Menjawab Manifesto Sains yang Laun (Slow-Science) Bagi Pendidikan Tinggi Kita
Untuk menemukan padanan bahasa Indonesia bagi slow-science merupakan suatu tantangan — untuk sementara bagi keperluan penulisan ini, baik…
Menjawab Manifesto Sains yang Laun (Slow-Science) Bagi Pendidikan Tinggi Kita

Photo: Istock
Untuk menemukan padanan bahasa Indonesia bagi slow-science merupakan suatu tantangan — untuk sementara bagi keperluan penulisan ini, baik dipadankan dengan istilah sains yang laun. Lebih bergeser lagi, kita menemukan kegagapan bagi penggunaan istilah ‘ilmu pengetahuan’ atau ‘sains’ — manakah yang tepat? Dalam keperluan penulisan ini akan digunakan istilah sains, dalam ruang lingkup yang bersinonimatik dengan ilmu pengetahuan — mencakup seluruh disiplin ilmu pengetahuan yang ada.
Sains yang laun saat ini menjadi perbincangan akademis yang bergerak dengan cepat — meski bertujuan untuk melambatkan — karena menyangkut permasalahan fundamental dalam dunia akademis di Eropa dan negara barat lainnya; bila ditinjau lebih cermat, lebih-lebih menjadi masalah sistemik bagi negara berkembang. Sebagai aliran pemikiran, sains yang laun ini mendorong para ilmuwan — utamanya yang berbasis di universitas, untuk memperhatikan hidup dan pekerjaan mereka dengan secermat-cermatnya — sehingga perlambanan, dalam segala aspeknya, merupakan prasyarat mutlak untuk melakukannya. Pertanyaan kemudian timbul, apa yang terjadi? Mengapa diperlukan perlambanan? Jawabannya karena semakin hingar-bingarnya dunia akademis saat ini — dengan segala indikator kemajuan yang dikejar — telah mengancam kualitas sains yang dihasilkan oleh para ilmuwan.
Gerakan sains yang laun ini merupakan cabang dari gerakan ‘Slow Food’, muncul di Italia pada tahun 1980-an, yang menyatakan bahwa segala makanan cepat saji merupakan sampah kosong — dan sebaiknya umat manusia kembali meramu makanan mereka sendiri dengan makanan asli yang, tentu saja, jauh lebih bergizi — direbus berjam-jam dari bahan-bahan alami. Penganjur sains yang laun berparadigma sama: Banyak makalah ilmiah yang diterbitkan hari ini, sama dengan makanan cepat saji — makalah ini dibuat terburu-buru dan tidak mengandung gizi (baca: ilmu pengatahuan) yang mendidik.
Memang, secara faktual, terlebih bagi negara berkembang seperti Indonesia, pembangunan pada dunia akademisnya bertitik-fokus pada pemenuhan indikator-indikator kuantitatif, yang perlu diraih dalam jangka waktu sesingkat-singkatnya — dengan target hasil yang juga tinggi; bagi penganjur gerakan sains yang laun, hal ini menjadi masalah yang utama yang bersifat sistemik. Ini yang sebenarnya terjadi di dunia akademis kita: Para ilmuwan berlomba-lomba dan sibuk untuk menghasilkan cukup banyak paper untuk mendongkrak reputasi almamater — yang juga bersaing antar-universitas — untuk meningkatkan performa capaian akademis, dan untuk mengejar dana hibah penelitian yang semakin sulit dipahami. Akibatnya, para ilmuwan tidak menghabiskan cukup banyak waktu untuk dapat merenungkan pertanyaan-pertanyaan ilmiah — segudang pertanyaan yang seyogyanya masih harus dipecahkan dalam bidang mereka masing-masing. Jawaban dari pertanyaan inilah yang justru bermanfaat bagi kemajuan umat manusia — sementara saat ini yang dikejar, dengan secepat-cepatnya, ialah sains-sains yang terdegradasi kualitasnya.
Secara umum, kita di Indonesia masih jarang — bila bisa dikatakan tidak ada, mendengar diskursus mengenai sains yang laun ini, sehingga lambat launm siapapun yang mengemban tanggung jawab sebagai kaum inteligensia, harus memulainya. Reformasi pendidikan tinggi kita telah berlangsung secara gradual dari masa ke masa — tetapi saat ini menjadi masa dengan imperatif ‘serba-cepat’ — dalam segala aspek — untuk menghasilkan temuan-temuan sains yang meningkatkan prestisiusitas institusi pendidikan tinggi. Fenomena pendekatan ‘kuantitas, ketimbang kualitas’ di Indonesia sudah mengakar dalam jauh beberapa tahun ke belakang, lebih-lebih dalam tahun-tahun ini. Antropologis dari Université Nice-Sophia-Antipolis, Joël Candau, menyatakan “sains yang cepat, sebagaimana makanan cepat saji, mementingkan kuantitas, ketimbang kualitas,” — ketika pesan ini disampaikan, Dr Candau bahkan mendapatkan dukungan, dalam tanda tangan, sebesar lebih dari 4.000 ilmuwan di seluruh dunia.
Manifesto dari Sains yang Laun sederhana, bila dapat dimuat dalam tulisan ini, berasal dari kelompok ilmuwan Jerman yang bernaung pada organisasi Slow Science Academy, yaitu,
“Science needs time to think. Science needs time to read and time to fail.”
Sains membutuhkan waktu untuk berpikir. Sains membutuhkan waktu untuk membaca, dan juga waktu untuk gagal. Kita, di Indonesia, benar-benar asing dengan ungkapannya — tetapi di saat yang sama, secara ironis, dapat merasakan kelekatannya dalam praktik di pendidikan tinggi kita. Inilah salah satu tema utama yang harus mulai diperbincangkan, bila belum dimulai, oleh para kaum intelegensia Indonesia.
Tren sains yang cepat ini menyebabkan ‘kerusakan kolateral’ pada pembudayaan ilmu pengetahuan di seluruh dunia. Bila sains dikerjakan dengan serba cepat, banyak sekali hal-hal yang akan luput dan tertinggal untuk dilihat. Bagaimana dengan penelitian berbasis pendekatan interdisipliner, yang mengandung proses prosedural dan tata manajemen yang kompleks, dapat dikerjakan bila para ilmuwan dikejar oleh target-target semu yang justru menghambat upaya penelusuran kebenaran yang mereka tempuh di universitas.
Pemerintah, dalam hal ini, sebagai representasi kepentingan publik secara keseluruhan, mengemban tanggung jawab terbesar pada dampak eksternalitas sebagai hasil dari sains yang serba cepat ini — sekaligus bertanggung jawab pula untuk meluruskan arah pembangunan pendidikan tinggi kita. Satu Langkah paling dekat yang dapat dilakukan ialah dengan mengembalikan otonomi dan independensi universitas pada tingkat yang sehat — agar mereka dapat mandiri, leluasa, dan bebas mengembangkan sains sesuai dengan perkembangan yang semestinya. Setelah universitas kembali memiliki tingkat otonomi yang sehat, dan menemukan titik keseimbangan barunya, mengurai permasalahan birokrasi di segala lini universitas — dan publik pada umumnya, harus segera dikerjakan. Birokrasi ini juga menjadi penghambat bagi proses perkembangan kemajuan sains kita — segala hal yang menyangkut birokratisasi yang tidak masuk di akal — yang bertentangan dengan penalaran yang wajar harus segera dihilangkan — semata-mata agar ilmuwan dapat bernapas dengan baik — dan memulai penelitiannya dengan baik dan cermat tanpa dirintangi berbagai macam kendala eksternal yang sama sekali tak berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang sedang ditelusurinya.
Langkah berikutnya hanya akan kembali kepada para ilmuwan masing-masing. Bagaimana dapat memecahkan masalah-masalah sosial yang ada — dengan tepat dan tuntas — dengan atmosfer sains yang sama sekali berbeda, yaitu sains yang sudah tidak mendikte akselerasi kecepatan sebagai tolak-ukur utama dari keberhasilan saintifik. Kita menantikan kemajuan-kemajuan besar yang dapat diraih di depan pada universitas kita — dengan kerangka waktu yang benar-benar melambat dan mencerahkan akal — untuk menemukan penyelesaian-penyelesaian permasalahan sosial yang multidimensi hari ini.
메타데이터
- post_id
- dbb5bbbb0c81
- slug
- menjawab-manifesto-sains-yang-laun-slow-science-bagi-pendidikan-tinggi-kita-dbb5bbbb0c81
- url
- https://medium.com/@syarahilefendi/menjawab-manifesto-sains-yang-laun-slow-science-bagi-pendidikan-tinggi-kita-dbb5bbbb0c81
- canonical_url
- https://medium.com/@syarahilefendi/menjawab-manifesto-sains-yang-laun-slow-science-bagi-pendidikan-tinggi-kita-dbb5bbbb0c81
- author_url
- https://medium.com/@syarahilefendi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-09-08 21:44:57