Bagaimana Kita Memandang Sang Waktu?
Time (n.) — The healer and the killer.
Bagaimana Kita Memandang Sang Waktu?
Time (n.) — The healer and the killer.

Dibuat menggunakan Canva
Kisah dan pemikiran absurd ini bermula ketika aku gabut di suatu malam pada bulan Ramadhan. Memang yang gabut-gabut sering aja memunculkan ide dan tindakan yang nggak disangka-sangka.
Biasanya aku sehabis berbuka puasa bersama di mesjid langgananku, aku bakal menghabiskan sisa waktu di hidupku yang singkat ini dengan menyeruput segelas — mungkin bisa juga disebut secangkir kertas, hmm bagaimana sih yang bener wkwk, sudahlah abaikan saja ini— Caffe Latte di sebuah kafe langganan ketika dompetku masih gemuk dan berisi wajah-wajah yang dicintai para pencari rezeki, yaitu wajah Ir. Soekarno dan Moh. Hatta.
Tetapi ketika dompetku sedang kurus kering dan berisikan selebaran wajah Frans Kaisiepo, aku akan lebih sering menengak sekaleng kopi kaleng Nescaffe varian Ice Black di depan toko kelontong yang setiap beberapa ratus meter keberadaan selalu ada saja di kota-kota besar (In-Mart dan Al-Mart). Dan kalau memang lagi kere banget aku bakal lebih sering menghabiskan waktu senggangku di rumah temen, yah lumayan kan Wi-Fi gratis, hemat kuota internet kalau ada apa-apa saat aku di luar.
Namun, entah mengapa malam itu aku ngerasa nggak mood banget untuk ngelakuin semua hal itu. Walaupun sebenarnya aku bisa memaklumi sih kalau saat ini sepertinya secara perlahan perasaan kesendirian dan kesepian mulai hinggap dan merasuk ke dalam urat nadi, jiwa dan usus dua belas jariku.
Sejak satu persatu teman kuliahku sudah pada lulus dan kembali ke kampung halamannya masing-masing — dan bekerja tentunya — rasanya memang mulai terasa sepi wkwkwk. Aku mencoba nggak terlalu memikirkan hal itu tentunya, karena kalau sampai kepikiran dan kebablasan yang ada malah insecure, mencari-cari alasan ini-itu atas keterlambatan lulus dan lain sebagainya yang menurutku nggak make sense saja —atau mungkin make sense bagi sebagian orang(?) — tapi singkatnya aku memang mencoba bodoh amat dan fokus dengan hidupku.
Photo by Icons8 Team on Unsplash
Di tengah lamunanku mencari cara untuk menyingkirkan pikiran kotor ini, tiba-tiba aku mendapatkan sebuah ilham yang brilian dan unfaedah banget. Bagaimana kalau aku menghabiskan waktuku malam itu dengan mengambil paket malam di sebuah warnet langgananku dahulu dengan temen-temenku.
Kurasa nggak ada salahnya, anggap saja kayak ngabuburit tapi versi malam hari sembari menunggu kehadiran anomali tung tung tung sahur, pikirku. Ditambah aku udah nafsu banget pengen main game Valorant yang mana ini game nge-frame parah sekarang saat kumainkan di laptopku (memang laptop jadul sih, jadi wajarlah).
Nah! Di tengah perjalananku menuju warnet, tanpa sengaja — aku yang masih dalam kondisi setengah linglung karena rasa sepi (ya, agak lebay sih tapi ya udahlah hahaha) — mataku yang sayu seperti ikan mati ini menangkap sebuah tulisan di punggung kaos pengendara motor di depanku. Tulisan kayak gini:
Time (n.) The Healer and The Killer
Singkat tetapi dalam maknanya. Kalimat singkat tadi seakan menyihir setiap urat yang ada di kepalaku. Pikiranku yang sebelumnya dihantui oleh rasa bosan dan sepi pun kini dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan yang terus menjalar ke berbagai tipe pertanyaan dalam hukum 5W + 1H.

Dibuat menggunakan Canva
Selama perjalanan aku merenungi kata singkat itu, dan pada malam itu aku tersadar bahwa waktu itu adalah hal yang subjektif dan multifaset tergantung oleh orang yang memaknainya. Dan itu tergantung lagi oleh kondisi, konteks dan momen atau pengalaman seperti apa orang tersebut ketika menjalani waktu.
Bagi orang yang sedih dan berduka, akan sangat jelas waktu akan terasa begitu lambat. Bagi mereka yang tengah bahagia, waktu akan terasa begitu cepat. Bagi yang mengandung penyesalan, jelas waktu menjadi sesuatu berupa penyesalan yang tidak akan dapat diulang kembali. Karenanya waktu menurut pikirku bukan hanya sekadar soal angka. Namun, juga perihal kumpulan momen, rasa dan makna.
Dalam lamunanku yang ngalor ngidul, aku berpikirkan waktu juga memiliki makna sebagai sebuah ruang. Kita sering menganggap waktu sebagai suatu garis lurus yang berjalan dari masa lalu ke masa depan.
Tetapi sebenarnya, waktu bisa juga dipandang sebagai sebuah ruang, sebagai sebuah tempat untuk kita menyimpan berbagai kenangan, harapan, luka, dan proses kita selama hidup, tumbuh dan berkembang. Dan dalam konteks yang lain tapi serupa, waktu sebagai penyembuh memberi kita ruang bagi luka — fisik, jiwa maupun batin — untuk perlahan mengering, sembuh dan kemudian perlahan pergi.
Waktu memberi kita kesempatan membentuk (kembali) makna kehidupan yang baru atas apa yang telah terjadi kepada diri kita, karenanya banyak yang bilang waktu (pengalaman) adalah guru yang terbaik.
Tetapi sebagai pembunuh, waktu dapat mengikis memori atau membuat seseorang merasa kehilangan arah karena terlalu lama larut dalam kesedihan dan rasa sakit hingga waktu berlalu tanpa adanya arah, renungan dan tujuan.
Dia menyembuhkan luka yang dulu perih, tetapi dengan harga yang mungkin cukup mahal, kenangan yang perlahan memudar, wajah-wajah yang dulu indah perlahan samar, dan rasa yang dulu hangat kini dingin seperti pagi tanpa mentari. Dia juga dapat menyembuhkan rasa patah hati dan rindu, tetapi juga membunuh kemungkinan akan bertemu dan cinta yang pernah tumbuh dan hidup di dalamnya.
Waktu itu terkadang agak kampret. Terkadang ia terasa seperti sahabat lama yang tengah duduk diam bersamamu di sampingmu, menunggu kita untuk pulih dari luka-luka yang menatar raga, atma dan hati.
Tetapi di waktu yang sama, ia bisa jadi pembunuh berdarah dingin yang mencuri banyak hal dari dirimu, seperti usia, peluang, kenangan dan keinginanmu untuk melangkah kembali. Bahkan tak jarang ia datang tanpa izin dan tak berduga, ia datang, ia lewat, dan ia pergi membawa hal-hal yang kita cinta dan genggam erat. Terkadang kita hanya bisa melihatnya berlalu atau kitalah yang justru ditarik kuat sang waktu.
Dan pada akhirnya, aku merasa waktu bukanlah sesuatu yang benar-benar adil. Ia dapat bisa menjadi penyembuh bagi mereka yang mau bersyukur, bersabar dan berproses. Menjadi pembunuh dingin bagi yang terus terlarut dalam perih dan penyesalan. Tergantung dari diri kita ingin berdiri di sisi mana. Mungkin inilah seninya dalam mencintai sang waktu. Kita tak dapat melawan arus ombak yang ia pitarkan kepada kita. Kita tidak belajar untuk menaklukkannya, tetapi belajar untuk berdamai dengan dirinya.
You can’t control the wind, but you can adjust your sails
메타데이터
- post_id
- 215d9b048b08
- slug
- bagaimana-kita-memandang-sang-waktu-215d9b048b08
- url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/bagaimana-kita-memandang-sang-waktu-215d9b048b08
- canonical_url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/bagaimana-kita-memandang-sang-waktu-215d9b048b08
- author_url
- https://medium.com/@syachxn
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 04:10:56