Against My Better Judgment, I Suspect the Ks Are Right
Untuk Kahlil, Kierkegaard, Kafka, Keats, dan K lainnya
Against My Better Judgment, I Suspect the Ks Are Right
Untuk Kahlil, Kierkegaard, Kafka, Keats, dan K lainnya yang lebih sering mengelilingi sesuatu daripada menamainya,
Apakah kalian selalu heran pada kebutuhan manusia untuk memberi nama pada segala sesuatu?
Kita memberi nama pada kota. Pada musim. Pada bintang yang jaraknya bahkan tidak sanggup kita bayangkan.
Bahkan pada hal-hal yang sebenarnya masih terlalu besar untuk kita mengerti sepenuhnya.
Seolah-olah dengan menamainya, kita bisa merasa lebih dekat. Sedikit lebih tenang. Sedikit lebih yakin bahwa kita tahu apa yang sedang kita hadapi.
Di rumah, kami selalu punya satu laci yang isinya aneh.
Kunci yang tidak tahu lagi milik pintu yang mana. Baterai yang entah masih berfungsi atau tidak. Kadang set perkakas ikut bergabung di sana.
Tidak ada kategori yang benar-benar cocok untuk mereka.
Terlalu berguna untuk dibuang. Terlalu sulit dijelaskan untuk disimpan di tempat lain.
Bertahun-tahun kemudian, aku baru menyadari bahwa hidup rupanya juga memiliki laci semacam itu.
Bukan laci untuk hal-hal yang tidak penting.
Justru sebaliknya.

The Procession of the Trojan Horse
Laci untuk hal-hal yang belum selesai kita mengerti.
Yang aneh, aku bukan orang yang biasanya nyaman dengan laci semacam itu.
Aku menyukai kategori.
Menyukai kejelasan.
Menyukai mengetahui di mana sesuatu seharusnya diletakkan.
Bahkan ketika jawabannya tidak menyenangkan, aku tetap lebih menyukai kepastian daripada dugaan.
Meski, kalau dipikir-pikir, aku juga orang yang cukup sering lupa meletakkan kunci.
Dan kacamata.
Terutama kacamata.
Dengan minus empat, seharusnya aku lebih bertanggung jawab terhadap benda itu. Tapi entah kenapa aku tidak pernah benar-benar nyaman memakainya.
Mungkin karena melihat lebih jelas tidak selalu berarti merasa lebih nyaman.
Jadi aku melepasnya, meletakkannya sembarangan, lalu menghabiskan satu jam berikutnya mencarinya.
Untungnya belum pernah masuk ke laci itu.
Barangkali karena itu aku penasaran.
Jika kita duduk di meja yang sama suatu hari nanti, di pihak siapa kamu akan berdiri.
Kahlil atau May? Kierkegaard atau Regina? Kafka atau Milena? Keats atau Fanny?
Tetapi untuk alasan yang tidak bisa kujelaskan, aku selalu merasa kita akan membaca Nastenka dan Si Pemimpi dengan cara yang kurang lebih sama.
Mungkin karena mereka tidak pernah benar-benar ada.
Tidak ada surat yang belum ditemukan.
Tidak ada kesaksian yang hilang.
Tidak ada kehidupan nyata yang berhak kita sederhanakan menjadi pihak yang benar dan pihak yang salah.
Karena itu kita bebas memandang mereka sebagai seseorang, bukan sebagai terdakwa.
Hanya tentang apakah benar harus selalu ada yang salah.
Atau mungkin beberapa kisah memang menolak untuk diputuskan dengan cara yang begitu rapi.
Dengan satu pihak yang benar.
Dan pihak lain yang keliru.
Mungkin karena sebagian hal tidak tinggal di wilayah kepastian.
Mereka tinggal di laci yang lain.
Laci yang sesekali masih kita buka bertahun-tahun kemudian, bukan karena kita belum menemukan jawabannya, melainkan karena kita belum sepenuhnya yakin bahwa pertanyaan itu memang membutuhkan jawaban.
“I wonder if the night ever lets you rest on time.”
메타데이터
- post_id
- fd2aa46ca64b
- slug
- against-my-better-judgment-i-suspect-the-ks-are-right-fd2aa46ca64b
- url
- https://medium.com/@pseucathartic/against-my-better-judgment-i-suspect-the-ks-are-right-fd2aa46ca64b
- canonical_url
- https://medium.com/@pseucathartic/against-my-better-judgment-i-suspect-the-ks-are-right-fd2aa46ca64b
- author_url
- https://medium.com/@pseucathartic
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-19 01:27:17