← Back to list

Apakah Kita Mewariskan Praktik Kolonialisme dalam Hubungan Romantis?

Menelusuri bagaimana keluarga, kolonialisme, dan patriarki membentuk cara kita mencintai.

Blauer Himmel in Perspektif Perempuan · 2026-07-15 08:34 · 103 claps · 6.6 min read
#equality #life #writing #relationships #feminism
Open on Medium ↗
Wiki topics: SOC · Sociology & Politics 💑 · Relationships ✊ · Equality & Identity

Apakah Kita Mewariskan Praktik Kolonialisme dalam Hubungan Romantis?

Menelusuri bagaimana keluarga, kolonialisme, dan patriarki membentuk cara kita mencintai.

Editor: Cindiana Famelia

Photo by Syh on Unsplash

Photo by Syh on Unsplash

Siapa yang Mengajari Kita Cara Mencintai? Bagaimana keluarga, kolonialisme, dan keberanian untuk tidak mewarisi kekerasan?

"If I'm going to love you, I want that love to be consciously chosen, not historically inherited."

Selama pandemi COVID-19, aku menghabiskan lebih banyak waktu di rumah dibanding sebelumnya. Mungkin itu menjadi salah satu privilese sebagai anak pertama dan cucu pertama di keluarga Ibuku. Untuk pertama kalinya aku tidak hanya tinggal di rumah, tetapi benar-benar mengamati rumah, melihat bagaimana rumah bekerja di keseharianku yang tidak pernah kuamati lebh banyak sebelumnya.

Aku memperhatikan bagaimana Ayah dan Ibuku berbicara satu sama lain. Siapa yang meminta maaf lebih dulu ketika ada konflik. Siapa yang mengambil keputusan-keputusan penting. Siapa yang mengalah agar pertengkaran cepat selesai. Tanpa kusadari, menurutku ya jauh sebelum aku belajar tentang cinta, rumah telah menjadi sekolah pertamaku tentang relasi. Orang tuaku adalah guru pertama yang mengajarkan bagaimana cinta diekspresikan, bagaimana kekuasaan bekerja, dan bagaimana konflik diselesaikan.

Ayahku adalah sosok yang sering kusebut "tsundere". Ayah adalah tipikal orang yang sulit mengekspresikan kasih sayang melalui kata-kata. Ketika marah, kritiknya keras sekali, bahkan bisa membuat telingaku panas atau bersiap-siap dengan bantal guling yang akan dilemparnya Ketika aku tidak mendengar. Cara mendidiknya kadang terasa seperti "parenting VOC", disiplin yang dibangun lewat ketegasan bahkan rasa takut. Tetapi setiap kali aku sakit, justru Ayah menjadi orang yang paling panik.

Saat aku dua kali terpapar COVID-19 setelah pulang dari Jakarta, Ayah menjadi orang yang paling sibuk memastikan kondisiku. Ayahku mungkin atau jarang pernah berkata, "Ayah bangga sama kamu." Namun, Ayah selalu datang membawa obat, memastikan aku makan, memastikan apa yang kubutuhkan atau yang kuingiinkan terpenuhi atau bahkan diam-diam mengurus hal-hal yang bahkan tidak kuminta.

Semakin dewasa, semakin banyak aku membaca banyak hal. Aku pernah mulai bertanya kepada diriku sendiri, “Apakah itu memang kepribadian ayahku, atau ada sesuatu yang lebih besar yang membentuk cara beliau mencintai?”

Pertanyaan itu membawaku pada satu kesadaran bahwa tidak ada seorang pun belajar mencintai dari ruang kosong. Ya. Menurutku, cara-cara kita mencintai selalu lahir dari sejarah. Bentuknya diwariskan melalui keluarga, budaya, agama, sekolah, media, hingga negara. Kita sering menganggap cara mencintai sebagai sesuatu yang alamiah, padahal banyak di antaranya merupakan hasil dari proses sosial dan politik yang berlangsung sangat lama.

Ayahku mungkin dibesarkan dalam lingkungan yang mengajarkan bahwa laki-laki harus kuat, tidak boleh menangis, tidak boleh menunjukkan kerentanan, dan mengekspresikan cinta melalui kerja keras, bukan melalui pelukan atau kata-kata. Bukan berarti semua sikap kerasnya menjadi benar. Namun, memahami dari mana pola itu berasal membantuku melihat bahwa manusia sering kali hanya mengulang apa yang pernah ayahku pelajari.

Di titik itulah aku mulai membaca lebih banyak lagi. Awalnya aku membaca tentang keluarga. Lalu tentang gender. Kemudian tentang kekuasaan. Setelah itu, aku membaca tentang cinta. Aku pernah membaca karya Frantz Fanon. Fanon pernah menulis bahwa kolonialisme tidak hanya menjajah tanah, tetapi juga menjajah cara manusia memandang dirinya sendiri.

Atau mungkin kamu (baca: dirimu yang sedang membaca tulisan ini) juga akrab dengan karya Paulo Freire. Dalam Pedagogy of the Oppressed, Freire mengatakan bahwa pembebasan dimulai ketika kita menyadari bahwa dunia yang kita anggap normal sebenarnya adalah dunia yang telah diajarkan kepada kita.

Dua pemikiran itu membuatku bertanya-tanya sekaligus mencatat sebuah pertanyaan yang terus mengganggu pikiranku, “Kalau cara kita berpikir bisa dijajah, bukankah cara kita mencintai juga bisa dijajah?” Awalnya pertanyaan itu terdengar berlebihan. Namun, semakin lama aku mengamati, semakin jelas aku melihat bagaimana kolonialisme dan patriarki bekerja hingga ke ruang yang paling privat: keluarga.

Kolonialisme bukan hanya tentang penguasaan wilayah. Dari yang kutangkap dan kucatat dalam bacaanku, banyak ilmuwan sosial menunjukkan bahwa proyek kolonial juga membentuk standar-standar mengenai keluarga ideal, pembagian kerja berdasarkan gender, hingga bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya bersikap.

Sejarawan seperti, misalnya, Ann Laura Stoler menunjukkan bahwa kolonialisme mengatur kehidupan domestik dan ranah privat karena keluarga merupakan tempat paling efektif untuk mereproduksi nilai-nilai kekuasaan.

Selain itu, Julia Suryakusuma kemudian memperlihatkan melalui konsep State Ibuism bahwa negara pada masa Orde Baru turut membentuk citra perempuan ideal sebagai istri yang patuh, ibu yang mengurus rumah tangga, dan pendamping suami. Peran-peran itu tidak lahir begitu saja dari “kodrat” yang selalu dilekatkan kepada perempuan (bahkan sampai hari ini), tetapi dibentuk melalui kebijakan, pendidikan, organisasi perempuan, dan berbagai institusi negara.

Artinya, ketika hari ini kita menganggap laki-laki harus menjadi kepala keluarga, perempuan harus lebih sabar, istri harus lebih memahami, atau hubungan yang berhasil selalu berakhir di pelaminan, sebagian dari keyakinan itu sebenarnya memiliki sejarah politik.

Di saat yang sama, kapitalisme membutuhkan keluarga dengan pembagian kerja yang jelas. Agar roda ekonomi terus berputar, selalu ada pekerjaan reproduktif yang harus dilakukan, seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, merawat anak, merawat orang tua, hingga memastikan anggota keluarga siap kembali bekerja keesokan harinya.

Sebagian besar pekerjaan itu tidak dibayar, tetapi tanpanya sistem ekonomi tidak akan berjalan. Silvia Federici menyebut kerja-kerja ini sebagai fondasi yang sering kali tidak terlihat dari kapitalisme modern. Kapitalisme membutuhkan tenaga kerja yang terus direproduksi, dan keluarga menjadi tempat utama reproduksi itu berlangsung.

Mungkin karena itu kita lebih mudah mengatakan, “Ibu memang suka memasak,” daripada mengakui bahwa memasak adalah kerja. Kita lebih mudah mengatakan, “Namanya juga ibu,” daripada bertanya mengapa hampir seluruh beban pengasuhan jatuh kepada perempuan.

Kita mewarisi cara membayangkan keluarga dari sistem sosial yang dibangun jauh sebelum kita lahir.

Siapa sebenarnya yang pertama kali mengajariku bahwa perempuan yang baik harus selalu memahami? Siapa yang mengajariku bahwa laki-laki tidak boleh menangis? Siapa yang mengatakan bahwa menikah adalah tujuan akhir sebuah hubungan? Siapa yang menentukan bahwa pekerjaan domestik adalah tanggung jawab perempuan?

Semakin kupikirkan, semakin kusadari bahwa sebagian besar jawabannya bukan berasal dari diriku sendiri, ya. Jawabannya berasal dari keluarga, sekolah, institusi agama, media, negara, dan sejarah panjang kolonialisme yang membentuk imajinasi kita tentang keluarga yang “normal”. Kesadaran-kesadaran itu perlahan mengubah caraku memandang relasi.

Selama ini banyak teman-temanku bertanya mengapa aku tidak terburu-buru berpacaran. Bahkan ada yang bercanda menganggapku terlalu cuek atau tidak tertarik pada siapa pun. Padahal jawabannya, yah…, bukan karena aku tidak percaya pada cinta, ya. Tapi, menurutku, justru karena aku menganggap cinta terlalu penting untuk dijalani tanpa kesadaran.

Saat ini aku bahkan masih belajar membedakan mana cinta dan mana kepemilikan, mana kepedulian dan mana kontrol, mana komitmen dan mana rasa takut ditinggalkan, mana pengorbanan yang lahir dari kasih, dan mana pengorbanan yang sebenarnya hanya hasil dari budaya yang tidak pernah kita pertanyakan dan bahkan tidak pernah kita sadari.

Kalau begitu, bagaimana kita keluar dari pola-pola yang diwariskan ini?

Aku pernah menulis (sebelum ini) tentang relasi sehat. Aku banyak belajar dari bacaan bell hooks dalam All About Love, yang mengatakan bahwa cinta bukan sekadar perasaan. Cinta adalah tindakan, praktik, pilihan yang diwujudkan setiap hari melalui kejujuran, rasa hormat, tanggung jawab, kepedulian, dan keinginan untuk saling bertumbuh.

Kalimat itu mengubah cara pandangku. Selama ini kita sering menyebut cemburu sebagai cinta, mengontrol sebagai perhatian, atau bertahan dalam relasi yang melukai sebagai bentuk pengorbanan. Padahal, belum tentu itu adalah cinta. Cinta banyak sekali bentuk-bentuknya (aku menyarankanmu untuk membaca bell hooks), dan karena itu aku merasa perlu memberi diriku waktu.

Aku masih berproses untuk memahami bagaimana kekuasaan bekerja di dalam diriku sendiri sebelum membawa seseorang masuk ke dalam hidupku. Aku ingin mengenali pola-pola yang hidup di dalam keluargaku sebelum tanpa sadar mewariskannya kepada orang lain atau kepada pasanganku kelak.

Aku ingin memastikan bahwa ketika suatu hari nanti aku mencintai seseorang, yang mencintainya benar-benar adalah diriku, bukan rasa takutku, bukan tentang luka-luka yang kudapatkan dan hal-hal yang belum selesai, bukan perilaku-perilaku patriarki yang kutelan sejak kecil, bukan juga warisan kolonial tentang seperti apa keluarga seharusnya dibangun.

Kalau suatu hari nanti aku membangun rumah bersama seseorang, aku ingin kami bisa bertanya satu sama lain. Misalnya seperti, bagaimana menurutmu kebebasan bekerja di dalam sebuah hubungan? Seperti apa arti kepedulian bagimu? Bisakah kita berbeda pendapat tanpa saling mendominasi? Bisakah kita meminta maaf tanpa merasa harga diri kita runtuh dan salah satu dari kita merasa lemah? Bisakah kita membangun keluarga yang tidak mengulang kekerasan yang dulu dianggap normal oleh generasi sebelumnya?

Menurutku, ya, barangkali memang praktik-praktik dekolonisasi tidak harus selalu dimulai dari ruang kelas, seminar-seminar, demonstrasi, atau bahkan cara-cara kita mempropagandakan dekolonialisasi.

Menurutku, mungkin praktik-praktik dekolonisasi juga dimulai dari ruang makan, dan memang perlu berangkat dari diri sendiri, dari rumah, di sekolah, di lingkungan berorganisasi, di lingkungan pertemanan, atau dari cara pasangan berbagi pekerjaan domestik, dari cara orang tua meminta maaf kepada anaknya, dari cara laki-laki belajar menangis tanpa dipermalukan, dari cara perempuan berhenti merasa bersalah karena memilih dirinya sendiri.

Dan yap…, akhirnya aku tidak ingin memutus sejarah keluargaku. Ada begitu banyak hal baik yang kuterima dari mereka. Mungkin ke depannya yang ingin kulakukan hanyalah mengenali warisan yang kubawa, memilih mana hal-hal yang layak diteruskan, dan dengan sadar menghentikan pola-pola yang melukai agar tidak diwariskan lagi kepada generasi berikutnya.

Dan…

Mungkin kita memang tidak bisa memilih keluarga tempat kita dilahirkan. Namun, kita masih memiliki kesempatan untuk memilih keluarga seperti apa yang ingin kita bangun. Dan mungkin, itu adalah bentuk-bentuk cinta yang paling membebaskan untuk dimulai, dibangun bersama.

Rumah, tanpa pernah kita sadari, adalah ruang belajar yang sangat politis.

Lalu, bagaimana dengan lingkaran pertemanan dan komunitas? Bagaimana mungkin kita ingin mengubah dunia kalau cara kita memperlakukan orang-orang terdekat masih mengikuti pola yang sama?

Hum… bell hooks menyebut cinta sebagai sebuah praktik kebebasan (the practice of freedom). Kalau begitu, mungkin praktik itu juga perlu hadir dalam cara kita menjadi teman, menjadi rekan kerja, menjadi sesama aktivis, atau menjadi sesama anggota organisasi.

Misalnya ya dalam praktik-praktik berbagi kabar, atau bagaimana kita mendengarkan seseorang tanpa buru-buru menyela, bagaimana cara kita menerima kritik tanpa merasa diserang, bagaimana cara kita membagi kerja secara adil, termasuk kerja-kerja yang sering tidak terlihat seperti menyiapkan konsumsi, mengingatkan jadwal, atau memastikan semua orang merasa aman.

Atau bagaimana perilaku kita tidak menganggap seseorang kurang berkomitmen hanya karena ia memilih beristirahat, atau bahkan bagaimana cara kita membangun ruang yang tidak bergantung pada satu tokoh, satu pemimpin, atau satu "orang paling tahu".

Semakin kupikirkan, mungkin ya dekolonisasi cinta adalah dekolonisasi relasi. Yah begitu deh…


메타데이터
post_id
b6e8b9b2b4f8
slug
apakah-kita-mewariskan-praktik-kolonialisme-dalam-hubungan-romantis-b6e8b9b2b4f8
url
https://medium.com/perspektif-perempuan/apakah-kita-mewariskan-praktik-kolonialisme-dalam-hubungan-romantis-b6e8b9b2b4f8
canonical_url
https://medium.com/perspektif-perempuan/apakah-kita-mewariskan-praktik-kolonialisme-dalam-hubungan-romantis-b6e8b9b2b4f8
author_url
https://medium.com/@blauerhimmel
status
ok
fetched_at
2026-07-16 21:26:35