Jurnal Liar: Layakkah Pekanbaru Menggusur Geliat Generasi Muda Demi Estetika Kota?
Oleh : Oki Jalil
Jurnal Liar: Layakkah Pekanbaru Menggusur Geliat Generasi Muda Demi Estetika Kota?
Oleh : Oki Jalil
LIDAH KOTA. Apakah Pekanbaru terkutuk bagi orang-orang yang menikmati seni jalanan dan budaya urban? Kota Bertuah ini terasa belum ramah bagi anak muda yang mencintai seni jalanan sebagai jalan hidup.

Atraksi high ollie dari rider Pekanbaru Skateboard dalam acara Go Skate Day di Mall Living World, Pekanbaru (23/06/2023). Foto : Rozi Saputra
Sejarah dan Realitas Kota
Secara sejarah, kota ini merupakan kawasan dagang nasional maupun internasional. Rasanya, kota ini lebih bermanfaat bagi mereka yang bergerak di bidang bisnis dan perdagangan. Beratus tahun lamanya daerah ini dieksploitasi, dari zaman Raja Ali hingga masa kini.
Hal ini terlihat dari dominasi masyarakat dengan latar kebudayaan berbeda dari “DNA” kota ini. Namun, apakah itu menjadi perdebatan masyarakat? Sudah barangkali tentu tidak. Kota ini selalu ramah bagi siapa saja yang ingin menyambung hidup ataupun mengeruk kekayaan alamnya, baik dari dalam maupun luar daerah.

Caltex Pacific Indonesia (CPI) menggunakan helikopter untuk memudahkan pekerjaan pengeboran minyak di Riau. Arsip : Aldi Nainggolan diakses melalui Pekanbaru Tempo Dulu
Anak Muda dan Minimnya Ruang Ekspresi
Di sisi lain, anak-anak muda tumbuh tanpa panduan, fasilitas, dan bimbingan untuk bermain serta beraktivitas di ruang terbuka. Mereka sering kehilangan arah dan menerima hujatan. Energi positif yang disalurkan melalui karya di ruang publik justru dianggap mengganggu dan menjadi beban masyarakat.
Cemoohan dan kritik tak berdasar datang dari sesama warga yang sebenarnya menikmati kota yang sama. Tak jarang mereka juga harus berurusan dengan pihak berwajib. Kriminalisasi terhadap orang yang berekspresi di ruang terbuka kerap terjadi. Mereka dipandang sebagai “kriminal” oleh negara dan kota yang justru mereka cintai.
Pertanyaan besar yang patut diajukan: Apakah kota ini terkutuk bagi orang-orang yang berpikir berbeda?
Perbedaan tujuan hidup sering kali sulit diterima oleh sebagian masyarakat. Lalu, bagaimana seharusnya pemerintah sebagai penyelenggara negara menyikapi hal ini?

Ruang bermain Loop Arena Pekanbaru yang telah punah. Doc. Google Maps
Efek Kebijakan yang Tidak Berpihak
Di kota-kota besar di Indonesia seperti Pekanbaru, pertumbuhan infrastruktur terlihat pesat. Pusat perbelanjaan tumbuh subur. Namun, di balik kemajuan fisik tersebut, ruang terbuka publik — seperti taman kota, lapangan, dan ruang kreatif (sarana olahraga luar ruang) — belum menjadi prioritas utama.
Padahal, ruang terbuka di kota urban seharusnya menjadi paru-paru kota sekaligus wadah interaksi sosial. Bagi anak muda, ruang terbuka bukan sekadar tempat bersantai dan bertumbuh, tetapi juga ruang untuk berkumpul, bermain, menari, membuat pertunjukan seni, berdiskusi komunitas, hingga berolahraga ekstrem.
Tanpa ruang yang memadai, potensi kreativitas generasi muda akan terhambat. Artinya, pemerintah belum sepenuhnya mendukung kreativitas anak muda di kota ini. Padahal, kegiatan luar ruang memiliki banyak manfaat untuk menyalurkan energi berlebih secara positif.
Apakah Pekanbaru Memiliki Ruang Bermain?
Pertanyaan mendasarnya adalah: Apakah Pekanbaru memiliki ruang bermain yang disiapkan negara bagi anak muda?
Menurut UUD 1945 Pasal 28H dan Pasal 34, negara wajib menciptakan kondisi yang memungkinkan warga — termasuk anak muda — untuk berkembang secara sosial, budaya, dan kreatif. Selain itu, UU No. 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan menyebutkan bahwa negara berkewajiban:
- Memfasilitasi pengembangan potensi pemuda.
- Menyediakan prasarana dan sarana kepemudaan, ruang diskusi, sarana olahraga, serta tempat ekspresi seni di ruang terbuka.
Artinya, secara konstitusional, anak muda berhak mendapatkan fasilitas publik yang memadai.

Anak muda Pekanbaru menggunakan pelataran Stadion Utama Riau sebagai arena alternatif bermain Skateboard sejak 2024 silam. Doc. Potret Street Pekanbaru
Kota Ideal Itu Seperti Apa?
Kota ideal adalah ruang hidup yang manusiawi, inklusif, dan berkelanjutan. Kota bukan sekadar kumpulan bangunan atau pusat ekonomi, melainkan ruang hidup bersama yang aman dan ramah bagi semua. Jika fasilitas publik minim, kondisi ideal itu tidak akan pernah terwujud. Konflik antarwarga pun mudah terjadi akibat tidak tersedianya ruang berekspresi.
Apakah Kota Ini Akan Berbenah?
Belakangan ini, perdebatan di media sosial kerap terjadi. Salah satunya mengenai aksi vandalisme di fasilitas umum (halte RCH). Sebagian menyebutnya tindakan merusak, sementara sebagian lain menilai hal itu terjadi karena pemerintah tidak menyediakan ruang aman dan inklusif bagi anak muda untuk berekspresi.
Konflik warga vs warga pun muncul. Lalu, di mana peran pemerintah untuk menengahi dan menentukan sikap? Jika dilihat dari dua sisi, masing-masing memiliki argumen. Namun, apakah Pekanbaru akan berbenah dan mewujudkan harapan generasi mudanya?
Tuntutan ini bukan sekadar kritik, melainkan bentuk cinta anak muda kepada kota tempat mereka tumbuh.

Mural di tembok persimpangan Jalan Harapan Raya ke Jalan Sudirman Pekanbaru. Doc : PekanbaruKolektifCrew
Fasilitas yang Dibutuhkan
Masih banyak fasilitas publik yang belum tersedia atau belum layak di kota ini. Beberapa prinsip yang perlu diwujudkan antara lain:
- Berorientasi pada manusia, seperti: Trotoar yang lebar dan aman bagi pejalan kaki, Jalur sepeda terintegrasi dan Ruang berkumpul yang mudah diakses.
- Ruang publik yang hidup dan inklusif, seperti: Alun-alun terbuka, Ruang kreatif anak muda dan Fasilitas olahraga gratis di setiap taman kota.
Peran Pemimpin Kota untuk mendekatkan Kembali anak muda pada negara
Anak muda sering merasa jauh dari negara. Negara dipersepsikan sebagai entitas formal, birokratis, dan kurang memahami aspirasi mereka. Padahal, kota adalah wajah nyata negara dalam kehidupan sehari-hari.
Pemimpin kota memiliki peran strategis untuk membangun kembali kedekatan tersebut, salah satunya melalui penyediaan fasilitas publik yang inklusif dan relevan dengan budaya generasi muda.
Menurut Jan Gehl dalam bukunya Life Between Buildings, kota harus dirancang dengan memprioritaskan kehidupan di antara bangunan. Kualitas kota ditentukan oleh interaksi sosial dan pengalaman manusianya.

Arsip Komunitas Skateboard Pekanbaru (22/06/2021) Doc. The Alan Ollies Night
Skatepark sebagai Simbol Dukungan
Olahraga seperti skateboard, roller skate, dan BMX sering dianggap mengganggu karena dimainkan di fasilitas yang tidak dirancang untuk itu. Tanpa ruang khusus, konflik dengan aparat dan masyarakat mudah terjadi.
Pembangunan skatepark bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan simbol pengakuan bahwa:
- Anak muda memiliki ruang aman untuk berlatih
- Fasilitas tersedia sesuai standar
- Komunitas memiliki tempat berkumpul
- Bakat dapat berkembang hingga tingkat kompetisi dan mengharumkan nama daerah
Pemimpin yang visioner tidak hanya membangun gedung megah dan jalan mulus, tetapi juga mendengar kebutuhan komunitasnya. Negara yang kuat bukanlah negara yang menekan ekspresi, melainkan yang memberi ruang bagi warganya untuk tumbuh dan berkembang.
Jadi, Bapak dan Ibu yang terhormat, apakah akan ada tindakan nyata untuk generasi muda Pekanbaru? Karena satu kalimat ini terus bergema:
“Pekanbaru belum punya skatepark, Pak!”
메타데이터
- post_id
- 697dbbb8e99c
- slug
- jurnal-liar-layakkah-pekanbaru-menggusur-geliat-generasi-muda-demi-estetika-kota-697dbbb8e99c
- url
- https://medium.com/@corahkota/jurnal-liar-layakkah-pekanbaru-menggusur-geliat-generasi-muda-demi-estetika-kota-697dbbb8e99c
- canonical_url
- https://medium.com/@corahkota/jurnal-liar-layakkah-pekanbaru-menggusur-geliat-generasi-muda-demi-estetika-kota-697dbbb8e99c
- author_url
- https://medium.com/@corahkota
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-21 04:48:14