Menyelami Ketajaman Pisau Seorang Editor Buku
Di suatu masa ketika sering menghabiskan waktu di perpustakaan American Corner, salah satu keisengan yang kulakukan adalah membaca majalah…
Menyelami Ketajaman Pisau Seorang Editor Buku

Majalah sastra mingguan The New Yorker.
Di suatu masa ketika sering menghabiskan waktu di perpustakaan American Corner, salah satu keisengan yang kulakukan adalah membaca majalah New Yorker Magazine, terutama di bagian cerita pendek dan reportase yang berkaitan dengan dunia perbukuan. Keisengan ini kukerjakan dengan sungguh-sungguh karena aku sedang belajar menulis cerita dengan baik dan penasaran dengan cerita-cerita di balik dunia perbukuan. Aku memang berusaha keras menulis cerita atau esai bisa dijadikan lading penghidupanku sehari-hari.
Dalam kekalutan hidup itulah, aku menghabiskan waktu di gedung lantai tiga Perpustakaan Unit I UGM dengan menikmati halaman-halaman majalah New Yorker atau membolak-balik beberapa novel pengarang dunia terbitan Everyman Library atau karya-karya para penulis Amerika kontemporer. Di antara banyak kolom di New Yorker Magazine, aku sangat suka membolak-balik kolom yang menurunkan tulisan tentang kehidupan para penulis, editor, dan insan perbukuan.
Salah satu tulisan yang sampai sekarang kuingat dari sekian edisi majalah itu adalah tentang kekejaman seorang editor terhadap naskah seorang penulis dan problema kejiwaan yang harus ditanggung penulis berhadapan dengan editornya. Esai ini ditulis oleh Alexandra Styron, anak William Styron. William Styron dikenal publik sastra Amerika dan dunia karena novelnya yang berjudul Shopie’s Choice.
Esai yang ditulis dengan penuh empati ini berkisah tentang persoalan psikologis yang mendera Styron justru ketika novelnya telah selesai ditulis. Di dunia penerbitan Amerika, seorang penulis bukanlah penentu tunggal berkenaan dengan keutuhan naskah ketika akan diterbitkan. Selain penulis, nasib sebuah naskah buku di Amerika akan ditentukan oleh agensi, editor, dan penerbitnya. William Styron tak pernah punya persoalan berarti dengan agensi atau penerbit buku-bukunya. Yang jadi persoalan justru ketika ia berhadapan dengan editor novelnya.
Para editor jempolan di Amerika memang memiliki aura angker layaknya seorang dokter bedah. Dengan ketajaman pisau bedahnya ia menggasak seluruh bagian naskah novel, mencari sumber persoalan yang masih mengeram di dalamnya, melakukan amputasi-amputasi yang diperlukan, bahkan mungkin menawarkan kemungkinan penulisan ulang naskah novel yang sudah dikerjakan dengan jungkir-balik oleh penulisnya.

William Styron, penulis novel Sophie’s Choice. Sumber foto: https://en.wikipedia.org/wiki/William_Styron
Dalam memori Alexandra Styron, masa ketika naskah ayahnya sedang dioperasi para editor yang bekerja bak dokter bedah berpisau tajam itulah yang menjadi masa-masa paling menyulitkan dalam kehidupan seorang penulis. Styron mengalami depresi dan berkali-kali melakukan konsultasi dengan ahli kejiwaan. Meski hidup di ranch yang tenang dan nyaman, gejolak pikirannya membuat ia susah tidur, merasa nelangsa sendiri, dan tidak bisa melakukan hal-hal yang produktif. Sebagai anak seorang penulis sekaliber Styron, Alexandra merasakan betapa tidak enaknya menjalani masa-masa ketika naskah mulai masuk ke ruang operasi pengeditan, apalagi kalau dibedah oleh seorang editor yang berpengalaman.
Relasi rumit antara editor dengan penulis dalam sejarah penulisan adalah bagian tak terpisahkan dalam dunia perbukuan. Barangkali itu pula sebabnya penulis sekaliber Hemingway dan pengarang karya populer seperti John Grisham tak bisa berperilaku seenaknya ketika berhadapan dengan editor-editor naskahnya. Milan Kundera sangat dikenal sebagai editor cerewet berkenaan dengan naskah-naskah para penerjemah yang menggarap karyanya. Nadine Gordimer juga memiliki kecerewetan yang tak kalah dengan Kundera berkenaan dengan naskah-naskahnya.
Dalam sejarah Sastra Indonesia kontemporer, kisah pengeditan asal-asalan novel Ulid Tak Ingin ke Malaysia karya Mahfud Ikhwan di versi cetakan pertamanya menjadi catatan kisah pedih seorang penulis yang telah mengeram lama naskahnya namun harus menghadapi kesialan ketika berada di tangan editor yang keliru. Unntunglah di kemudian hari ada penerbit lain yang mau mencetak kembali naskahnya dengan editor yang sesuai dengan keinginan Mahfud sehingga novel yang diterbitkan dengan judul baru Ulid itu bisa sesuai harapannya maupun Sang Editor.
Di kasus Alexandra Styron, meski Sophie’s Choice diganjar penghargaan Pulitzer Prize di ranah fiksi Amerika, namun pengakuan empatik dari anaknya yang diterbitkan di majalah The New Yorker mengabarkan pada kita betapa pengujian gagasan dan prosedur penulisan karya sastra seorang penulis bisa menjadi pertarungan melelahkan antara dirinya dengan seorang editor. Styron harus membayar penghargaan publik atas karya-karyanya dengan depresi yang merepotkan diri dan keluarganya.
Namun, terlepas dari berbagai kelemahan yang membayangi dunia perbukuan Amerika, cara mereka menyiapkan sebuah naskah novel agar bisa diterima dengan mulus oleh publik pembacanya ini menjadi cara kerja yang langka dalam dunia perbukuan di Indonesia. Salah satu warisan dari kerja-kerja pembedahan naskah tulisan yang dikerjakan dengan cermat di Indonesia adalah ketika naskah-naskah Pramoedya Ananta Toer digarap oleh Joesoef Isak dan Hashim Rahman. Aku tak tahu apakah Pramoedya frustrasi ketika kedua kawannya itu mengolah buku-bukunya sehingga bisa nyaman dibaca oleh publik di Indonesia. Yang aku tahu, hampir semua karya-karya Pram yang lahir dari Pulau Buru memiliki kualitas literer yang mengagumkan.
Ketika aku sudah merasa mentok menggarap Darah Muda, tanpa bisa ditahan pikiranku melayang pada rekam jejak Joesoef Isak dan Hashim Rahman atau catatan kerja pengeditan yang pernah kubaca di American Corner tersebut. Ada kekhawatiran di dalam benakku kalau aku tak bisa beranjak cepat dari naskah yang ngendhon lama di komputer setelah mendengar komentar-komentar Sang Editor. Betapa akan merepotkannya kalau Sang Editor mengusulkan naskah harus ditulis-ulang, dirombak di sana-sini, atau sudut penceritaannya dirubah. Aku bukan tipe orang yang berpikiran praktis berkenaan dengan tulisan. Di beberapa kasus, ada tulisan pendek yang kugarap berulang-ulang selama dua sampai empat tahun karena tidak yakin kalau tulisan itu akan memuaskanku dan bisa dinikmati pembaca. Namun tulisan itu tidak diterbitkan dalam bentuk buku, jadi tidak melewati fase editorial yang merepotkan. Kalau naskah yang kutulis adalah naskah yang siap dibukukan, aku harus siap pula menghadapi pisau tajam editor. Bisa saja aku mengambil pilihan seperti Pram yang dalam pengakuannya tak mau lagi membaca naskahnya setelah ia merasa selesai dengan naskah cerita yang ia tulis. Artinya menyerahkan sepenuhnya pada editor sejauh publik tak akan mempersoalkan lebih jauh kerja-kerja editorial pada bukunya.

Darah Muda, novel pertamaku yang diterbitkan oleh Literasi Press.
Akhirnya aku memilih seorang editor yang kukenal baik sejak belajar menulis. Ia kupilih bukan dengan pertimbangan dikenal luas di dunia pengeditan buku. Pertimbangannya jauh lebih personal. Pertama, dalam rekam jejak membaca, ia seorang pembaca yang tekun dan teliti. Selain banyak membaca, secara pribadi aku mengenal kelebihannya merekonstruksi paduan gagasan, alur, penokohan, dan semua peristiwa dari buku-buku yang dibacanya. Ia, misalnya, memiliki kelebihan dalam menemukan hal-hal tidak logis dalam bangunan cerita seorang penulis. Kedua, ia memiliki beberapa pengalaman personal yang mirip dengan diriku, terutama pada interaksinya yang problematis dengan institusi pendidikan. Ketiga, ia punya pengetahuan tentang film yang tak bisa diremehkan. Pengetahuannya di dunia film ini kubutuhkan agar naskah Darah Muda di tangannya bisa memercikkan efek visual yang jelas di benak pembaca. Kemudahan pembaca dalam memvisualisasikan tiap bagian novel akan membuat mereka lebih bisa menikmati novel yang ditulis dengan penuh nelangsa tersebut. Keempat, ia bisa bekerja secara marathon , sesuatu yang kubutuhkan mengingat aku terlanjur membuat pemberitahuan publik bahwa Darah Muda bisa terbit akhir Oktober 2017.
Hal-hal yang kutakutkan berkenaan dengan operasi pengeditan terjadi. Naskah yang sudah kususun itu dibedah tanpa belas kasihan sedikit pun. Lewat obrolan-obrolan panjang yang menguras pikiran, kami memperdebatkan tiap bagian novel, melakukan perubahan di sana-sini, menyelipkan tambahan kalimat atau narasi untuk membangun kepaduan di tiap bagian novel, menemukan istilah yang tepat dan yang sesuai dengan konteks sosial, politik, dan budaya dalam cerita, membangun kelogisan setting waktu, dan yang lain-lainnya. Kami menghabiskan waktu berhari-hari di rumahnya yang tenang bagian tengah kota Yogya, di bagian belakang rumah yang luas dengan naungan pohon sirsak yang besar, ditemani bergelas-gelas kopi dan rokok. Untunglah musim penghujan telah datang sehingga kepala kami yang memanas akibat memasak naskah Darah Muda cepat dingin begitu memandangi hujan yang turun tanpa henti.
Aku beruntung editor Darah Muda ini bisa menjadi orang yang taktis. Ada banyak hal aku tidak bersepakat dengan dirinya dan ada banyak hal pula yang membuatnya tidak bersepakat denganku berkenaan dengan bagian-bagian dalam Darah Muda. Namun di antara ketidaksepakatan itu kami membangun kompromi, terutama menyerahkan keputusan terakhir dari rekomendasinya ke tanganku selaku penulisnya. Ketaktisannya, selain terbangun karena lamanya hubungan persahabatan antara aku dan Sang Editor, juga didasari pertimbangan bahwa ada masa akhir bagi sebuah karya mengeram di tangan editor dan penulisnya.
Pengalaman pembedahan naskah novel ini membuatku lebih berhati-hati di bukuku selanjutnya. Tanpa berusaha menjadikan tulisan ini sebagai sebuah apologi atas kesemena-menaan dalam melahirkan buku, pengalaman masuknya naskah ke ruang operasi pembedahan seorang editor mengajarkan padaku bagaimana menyusun tulisan lebih sistematis, lebih padu antar bagiannya, lebih menarik dibaca. Bila kemudian bukunya menjadi lebih laku, selain karena strategi pemasaran yang jitu, laris manisnya sebuah buku juga ditentukan oleh kehati-hatian penulis dan editornya dalam mengolah naskah sebelum masuk ke percetakan.
Aku mengucapkan tabik setinggi-tingginya pada Sang Editor. Pekerjaan yang ia lakukan membebaskanku dari cacat-cacat yang terkandung di naskah Darah Muda. Aku tak pernah berpikir bahwa novel ini adalah buah tanganku sendiri.
Darah Muda tidak akan lahir tanpa keterlibatan ruang geografis, ruang sosial, ruang kultural, dan ruang politik yang membentukku menjadi manusia dan penulis cerita. Darah Muda tak akan lahir tanpa bantuan berbagai peristiwa yang kualami, peristiwa demi peristiwa yang melibatkan banyak orang. Darah Muda tak akan lahir tanpa buku-buku yang kubaca sejak kecil sampai selama proses penerbitan. Darah Muda tak akan lahir tanpa bangunan sekolah-sekolah tempatku belajar sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Darah Muda tidak akan lahir tanpa keberadaan perpustakaan-perpustakaan dan toko buku yang kukunjungi dari waktu ke waktu. Darah Muda tak akan lahir kalau aku tidak bertemu dengan perempuan-perempuan yang meninggalkan bekas mendalam di jiwaku. Darah Muda tidak akan lahir kalau aku tidak bertemu dengan tiga mahaguru yang namanya akan terus menjadi rahasia dalam hidupku.
Terakhir, Darah Muda tak akan lahir tanpa sentuhan tangan dingin editornya.
메타데이터
- post_id
- ecff71e42222
- slug
- menyelami-ketajaman-pisau-seorang-editor-buku-ecff71e42222
- url
- https://medium.com/@dwicipta1977saja/menyelami-ketajaman-pisau-seorang-editor-buku-ecff71e42222
- canonical_url
- https://medium.com/@dwicipta1977saja/menyelami-ketajaman-pisau-seorang-editor-buku-ecff71e42222
- author_url
- https://medium.com/@dwicipta1977saja
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-09 11:12:38