Di satu sisi, pragmatisme sosial ini jelas-jelas membunuh gerakan rakyat karena ia melahirkan generasi intelektual yang tumpul kesadaran kelasnya, yang menutup mata dari eksploitasi di sekitarnya asal jalur karier mereka sendiri mulus tanpa hambatan. Bentuk tingkah laku seperti ini adalah pengkhianatan nyata terhadap garis perjuangan massa. Namun di sisi lain, menuntut mereka untuk menjadi martir yang berdiri di garis depan barikade dengan risiko beasiswa dicabut, dikeluarkan dari kampus, atau kehilangan kesempatan kerja, terasa seperti sebuah tuntutan yang abai terhadap realitas material. Kita seolah memaksa mereka memilih antara menjadi pembela kelasnya atau menjadi anak yang menyelamatkan keluarganya dari jerat utang. Ketika bertahan hidup dan mengamankan masa depan dianggap sebagai dosa ideologis, maka kita dipaksa menyaksikan bagaimana kapitalisme telah berhasil menyandera kemanusiaan hingga ke titik paling getir. Banyak dari mahasiswa itu menjadi pragmatis bukan karena mereka membenci keadilan, melainkan karena ruang untuk berpihak telah dihancurkan oleh kecemasan akan hari esok yang lapar.

Ahhh… Kopi di cangkir saya kini sudah benar-benar mendingin, meninggalkan endapan ampas hitam yang pekat di dasarnya. Menatap sisa bubuk hitam itu membuat saya tersadar bahwa membiarkan tingkah laku sosial mahasiswa sepenuhnya didikte oleh pragmatisme pasar adalah sebuah tragedi sejarah yang panjang. Kita tidak bisa menuntut mereka menjadi pahlawan tanpa kelas yang mengorbankan segalanya, karena itu mengabaikan penderitaan material yang mereka hadapi secara nyata. Namun, membiarkan diri sepenuhnya larut menjadi budak korporasi yang hanya bergerak jika ada keuntungan material bagi diri sendiri adalah bentuk kepatuhan yang menyedihkan. Barangkali, kritik terbaik untuk kaum pragmatis ini bukanlah sebuah penghakiman sepihak, melainkan sebuah ajakan sunyi untuk melihat kembali belenggu yang mengikat mereka. Di sela-sela kepanikan mereka memoles diri agar laku dijual, saya membayangkan semoga ada satu malam di mana mereka duduk menyeduh kopi saat lelah, lalu berani bertanya pada diri sendiri mengenai apakah seluruh masa muda dan ilmu pengetahuan ini akan direlakan begitu saja untuk memperpanjang usia sistem yang mengasingkan mereka dari sesama manusia.


메타데이터
post_id
bbd5d003fcd9
slug
kopi-tubruk-sedikit-gula-dan-ketakutan-menjadi-pengangguran-berijazah-paling-tidak-berguna-bbd5d003fcd9
url
https://medium.com/@jampangchaniago/kopi-tubruk-sedikit-gula-dan-ketakutan-menjadi-pengangguran-berijazah-paling-tidak-berguna-bbd5d003fcd9
canonical_url
https://medium.com/@jampangchaniago/kopi-tubruk-sedikit-gula-dan-ketakutan-menjadi-pengangguran-berijazah-paling-tidak-berguna-bbd5d003fcd9
author_url
https://medium.com/@jampangchaniago
status
ok
fetched_at
2026-06-27 08:06:00