Pelaku Klitih di Bawah Umur, Dampak ke Masyarakat Apa?
Baru saja terjadi kehebohan di Titik Nol Yogyakarta dengan adanya aksi klitih. Banyak warga Yogyakarta yang mengecam aksi tersebut karena…
Pelaku Klitih di Bawah Umur, Dampak ke Masyarakat Apa?
Photo by Jacek Dylag on Unsplash
Baru saja terjadi kehebohan di Titik Nol Yogyakarta dengan adanya aksi klitih. Banyak warga Yogyakarta yang mengecam aksi tersebut karena bisa berdampak pada perekonomian seperti menurunnya kunjungan dari wisatawan. Dari hal tersebut, kenapa sih klitih tuh asih terus merajalela dan ada panggungnya?
Banyak asumsi liar yang sering terdengar, mulai dari menunjukkan eksistensi diri dan mencari adrenalin. Masyarakat sering mengecam perbuatan mereka, apalagi beberapa pelaku juga masih dibawah umur. Ketika para pelaku ditangkap, hukuman yang diberikan berbeda tergantung umur, apakah masih dibawah umur atau tidak.
Bagaimana pelaku klitih ditahan, apalagi mereka yang berada dibawa umur? Berdasarkan UU no. 11 tahun 2012, jika pelaku merupakan anak-anak, maka hukuman yang diberikan adalah setengah dari hukuman maksimal untuk orang dewasa. Apakah hukuman tersebut membuat jera? Sepertinya tidak karena aksi tersebut tetap lestari. Hal ini membuat banyak orang merasa was-was termasuk aku. Siapa disini yang kesal dengan aksi klitih? Pastinya banyak orang yang merasa kesal karena aktivitas diluar rumah tidak leluasa dan terus waspada ketika akan pulang malam.
Ketika kejadian klitih di Malioboro baru-baru ini, pesan Mama di pagi hari setelah kejadian tersebut adalah “Jangan pulang malam-malam ya”. Padahal, aku kurang lebih pulang jam 5 sore, apakah itu termasuk malam? Ini membuat aku kurang leluasa untuk memilih jam pulang karena dari Kampus menuju Rumah melewati jalan-jalan protokol, Jalan Laksada Adisucipto yang menghubungkan Jogja dan Solo serta daerah Timoho yang ramai oleh lalu lalang anak sekolah, mahasiswa dan pekerja kota Jogja.
Kedua jalanan tersebut ramai disaat pukul setengah 4 hingga sekitaran jam 6 sore karena orang-orang pulang kerja dan mahasiswa kembali dari kuliah. Belum lagi orang-orang berlomba untuk kembali cepat sebelum hujan lebat di sore hari. Saat Mama bilang seperti itu, yang aku pikirkan adalah yah macet-macetan lagi. Rasa malas langsung muncul saat baru saja berangkat ke Kampus.
Tidak sampai disitu, karena di Kampus selesai sekitaran jam setengah 4, aku terkadang menunggu beberapa menit sambil berbincang dengan temanku dan disaat itulah sebuah pesan WhatsApp datang. “Pulang jam berapa dek? Jangan malam-malam.”
Ok, ini baru saja jam 4 sore lalu pesan seperti ini masuk. Bukannya aku tidak senang dichat seperti itu, namun rasanya tidak bisa pulang dengan santai di tengah-tengah kemacetan jalanan Jogja. Lalu, aku juga sedikit malas untuk janjian dengan teman kalau ingin bertemu sebentar setelah pulang dari Kampus. Mau ketemuan di kota tapi rumahnya jauh-jauh alias di pinggiran kota, jadinya malas untuk keluar rumah dan malas merasakan kemacetan.
Hal-hal tersebut membuat aku malas keluar akibat aksi klitih. Rasa khawatir yang bersamaan dengan macetnya kota Jogja di saat-saat tertentu membuatku memilih di rumah saja. Harapanku cuma satu, klitih tidak merajalela dan Jogja selalu berhati nyaman. Bagaimana caranya? Harapannya adalah bahwa para pelaku yang berada di bawah umur benar-benar mendapatkan jeranya agar masyarakat dan wisatawan tetap merasakan Jogja berhati nyaman.
메타데이터
- post_id
- e8a2cdb2e8a0
- slug
- pelaku-klitih-di-bawah-umur-dampak-ke-masyarakat-apa-e8a2cdb2e8a0
- url
- https://medium.com/@nikenvidyaa/pelaku-klitih-di-bawah-umur-dampak-ke-masyarakat-apa-e8a2cdb2e8a0
- canonical_url
- https://medium.com/@nikenvidyaa/pelaku-klitih-di-bawah-umur-dampak-ke-masyarakat-apa-e8a2cdb2e8a0
- author_url
- https://medium.com/@nikenvidyaa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-26 02:09:13