← Back to list

Di Antara Asap, Abu, dan Keserakahan

Ada kezaliman yang tak selalu datang dalam bentuk kekerasan.

Bunga Syadina · 2026-09-04 07:04 · 64 claps · 1.7 min read
#karhutla #biodiversity #wildlife-conservation #refleksi #berbagi-dan-berdampak
Open on Medium ↗
Wiki topics: ML · Machine Learning EVO · Evolution & Ecology 🌱 · Environment & Climate ✊ · Equality & Identity 🏔️ · Outdoor & Adventure

Di Antara Asap, Abu, dan Keserakahan

Photo by BBC Indonesia

Photo by BBC Indonesia

Ada kezaliman yang tak selalu datang dalam bentuk kekerasan.

Kadang Ia hadir sebagai hutan yang dibiarkan terbakar, rakyat yang dibiarkan menghirup asap, dan satwa yang kehilangan rumah sementara para pemimpin sibuk menjaga kursinya, bukan negerinya.

Asap tidak mengenal kelas sosial.

Ia tidak bertanya siapa yang kaya dan siapa yang miskin. Ia tidak memilih rumah siapa yang akan dimasukinya. Ia menyelimuti udara yang dihirup bersama-sama.

Tetapi dampaknya tidak selalu dirasakan dengan cara yang sama.

Mereka yang duduk di kursi kekuasaan mungkin dapat berlindung ke tempat yang lebih aman. Mereka yang kaya mungkin bisa berpindah ke tempat yang lebih aman untuk mencari udara yang lebih bersih.

Hutan bagi manusia mungkin terlihat seperti hamparan hijau yang luas. Namun bagi satwa, hutan adalah rumah. Tempat mencari makan, berlindung, berkembang biak, dan pulang.

Mungkin bagi manusia hutan terlihat seperti sesuatu yang dapat dihitung hanya berdasarkan nilai ekonominya.

Berapa luas lahannya.

Berapa banyak yang dapat dimanfaatkan.

Berapa besar keuntungan yang dapat dihasilkan.

Tetapi hutan tidak pernah sesederhana angka-angka tersebut.

Hutan menyimpan kehidupan.

Ia menyimpan air, udara, keanekaragaman hayati, dan ekosistem yang terbentuk selama bertahun-tahun. Ketika satu bagian hutan hilang, yang lenyap bukan hanya pepohonan, tetapi juga hubungan antara berbagai kehidupan yang bergantung di dalamnya.

Karena itu, ketika hutan terbakar, kita seharusnya tidak hanya melihatnya sebagai kehilangan material.

Orangutan yang berlari meninggalkan hutan tidak sedang mencari tempat baru untuk bermain. Mereka sedang mencari keselamatan. Burung-burung yang meninggalkan pepohonan bukan sedang bermigrasi dengan sukarela. Mereka sedang kehilangan tempat tinggal. Dan satwa-satwa kecil yang mungkin tak pernah masuk dalam pemberitaan, barangkali mati dalam diam, tanpa pernah diketahui namanya.

Yang lebih menyedihkan, mereka tidak memiliki suara untuk menuntut keadilan.

Mereka tidak bisa datang ke gedung pemerintahan.

Mereka tidak bisa menyampaikan keluhan.

Mereka tidak bisa memilih siapa yang akan memimpin.

Mereka hanya bisa bertahan.

Dan ketika manusia yang seharusnya memiliki akal, kekuasaan, dan kemampuan untuk menjaga justru gagal melindungi, maka persoalannya bukan lagi sekadar tentang kebakaran hutan. Ini adalah persoalan tentang bagaimana kita memandang kehidupan.

Kita sedang kehilangan sesuatu yang tidak mudah dikembalikan.

Pohon mungkin dapat ditanam kembali.

Tetapi ekosistem tidak selalu dapat dipulihkan dengan secepat itu.

Satwa mungkin dapat dipindahkan.

Tetapi tidak semua rumah dapat digantikan.

“Tidak ada pembangunan manapun yang sepadan dengan hilangnya biodiversitas. Dan kehidupan yang telah hilang tidak dapat dikembalikan hanya dengan menanam seribu pohon”. — 4/9/26


메타데이터
post_id
56f4f4e5fda8
slug
di-antara-asap-abu-dan-keserakahan-56f4f4e5fda8
url
https://medium.com/@bungasyadina/di-antara-asap-abu-dan-keserakahan-56f4f4e5fda8
canonical_url
https://medium.com/@bungasyadina/di-antara-asap-abu-dan-keserakahan-56f4f4e5fda8
author_url
https://medium.com/@bungasyadina
status
ok
fetched_at
2026-09-05 17:53:25