Saat Diam Berbicara Lewat Lukisan dan Catatan Harian
Ulasan buku “The Silent Patient” oleh Alex Michaelides
#168 | ULASAN BUKU
Saat Diam Berbicara Lewat Lukisan dan Catatan Harian
Ulasan buku The Silent Patient oleh Alex Michaelides

goodreads
Belum menjadi Member Medium? Klik di sini untuk versi gratis!
Nama Buku: The Silent Patient Tahun Terbit: 2019 Penulis: Alex Michaelides Penerbit: Celadon Books Jumlah Halaman: 336 halaman
Sering kali, aku kehilangan kata-kata jika menyelesaikan buku yang luar biasa. Berkat membaca buku ini pula, aku sampai membuat catatan di aplikasi Google Keep seperti seolah-olah aku sedang mendiskusikan buku ini dengan seseorang — saking serunya.
Sesuai dengan judulnya, buku ini dibawakan dari sudut pandang seorang psikoterapis dalam usahanya memahami sang pasien yang tidak pernah lagi berbicara setelah membunuh suami tercintanya.
Namanya Alicia, seorang pelukis realis terkenal di Inggris yang telah menikah dengan seorang fotografer model tampan bernama Gabriel selama tujuh tahun.
Yang tidak biasa dalam hal ini adalah ketika Alicia keluar dari rumah sakit karena percobaan bunuh diri saat penangkapan dirinya atas dugaan pembunuhan suaminya sendiri, ia hampir tidak makan atau tidur dan menghabiskan waktunya untuk melukis di rumahnya sendiri sebagai tahanan rumah sebelum persidangan yang diawasi oleh perawat psikiatri yang memang ditunjuk pengadilan.
Proses kreatif yang biasanya Alicia habiskan selama berbulan-bulan sebelum melahirkan sebuah mahakarya, kali ini, setelah kejadian itu, ia dapat menyelesaikannya selama beberapa hari saja.
Tentu saja banyak orang mengutuk Alicia yang terlihat seperti pembunuh berdarah dingin, yang tidak terlihat menyesali perbuatannya sama sekali dan malah asyik membuat lukisan baru.
Namun, Theo, seorang psikoterapis yang nantinya akan merawat Alicia membawa kita para pembacanya untuk melihat dari perspektif yang berbeda.
“Perhaps. But let us not forget that while Alicia Berenson may be a murderer, she was also an artist. It makes perfect sense — to me at least — that she should pick up her brushes and paints and express her complicated emotions on canvas. No wonder that, for once, painting came to her with such ease; if grief can be called easy.”
Lukisan itu adalah sebuah lukisan self-portrait, yang Alicia beri judul sebagai Alcestis, dengan huruf Yunani berwarna biru terang.
Alicia melukiskan dirinya berdiri, tanpa sehelai benang apa pun, di studio yang ada di rumahnya. Dirinya menghadap kanvas sambil memegang kuas lukis. Rambut merahnya yang indah menjuntai bebas di bahunya yang kurus, urat-urat biru yang terlihat tembus pandang karena kulitnya yang putih, serta bekas luka baru di kedua pergelangan tangannya. Ekspresinya kosong dengan kepalanya yang menoleh ke belakang bahunya dan menatap lurus kepada setiap orang yang melihat dirinya di lukisan itu dengan mulut terbuka.
Mengapa dinamakan Alcestis?
Alicia memposisikan dirinya mengalami hal yang sama dengan pengalaman menyakitkan oleh seorang pahlawan wanita yang mengorbankan nyawanya untuk suaminya, Raja Admetus, tetapi ceritanya tidak sesimpel yang terdengar.
Merangkum dari artikel Britannica, Alcestis adalah sebuah tragedi Yunani karya Euripides yang pertama kali dipentaskan pada tahun 438 SM. Cerita ini berpusat pada Raja Admetus yang sedang sekarat. Ketika Dewa Apollo mengetahui bahwa Admetus tidak akan hidup lama lagi, ia membujuk Dewi Takdir, dewi yang menentukan takdir manusia, untuk memperpanjang hidupnya, yang kemudian disetujui dengan syarat ada orang lain yang bersedia mati sebagai gantinya.
Tidak ada seorang pun, termasuk orang tua Admetus, yang bersedia mengorbankan diri. Akhirnya, Alcestis, istri Admetus yang sangat mencintainya, dengan sukarela menawarkan nyawanya. Alcestis tidak menyangka bahwa suami tercintanya akan dengan mudahnya mengiyakan tawaran itu.
Singkat cerita, teman lama Admetus, Heracles, muncul tepat pada waktunya untuk menyelamatkan Alcestis dari cengkeraman Maut dan mengembalikannya kepada suaminya. Little did he know, Alcestis telah mati di momen Admetus mengiyakan tawaran sukarela istrinya itu.
“The dead don’t talk,” kata Alicia di catatan harian akhirnya.
Sambil menyelami kondisi mental seorang Alicia dari sudut pandang seorang psikoterapis yang bernama Theo Faber, para pembaca juga disuguhkan cerita masa kecil yang membentuknya menjadi dirinya sekarang.
Alex Michaelides, si penulis The Silent Patient, benar-benar membuat pembaca memasuki dan menjadi bagian dari kepala seorang Theo. Analisis dan hasil observasinya ketika membaca orang-orang di sekitarnya, perasaan yang dapat ia elaborasikan dengan kesadaran penuh — ya karena memang itulah pekerjaannya sehari-hari kan?
Walaupun pada awalnya aku mengira bahwa Theo terobsesi dan diam-diam mencintai Alicia karena ia sampai pindah tempat kerja hanya agar ia dapat merawat Alicia. Ternyata oh ternyata, kamu harus membaca buku ini untuk mendapatkan jawabannya.
Aku tidak menduga bahwa Theo memiliki seorang istri cantik yang ia cintai dengan sepenuh hati.

Aku sangat suka cara sang penulis yang menyertakan potongan-potongan buku catatan harian seorang Alicia Berenson di tiap pergantian bab. Rasanya seperti dapat mengenalnya melalui ‘suara’ yang ia rekam di sebuah buku catatan yang diberikan suaminya, sebelum ia memutuskan untuk berhenti berbicara selama bertahun-tahun.
Karena genre buku ini adalah psychological thriller, genre favoritku dari semua genre yang ada, aku benar-benar menikmati tiap-tiap plot yang dituliskan. Berkat buku ini, aku banyak mengalami pengalaman baru.
Aku tidak percaya ketika membaca profil singkat Alex Michaelides di bagian akhir buku, bahwa The Silent Patient adalah karya pertamanya! Tidak lama setelah novel pertamanya itu rilis, buku ini meraih peringkat #1 dalam Daftar Buku Terlaris The New York Times.

Alex Michaelides
Pikirku awalnya adalah sang penulis ini telah melakukan riset dengan sangat teliti dan hebat betul dalam mendalami karakter dan ilmu psikologi, seperti ia benar-benar adalah seorang psikoterapis dulunya. Namun, setelah mencari lebih lanjut mengenai Alex, ternyata ia memang pernah bekerja di sebuah psikiatri selama beberapa tahun ketika diwawancarai oleh AFI (American Film Institute).

Artikel American Film Institute
Jadi, untuk kamu yang sedang ingin mengonsumsi bacaan yang penuh ketegangan dengan sedikit bumbu mitologi Yunani dan ilmu psikologi, juga ending yang tidak seperti perkiraanmu, novel ini sangat cocok untuk kamu tambahkan ke dalam daftar bacaanmu!
Terima kasih telah membaca!
— 00 — Support Jesica untuk membeli buku di sini! Mari berteman di goodreads di sini!
[embed]Books & Movies Jesica writes insightful and engaging reviews of books and movies.medium.com
메타데이터
- post_id
- 25a4bd95c59a
- slug
- saat-diam-berbicara-lewat-lukisan-dan-catatan-harian-25a4bd95c59a
- url
- https://medium.com/booknotations/saat-diam-berbicara-lewat-lukisan-dan-catatan-harian-25a4bd95c59a
- canonical_url
- https://medium.com/booknotations/saat-diam-berbicara-lewat-lukisan-dan-catatan-harian-25a4bd95c59a
- author_url
- https://medium.com/@jejes511
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-01 08:16:42