← Back to list

Untuk Menyikapi yang Sedang Ramai

Pada akhirnya semua akan beralasan dengan jelas

Siti Almas Awaliah · 2024-12-04 17:30 · 0 claps · 2.7 min read
#ramai #keluarga
Open on Medium ↗

Untuk Menyikapi yang Sedang Ramai

Pada akhirnya semua akan beralasan dengan jelas

Desember dan hujannya yang tak kunjung reda datang kembali menyapa pagi, ditemani tangis yang dirasakan hampir seluruh anak dilaman media sosialku.

Kalimat seperti “abad diatas ilmu” terus teringang-ngiang di kepala. Helaan nafas yang terasa sangat berat membawaku pada cerita-cerita perjuangan seorang ayah diluar sana. Bohong rasanya jika aku mengatakan aku baik-baik saja. Aku sakit. Sakit sekali. Namun baginya terdapat keluarga yang perlu ia harus penuhi kasih, sandang, panganya maka dengan begitu beliau terkesan sangat tabah. Sungguh hebat !!!

Tanpa ku perjelaskan semuanya pasti berada pada posisi yang sama pada kejadian pagi ini. Hal tersebut bukan menjadi satu-satunya ada banyak pekerjaan yang sudah semestinya kita hargai. Sebagai penikmat transportasi umum ada banyak hal yang membuat aku lebih mengerti tentang arti perjuangan, serta kerja keras.

Dengan kecepatan bis merah terdapat beberapa harapan keluarga yang menggantungkan hidup diatas bis. Pejuang-pejuang yang menawarkan jajanan, minum atau bahkan buah-buahan. Harganya memang tidak begitu mahal, namun pertanyaan-pertanyaan “bapaknya entar berhenti dimana ya?” atau mungkin “dagangannya sama semua pasti ini ngambil di orang. Kalo ngambil di orang ada target harus laku berapa nya ga ya?” atau bahkan “kalo hujan terus-terusan bapaknya kedingingan ga ya?” atau ketika cuaca sedang terik-teriknya bagaimana kondisi bapak “Ga sakit? Ga pusing?.”

Atau bahkan kejadian ini pula yang mengingatkanku pada sebuah percapakan sederhana bersama ibu-ibu dengan tas besarnya dimobil elf kala itu. Ibu yang duduk disebelahku sambil membuka aplikasi tik-tok di handpone.

“Nak, ini tik-tok ibu kenapa ga bisa pindah-pindah ya?”

Ternyata handphone ibunya sangat panas benar-benar panas, akhirnya dengan jurus sederhana dariku handphone sedikit demi sedikit mulai membaik.

Jeda beberapa waktu sambil menunggu handphonenya membaik sang ibu melanjutkan percakapanya. Berbicara banyak tentang harga pangan yang semakin mahal, anak, keluarga, rindunya pada suami yang sudah tenang di sisi yang Maha Pencipta.

Topik tentang keluarga ialah topik sensitive bagiku, aku sangat terbawa arus mendengarnya bercerita.

“nak, jadi anak pertama memang berat. Belum lagi kuliah pasti capek banget. Cuma harus selalu di ingat ada orang tua yang perlu kamu tanya kabar, ada orang tua yang terkadang capek bekerja, ada orang tua yang pegel- pegel. Sentuhan kecil dari kamu berarti buat mereka. Sayangi mereka terus nak, adik mu juga.”

Saat itu posisiku memang sedang tidak baik-baik saja, maka terima kasih ibu sudah mengingatkanku. Egois rasanya jika aku hanya memikirkan diriku. Percakapan pertama dan terakhir kita yang hangatnya masih terasa sampai saat ini. Ku harap kita bisa bertemu kembali, bu.

Aku tetap sedih sekaligus bangga jika mengingat ini semua, percapakan-percakapan bermakna serta pemandangan yang hampir ku lihat setiap hari. Menjadi salah satu alasan untuk aku belajar makna kehidupan yang tidak bisa ku dapat di Sekolah.

Selalu ada harapan agar semua akan baik-baik saja, semuanya akan selalu bahagia, dan diberikan kesehatan. Amin. Amin paling serius tuhan.

foto keluarga yang tersimpan rapih di dompetku.

foto keluarga yang tersimpan rapih di dompetku.

Topiknya masih selaras “keluarga” maka dengan demikian jika ibu dan ayah membaca tulisanku aku juga bangga sekali pada perjuangan ibu dan ayah. Ibu yang rela mengantarkan aku sekolah agama padahal posisinya ibu baru selesai bekerja atau ayah yang sangat kuat menjadi garda terdepan ketika aku akan kemana saja dan tiba-tiba menjadi anak yang selalu banyak mau.

Aku memang sangat jauh dari kata baik, sebab orang baik tidak mungkin mengeluh saat disuru orang tua, orang baik tidak mungkin “ahh kenapa sih gini” dan masih banyak lagi celotehan-celotehan yang mungkin ibu dan ayah lihat dari gerak-gerikku.

Aku memang bebal dan batu tapi bentuk-bentuk cinta yang ayah dan ibu berikan atau nasihat-nasihat yang ku anggap marahnya kalian sedikit demi sedikit menamparku begitu dalam. Apa yang akan ku lakukan untuk membalas semuanya?

Doa- doa yang ku kirim serta harapan semoga ibu, ayah dan adik sehat selalu menjadi harapan utamaku. Aku akan mengulanginya “terima kasih ayah dan ibu.”

Kejadian ramai pagi ini membawa pada situasi-situasi mengaharukan yang terjadi beberapa waktu kebelakang. Dengan penuh haru aku ingin memperjelas.

“Pada akhirnya semuanya akan beralasan. baik maupun buruk, terluka maupun bahagia, sakit maupun senang. sudah semestinya menjadi teman sejati.”


메타데이터
post_id
32ccf1301ac0
slug
untuk-menyikapi-yang-sedang-ramai-32ccf1301ac0
url
https://medium.com/@awaliahsitialmas/untuk-menyikapi-yang-sedang-ramai-32ccf1301ac0
canonical_url
https://medium.com/@awaliahsitialmas/untuk-menyikapi-yang-sedang-ramai-32ccf1301ac0
author_url
https://medium.com/@awaliahsitialmas
status
ok
fetched_at
2026-07-21 20:51:46