TERNYATA RELAPSE, LAGI-)
Berhenti komunikasi juga nyatanya gak ngejamin bakal sembuh gitu aja, ya?
TERNYATA RELAPSE, LAGI-)
Berhenti komunikasi juga nyatanya gak ngejamin bakal sembuh gitu aja, ya?
Saat pikiran tak lagi mengingat, namamu perlahan mulai terlupakan hangat. Rasa di hati tak sebesar dulu, namamu tak lagi menepi di waktu.
Kupikir perasaanku telah bebas sepenuhnya, kau sudah tak lagi ada di sana, aku terbebas dari bayangmu yang menggoda. Dan artinya, move on darimu itu nyata.
Bukan aku yang mengurangi, berhenti, ataupun berhasil tak membawa tentangmu. Tapi, semestalah yang sedang berbaik hati untuk membuatku setidaknya sedikit mendapat ruang untuk merasa ‘sembuh’.
Karena nyatanya, namamu masih punya daya, Saat disebut, detakku berubah ritme, Dan saat mereka membahas kabarmu, Telinga dan hatiku masih ingin bertahan.
Pernah kuajak logika untuk menang, namun perasaan terlalu pandai menyimpan kenang. Sekalipun tak lagi memelukmu dalam doa, namamu mungkin akan tetap lekat dalam jeda.
Aku ingin percaya ini bagian dari proses, bahwa rindu yang diam juga bisa selesai dengan tegas. Tapi setiap tentangmu singgah dalam lintas, aku goyah, meski tak lagi menangis deras.
Jadi sebenarnya sembuhku kemarin hanya pelarian? Atau memang sedari awal aku hanya pandai bersembunyi di balik hari-hari sibuk dan tawa pura-pura? Ternyata yang kukira pemulihan, hanyalah bentuk lari dari pelarian.
Kenangan kita terlalu akrab dengan luka yang menyerupai rumah. Karena saat semua yang dikira selesai, ternyata hanya sedang menunggu waktu untuk membuat hati kembali lelah, lagi—Oh ternyata relapse tuh kayak gini, ya?
메타데이터
- post_id
- af4e5d71dff8
- slug
- ternyata-relapse-lagi-af4e5d71dff8
- url
- https://medium.com/@aca_ra2/ternyata-relapse-lagi-af4e5d71dff8
- canonical_url
- https://medium.com/@aca_ra2/ternyata-relapse-lagi-af4e5d71dff8
- author_url
- https://medium.com/@aca_ra2
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-29 11:10:12