← Back to list

Para Bangsawan Jinak di Sebuah Republik

Aku marah. Aku sedih. Tapi, aku masih mau untuk peduli. Karenanya, kutulis surat ini untuk para bangsawan di Republik Outorasia.

Amir Idris · 2025-11-08 19:50 · 0 claps · 3.1 min read
#kritik #freedom-of-speech #indonesia #amimir #satire
Open on Medium ↗
Wiki topics: 😂 · Humor & Satire

Para Bangsawan Jinak di Sebuah Republik

Aku marah. Aku sedih. Tapi, aku masih mau untuk peduli. Karenanya, kutulis surat ini untuk para bangsawan di Republik Indonesia tercinta. Negeri yang kaya dan makmur di antara kutub utara dan selatan.

Para gerombolan ini, apakah mereka lupa kepada siapa mereka bekerja? Untuk apa mereka duduk di singgasana tiap Kabupaten/Kota? Dan oleh siapa mereka diberi mandat lima tahunan? Jakarta? Atau rakyat? Sekarang kutanya, mau sampai kapan main bangsawan-bangsawanannya? Juga, mau sampai kapan kita setia menonton sandiwara murahan mereka?

Kenalin, aku Amir.

Pertanyaan-pertanyaan retoris ini seringkali berkecamuk di dalam kepalaku. Mungkin, bagi para bangsawan yang terhormat, mereka adalah sebuah gangguan yang mengancam. Tapi bagiku, mereka adalah sebuah hal yang seharusnya sudah memiliki jawaban yang jelas dan pasti. Tapi sayangnya, ke-seharusan itu harus pudar, mengikuti keinginan sang raja yang feodal ini. Dan anehnya, masih saja ada jelata yang terang-terangan mengamini.

Heii antek-antek raja! Apa kau tak sadar negaramu ini berbentuk republik? Tak ingatkah kau kalau segala keputusan dan kekuasaanmu ada di tangan kami? Asal kau tahu saja, kursi dan tongkat emasmu itu, kami yang beli. Bahkan istana kecilmu itu, yang dibangun di belakang alun-alun kota itu, juga rakitan kami sendiri. Sebagai bentuk apresiasi telah mengelola tanah ini.

Tapi, kenapa kau malah mengkhianati rakyatmu sendiri? Pertama, kau fokus mengisi perutmu (dan kalanganmu itu) hingga tak ada lagi ruang untuk hati dan nurani. Sampai kadang aku bertanya, makhluk apa kalian sebenarnya? Segala macam hal kau makan dengan rakusnya. Tulang ikan dan cangkang lobster pun kau sikat dengan sekali hap. Bahkan, bensin yang tumpah di kubangan air pun kau hajar. Jadi wajar, kan, kalau aku melihatmu seperti tandon air ajaib yang tak bisa kosong walau seribu tahun musim kemarau?

Lalu, kau juga sepenuhnya tunduk di depan dekrit kekaisaran yang dikirim dari Jagarda sana. Mengabaikan kami yang lututnya mulai tenggelam, yang anak-anaknya kejang-kejang keracunan.

Begini, ya, para tuan dan nyonya yang terhormat. Kami tidak buta! Kami tidak bodoh. Kami tahu, kau yang telah menjual tanah adat dan leluhur kami ke para kasim di istana. Lalu, dengan wajah layaknya aspal di Jalan Utara, kau tutupi akal-bulusmu itu dengan berkata “Ini investasi dari swasta”.

Jujur, aku tak tahu mereka akan menggunakan tanah itu untuk apa. Sempat ku curi dengar, lahan seluas itu mengubur ratusan ton emas dan tembaga. Ada juga yang bilang akan ditanami jagung dan umbi-umbian sebagai cadangan untuk ketahanan pangan. Dan yang terbaru, beberapa kanal melaporkan bahwa istana siap membangun pabrik etanol untuk produksi bahan bakar terbaru-’kan’(?).

Kau tahu, aku akan lebih rela menghabiskan waktu senggangku untuk menonton sinetron kejar tayang yang sudah menyentuh ribuan episode jikalau dibandingkan dengan satu sesi pertunjukan sirkusmu. Pertunjukan yang kualitasnya tak seberapa. Tak menghibur juga. Tapi, tiketnya bisa seharga nyawa seorang manusia. Bisa untuk satu, sepuluh, seratus, bahkan lebih dari yang kau bisa bayangkan.

Dengan sejuta hormat aku bertanya; pernahkah kau merasakan kelaparan? Apa rumahmu tak kebanjiran? Nafasmu tak seberat ini kah akibat hutan yang terus kau gerogoti tanpa sisa? Lalu, bagaimana dengan sungaimu? Bukankah ia menyeret jutaan sampah yang meracuni daerah sekitarnya?

Tentang tempatmu tinggal, adakah sisi jalan yang bernama trotoar atau pagarmu berbatasan langsung dengan jalan utama? Tak takut kah anakmu keracunan makanan yang kau canangkan di tiap sekolah? Terakhir, sudah kah kau cek kelakuan anakmu itu di sekolahnya? Apakah ia dirundung, atau malah menjadi penguasa di antara sebayanya?

Aku tak tahu apa jawabanmu, atau bagaimana caranya agar aku bisa mendengar jawabanmu. Karena dari sejarah yang aku baca, kau tak akan pernah mau menjawab sebagian besar pertanyaan rakyatmu sendiri. Apalagi kalau itu hanyalah hal remeh-temeh semacam ini.

Kalaupun mulutmu mau bergerak, kata yang keluar dari mulutmu akan penuh dengan kebohongan yang dilandaskan angan-angan. Yang melindas kami di bawah sini dengan bangga dan penuh tawa.

Aku tak mengerti bagaimana kau bisa seperti ini, wahai para bangsawan di tiap Kabupaten/Kota. Bagaimana kau bisa lebih peduli dengan dekrit kekaisaran daripada amukan ribuan orang di sekitar tempat tinggalmu sendiri? Seolah-olah, dekrit itu sudah seperti jimat peninggalan leluhur dari leluhurmu yang harus kau jaga dan laksanakan sampai mati. Mengabaikan janji suci yang kau buat sendiri saat kau berorasi.

Padahal, kita ini republik. Republik yang berasaskan demokrasi sebagai tiang utama penyangganya. Yang artinya, tanpa kami, sekumpulan orang dengan wilayah itu bukanlah apa-apa. Bukan juga siapa-siapa.

Jadi, maukah kau mau berbalik arah? Bukan untuk memimpin kami menuju kesejahteraan, tapi, menjadi panitia pengelola lintasan maraton dari tanah ini. Melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan kekaisaran di tanah republik ini.

Kalau nanti panggilan hati itu akhirnya kau jawab dengan kata iya, kami berjanji, kau akan kami bela. Semampu kami.

Sekian dariku, ciao.


메타데이터
post_id
e4d3fcd9b4e5
slug
para-bangsawan-jinak-di-sebuah-republik-e4d3fcd9b4e5
url
https://medium.com/@amimir./para-bangsawan-jinak-di-sebuah-republik-e4d3fcd9b4e5
canonical_url
https://medium.com/@amimir./para-bangsawan-jinak-di-sebuah-republik-e4d3fcd9b4e5
author_url
https://medium.com/@amimir.
status
ok
fetched_at
2026-07-15 14:29:08