← Back to list

Malang, Datang, dan Kehilangan. Vol. 1

Bercerita tentang semua hal yang sudah ku lewati selama kurang lebih dua tahun bermuara di Kota Malang

Yogi Wibowo · 2025-12-03 14:28 · 2 claps · 2.7 min read
#malang #datang #kehilangan
Open on Medium ↗

Malang, Datang, dan Kehilangan. Jil. 1

Bercerita tentang semua hal yang sudah ku lewati selama kurang lebih dua tahun bermuara di Kota Malang

Sumber: https://share.google/images/IM84OvDS2GZmggpYP

Sumber: https://share.google/images/IM84OvDS2GZmggpYP

Malang merupakan sebuah keindahan yang tak terbantahkan, tergagas oleh semua indra yang telah merasakan seluk-beluk kenyamanan, keharmonisan, kesejukan yang telah diberikan oleh kota kecil ini. Setiap sudut yang terlihat, menawarkan jamuan yang tak henti-hentinya ditawarkan, setiap jalan yang terlewat menawarkan cita rasa yang tak terlupakan, tinggi pendek bangunan seperti potongan ayam di lokasi mie ayam. Kadang ada potongan yang gede dan kadang kecil banget, justru disitulah kuncinya dalam memperkuat cita rasa dalam sebuah mangkuk kenikmatan.

ehh kok malah bicara mie ayam sih… Lanjut

Dua tahun sudah aku bermuara di Malang. Kota ini bukan lagi kuartikan sebagai tempat singgah, namun jadi semacam ruang panjang yang kutempati dengan seluruh tubuh, rasa, dan pikiranku. Begitu banyak hal yang sudah kutemui selama dua tahun berada di sini, dimulai dari bertemu diri sendiri dengan segala bentuk ketakutannya. Takut akan sebuah kegagalan, takut akan merasa kesepian, takut tidak bisa menempatkan diri. Semua itu muncul bersamaan ketika pertama kali menginjakkan kaki di Malang. Mungkin, bagi sebagian orang rasa ini adalah hal yang lumrah dirasakan. Apalagi oleh orang yang baru merasakan hidup di tanah yang jauh dari tempat ia lahir dan tumbuh. Kamu pernah ngerasain gini juga ga sih?

Lumrah? Iya, awalnya memang aku memahami rasa tersebut sebagai rasa yang lumrah. Melihat memang aku tidak pernah hidup jauh dari rumah apalagi dalam kurun waktu yang cukup lama. Cukup teramat aneh di sekitarnya, rasa yang sudah saya pahami dan saya labeli “lumrah” masih terasa hingga saat ini. Padahal sudah dua tahun aku tinggal, dua tahun aku melewati dinamika yang tidak mudah. Tapi kenapa rasa itu masih terus menghantui? Apa pemahamanku masih dangkal untuk memahami rasa itu, atau mungkin ada variabel lain yang membuat rasa itu terus datang menghantui. Entahlah. Biarlah. Akan saya pahami perlahan-lahan sambil menuntaskan studiku di Malang.

Meski rasa itu masih sering muncul di waktu-waktu yang tak kutahu, namun Malang tidak pernah membiarkanku terjebak dalam rasa itu sendirian. Perlahan-lahan, satu per satu hal baru mulai datang menemuiku. Seperti halnya di ruang sosialku, Malang mempertemukanku dengan berbagai macam varian orang. Variasi? udah kayak risol aja ada variannya hahaha. Tapi memang begitu adanya, disini aku banyak sekali bertemu dengan anak seumuranku, atau bahkan lebih tua/muda dari aku. Namun kita berada di kondisi yang sama, yaitu berada jauh dari istana masing-masing. Ada yang dari Ibu Kota, tanah Kalimantan, Papua, dan dari berbagai daerah lainnya. Pertemuanku pasti diselingi dengan perkenalan, gila kan. Sudah berapa banyak orang yang sudah aku ajak berkenalan dan mengajakku berkenalan.

Dari pertemuan dan perkenalan itu, tidak semua bisa menjadi teman. Bahkan ada banyak yang hanya lewat lalang, sedikit yang terjaring menjadi teman, menjadi seorang sahabat, atau bahkan menjadi orang terkasih. Namun, hal ini bukanlah hal yang sederhana. Memang menyenangkan bertemu, berkenalan, berteman, bersahabat, bahkan berkasih sayang di Malang. Tapi juga aku harus banyak menyiapkan rasa ikhlas yang lebih luas di relung jiwa yang paling dalam, karena setiap pertemuan akan menghasilkan tiga hal dalam pemahamanku: Kenyamanan, mungkin aku atau kalian akan sangat bahagia jika mendapatkan ini. Keuntungan, tidak mengharapkan tapi siapa yang tidak bahagia jika pertemuan itu membuahkan keuntungan (dalam artian yang lebih luas). Terakhir adalah perpisahan di titik inilah keikhlasan yang saya maksud itu diperlukan. Sakit sungguh sakit, sedih sungguh sedih jika dirasakan, bahwa pertemuan tidak selalu berakhir dengan kebersamaan. Tetapi juga kalah. Dan kini aku tengah merasakannya.

Untung Malang selalu punya cara untuk memberikan kehangatan tanpa benar-benar memelukku. Udara dingin Malang seringkali lebih jujur ​​dibandingkan manusianya sendiri, ia menyentuh kulit seolah mengatakan bahwa aku masih di sini, bahwa waktu masih terus berjalan. Dan kota ini, meski terus berubah, tetap menyisakan ruang-ruang kecil yang mempersilakan ku untuk berhenti dan bernafas sejenak, atau sekadar menatap dunia yang sedang berlalu lalang.

Tulisan ini akan dirampungkan nanti, dua tahun lagi, ketika aku sudah mencapai babak terakhir studi sarjana ku. Semoga lulus tepat waktu (Aamiin), okee see uuu.


메타데이터
post_id
3d6143e4fa92
slug
malang-datang-dan-kehilangan-vol-1-3d6143e4fa92
url
https://medium.com/@yogiwibowo755/malang-datang-dan-kehilangan-vol-1-3d6143e4fa92
canonical_url
https://medium.com/@yogiwibowo755/malang-datang-dan-kehilangan-vol-1-3d6143e4fa92
author_url
https://medium.com/@yogiwibowo755
status
ok
fetched_at
2026-07-14 14:55:07