← Back to list

Rangga dan Cinta: Sebuah Upaya Mengulang Sejarah

Saat “Ada Apa dengan Cinta” Mencoba Bernyanyi

buayadayat in Maratonton · 2025-10-13 14:52 · 132 claps · 2.9 min read paywalled
#rangga #aadc #indonesia #maratonton #ulasan-film
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🎬 · Film & Television

Rangga dan Cinta: Sebuah Upaya Mengulang Sejarah

Saat “Ada Apa dengan Cinta” Mencoba Bernyanyi

Koleksi Pribadi

Koleksi Pribadi

Sebenarnya Film Rangga & Cinta tak masuk dalam daftar film yang ingin kutonton di bioskop. Apalagi yang mau dilihat dari sebuah Ada Apa dengan Cinta? (AAdC) film yang sudah paripurna? Yang sudah jadi penanda sebuah zaman? Yang sudah diwakili Dian Sastro Wardoyo dan Nicholas Saputra di masa paling emasnya? Bahkan begitu melekatnya akting mereka saat jadi Rangga dan Cinta, hingga membuatku hanya bisa melihat tokoh itu saja saat mereka berakting di film apapun setelah itu.

Permintaan si bungsu yang sudah memasuki usia remaja, membuatku meluangkan waktu untuk menemaninya menonton film ini. Dia, sebagai remaja putri generasi Alpha, terpikat dengan AAdC lawas. Dia ingin tahu, bagaimana film sebagus itu bisa direka ulang, siapa tokoh utama yang mewakili Rangga & Cinta masa kini?

Aku sendiri, agak sangsi, sebab kisah sukses sukar didaur ulang. Pikiran pemasaranku merasa, ini tak lebih dari upaya Miles Films *(*Production House) menguji bahkan berjudi untuk sebuah judul yang (masih) laku. Yang membuat saya mengapresiasi adalah pendekatannya yang musikal, setidaknya di sini duo Mira Lesmana (Produser) dan Riri Riza (Sutradara) **sudah menarik garis pembeda yang jelas dengan versinya yang lebih lawas.


Intronya cukup menjanjikan, dengan tarian dan nyanyian di sekolahan. Nuansanya mengingatkanku dengan intro film Catatan Akhir Sekolah (CAS) karya Hanung Bramantyo. Meski harus diakui, CAS masih menang jauh, bagiku film ini masih jadi masterpiece intro fim Indonesia.

Aku tak akan masuk ke cerita, karena kisahnya serupa hingga ke puisi dan lagu yang ada. Bahkan latar waktunya pun tetap setia dengan film lamanya. Memang ada beberapa lagu baru di sini, tapi sama sekali tak melekat di ingatan.

Kumpulan lagu Melly Goeslaw dan Anto Hoed di film lawas-nya jadi napas utama film ini. Kumpulan lagu di film ini, masih jadi lagu film Indonesia terbaik, duet musisi suami istri ini. Bedanya, di sini ditambah sentuhan aransemen baru dengan vokal para pemeran utamanya. Ini menimbulkan rasa yang berbeda. Lagu yang bagus ini saat dinyanyikan oleh para pemerannya, kurasakan ada hit dan miss, atau malah menambah nilai otentik? Entahlah, film musikal memang bukan jenis film yang kudalami.


Oke, sekarang mari ke para pemeran utama. Aku akan memberi rasa pribadi jika dibandingkan dengan pendahulunya. Di sini aku tak membicarakan sinetron AAdC, kali ini fokus pemeran di filmnya saja.

El Putra Sarira (Rangga) tatapannya sama tajam dengan Nicholas Saputra, tetapi derajat cool dan nyali di nyala matanya masih lebih berasa NicSap.

Leya Princy (Cinta) kurasakan punya aura yang sama dengan Dian Sastro. Gaya akting cewek pintar-gaul-populernya bisa disebut setara.

Kyandra Sembel (Maura) masih kalah dengan rasa Titi Kamal yang meyakinkan sebagai cewek cantik yang menomorsatukan penampilan.

Daniella Jahzara Tumiwa (Karmen) kalah tongkrongan premannya jika dibandingkan Adinia Wirasti.

Jasmine Nadya (Alya) aktingnya juara, dia bisa menyamai bahkan di beberapa adegan mengalahkan kerapuhan Ladya Cheril. Patut dinantikan peran-perannya di masa depan.

Katyana Mawira (Milly) bisa menyamai kelemotan Sissy Priscillia.

Rafly Altama Putra (Mamet), maaf, masih terlalu ‘ganteng’ untuk mewakili sosok siswa canggung yang cringe. Dennis Adhiswara masih jadi Mamet yang melekat di ingatan. Tapi to be fair, peran Mamet memang tak diberi terlalu banyak porsi di film ini.


Bagiku, ini adalah film yang perlu tak perlu. Tak ada pun tak apa-apa. Bahkan bagi anakku pun, masih lebih bagus versi film AAdC.

Satu-satunya yang amat mengganjal buatku adalah adegan Cinta menyanyi untuk Rangga. Jika di film lawasnya, adegannya di sebuah kafe dengan panggung musik yang ditonton orang banyak. Di film ini, entah kenapa, di pilih di tempat sepi. Di sebuah toko musik(?) yang misterius, hanya ada mereka berdua. Sungguh sangat mengkhawatirkan. Aku membayangkan sebagai orangtua, betapa bikin cemas jika anak perempuanku dibawa ke tempat sepi berdua saja oleh seorang lelaki, di balik pintu tertutup!


Itu saja pembacaanku dengan film Rangga & Cinta. Sebuah upaya mengulang sejarah yang terengah-engah di jumlah penonton. (saat tulisan ini dibuat, baru menyentuh 500 ribuan)

Semoga saja ke depannya Miles Films tidak memilih mengulang sejarah (lagi) dengan film-film suksesnya dulu. Semoga mereka diberi dana dan nyali lebih untuk menulis sejarah baru. Seperti saat mereka membuat Laskar Pelangi, Petualangan Sherina dan (tentu saja) AAdC.

Jika boleh berharap, Film biopik Chairil Anwar yang sudah sejak lama diisukan oleh Mbak Mira Lesmana, semoga segera jadi nyata. Aamiin.



메타데이터
post_id
c29980f5c814
slug
rangga-dan-cinta-sebuah-upaya-mengulang-sejarah-c29980f5c814
url
https://medium.com/maratonton/rangga-dan-cinta-sebuah-upaya-mengulang-sejarah-c29980f5c814
canonical_url
https://medium.com/maratonton/rangga-dan-cinta-sebuah-upaya-mengulang-sejarah-c29980f5c814
author_url
https://medium.com/@kianbumi2017
status
ok
fetched_at
2026-07-16 21:00:47