← Back to list

Membaca Buku

Sesuatu yang efisien belum tentu memuaskan hati

Luvanka in Booknotations · 2026-06-24 07:23 · 281 claps · 5.3 min read paywalled
#booknotations #reading #something-old #books #june
Open on Medium ↗
Wiki topics: 📚 · Books & Reading

Membaca Buku

Sesuatu yang efisien belum tentu memuaskan hati

Photo by Patrick Tomasso on Unsplash

Photo by Patrick Tomasso on Unsplash

Baca gratis di sini

Sepertinya sudah hampir sebulan berjalan, aku tidak kunjung menyelesaikan buku terakhir yang aku baca. biasanya buku dengan 200-an halaman tidak memerlukan waktu sepanjang itu untuk aku selesaikan. Hal ini terjadi mungkin disebabkan kesibukan yang belakangan ini sulit sekali ditunda pengerjaannya. Jadi, waktu untuk membaca buku benar-benar sulit ditemukan.

Jika sudah terlalu lama jeda seperti saat ini, biasanya aku akan mengulang kembali bacaannya dari awal, meskipun aku sudah sampai di pertengahan buku. Hal itu aku lakukan bukan karena ingin menyusahkan diri sendiri atau malah membuang-buang waktu, tapi karena aku sudah pasti banyak melupakan beberapa detail penting dari apa yang sudah aku baca sebelumnya. Ketika itu terjadi, memaksakan diri untuk melanjutkan bacaan justru menimbulkan rasa tidak puas, seolah ada bagian yang tertinggal dan mengganjal. Jadi, daripada terus membawa perasaan itu sampai halaman terakhir, lebih baik aku mengulang kembali dari awal.

Lagi pula katanya, jika kita membaca buku yang sama lebih dari satu kali, kita akan merasakan rasa dan aroma yang berbeda, tergantung bagaimana kondisi kita saat itu. Bisa saja kita menemukan makna baru atau pemahaman yang lebih tajam dibandingkan ketika pertama kali membacanya. Aku sangat setuju dengan itu. Jadi, aku tidak merasa rugi atau membuang-buang waktu untuk mengulanginya, apalagi ketika memang ada jeda yang panjang dalam menyelesaikan satu bacaan.

Namun ketika memikirkan kebiasaan membaca yang semakin lambat belakangan ini, ada satu hal lain yang mengganjal di dalam pikiranku. Tentang buku.

Setahun belakangan, aku semakin sering membeli dan membaca buku digital. Kehadirannya memang sangat memudahkan. Saat ini, perpustakaan tidak harus berupa suatu ruangan dengan rak-rak buku yang berjajar di dalamnya. Perpustakaan juga bisa berupa barisan sampul digital yang tersusun rapi di layar genggaman kita. Hanya dengan sekali klik, sebuah buku sudah bisa diakses dengan mudah.

Setelah aku perhatikan, aku menyadari ternyata perpustakaan digitalku sudah cukup ramai. Entah sadar atau tidak, aku termasuk yang cukup sering membeli buku digital. Namun, ketika menyadari hal itu, aku juga menyadari sesuatu yang lain.

Ternyata sudah lama sekali aku tidak melangkahkan kaki ke toko buku atau perpustakaan.

Kesadaran itu membuatku berhenti sejenak.

Zaman sudah banyak berubah, begitu juga dengan diriku. Namun di satu sisi, rasanya ada yang hilang. Ada yang kosong. Seperti kehilangan suatu keromantisan yang selama ini sangat dijaga.

Hubunganku dengan buku memang sangat romantis.

Bahkan kalau boleh mengakuinya, zaman kuliah dulu, kamarku dipenuhi lebih banyak buku yang tidak ada hubungannya dengan kuliahku dibandingkan buku perkuliahan itu sendiri. Mungkin itu juga dikarenakan tempat tinggalku saat itu sangat dekat dengan salah satu toko buku, dan kedekatan itu membuatku semakin rakus terhadap buku-buku yang ada di sana.

Aku juga masih sangat ingat ketika harus pindah dari tempat tinggal itu. Hampir setiap kardus pindahanku selalu berisi buku. Saking banyaknya dan menumpuknya. Apalagi ketika itu, waktu membaca masih sangat banyak. Menghabiskan waktu berjam-jam bersama buku sudah menjadi salah satu kegiatan favoritku. Bahkan kadang bisa sampai melupakan makan, itu sudah hal yang biasa.

Aku suka kegiatan berjalan kaki menuju toko buku itu. Ketika itu, aku tidak terlalu memikirkan apakah harus membeli buku atau tidak. Yang penting aku datang ke sana dengan semangat seperti ingin bertemu pujaan hati. Sesampainya di toko buku, aku akan menelusuri satu per satu rak dengan berbagai topik. Meneliti sampulnya, membaca sekilas isinya, lalu memutuskan apakah buku itu layak dibawa pulang atau tidak. Aku bisa berlama-lama melakukan hal itu. Bahkan kakiku yang terlalu lama berdiri seolah tidak pernah protes.

Ketika menemukan sesuatu yang menarik, rasanya seperti mendapatkan kemenangan kecil. Ada perasaan menyenangkan bahwa nanti aku akan pulang membawa teman baru. Teman yang akan berbincang denganku hingga larut malam, yang akan mengaduk-aduk perasaan, atau justru mempertanyakan banyak hal di dalam kehidupan.

Banyak sekali rasa yang hadir ketika membawa satu atau dua buku pulang.

Sesampainya di rumah, membuka plastik buku itu adalah salah satu kegiatan yang paling menyenangkan. Merasakan sampul buku yang akhirnya bersentuhan langsung dengan jemariku, menelusuri teksturnya, lalu tibalah pada bagian yang paling kutunggu.

Ketika membuka buku yang masih baru, ada aroma khas kertas yang sangat unik. Aroma yang begitu akrab, dan jujur saja, cukup menenangkan. Helai demi helai yang masih rapi, sampul yang belum memiliki lipatan, halaman-halaman yang masih terasa baru. Semuanya begitu sederhana, tetapi juga begitu membahagiakan. Sayangnya, kesenangan-kesenangan kecil seperti itu perlahan mulai memudar.

Semakin hari, dunia semakin menuntut kita untuk terus berlari dan mengejar. Kenyataan hidup juga semakin berat untuk dipertanggungjawabkan. Tidak banyak waktu yang tersisa selama 24 jam sehari, dan itu menyebabkanku hampir tidak pernah memiliki waktu untuk pergi ke toko buku lagi. Yang terjadi saat ini adalah aku sering melewati toko buku, tetapi hampir tidak pernah punya waktu untuk sekadar singgah beberapa menit saja. Toko buku itu selalu seperti memanggil-manggilku. Namun selalu saja aku abaikan. Dan entah kenapa, aku selalu merasa sedikit bersalah karenanya.

Aroma buku yang dulu begitu akrab kini semakin memudar. Langkah-langkah kaki yang dulu sangat hafal dengan susunan rak buku sekarang tinggal menjadi bayang-bayang masa lalu. Aku bahkan hampir lupa bagaimana bentuk bagian dalam toko buku yang sering aku kunjungi itu. Entah bagaimana susunannya saat ini. Tentu aku merindukan semua itu. Tentu aku ingin mengulanginya kembali. Namun kenyataannya tidak begitu berpihak. Waktu tidak lagi mau bersahabat seperti dulu. Karena itulah, buku digital menjadi alternatifnya.

Melihat kumpulan buku digitalku yang semakin banyak, ada rasa senang, namun di saat yang bersamaan juga ada rasa hampa. Aku senang karena sampai hari ini aku masih membaca buku. Aku masih membeli buku. Aku masih menemukan kalimat-kalimat yang membuatku berpikir lebih lama dari biasanya. Meskipun ritme membacaku tidak lagi secepat tahun-tahun terdahulu.

Namun rasa hampa itu tetap ada. Karena tidak ada lagi momen berjalan menuju toko buku. Tidak ada lagi langkah kaki yang mengelilingi rak demi rak dengan berbagai topik. Tidak ada lagi kemenangan kecil ketika berhasil menemukan buku yang dicari atau menemukan sesuatu yang menarik lalu membawanya pulang. Dan yang paling penting, tidak ada lagi aroma kertas baru itu. Tidak ada lagi suara kecil yang muncul ketika jemariku membalikkan halaman demi halaman.

Dulu buku itu benar-benar ada di genggaman tanganku. Aku bisa merasakannya. Sekarang buku-buku itu berubah wujud menjadi layar digital. Sampul yang tidak bisa diraba lagi. Aroma kertas yang tidak bisa dicium lagi. Dan suara kecil halaman yang dibalik perlahan juga ikut menghilang.

Semuanya berubah.

Semuanya hilang.

Namun beberapa minggu belakangan ini, aku mulai kembali memesan buku fisik secara online. Beberapa di antaranya sudah sampai di tanganku dan mulai mengantre di rak buku kamar. Tentu saja, jumlah buku yang masih rapi terbungkus plastik jauh lebih banyak dibandingkan buku yang benar-benar sudah kubaca. Meski begitu, aku tetap merasa senang melihatnya. Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika melihat tumpukan buku itu perlahan bertambah. Seolah ada bagian kecil dari diriku yang dulu mulai kembali pulang.

Setidaknya, aku masih bisa merasakan sedikit kenangan lama itu lagi. Meskipun perjalanan menuju toko buku, langkah kaki yang menelusuri rak demi rak, atau waktu-waktu panjang yang dihabiskan di perpustakaan belum sepenuhnya bisa tergantikan.

Mungkin rasanya memang tidak akan sama. Namun untuk saat ini, melihat beberapa buku fisik yang mulai kembali mengisi rak di kamarku sudah cukup untuk membuatku tersenyum.

Ingin sekali membangkitkan kenangan lama itu untuk hadir kembali saat ini. Namun lihatlah, buku dengan 200-an halaman saja membutuhkan waktu hampir sebulan untuk kuselesaikan. Meski begitu, kenangan itu mungkin masih bisa sedikit dihadirkan kembali, tetapi daya magisnya sudah tidak lagi sama. Bahkan terkadang terasa asing.

Mungkin yang sebenarnya kurindukan bukan hanya aroma kertas baru atau suara halaman yang dibalik. Mungkin yang kurindukan adalah masa ketika aku memiliki cukup waktu untuk menikmati semua itu. Masa ketika berjalan ke toko buku bukanlah kemewahan yang sulit dicari celahnya. Masa ketika membaca buku bisa dilakukan tanpa terburu-buru. Masa ketika aku bisa tenggelam berjam-jam di antara halaman-halaman tanpa memikirkan berbagai hal yang menunggu untuk diselesaikan.

Entahlah.

Yang jelas, ketika melihat perpustakaan digitalku yang semakin ramai, aku merasa senang sekaligus kehilangan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Apakah teman-teman di sini pernah atau sedang merasakan perbedaan yang sama?

Punya tulisan tentang buku? Terbitkan di Booknotations. Daftar sekarang dan cek panduannya!

[embed]Submission Guideline — Booknotations Panduan mengirim tulisan ke Booknotationsmedium.com


메타데이터
post_id
3c6ed7d885d7
slug
membaca-buku-3c6ed7d885d7
url
https://medium.com/booknotations/membaca-buku-3c6ed7d885d7
canonical_url
https://medium.com/booknotations/membaca-buku-3c6ed7d885d7
author_url
https://medium.com/@Ceritaluvanka
status
ok
fetched_at
2026-06-26 21:52:29