18+
“ada iblis dalam hati setiap manusia”
18+
“ada iblis dalam hati setiap manusia”

by author
Patriarki adalah sistem yang melindungi para pemerkosa.
Cinta dan nafsu bisa tumbuh di raga yang sama, karena seseorang bisa menjadi rumah dan neraka dalam satu nama.
Agaknya laki-laki begitu takut dengan tubuh perempuan. karena itu kesalahan mereka limpahkan pada hal tersebut. ego mereka terlalu tinggi untuk mengakui betapa lemahnya mereka dihadapan nafsu yang tak memiliki tuan.
Di mata laki-laki yang kecanduan pornografi tidak ada perempuan yang layak bersanding untuknya. yang ada hanya “objek” yang pantas untuk ia fantasikan. dan objek itu adalah para perempuan di dunia nyata.
Pemerkosaan itu lumrah di populasi simpanse. sayang sekali di dunia ini masih lebih banyak simpanse daripada “pria”

source: bersuarakan instagram
Tidakkah kamu memperhatikan safety items untuk laki-laki adalah untuk melindungi dari kecelakaan, sedangkan safety items untuk perempuan adalah melindungi diri dari laki-laki.
pertempuran demi pertempuran…
dan setelah semua ketidakadilan yang perempuan alami pada tubuhnya, pada pemikirannya dan keberadaannya yang menciptakan ancaman bagi laki-laki yang tak mau berpikir — ia masih menjadi perempuan santun, baik, dan tersenyum lembut dengan energi feminim yang halus seperti serat-serat wol.
sebenarnya ia hanya sedang memaksa agar tetap kembali pada fitrah keperempuannya.
Jadi tidak perlu kalian para monyet birahi SDM rendah memaksa perempuan berubah dengan membawa kodrat-kodrat atau ayat-ayat yang kau gagas seperti seorang tiran seksis — yang bahkan kau sendiri tak tahu cara mengendalikan penis.
konsep keperawanan diciptakan oleh laki-laki yang menganggap sperma mereka begitu penting sampai bisa mengubah siapa diri seorang perempuan.
“kau benci perempuan pemikir, bukan? baguslah kau menemukan satu disini.”
Feminisme itu bukan meratukan perempuan
feminisme yang sebenarnya adalah mengakui bahwa perempuan adalah MANUSIA.
sebelum makhluk sapien dikelompokkan berdasarkan gender, kita semua adalah manusia yang setara di depan Tuhan — derajat kita sama.
“Si ini juga digituin tapi gak seberisik kamu.”
“Kan udah lama, kok baru ngomong sekarang?”
“Paling keenakan juga kalo digituin.”
“Makanya pakai baju yang bener.”
“Makanya jangan keluar malem-malem.”
“Makanya jangan post foto, kalau gak mau digituin ya private aja akunnya.”
“Ih jangan gitu cowo gak suka tahu.”
Korban lebih banyak mendapat stigma daripada pelaku. bahkan me dapat tekanan dari perempuan lainnya. Sistem patriarki membuat perempuan membenci satu sama lain.
“Bukan laki-laki yang hendak kami lawan, melainkan pendapat kolot dan adat usang.” — R. A. Kartini (Habis Gelap Terbitlah Terang)
“I liked her so much I couldn’t even look at her lustfully.” It’s proof that real love protects what lust wants to consume.
“Hormati suamimu dan bagimu surga” kenapa tidak dibalik, “sayangi istrimu dan bagimu surga.”
Sesungguhnya rasa hormat itu baru datang setelah rasa sayang.
Neraka akhirat panas, jangan sampai surgamu dibawah telapak kaki suami yang panasnya seperti api neraka juga.
Hidup di dunia sudah menyusahkan bagi perempuan. Melahirkan bisa mati, diperkosa bisa mati, kencan pertama bisa dibunuh dan dibuang jasadnya sampai sisa tulang belulang.
dan masih saja diberi stigma “neraka penuh sama perempuan” itu mulut apa aspal? mulus banget ngomongnya.
Padahal makna yang sebenarnya lebih dalam daripada itu. Tetapi banyak orang menggunakan firman Tuhan hanya ketika hal itu keuntungan mereka saja.
Standar elit, logika sulit.
lelaki bodoh adalah penjara yang mutlak
“Tidak semua jeratan kematian melingkar dileher. Beberapa di jari manis.”
tidak ada satu perempuan pun yang ingin terpenjara, terisolasi, dan kesepian karena ego lelaki bodoh yang terpelihara. namun, dalam suatu pernikahan, ikatan tersebut mutlak.
jadi mengapa para perempuan ini berjudi dengan harapan ia akan menjadi yang paling istimewa dalam rantai ego lelaki yang tak pernah berhenti berputar?
— sebeb society yang mematikan akal mereka.
society mematikan akal para perempuan.
Society menempatkan perempuan dalam barisan kolot, mengkotak- kotakkannya dalam wadah yang sempit, membatasi pemikirannya dalam boks mini bernama pernikahan.
dan perempuan sebenarnya tidak membenci pernikahannya, tetapi membenci bagaimana society memandang pernikahan tersebut.
Jika aborsi itu ilegal, laki-laki yang meninggalkan istrinya saat hamil juga seharusnya ilegal.
Perempuan sudah diajarkan jadi istri yang baik sejak masih kecil, tapi laki-laki tidak pernah diajari cara jadi suami yang baik, apalagi ayah yang layak.
Tubuh perempuan diatur norma dan masyarakat. tugasnya sebagai anak perempuan, tugasnya sebagai istri dan tugasnya sebagai ibu diawasi society setiap saat.
tapi tanggung jawab laki-laki tidak diperlakukan dengan standar yang sama. tanggung jawabnya sebagai pemimpin, sebagai pembimbing, sebagai suami, sebagai ayah tak pernah dikoreksi. hanya saja, jika ia ber-uang, semua tugasnya selesai.
beruntung sekali mereka tak pernah dihakimi tentang tubuhnya, tentang pakaiannya, tentang tanggung jawabnya sebagai ayah dan suami, ah beruntungnya…
Bagi perempuan berlogika, menikah artinya harus siap menjadi single parent setiap saat—plus bersiap menjadi objek olokan keluarga besar mertua.
Saat istri tidak sempurna, suami dianggap normal jika ingin menambah istri. Tapi saat suami tak sempurna, istri tak bisa melepaskan diri karena banyak faktor yang menjerat kakinya lebih kuat.
kondisi istri lemah jiwa raga, saat sudah berumah tangga, cekikan dari berbagai pihak melilit tubuh perempuan dalam bentuk paling indah yang society sebut, “pahala surga”
Tak ada satupun yang bisa menolongnya. Orang tuanya sudah lepas tangan, sahabat sudah tidak ada karena sejak menikah komunikasi berkurang, saudara menjauh dan tidak memiliki siapa-siapa kecuali suaminya.
dan kini ia terpenjara dalam definisi mimpi sempurna bernama “cinta.”
Istri berusia 25 tahun dibilang masih muda. Perempuan berusia 25 tahun dibilang sudah tua (expired)
Usia menentukan usia ❎️ Status menentukan usia ✅️
Sama seperti orang yang belum sukses di usia 35, mereka dikatain terlalu tua. Padahal yang meninggal di usia 35, dikasihani karena masih muda.
perhatikan bagaimana fatherless, janda dan daddy issues digunakan sebagai penghinaan terhadap perempuan. padahal itu semua contoh kegagalan seorang pria.
lucu ketika menemukan poster “menghargai” perempuan terpampang di sosial media semua orang saat Hari Perempuan. kita hanya dianggap manusia satu hari, sisanya diatur patriarki.
Sedihnya perempuan tahu sulitnya mencari nafkah, tetapi laki-laki tidak akan pernah tahu rasa sakit mengandung dan melahirkan.
Meski begitu mereka masih koar-koar bahwa isi dompet mereka adalah satu-satunya yang semua perempuan harapkan.
Semua? Semuanya menginginkan isi dompet kalian? Dungu!
yang perempuan inginkan adalah kasih sayangnu, wahai tuan-tuan miskin bersumber daya manusia rendah.
isi dompet kosong, cinta dan kasih sayang mlompong. memang dungu.
nafkah nafkah nafkah
Saat istri dicaci maki tidak mampu memenuhi keinginan suami, ia berselingkuh dengan alasan istriku KURANG, tapi saat kebutuhan istri nafkahnya belum tercukupi, dia bahkan mencari pekerjaan bukannya mencari pria lain.
Jika mau, perempuan juga bisa melawan laki-laki menggunakan Surah An-Nisa ayat 34 dalam Alquran. Tapi apakah kau temui perempuan melawanmu dengan Firman Tuhan?
Seringnya ayat tersebut keluar dari mulut suami yang bahkan sholat saja tidak pernah. Mengapa ringan sekali lidahmu berucap tanpa logika?
Lucu memang, dan sebenarnya perempuan juga banyak menghabiskan uang untuk laki-laki, hanya saja perempuan tidak seberisik laki-laki dalam hal suka mengungkit-ngungkit.
Seringnya mendengar nasehat “jangan cerai, Allah itu membenci perceraian” Tapi kenapa tidak ada nasehat
“jangan dzalim sama istri. Allah itu benci suami yang dzalim, kasar, dan mengabaikan istrinya seperti di surat An-Nisa ayat 19"
yang di highlight selalu bagian “Allah benci perceraian” dan bukan “Allah benci orang dzalim” karena patriarki sudah mengakar kuat.
Suami dzalim harus di maafkan. Istri dipukul atau diselingkuhi artinya kesalahan ada pada istri.
Menggunakan agama sebagai senjata adalah tanda seseorang benar-benar dungu.
siapakah yang wajib menafkahi wanita sepanjang hidupnya?
Menurut agama Islam: ayah, suami, saudara laki-laki, paman dari pihak ayah.
Sebagaimana laki-laki tidak diberikan Allah fitrah menanggung beratnya mengandung dan melahirkan. Bahwa perempuan, tidak boleh menanggung beratnya menafkahi keluarga.
Ketika perempuan jadi tulang punggung keluarga, laki-laki harus memilih: bangga atau tersinggung.
Namun sekarang marak kasus dimana perempuan mengurus rumah, mengurus anak, dan bahkan masih mencari nafkah. Sedangkan suami menganggur dan nongkrong sana-sini.
Diberitakan sebanyak 7.617 mantan suami di surabaya tak bayar nafkah anak setelah cerai. mereka tak bisa mengakses layanan publik karena diblokir oleh dinas kependudukan dan pencatatan sipil (dispendukcapil) akibat tidak memenuhi kewajiban nafkah.
Oh jadi begitu? Kalau cerai sudah boleh lepas tangan dari anak yang kau buat dari sperma spesialmu itu?
Lihat kan fenomena yang unboxing mahar atau postingan yang bilang, “mahar segini gak bisa masak!” betapa patriarki merusak otak para lelaki untuk jadi lelaki!
“Kalian kesel ga sih pulang kerja suami ga ngapa-ngapain, rumah masih berantakan, ga bisa ngurus anak, trus dia juga jd dekil & buncit ga kaya pas pacaran. padahal udah di kasih uang 500rb sebulan.”
Bagaimanaa kalau dibalik seperti ini???
Saya menemukan sebuah komentar: “Open BO itu bayar yang gratis itu istri, babu dan art itu bayar yang gratis itu istri, guru itu bayar yang gratis itu istri, chef itu bayar yang gratis itu istri. Saya melihat pernikahan lebih banyak merugikan pihak wanita apalagi jika keluarga miskin, ironis saya mengatakan ini padahal saya laki laki” (ilhaminsomnia_1)
Semiskin apapun sebuah keluarga, kalau mental suami masih terjaga, maka sekeluarga juga pasti bisa bertahan.
menjadi “laki-laki” memang berat, kami para perempuan tahu. tapi mengapa kalian tak mau memahami kami juga?
Saya menemukan lagi tentang perempuan yang menulis utas, bahwa ia bertemu dengan laki-laki yang baik banget, tapi pengangguran dan dekil.
Ayahnya berkata: “Yaiyalah udah jelek, miskin, badannya juga ga bagus, dekil gitu, apalagi yang dia bisa andalkan kalo bukan baik. Keterlaluan betul kalo dia ga baik. Jangan kira cowo jelek ga brengsek”
Bahkan sifat baikpun bisa laki-laki palsukan mbak!
child grooming dan pernikahan dini
Child grooming itu bukan tentang perbedaan selisih umur, melainkan status usia legal. Yang biasanya bukan berawal dari paksaan melainkan rayuan, manipulasi atau brainwash. Jadi bukan selisih usia tetapi usianya underage.
Perempuan usia 26 dan laki-laki usia 42, bukan grooming namanya. Tetapi kalau laki-laki usia 21 dan perempuan usia 16, itu grooming. Sekalipun 26 dan 42 memiliki perbedaan yang banyak, namun perempuan usia 26 sudah masuk usia legal.
Sedangkan kasus kedua, usia perempuan 16 tahun, itu dibawah legal. Jadi faktor utamanya bukan perbedaan usia, melainkan status underage serta ketimpangan kematangan, kuasa, dan kapasitas persetujuan.
Satu dua kenalan saya yang menikah pada usia dini, katakanlah dibawah 17 tahun, mereka bercerita bahwa tiba-tiba rasanya memiliki kelogisan berpikir saat berusia 24 tahun keatas.
ia mempertanyakan mengapa memutuskan hal penting seperti menikah dan beranak di usia sedini itu?
bukan berarti ia sudah tak cinta suaminya, tetapi ia menyayangkan kenapa dirinya tak bisa berpikir logis saat itu dan kenapa baru saat ini?
Nah ini, fungsi orang dewasa disekitarnya sebenarnya adalah bukan membuat keputusan terhadap anak-anak, tetapi mengawasi keputusan mereka.
sayangnya, di Indonesia banyak orang dewasa tidak mampu menjalankan tugasnya karena mereka sendiri tidak sadar pada kapasitas berpikir mereka sendiri.
Jadi, istri yang kamu nikahi saat usia 17 tahun mungkin sifatnya akan berbeda saat ia 20 tahun, lalu berubah lagi saat usia 27 tahun.
bukan karena tidak cinta lagi, tetapi sederhananya ia memang masih berada di usia bertumbuh otaknya.
Sayangnya sulit berkembang, karena di posisi ini, ia sudah terlanjur memikul beban berat seperti mengasuh anak, kebutuhan ekonomi keluarga, biaya pendidikan anak dan lainnya.
Karena otak dipaksa berlari dan beradaptasi secepat mungkin atau situasi personal tentang “bertumbuhnya” malah akan membuat situasi runyam dan menimbulkan masalah yang berkelanjutan.
kasihan sekali perempuan- perempuan seperti ini, karena dampaknya bisa sangat signifikan tergantung karakter suaminya. ada yang depresi, ada juga yang mati rasa.
Menjadi perempuan yang tenang bukan perkara mudah
Saya berpikir kalau tidak apa jika laki-laki melihat saya dengan tatapan ilfil, najis, dan lainnya. Karena masih lebih baik daripada dilihat dengan nafsu.
mengenai mood perempuan…
Betapa sulitnya mengendalikan mood, sementara lelaki dengan mudah berkata, “emosional banget sih.”
Mereka tidak tahu bahwa sakit sekali rasanya harus mati-matian menenangkan diri.
perempuan yang auranya tenang, itu bukan bawaan lahir—melainkan hasil dari kepahitan hidup yang tanpa sadar telah membangun dinding yang besar nan tinggi antara dirinya dan emosinya sendiri.
Laki-laki juga memiliki hormon, tetapi fluktuasinya cenderung lebih stabil. sedang perempuan mengalami perubahan hormonal yang lebih kompleks.
kondisi emosional dan fisik dapat berubah secara signifikan.
Sayangnya, banyak orang belum cukup teredukasi untuk memahaminya.
bahkan, stigma terhadap perempuan sering kali justru datang dari sesama perempuan, slogan “women support women” terasa kontradiktif.
Laki-laki mudah terangsang. Perempuan mudah emosional. Kita tidak bisa menghapus naluri itu, tapi kita bisa belajar mengendalikannya. Dan ini bukan soal kurang iman, kurang sosialisasi, kurang olahraga, atau kurang “healing”. Tidak sesederhana itu.
dan bisakah kita saling menghormati masalah masing-masing dan mengakui kekurangan diri dan mau terus belajar?
Perempuan yang pernah berada di zona bahaya dan berhasil menyelamatkan diri, struktur berpikirnya mulai berkembang dengan cara yang berbeda, seolah-olah ada resep dalam otaknya.
Yang awalnya berpikir dengan perasaan 70% dan logika 30% perlahan berbalik. Perlahan ia belajar berpikir menggunakan logika dengan benar.
semua perempuan punya silent struggle semasa muda, tetapi hanya ia simpan untuk dirinya sendiri. Bahkan suami dan anaknya tidak pernah tahu karena terlalu memalukan dan menyedihkan atau diceritakan.
kabar baiknya perempuan- perempuan yang seperti ini tumbuh kuat dua kali lipat.
perempuan mengalami krisis eksistensi seumur hidupnya. semua yang ada dalam diri dan tubuh mereka, dipertanyakan seperti debat dalam sidang terbuka.
dan mereka si pemilik tubuh diminta berargumentasi. Lalu semua orang wajib mengomentari kondisinya, dan ini menjadi bagian dari budaya masyarakat.
Perempuan yang paling tenang, justru yang pernah paling berisik didalam dirinya.
Jangan naif dengan menjadi laki-laki yang menginginkan perempuan tenang tapi lupa cara menjadi rumah yang aman untuknya.
aku tidak ingin menjadi iblis
roh perempuan serupa yin dan yang. dan kesadarannya mampu membawanya pada kekuatan spiritualis yang tidak diketahui para lelaki.
dan tidaklah seorang perempuan membuka matanya dan ikhlas menjadi seorang iblis yang bersembunyi dalam wajah anggun dan teduh. tak ada satupun, tak ada satupun perempuan yang sudi.
tetapi kami sungguh bisa melakukannya. menjadi iblis lebih mudah daripada menjadi bidadari bagi para lelaki birahi.
silakan tunggu bidadarimu di surga jika kau telah membangunkan iblis dalam diri perempuan. jika bukan dirimu, maka zuriat-mu yang akan memanennya.
Penampilan adalah aset, kecerdasan adalah alat, dan karakter adalah pondasi dari keduanya. Tabung asetmu dan asah alatmu.
karena personality perempuan tergantung dari bagaimana ia memandang 3 hal diatas.
Penampilan membuka pintu, kecerdasan menentukan kamu bisa bertahan didalamnya atau tidak. Fungsi penampilan dan kecerdasan kadang tertukar, secara sengaja maupun tak disengaja. Sedangkan karakter tidak bisa diubah, tetapi dapat bertumbuh.
Paham, kan? Mengapa pernikahan dini bisa menjadi penjara MUTLAK bagi perempuan di era ini?
sayangnya, perempuan bodoh dan lelaki bodoh menjadi masalah masif yang struktural, kultural dan nasional di negeri “kaya tapi miskin” ini.
karena tidak mungkin kita mengubah seseorang hanya melalui satu tulisan saja.
kau tidak bisa mengubah pola pikir seseorang hanya dari satu percakapan, sedangkan ia telah hidup membawa nilai itu sepanjang hayatnya.
Faktanya, pondasi pikiran logis kadang baru terbentuk dengan kuat saat memasuki usia 25 tahun. (Prefrontal Cortex / PFC adalah pusat kendali logis yang menyaring informasi dan menimbang konsekuensi dari setiap tindakan.)
Dibawah usia itu, perempuan akan terus bertanya-tanya tentang jati dirinya, fungsinya, posisinya dan keberadaannya.
usia itu mereka masih sibuk mengkhawatirkan bagaimana society memandangnya. Ia takut bagaimana masyarakat memberikan stigma yang sebenarnya ingin ia tolak, tetapi tak mampu.
di usia itu, perempuan masih percaya bahwa seluruh hidupnya harus berada dibawah kontrol dan pengawasan orang lain agar dicap “sesuai norma” — termasuk kontrol orang tua yang kadang tidak beruntungnya — malah lebih toxic pada anak perempuan.
Biarlah ibu bapak kita jadi produk terakhir patriarki, kita tidak usah. Kadang algoritma menyelamatkanmu sebagai perempuan. Tapi disaat yang bersamaan juga membuat paranoid.
Perempuan baik lelah dengan anxiety-nya. Laki-laki baik lelah dengan nafsunya. Semua orang maunya dibela, sangat sedikit yang mau membela.
Kita tidak bisa milih mau terlahir dengan wajah yang bagaimana, tapi kita bisa memilih otak mau diisi apa. Karena mau isi celana atau isi rok, isinya sama semua.
Yang diterima apa adanya itu fisiknya. Yang diterima ada apanya itu akalnya.
Sayangnya, jaman sekarang ini jaman kebalikan, macam lagu Peterpan “kaki di kepala, kepala di kaki.”
Laki-laki berakal tahu jadi perempuan susah. Perempuan berakal tahu jadi laki-laki susah. Jadi jangan berakhir sama orang yang tidak berakal.
ah sial, mertua jahat itu…
Surat terbuka untuk ibu mertua, plis lah putus rantai kejahatanmu itu!
Sebaik apa suamimu kalau dia kalah dari prinsip ibunya, ya sama saja—kamu tidak menikahi suamimu, tapi kamu menikahi ibu mertua.
Apa-apa kamu tunduk padanya, semua omongannya, semua perbandingannya yang tidak masuk akal, semua keluhannya tentang pekerjaan rumah, semua ekspresinya yang tidak pernah menyenangkan untuk dilihat.
Bahkan ada tipe ibu mertua yang mungkin tipe silent treatment, tapi... jangan tanya mulutnya saat diluar bersama tetangga.
Menyebar fitnah tentangmu, semua keburukanmu di spill dan duhujat secara publik lalu dihina habis-habisan. Lalu ia sebar lagi saat acara keluarga besar, entah hari raya, acara tahunan, dll.
Selamat, surgamu dibawah kaki suami yang punya ibu seperti neraka. Saya melihat ini puluhan kali lewat di beranda sosial media dan selalu saya skip dan meyakinkan diri bahwa,
“saya tidak takut menikah, saya tidak mencintai seseorang, saya tidak takut berumah tangga” tetapi itu sia-sia, karena APA?
Karena buat apa saya lihat di sosial media kalau tetangga kanan kiri saja full mertua begituan?
Pernikahan jaman sekarang sudah seperti musibah untuk pihak perempuan.
please educate yourself before marrying someone.
[embed]*Educate yourself *#112 Even being existed is an education medium.com
selamanya, kita tidak akan bisa mengubah seseorang. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah memperbaiki diri sendiri.
have a nice day. 🌻
메타데이터
- post_id
- f4ea6ba69d55
- slug
- 18-f4ea6ba69d55
- url
- https://medium.com/@ariyaaa/18-f4ea6ba69d55
- canonical_url
- https://medium.com/@ariyaaa/18-f4ea6ba69d55
- author_url
- https://medium.com/@ariyaaa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-17 08:20:12