Ungu Biru
Aku adalah sebuah karakter fiksi. Seseorang yang hidup pada sebuah kota yang asing, kasar, dan dingin.

Bangun
Ungu Biru
Aku adalah sebuah karakter fiksi. Seseorang yang hidup pada sebuah kota yang asing, kasar, dan dingin. Pria yang tidak realistis, sebuah ulas yang berulang kudengar dari mereka yang mengenalku secara intim dalam kurun lebih dari 3 bulan, mungkin narsistik adalah kata yang kasar.
Dan apa jadinya penghidupan jika semua ini masuk akal? Apa yang dicari jika semua ini dimengerti? Eksploitasi tentunya. Para penggenap keganjilan, para pencetus adab, bagaimana cara kita lebih efektif memanfaatkan sekitar?
Dalam bab kemanusiaan kita selalu menamai sesuatu, menamai berarti menguasai ataupun sebuah usaha untuk ekploitasi itu sendiri. Manusia merasa tak mampu untuk hidup dalam ketidaktahuan, ketakutan yang paling jujur. Memahami sesuatu, memaknai sesuatu, kiranya adalah tabiat kemanusiaan yang kita amin-kan menjadi sebuah tindakan humanis.
“Heyy!!”
Aku tersentak, “I-Iya?”
“Jadinya gimana? Kita mau kemana?”
Lagi-lagi aku melamun.. “Aku.. Aku tidak tau, kamu ingin kemana?”
“Hah? Mana aku tau? lagipula, kamu kan lebih lama di kota ini ketimbang aku!”
Ohh.. aku hampir lupa bicara dengan siapa, si-”Aku tidak mau salah, jadi kuserahkan semuanya padamu, pokoknya aku tidak mau jadi si jahat.”
“Yasudah.. ketempat biasa saja,” Tukasku sembari melihat langit, “udah mulai mend-”
“Lagi?! Ayolah pasti ada tempat lain selain cafe jorok itu!”
… Menyebalkan, kutahan, kuubah menjadi senyum,
“Ya ketimbang kehujanan di jalan? Lagipula cafe itu tak terlalu buruk..”
“Hihh… Yasudah ah!”
Dalam rekoleksi memori dan pengalaman, ada beberapa tipe wanita dalam perihal semacam ini. Ada dari mereka yang seperti satu ini, yang marah di awal, menggerutu sepanjang jalan, tapi sesampainya di tujuan lebih mudah dihadapi.
Ada dari mereka yang menurut-menurut saja, suka-suka saja, agaknya riang saat berbincang di tempat kencan. Tapi sepulangnya, kau akan dihujani essay tentang bagaimana ia sebenarnya tak suka bau kopi, tak suka baju yang kau kenakan hari itu, tak suka “atmosfir” tempat tadi, lalu, kadang, sadisnya diakhiri dengan kata, “maaf ya aku merepotkan.”
Ada pula dari mereka yang tampak selalu sepemikiran denganmu, selalu murah senyum, selalu menghargai sunyimu, selalu mengakui salahnya.
Tapi ternyata..
Anaknya sudah 2.
Dari beberapa contoh itu aku selalu memaku sebuah motto pada hatiku, jangan terlalu tergesa-gesa membulatkan sebuah perasaan dan menamainya cinta. Naas saja, aku ini masih lelaki, yang selalu suka bau bunga.
Maka aku sangat berhati-hati dalam meniti kehidupan percintaan, masih terkadang aku teringat tragedi 3 tahun lalu dimana tunanganku tiba-tiba tanpa aba-aba menghentikan langkah menuju pelaminan.
Ya, aku sempat tunangan. Termasuk cepat, aku sudah berstatus tunangan di tahun pertama kuliah. Tapi itu masuk akal, kedua orang tua kami sudah saling mengenal bahkan pada masa mereka meniti karier. Hidup dan memiliki rumah yang hanya berjarak seberang sungai. Aku pada masa bocah sudah mengenal mantan tunanganku itu. Tumbuh bersama, sekolah yang sama, pacaran, mengenal kenakalan bersama, cabut kelas bersama, menembus tabu.. bersama.
Tapi itu sudah lalu, saat ini aku sudah dalam seperempat dari hidup yang kuprediksi.
"Pachi.." panggilan yang gadis ini berikan untukku
"Apa?.." jawabku malas sembari membolak-balik halaman buku yang baru kupinjam hari itu.
"Kenapa kamu tidak pindah ke kotaku saja?.."
"Ki,” Aku menutup buku, “Kita sudah bicarakan hal ini berkali-"
"Chi, aku sadar aku sedang egois, tapi.. bukankah egois adalah hak seorang pasangan?..", katanya sok manis dengan muka memelas.
Aku menutup mata, sembari memijat batang hidung. Merapalkan di kepala jawaban yang berkali-kali kugunakan untuk menjawab pertanyaan yang sama ini.
"Ki, masih ada yang kucari di kota ini, itu bisa sesuatu, seseorang, ataupun sebuah momen-"
"Ta-"
Aku menghentikan sangkalan Kiki dengan tangan
"Sebentar.. biarkan aku selesai ngomong Ki.."
Kusulut rokok kesepuluh hari ini,
"Ki, masih ada yang kucari di kota ini, sebuah pelatuk, sebuah sesuatu yang membuatku mantab untuk meninggalkannya,"
"Kota ini sangat berkesan untukku, dan aku tidak mau meninggalkannya tanpa kemantaban yang bulat,"
Kuraih tangan Kiki, kugenggam halus untuk menegaskan.
"Ki, tadi kamu bilang bahwa pasangan boleh untuk egois, maka ini adalah keegoisanku, tolong mengerti, ya?"
Kiki melihatku dengan lesu, berkali-kali topik ini ia keluarkan dalam 6 bulan hubungan kita. Aku heran, kenapa tak bosan-bosannya ia dengan pertanyaan yang sama?
"Kamu sayang sama aku kan?" Keluar juga, pertanyaan andalannya yang jujur saja sudah menjadi cacing di telinga dan mataku.
"Aku sayang sama kamu Kiki." ujarku berbohong.
"Benarkah?"
"Benar Ki." Tidak.
"Hemm... Yasudah, untuk kali ini aku mengalah."
Puji tuhan...
Malam itu aku dan Kiki menyewa kamar penginapan.
Kiki adalah mahasiswi tata boga di kota yang sebenarnya cukup dekat dari tempat rantauku sekarang.
Aku menyadari, aku masih tidak cinta pada gadis yang sedang kusetubuhi ini. Aku menyadari, bahwa aku tidak merasakan "sesuatu" itu kala aku memejamkan mata.
Kata orang, cinta adalah saat dimana kau merasa saat dirimu memejamkan mata akan terbayang wajahnya. Kata orang, cinta adalah saat dimana muncul rasa hangat yang menyeruak dada tiap kali dirimu memikirkan dirinya. Kata orang, cinta adalah saat dimana napasmu sesak saat tak bisa menjangkau dirinya terkasih nan terpuja.
Agaknya orang-orang sedikit menyamakan cinta dengan obsesi.
"..Chi.."
Aku memahami, bahwa bukan cinta yang kurasakan dalam hubungan ini. Rasanya, ini hanyalah pelampiasanku yang sudah-sudah
"..Chi!..sto-"
Rasanya, ini akan berakhir sama saja seperti yang sudah-sudah. Rasanya ini hanyalah-
"PACHI!" Kiki berteriak memencet hidungku keras.
"Awww!!" Aku berhenti dari lamunanku. Tanpa kusadari, napasku tengah terengah-engah seperti selesai sprint.
"Haaff..Hahh.." Napas Kiki tersenggal pula, "Astaga Pachi.. Kamu mau ngancurin pinggang orang ya!?"
Kiranya aku terlalu dalam melamun sehingga tubuhku ada dalam kendali otomatis...
"Haha.. maaf Ki, nafsu." Sangkalku.
"Gila kamu!" sentak Kiki melemparkan bantal.
Aku menjatuhkan diri telentang, Kiki merangkak turun dari kasur, agaknya mencari minum.
Kututup mataku dengan lengan. Ahh.. kenapa aku selalu cepat melamun. Ini tidak baik, ini kebiasaan yang berkali-kali kutekadkan untuk berhenti. Pelan tapi pasti, aku yakini ini adalah sebuah penyakit.
"Chi, ngga ada air nih.."
"Habis ya? Yaudah aku beli dulu, sekalian beli rokok,-” Aku cekatan duduk dan meraih kaos, “ikut?"
"Ngga!!"
"Ngga usah teriak Kiki.. yaudah aku beli dulu."
...
Malam semakin dingin, motorku berderu pelan di jalan yang masih basah lepas hujan. Jaket andalan sudah kian tipis, berusaha semampunya melindungi majikan dari angin malam. Memang sudah waktunya beli baru. Kota ini selalu menunjukkan tabiat aslinya di jam-jam rawan seperti ini, dingin, menusuk dan menghakimi. Selalu dingin disaat diri berharap akan belas kasihnya. Selalu mampu menyusupi diri yang sedang kekosongan. Ya, aku selalu kedinginan di kota ini. Ya, ada se-cepirit keinginan bahwa aku ingin pergi dari kota ini.
Tapi kembali, aku masih dihentikan kakiku sendiri. Karena sebuah alasan yang akupun belum bisa menyederhanakannya menjadi sebuah kalimat utuh, bukan hanya sebuah jabaran panjang opini berpita meyakinkan diri.
Beralasan itu mudah, karena yang perlu diyakinkan adalah orang yang menanyakan. Namun teramat sulit ketika yang bertanya itu diri sendiri.
Aku tak mau pulang, dirumah hanya ada tuntutan dan sindiran. Dirumah hanya ada panggung dengan peran “Anak harus berbakti.”
Aku tak mau hengkang, karena sebuah sentimental yang belum utuh. Ini adalah dilematis yang hampir membuatku gila sendiri. Namun aku percaya bahwa manusia memanglah harus hidup dekat dengan kegilaan-nya agar tetap waras, aku tersenyum.
Agaknya aku ini seperti pepatah
Hidup berlagak segan tapi mati tak mau pula.
Bodoh memang. Tapi ada satu pertanyaan yang kujawab jujur, satu-satunya yang benar-benar kujujurkan jika ditanya tempat apa yang paling kusuka, jawabanya adalah supermarket 24 jam, selalu disana, benderang seperti harapan.
Menurutku invensi bernama supermarket adalah pencapaian manusia yang luar biasa. Disitu aku yakini, bahwa supermarket adalah sesuatu yang membuatku bangga akan akal manusia.
Aku selalu suka lama-lama didepan etalase kulkas minuman. Disitu aku bisa melihat perkembangan pasar dan studi selera lidah konsumen secara miniatur. Minuman lama yang bertahan hingga sekarang, minuman tak laku yang menyempil malu-malu, minuman baru yang mentereng sombong.
Kuraih botol besar air dan satu minuman rasa stroberi. Berjalan menuju kasir.
Di depan kasir kulihat seorang pelanggan, seorang gadis. Dengan jaket sehitam rambutnya yang setengah punggung. Jaket panjang, yang menutupi kehadiran celana. Karena yang kulihat hanya kaki telanjang putih dengan sepatu yang senada putih. Aku berdiri dibelakangnya mengantri.
“Sama Kondomnya satu mas.” Ujar gadis itu pada penjaga kasir.
Sang kasir tidak berbicara, hanya meraih permintaan gadis ini.
“Jadinya 38 ribu mbak-”
Si gadis mengeluarkan kartu. Ahhh.. merepotkan, transaksinya akan lama.
“Maaf mbak.. untuk kartu minimal pem-”
“Yaudah jadiin minimalnya.”
“Jadi.. tambah apa-”
“Sembarang.”
Dingin, sinis, dan judes. Seperti kota ini. Aku memasukkan tanganku ke saku sembari menghakimi sifat gadis ini dalam batin.
“Maaf mbak.. tapi ta-”
“Mas bisa cepet ngga sih?”
Mbak.. yang bikin lamban itu dirimu sendiri. Aku menghela nafas..
“Kenapa mas?!” Tiba-tiba gadis itu menghadapku.
“Ah! Engga mbak cuma-”
“Cuma? Mas gatau aku lagi buru-buru?!”
“Kalau mbak lagi buru-buru jangan bikin bingung masnya, kan bisa mbak nambah apa-”
“HALAH!”
Gadis itu malah pergi
“MbAK! Mbak! kartunya!” Penjaga kasir teriak memanggil.
“Sini mas, saya kejar!” Aku menawarkan diri,
Kuraih kartu debit dari tangan kasir, aku bergegas keluar mengejar gadis tadi.
“Mba!-”
PLAKK!!
Aku melihat gadis itu gadis itu ditampar oleh seorang pria.
“LAMA BANGET SIH BANGSAT!” Teriak pria itu lantang dengan percaya diri.
Disitu ada seorang pria yang baru saja menampar seorang gadis dan meneriakkinya. Berlatar di malam, dengan properti mobil merah dibelakangnya yang terlalu mahal untuk Pria tanpa kaos yang kutonton sekarang.
Sialan.. Terseret sinetron apa aku malam ini..
Gadis itu tidak berbicara, memegang bekas tamparan-pun tidak. Aku melihat melihat pemandangan ini seperti sebuah lukisan.
“DISURUH BELANJA AJA GABISA, LONTE APA SIH KAMU INI?” Lantang pria itu berbicara, ahh dia pikir dirinya pemain utama disini, dialah sang pembela kebenarannya. Aku menonton, sembari mulai menyulut batang rokok terakhirku.
“BODO!-” Mengatakan itu sang tokoh utama kita membuka kasar pintu mobil merah, miliknya ternyata.
“REY! REYYY! Jangan tinggalin aku Reyy!!! Ini dimana? Kita dimana?!! REYY!!” Si gadis teriak-teriak, memukul-mukul kaca pengemudi. Si pria yang baru kupahami bernama Rey ternyata, Reyhan? Reynaldi? Yang jelas Rey.
VROOOMMM!!
Mobil di gas kencang, tak peduli, tak mau tau. Menakjubkan.
Gadis itu berbalik dengan tegas, menatapku tajam.
“APAA? HAH? APA?!!!”
“Engga mbak cuma-”
“CUma apa?!! Mas dari tadi liat kan?!! Engga mbantuin? Cuma nonton?!! Seneng?!! Puas?!!”
“Engga mbak aku cuma gama-”
“GAMAU APA?!! Gamau ikut campur?!! Gamau Repot?!! Hahh??!! HAAHH?!!” Tiba-tiba gadis itu histeris, tentu dengan alasan bisa kurangkai.
“Gini lo mbak, aku cuma-”
“CUMA APA??!! CUMAA APAAAAA??!!! MAS TU COWOK KANN?? PUNYA KONTOL KANN?? GABISA GITU MBANTUIN AKU?! GA KEPIKIRAN??!! GAMAU RE-”
DUAAKKKKKK!!!
Didepanku, didepan sebuah supermarket, mobil merah si Rey tadi ternyata membalikkan arahnya! melaju dengan cepat menabrak sang gadis! tanpa ragu, tanpa ragu, didepanku. Kenapa? Ada apa? Kenapa?!!
Aku melotot, kakiku dingin, dingin, menjalar menggetarkan lutut. Baru aku tau dengan jujur, inilah terkejut dalam ketakutan.
Lari.
Ya!! Aku harus lari dari sini!!
Aku menyambar motor! Dengan cepat ku-gas sampai pangkal. Secepat kilat aku lari dari situ, lari dari situ. sial sial sial sial apa yang tadi kulihat? apa?! Oh tuhan! Oh setann! Apa ini? APa tadii?!!
Gigiku gemelatuk, otakku pontang-panting coba meraih akal sehat. Aku tetap lari, mengebut kembali ke penginapan!
…
Sampai di penginapan. Motorku kubiarkan jatuh tanpa standar, aku berlari menaiki tangga hingga lantai tiga kamar sewaan!
Aku menghambur masuk kamar-
“CHI?! KAget aku-”
JDOR!
Aku menutup pintu kamar dengan keras, bersandar di pintunya. Aku terengah-engah, masih melotot, masih tak sadar, apa yang barusan terjadi? Apa yang?
“Chii? Chii? kenapa? Kok Pucet banget mukamu?”
Aku merosot, jatuh terduduk bersandar pintu, aku.. aku.. apa..
“Chi? Chi?? PAchii??!”
Apa yangg… apaa..
Aku menutup kedua mataku dengan tangan. Apa yang barusan terjadi? Demi tuhan sekte manapun jika tadi itu mimpi atau hasil delusi karena sering melamun tolong sadarkan aku.
“aargghh..aarghhhe..errgh” Aku mengerang-erang, kosa kataku tak mau keluar. Akalku belum masuk.
“Pachii! PAchiii!!” Kiki menguncang tubuhku. Aku masih bergetar dari dalam.
“PACHI!” Kiki menggenggam kedua pipiku, “Kenapa? Ngomong Chi? Kamu kenapa?”
“O- oRang.. ketab rak.. barusan”
“Ketabrak?! Kamu yang nabrak? Chi?!” Kiki agak panik.
“Engg.. engga.. enggaaa! orang ke-”
Tiba-tiba Kiki memelukku,
“Okee.. okee.. tenang chi.. tenang.. tenang dulu..”
Aku tidak tau kapan Malam itu berakhir, yang jelas aku tertidur. Malam itu aku bermimpi, tentang rumah dan segala yang ada. Malam itu aku bermimpi sedang bermain sepak bola dengan kawan-kawan lamaku di masa bocah. Malam itu aku bermimpi tentang gadis itu! gadis itu! Sekilat! Sepersekian! Matanya masih melotot kearahku saat tubuhnya bengkok ditabrak dari samping!-
“HAHH!!” Aku terbangun kaget, aku mendapati Kiki tidur sambil memelukku di sandaran pintu ini.
“Chii..emm.. udah bangun sayang?…”
“Ki.”
“Hemm?”
“Kita harus putus” Ucapku tegas melotot.
“Hahh? Hahh?! Ngelantur apa kamu? Masih tidur?” Kiki benar-benar bangun sekarang.
“Aku ngga cinta kamu, kita harus putus, aku pacarin kamu karena cuma mau ngewe.” tukasku sekaku batu tanpa emosi.
“Hah? Hahh?! Bentar.. ya- aku dah tau sih.. tapi bentar bentar bentar!!”
“Ya, pokoknya gitu, udah ya, aku mau pulang” Aku berdiri membuka pintu kamar.
“CHI! CHI!! Astagaa! Chi!-”
BLAM!
Aku menutup pintu kamar tanpa ragu, aku berjalan turun menuju motor, aku mau pulang, aku harus kembali ke kamarku sendiri, harus-
“CHI!!” Kiki menggenggam tanganku.
“Chi?! Kamu kenapa? Kamu kerasukan apa? Bangun Pachi!”
“Aku udah bangun, aku sadar.” Tukasku sekaku batu.
“Chi! Dengerin aku dulu, kenapa? Ayo ngomong Pachi?! Pelan-pelan gapapa, aku dengerin Pachi! Ini ngga masuk akal!”
“Iya, aku memang ngga masuk akal, sudah ya.” Aku menghempas tangan Kiki.
Aku menuruni anak tangga dengan tegas, aku harus pulang, ya, aku harus pulang.
“PACHI!” Kiki teriak dari ujung tangga, aku menoleh
“Apa?..”
“Chi, iya kamu habis liat kecelakaan, iya kamu shock karena itu didepan mata kamu, terus kenapa? Kenapa jadi ke kesimpulan putus? Gak masuk akal! Pachi Sadar! Sadar Astaga!”
“Udah?” Aku bertanya.
“Hahh?!!”
“Oke, udah ya.” Aku lanjut menuruni tangga.
Aku menuruni tangga dengan sedikit berlari, Kiki mengejarku, memanggil-manggil namaku, masa bodoh, aku harus pulang, apa ia tidak tau? Kalau aku harus pulang?
Sampai didepan motor, aku berusaha menaikkan motorku yang terjatuh.
“PACHI! BANGSATT DENGERIN AKU” Kiki menarik tanganku dengan tenaga.
“Kenap-”
PLAKK!!
Kiki menamparku,
Aku tak bergeming, panas pipiku kubiarkan.
“CHI!! ASTA-”
PLAKK!
Aku balas menampar Kiki, ohh jadi ini rasanya menampar cewek?
Kiki melihatku, setengah tak percaya, ia pegangi pipinya yang kutampar. Berangsur ia jatuh berlutut. Matanya mulai berair.
“Ch… Ap.. *Hiks!..” Air mata Kiki jatuh, “Kamu kenapa astaga.. kenapaa.. aku salah apaa… HUAAAAAA”
Kiki menangis sejadinya, aku lanjut menaikkan motorku, menyalakan mesinnya. Aku pergi, meninggalkan Kiki menangis disana.
…
Berderu pelan, aku menuju pulang. Di kamar nanti aku mau tidur, aku mau tidur dan melupakan semuanya. Aku sadar, ini bukan mimpi. Ya aku sudah bangun, aku sadar, maka dari itu aku harus pulang.
Pagi masih muda ternyata. Langit masih biru laut lepas. Dingin, dingin tanpa kabut, hanya dingin..
Di perjalanan aku melirik supermarket tadi malam, ahh ya ya.. aku ingat, aku masih belum membayar minuman semalam masih ada di saku jaketku. Aku putuskan untuk berhenti sejenak, tentu aku tak bisa pulang tanpa meluruskan yang seharusnya benar.
Aku berjalan, merogoh kantong jaketku. Ada kartu disana, kartu debit, milik gadis malang tadi malam. Mungkin kutitipkan saja dengan penjaga kasir.
“Mas..”
“Ahh iya kak? ada yang bisa saya bantu?” Penjaga kasir bertanya, hal yang sama, setiap hari, dalam normal.
“Maaf.. semalam saya belum bayar minuman ini.. karena semalam ada kecelakaan kan didepan..”
“Ohh iya mas, kecelakaan semalam ya? Memang kacau ya semalam mas hehe..” Canda penjaga kasir.
“Sama ini.. Kartu debit.. Semalam jatuh didepan kasir, saya baru ingat.”
“Oh? Oh Ya ya ya, titipkan sini saja mas,” Penjaga kasir menerima dan lanjut memeriksa harga minuman yang kubawa, “Totalnya 15 ribu mas, ah maaf, mau di plastik?”
“Engga mas, ngga perlu” mengatakan itu aku menyodorkan uang pas.
“Uangnya pas ya mas, Terima kasih telah belanja!” Ujar penjaga kasir terprogram.
Aku keluar dari supermarket itu, kutenggak habis minuman rasa stroberi yang baru kubayar. Dingin, pagi ini dingin sekali..
Aku melihat jalan, sepertinya kabut turun, aneh. Kulihat dinding kanan luar supermarket yang remuk, disana mobil merah menabrak dengan tenaga kudanya, bahkan mobilnya masih disana.
Hah?
Aneh, aku tidak menyadarinya saat mampir baru saja.
Mobil merah itu remuk kapnya, apa Rey si pengemudi baik-baik saja?
Di depan kap mobil itu, terhimpit antara mesin dan dinding, masih mengalir darah lebih merah dari cat mobil yang sekarang remuk, lengkap, dengan gadis itu masih disana-
Gadis itu masih disana.
Masih..
Ohh.. Ini delusi, delusi, delusi, haha.. delusi. ya. ya. ya.
Aku. Memberanikan diri memperhatikan gadis yang ditabrak itu, rambutnya terurai sangat panjang, meleleh darah dari ujung uraianya, pelan tapi pasti.
Lalu, ia membuka mata.
.
메타데이터
- post_id
- c5486845f0da
- slug
- ungu-biru-c5486845f0da
- url
- https://medium.com/@monyetmerah/ungu-biru-c5486845f0da
- canonical_url
- https://medium.com/@monyetmerah/ungu-biru-c5486845f0da
- author_url
- https://medium.com/@monyetmerah
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-16 18:18:54