← Back to list

Kemiskinan Menstruasi: Kemiskinan yang Menggerogoti Perempuan

Penulis: Agnesia Wunderlika Nciho Hasugian & Yustine Juneytalenta

Girl Up UNS · 2026-06-16 15:51 · 0 claps · 5.4 min read
#menstruasi #poverty #period-poverty #menstruation
Open on Medium ↗
Wiki topics: CR · CRISPR & Gene Editing 📢 · Social Issues

Kemiskinan Menstruasi: Kemiskinan yang Menggerogoti Perempuan

Penulis: Agnesia Wunderlika Nciho Hasugian & Yustine Juneytalenta

Sumber: iStock

Sumber: iStock

Menstruasi itu normal…

Menstruasi adalah sebuah proses fisiologis, tidak ada bedanya dengan makan, buang air, dan bernapas. Menjadi manusia. Sayangnya, seringkali menstruasi dianggap sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan di tempat umum, dan kata menstruasi sendiri ditutup-tutupi dengan penyebutan “datang bulan” atau dengan akronim “m”, sebagaimana pembalut yang sering disebut sebagai “roti jepang”. Menstruasi juga sering diasosiasikan dengan “darah kotor”, padahal darah mens merupakan sekresi dinding rahim yang luruh setelah masa ovulasi di saluran vagina. Masyarakat umum memerlakukan menstruasi seperti sesuatu yang memalukan dan menjijikkan sehingga harus disembunyikan–terlebih dari laki-laki. Situasi ini menyebabkan perempuan mengemban beban berlapis tanpa dukungan yang semestinya didapatkan.

Selain publik yang tidak bisa berempati pada siklus menstruasi perempuan, beban berlapis tersebut seringkali ada pada lingkungan yang tidak mendukung akses perempuan dalam kebersihan menstruasi. Pemenuhan hak selama menstruasi adalah salah satu bentuk memanusiakan manusia –yang sayangnya, tidak terpenuhi.

Ada di mana letak kemanusiaan jika manusia yang mengalami menstruasi tidak memiliki kenyamanan dan keamanan dalam periode menstruasi? Mirisnya, Indonesia bukanlah tempat yang aman dan nyaman. Hal yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar malah harus dibayar dengan harga mahal.

Tapi, kenapa aku diperlakukan tidak pantas?

Masih banyak ditemukan ketidakadilan dan ketidaksetaraan dalam manajemen kebersihan dan kesehatan menstruasi. Bagi sebagian orang, pemenuhan sumber daya seperti informasi, perlengkapan, fasilitas, dan lingkungan yang mendukung selama menstruasi adalah sebuah kemewahan. Kesulitan dalam mengakses fasilitas yang aman dan higienis, produk kebersihan menstruasi, serta edukasi yang memadai terkait menstruasi merupakan masalah global yang dikenal sebagai kemiskinan menstruasi atau period poverty (Babbar et al., 2022).

Kemiskinan menstruasi lahir dari norma budaya, stigma, tabu, dan minimnya edukasi yang berujung pada kurangnya kesadaran dalam merawat kebersihan tubuh saat menstruasi (Babbar et al., 2022; Faiqah, A., & Puspitasari, N., 2023). Selain faktor budaya, permasalahan ekonomi turut memengaruhi kemiskinan menstruasi. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara berpenghasilan rendah dan menengah tidak luput dari ketidaksetaraan dalam kebersihan menstruasi (Rossouw, L., & Ross, H., 2021). Kondisi ekonomi yang sulit menyebabkan individu tidak dapat membeli pembalut atau alat penampung menstruasi lainnya karena lebih memprioritaskan kebutuhan pangan. Selain itu, perempuan yang tinggal di perkotaan cenderung memiliki akses yang lebih baik terhadap pembalut dibandingkan perempuan di pedesaan. Perempuan di pedesaan umumnya hanya menggunakan kain sebagai pengganti pembalut, bahkan sebagian tidak menggunakan pembalut sama sekali. Kondisi ini juga berdampak pada frekuensi penggantian pembalut, di mana perempuan di pedesaan lebih jarang menggantinya dibandingkan perempuan di perkotaan (Faiqah, A., & Puspitasari, N., 2023).

Selain permasalahan ekonomi, sektor pendidikan juga menjadi faktor yang berkontribusi terhadap kemiskinan menstruasi. Perempuan kerap kali tidak memiliki pengetahuan yang memadai terkait menstruasi akibat sebanyak 63% orang tua dan institusi pendidikan tidak pernah menjelaskan menstruasi kepada anak perempuan (YPPI dalam Rossouw, L., & Ross, H., 2021). Akibanya, hanya perempuan yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi yang memiliki akses lebih besar untuk produk sanitasi (Rossouw, L., & Ross, H., 2021). Permasalahan lainnya adalah ketidakcukupan air dan fasilitas sanitasi atau kebutuhan menstruasi lainnya di sekolah, serta lingkungan sosial yang tidak mendukung pengelolaan kebersihan menstruasi. Siswi enggan untuk mengganti pembalut di sekolah akibat kurangnya privasi, toilet yang kotor, keterbatasan air, serta tidak tersedianya tempat sampah khusus pembalut yang sejalan dengan kepercayaan untuk tidak membuang pembalut sembarangan.. Bahkan, tak jarang siswi memilih untuk membolos sekolah saat menstruasi karena tidak ingin menerima ejekan dari siswa laki-laki, merasa tidak nyaman akibat rasa sakit menstruasi, serta khawatirdarah akan merembes keluar dari pakaian (Sommer et al., 2017; Nisa, 2020; Faiqah, A., & Puspitasari, N., 2023)

Menstruasi memengaruhi berbagai aspek kesehatan perempuan, mulai dari fisik hingga psikologis. Fluktuasi hormon estrogen dan progesteron menyebabkan beberapa efek seperti kram di berbagai bagian tubuh (terutama perut), suasana hati yang mudah berubah, Premenstrual Syndrome (PMS), pusing, menurunnya stamina dan kualitas tidur, dan masih banyak lagi. Kemiskinan menstruasi menjadi hal yang fatal karena kebersihan menstruasi yang tidak terpenuhi dapat berujung pada gangguan kesehatan. Kondisi Indonesia sebagai negara beriklim tropis menyebabkan tubuh lebih gampang memproduksi keringat yang memudahkan terjadinya infeksi pada saluran reproduksi. Penyakit yang dapat ditimbulkan antara lain keputihan, pedikulosis, trikomoniasis, leukorea, dan kandidiasis (Faiqah, A., & Puspitasari, N., 2023).

Aku juga ingin pantas.

Kemiskinan menstruasi merupakan masalah struktural sehingga untuk memberantasnya diperlukan kerja sama dari berbagai pihak–baik masyarakat maupun pemerintah. Intisari dari permasalahan period poverty adalah kebijakan dan dilema keuangan yang dapat diatasi melalui menciptakan akses gratis dan terjangkau bagi produk menstruasi, membentuk lingkungan yang suportif terhadap perempuan, dan mengubah stigma buruk terhadap menstruasi.

Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) atau Menstrual Health and Hygiene (MHH) adalah salah satu cara yang digaungkan untuk mengelola kemiskinan menstruasi (World Bank Group, 2026)

Sumber: World Bank Group

Sumber: World Bank Group

Menstrual Health and Hygiene dapat diwujudkan dalam empat faktor dalam lingkungan yang mendukung, yaitu faktor material, pasar, fasilitas yang mendukung, dan informasi & edukasi. Faktor material dapat terwujudkan dengan (1) memastikan kualitas dan ketahanan material menstrual dengan material yang mendukung; (2) mendemonstrasikan penggunaan material MHH; dan (3) pembuatan produk dengan kualitas terjamin serta harga terjangkau untuk sektor privat dan perusahaan sosial. Di sisi lain, faktor pasar dapat terwujudkan dengan (1) menghapus hambatan pasar dalam pemasukan untuk sektor privat; (2) menurunkan harga produk menstruasi; (3) meningkatkan akses terhadap produk menstruasi; (4) menghapus stigma dan misinformasi; dan (5) membudidayakan fasilitas yang ramah perempuan.

Faktor fasilitas pendukung dapat diwujudkan dengan toilet dan fasilitas membersihkan diri yang dilengkapi keamanan dan privasi memadai serta membuat pilihan pembuangan dan sistem pengelolaan limbah menstruasi yang nyaman dan privat. Sedangkan, faktor informasi & edukasi dapat diwujudkan melalui edukasi higienitas menstruasi dan kesehatan serta menyadari dan mengatasi norma atau praktik sosial dan budaya terkait menstruasi yang bersifat mengancam.

Salah satu langkah nyata yang dapat dilakukan untuk menangani kemiskinan menstruasi adalah dengan penggunaan pembalut yang dapat digunakan kembali (reusable pads). Melalui Surakarta Menstrual Care Project yang diselenggarakan pada bulan Juni 2025, Girl Up UNS ikut serta dalam upaya memitigasi kemiskinan menstruasi dengan membagikan pembalut kain yang dalam produkisnya bekerja sama dengan penjahit lokal, Biyung Period Sister. Reusable pads mampu menjadi solusi dari kemiskinan menstruasi yang efektif dan berkelanjutan. Pada tahun 2026 ini, Girl Up UNS juga kembali memitigasi kemiskinan menstruasi dengan menggaungkan kampanye yang bekerja sama dengan Girl Up Portugal dalam rangka memperingati Menstrual Hygiene Day. Kampanye dilakukan melalui media sosial dan menggalang donasi untuk kemudian disalurkan kepada sekolah di Surakarta dalam bentuk pembalut yang disertai dengan edukasi terkait kesehatan reproduksi.

Langkah-langkah ini memang tidak sebanding dengan kesengsaraan yang dirasakan akibat kemiskinan menstruasi. Namun, semoga langkah kecil ini dapat meringankan beban berat yang dipikul. Semoga kita semua dimanusiakan.

Referensi

Babbar, K., Martin, J., Ruiz, J., Parray, A. A., & Sommer, M. (2022). Menstrual Health is a public health and human rights issue. The Lancet Public Health, 7(1). https://doi.org/10.1016/s2468-2667(21)00212-7

Faiqah, A. N., & Puspitasari, N. (2023). Literatur Review: Penyebab Dan Dampak period poverty di Indonesia. Media Gizi Kesmas, 12(2), 1133–1144. https://doi.org/10.20473/mgk.v12i2.2023.1133-1144

Lindsay Capozzi. (2021, April 5). Period Poverty: The Public Health Crisis We Don’t Talk About. Policylab.chop.edu. https://policylab.chop.edu/blog/period-poverty-public-health-crisis-we-dont-talk-about

Nisa, H. (2020). Factors affecting school absence among schoolgirls in South Tangerang, Indonesia. Jurnal Kesehatan Reproduksi, 11(1), 1–9. https://doi.org/10.22435/kespro.v11i1.1497

Penyebab Nyeri Haid Tak Tertahankan dan Cara Mengatasinya. (2018, February 7). Alodokter. https://www.alodokter.com/penyebab-nyeri-haid-yang-tidak-tertahankan

Reusable sanitary pads and sustainability | ActionAid UK. (n.d.). Www.actionaid.org.uk. https://www.actionaid.org.uk/our-work/period-poverty/reusable-sanitary-pads

Rossouw, L., & Ross, H. (2021). Understanding period poverty: Socio-economic inequalities in menstrual hygiene management in eight low- and middle-income countries. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(5), 2571. https://doi.org/10.3390/ijerph18052571

Sommer, M., Figueroa, C., Kwauk, C., Jones, M., & Fyles, N. (2017). Attention to menstrual hygiene management in schools: An Analysis of Education Policy documents in low- and middle-income countries. International Journal of Educational Development, 57, 73–82. https://doi.org/10.1016/j.ijedudev.2017.09.008

UN Women. (2025, July 28). Period Poverty — why millions of girls and women cannot afford their periods | UN Women — Headquarters. UN Women — Headquarters. https://www.unwomen.org/en/articles/explainer/period-poverty-why-millions-of-girls-and-women-cannot-afford-their-periods

World Bank Group. (2026, May 26). Menstrual Health and hygiene. World Bank. https://www.worldbank.org/en/topic/water/brief/menstrual-health-and-hygiene


메타데이터
post_id
5bed56973aff
slug
kemiskinan-menstruasi-kemiskinan-yang-menggerogoti-perempuan-5bed56973aff
url
https://medium.com/@girlup.uns/kemiskinan-menstruasi-kemiskinan-yang-menggerogoti-perempuan-5bed56973aff
canonical_url
https://medium.com/@girlup.uns/kemiskinan-menstruasi-kemiskinan-yang-menggerogoti-perempuan-5bed56973aff
author_url
https://medium.com/@girlup.uns
status
ok
fetched_at
2026-06-17 08:20:12