← Back to list

RICH BRIAN & TALENTA MUSISI INDONESIA DI PANGGUNG DUNIA

That everyone can make it, don’t matter where you from (Kids Lyrics)

Lucky Richard · 2019-09-03 19:12 · 0 claps · 6.8 min read
#rich-brian #niki-zefanya #rapper-indonesia #ekonomi-kreatif #bekraf
Open on Medium ↗
Wiki topics: CR · CRISPR & Gene Editing 🎵 · Music & Audio

RICH BRIAN & TALENTA MUSISI INDONESIA DI PANGGUNG DUNIA

Photo by Wendy Wei from Pexels

Photo by Wendy Wei from Pexels

That everyone can make it, don’t matter where you from (Kids Lyrics)

Dalam perjalanan menuju ke rumah hingga memarkirkan mobil di garasi, saya ditemani satu lagu keren dan asyik yang diputar stasiun radio favorit saya. Sebuah lagu hop hop .. eh hip hop a.k.a rap yang tidak saya ketahui identitasnya karena si penyiar radio tidak menyebutkan judul lagu dan nama penyanyi.

Normalnya kalau mendengar lagu rap pasti mengacu ke rapper Amerika seperti yang saya pikir demikian. Tapi saya salah, lagu berjudul 100 degrees yang saya ketahui kemudian tersebut dibawakan oleh Rich Brian, orang Indonesia.

Saya tahu Rich Brian ketika ia menjadi viral dengan lagunya Dat $tick. Waktu itu ia menggunakan nama panggung Rich Chigga. Saya suka lagu itu dan instan tertawa waktu lihat penampilannya di video klip. Tidak sama sekali bermaksud merendahkan, tapi tertawa karena penampilannya benar-benar bukan tipikal seorang rapper. Jauh melenceng dari pakem rapper kebanyakan. Jauh banget.

Pertama soal asal-usulnya. Rich Brian yang punya nama asli Brian Imanuel adalah orang Indonesia asli dari etnis Tionghoa. Etnis ini di Indonesia lebih dikenal sebagai pedagang, pebisinis atau spesialis. Kalau tidak jadi dokter, importir, jualan sembako atau hp. Kalaupun terjun di dunia musik, setahu saya lebih banyak ke arah musik klasik Mozart, Beethoven dan sejenisnya.

Mohon koreksi kalau salah, saya belum pernah dengar rapper Indonesia dari etnis Tionghoa. Kalau sekedar lingkup sekolahan atau kampus bisa saja ada, tapi mencuat hingga skala nasional rasanya belum. Di Indonesia musisi rap bagus & terkenal bisa dihitung dengan jari, makanya gampang dikenali. Yang living legend tentu saja Iwa K. asli Sunda (Batman Kasarung still d’ best). Kemudian ada Saykoji asal Poso. Dari sisi etnis secara umum, di Indonesia, dulu — entah sekarang, musik hip hop lebih banyak dimainkan anak-anak muda ‘baon’ yang secara karakteristik lebih mendekati sebagai rapper.

Munculnya kemudian Rich Brian sebagai rapper dari latar belakang etnis minoritas membuktikan bahwa musik, apapun jenisnya, pada dasarnya tidak bisa dikotak-kotakan menurut ukuran ras, suku atau warna kulit. Dan untungnya di dunia musik di Indonesia tidak ada sekat-sekat semacam itu. Keberhasilannya menembus pasar internasional khususnya di Amerika adalah kredit khusus karena pencapaian itu jelas tidak mudah. Jangankan orang Asia, orang kulit putih Amerika yang menjadi white rappers pun juga punya tantangan tersendiri, baca ini atau lihat ini.

Kedua soal tampang. Rich Brian jelas lebih keren dari saya, tapi dia tidak mencermikan persona seorang rapper yang mayoritas terlihat serem dan badass. Kalau dia punya tampang seperti Joe Taslim, bolehlah ada sedikit galak-galaknya. Tapi menurut saya, ia malah terlihat sedikit nerdy bahkan cenderung culun. Bandingkan dengan rapper Amerika yang sering tampil berotot, bertato dan berwajah sangar. Satu-satunya rapper yang saya ingat punya wajah lucu mengarah ke ganteng adalah Will Smith. Mungkin itu sebabnya dia banting setir jadi aktor, karena memang lebih cocok ke situ. Saya rasa Rich Brian sadar diri soal ini.

Ketiga soal atribut. Alih-alih tampil bling-bling pakai hoodie dengan entourage cewek sexy geboi, di penampilan perdana dalam video klip Dat $tick Rich Brian hanya ditemani cowok-cowok yang gak banget. Dan yang lebih mengejutkan, dia nge-rap pakai celana sedengkul ditambah tas pinggang, dan t-shirt polo warna pink!! Persis engkoh-engkoh lagi jaga toko di Harco.

Dengan segala anomali yang melekat pada awal kemunculan, justru membuat Rich Brian dan karyanya mendapat perhatian lebih di jagat hip hop sekaligus membuyarkan stereotip rapper selama ini. Risikonya memang ketika itu banyak juga yang menganggapnya sebelah mata.

Namun perjalanan karir musik Rich Brian membuktikan ia serius menjadi musisi rapper, bukan sekedar one hit wonder. Dari seorang remaja kinyis-kinyis, Rich Brian bertranformasi menjadi lebih dewasa seiring dengan pertambahan usia. Ia mendengarkan kritik tentang nama panggung yang digunakan pertama kali, Rich Chigga, yang kemudian dirubah menjadi Rich Brian.

Genius.com

Genius.com

Ia kini tampil lebih stylish, dan sepertinya fanny pack sudah ditinggalkan. Mungkin saja suatu saat ia tindikan, brewokan atau tatoan asal jangan panuan. Soal style, atribut, atau asesoris, preferensi orang bisa berubah dari waktu ke waktu mengikuti perkembangan jaman, dan itu rasanya wajar. Asalkan musik dan konten yang diproduksi berkualitas, bagus, enak didengar, diterima secara luas, hal-hal lain sepanjang dalam batas normal menjadi tidak begitu berarti.

Selepas Dat $tick dan album pertama, album kedua meluncur di 2019.. and still dope, di dalamnya ada lagu favorit saya Kids. Video klip dari lagu-lagunya tetap ditonton jutaan orang di Youtube. Ia diundang perform di acara James Corden, serta muncul di beberapa channel Youtube terkenal, dari model hiburan seperti GQ, Complex, Hot Ones hingga yang rada serius seperti Vice. Rich Brian menjadi semakin terkenal. Sampai Presiden Jokowi pun mengundangnya ke istana negara.

Bukan Soal Puja Puji

Ini sebenarnya bukan tentang sosok Rich Brian dan kepopulerannya semata. Momen Presiden Jokowi mengundang seorang rapper yang sukses berkarir di luar negeri seharusnya tidak hanya cerminan apresiasi dan seremonial pemerintah belaka, tapi selayaknya juga diwujudkan dalam bentuk dukungan program, kebijakan yang berkelanjutan, kalau perlu modal untuk membantu potensi talenta musisi Indonesia yang mau dan punya skill untuk melebarkan sayap di pasar internasional.

Kenapa pemerintah harus peduli, pertama karena sektor musik adalah bagian dari ekonomi kreatif Indonesia yang terus dikembangkan. Sektor ekonomi kreatif memberikan kontribusi semakin penting dalam perekonomian nasional, nilai ekonominya pada tahun 2018 mencapai lebih dari 1.100 triliun rupiah, dan di tahun-tahun selanjutnya nilainya diperkirakan lebih besar lagi.

Photo: snapwire

Photo: snapwire

Kedua, karena Indonesia bisa melihat apa yang saat ini dialami Korea Selatan. Setelah menabur selama lebih dari dua dekade, pemerintah Korea Selatan dalam 10 sampai 5 tahun terakhir hingga saat ini berhasil menuai keberhasilan ekspor kultural The Korean Wave dengan musik Korean Pop yang telah menjadi tren di berbagai belahan penjuru dunia sebagai penggerak utamanya.

Dari hasil ekspor tersebut, industri musik K-pop mampu menghasilkan pendapatan mencapai estimasi hingga 5 miliar dollar Amerika, menurut laporan yang dipublikasikan The Korea Creative Content Agency di tahun 2017. Angka sebesar itu jelas membantu mendorong perekonomian negara hanya dari sektor hiburan. Dukungan yang diberikan pemerintah Korea Selatan adalah dengan membentuk badan khusus sejak 2008 yang bertugas mempromosikan globalisasi K-Pop dan bahkan mengalokasikan dana untuk tujuan tersebut, dan hasilnya membuktikan, mereka berhasil.

The Spillover Effect Indonesia di atas kertas mampu mengekor keberhasilan tersebut karena kelebihan tersendiri yang kita miliki, walaupun jalannya sangat panjang seperti Korea yang butuh waktu puluhan tahun. Indonesia punya kekayaan budaya melebihi negeri ginseng. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, masing-masing memiliki keragaman budaya terutama musik daerah atau bunyi-bunyian khas lokal yang bisa memperkaya budaya musik pop kontemporer.

Saya percaya Indonesia juga punya talenta-talenta luar biasa di bidang musik yang bisa go international mengikuti jejak Anggun atau Agnez Mo. Kemunculan Rich Brian, lalu ada Niki Zefanya yang vokalnya lebih bagus dari Halsey dengan lagu Lowkey yang ciamik, disusul Stephanie Poetri dengan lagu I love you 3000 yang menggelitik, membuktikan sendiri kualitas musisi kita.

Tentu saja pasti ada bakat-bakat lain yang bisa ditemukan selain solo artist, misalnya mereka yang datang dari grup band atau dari genre lain seperti Joey Alexander musisi jazz yang musiknya masuk nominasi Grammy Awards.

Photo by Eric Smart from Pexels

Photo by Eric Smart from Pexels

Tapi budaya dan bakat saja tidak cukup. Untuk menembus pasar luar, dari sisi artist dibutuhkan kreativitas, kerja keras, ketekunan, daya tahan, konsistensi, kemauan untuk belajar dan juga keberuntungan. Jangan dilupakan nilai tambah sebagai musisi misalnya penguasaan alat musik atau kecakapan berbahasa asing, Inggris minimal. Kemampuan berbahasa Inggris secara ‘was-wis-wus-wes-wos’ akan memudahkan komunikasi untuk membangun jaringan, promosi, sosialisasi hingga proses adaptasi lingkungan, selain tentu saja untuk kepentingan menyanyi.

Sementara dari sisi lainnya, dibutuhkan dukungan penuh dari berbagai pihak terkait, dengan pemerintah salah satunya. Keterlibatan pemerintah Indonesia mungkin menggunakan pendekatan yang berbeda dengan yang dilakukan pemerintah Korea, tidak sekedar menjiplak plek. Tapi support penuh yang terukur, terencana, dan terarah akan sangat membantu untuk bisa bersaing dan menjual ke pasar luar.

Kesuksesan musisi Indonesia di pasar internasional apalagi secara masif bukan melulu soal citra bangsa atau hanya menguntungkan sang musisi. Seperti telah ditunjukkan Korea, dampak positifnya bisa memengaruhi ekonomi secara langsung atau tidak langsung pada sektor-sektor lain di luar musik itu sendiri, sebutlah fashion, lifestyle, film, kuliner hingga pariwisata.

Ask — Seek — Knock

Setelah punya dukungan, kaya budaya dan bakat luar biasa, apakah keberhasilan pasti didapat? Belum tentu Bambang….. Banyak faktor yang kadang tidak bisa terkalkulasi, apalagi masuk ke pasar yang beda lansekap. Jadi sukses, terkenal dan kaya raya sebagai musisi tidak seperti takaran resep kue. Ada tantangan besar yang harus dihadapi. Tapi di saat yang bersamaan, hadir kesempatan & peluang yang lebih besar yang bisa diraih, terlebih di era kemajuan teknologi sekarang ini.

Rich Brian, against all odds, menggunakan Youtube untuk unjuk diri sebagai rapper. Justin Bieber juga menggunakan medium yang sama dan lihat dampak yang ia hasilkan, how huge he is now. Bukan berarti Youtube satu-satunya penentu keberhasilan, karena ‘banyak jalan menuju Roma’. Tinggal sekarang bagaimana setiap artist memanfaatkan kesempatan yang muncul atau menggunakan teknologi yang tersedia, karena masing-masing punya cara dan jalannya sendiri.

Photo by rawpixel.com

Photo by rawpixel.com

Ketika Liverpool FC berhasil menjebol gawang Arsenal FC setelah bertubi-tubi menyerang pada pertandingan EPL (24/8/19), komentator tv dengan semangat tinggi bilang begini, “They keep pushing, they keep knocking, and finally… they scoring”.

Pesan moralnya buat musisi Indonesia yang ingin tampil di panggung dunia, atau di panggung lokal sekalipun adalah, dengan modal yang dimiliki jangan berhenti berusaha, kerjakan saja yang terbaik. Prosesnya mungkin jungkir balik, tapi menyalin kutipan motivasi yang bertebaran, proses tidak akan mengkhianati hasil … apapun itu maksudnya.

So,

Keep pushing..

Keep jamming..

Keep knocking..

And if any chance you’re not atheist nor agnostic,

Keep praying..

.

Peace … Out …

[mic drop mode]

[broken sound]

.

[..“dude.. that’s rental”..]

[..“oh shi!!%#×”..]


메타데이터
post_id
d10407dc1fe3
slug
rich-brian-talenta-musisi-indonesia-di-panggung-dunia-d10407dc1fe3
url
https://medium.com/@FeliksRT/rich-brian-talenta-musisi-indonesia-di-panggung-dunia-d10407dc1fe3
canonical_url
https://medium.com/@FeliksRT/rich-brian-talenta-musisi-indonesia-di-panggung-dunia-d10407dc1fe3
author_url
https://medium.com/@FeliksRT
status
ok
fetched_at
2026-07-29 13:15:20