Dari Senat ke Senayan: Pelajaran dari Jatuhnya Republik Romawi Kuno Bagi Keberlangsungan Demokrasi…
Oleh Muchammad Alfin Nasikh
Dari Senat ke Senayan: Pelajaran dari Jatuhnya Republik Romawi Kuno Bagi Keberlangsungan Demokrasi di Indonesia Pasca Reformasi
Oleh Muchammad Alfin Nasikh
Romawi Kuno merupakan salah satu peradaban yang paling berpengaruh dalam sejarah. Peradaban ini bermula di Semenanjung Italia, yang kemudian berhasil membangun sebuah kekaisaran luas dan bertahan selama berabad-abad. Periodisasi sejarahnya dibagi menjadi tiga periode utama yang didasarkan atas sistem pemerintahannya, yakni periode Kerajaan (753-509 SM), Republik (509-27 SM), dan Kekaisaran (27 SM - 476 M).
Era Republik yang berlangsung selama hampir 500 tahun (509-27 SM), merupakan era yang sangat penting dan memiliki karakteristik yang khas. Sistem pemerintahan republiknya—dengan pembagian kekuasaan di antara beberapa lembaga seperti senat, konsul, dan majelis rakyat—kemudian sistem hukumnya, menjadi inspirasi bagi banyak negara dalam membentuk sistem pemerintahan dan hukum modern. Konsep-konsep seperti demokrasi dan representasi juga memiliki akar pada sistem politik Romawi.
Romawi dengan sistem republiknya, awalnya dikenal sebagai negara dengan semangat pengabdian nasional dan etika pribadi yang tinggi. Namun dalam perkembangannya, kepercayaan rakyat terhadap republik mengalami penurunan drastis. Era Republik akhirnya runtuh secara tragis dan bertransformasi menjadi kekaisaran dengan pemimpin yang berkuasa secara otoriter dan diktator (meskipun terdapat beberapa kaisar yang memerintah dengan bijaksana)¹.
Benih-benih keretakan republik mulai muncul sejak Republik Romawi berhasil memenangkan Perang Punisia dan menaklukkan jantung wilayah Kartago (Tunisia), sehingga wilayah Romawi bertambah luas. Kejatuhan Republik Romawi bukanlah sebuah peristiwa yang tiba-tiba, melainkan hasil dari proses yang panjang dan kompleks; dimulai dari konflik internal dan perang saudara yang berkepanjangan², ketidaksetaraan ekonomi yang semakin tajam, kebuntuan politik, kekerasan yang meningkat, dan munculnya politisi populis (Julius Caesar³). Hingga dalam perkembangannya, masyarakat Romawi memilih untuk menyerahkan demokrasi mereka demi stabilitas yang dijanjikan oleh seorang pemimpin tunggal (kaisar), daripada terus menghadapi kekerasan dan ketidakstabilan yang terjadi akibat sistem republik yang penuh dengan korupsi.⁴
Kemerosotan hingga jatuhnya Republik Romawi menyajikan contoh nyata tentang bagaimana sebuah negara republik dengan demokrasinya yang didambakan sebagai sistem paling ideal dapat runtuh. Maka tidak mengherankan ketika peristiwa ini seringkali dijadikan sebagai rujukan oleh para sejarawan maupun pengamat politik untuk membandingkan atas maraknya fenomena kemerosotan demokrasi dan munculnya otoritarianisme di berbagai negara modern saat ini, termasuk di Indonesia.
Di antaranya adalah Edward Watts (Sejarawan Universitas California San Diego, Amerika Serikat) yang dalam bukunya berjudul Mortal Republic: How Rome Fell Into Tyranny menyatakan bahwa apa yang terjadi di Roma merupakan pelajaran bagi semua republik modern. “Di atas segalanya, Republik Roma mengajarkan warga negara keturunan modernnya tentang bahaya luar biasa yang menyertai pembenaran terhadap halangan politik dan ajakan untuk melakukan kekerasan politik,” tulisnya. “Sejarah Romawi menunjukkan secara jelas bahwa ketika warga negara menutup mata saat para pemimpin mereka terlibat dalam perilaku merusak tersebut, republik mereka berada dalam bahaya besar.”⁵
Kemudian di Indonesia, hal ini pernah disinggung oleh Rocky Gerung (komentator politik) ketika menjadi pembicara dalam forum debat Indonesia Lawyers Club, pada 8 Juni 2024. Dalam perbincangan tersebut, Rocky Gerung mencoba menarik analogi antara situasi politik Indonesia saat ini dengan peristiwa keruntuhan Republik Romawi. Ia menganggap analogi ini sangatlah relevan dalam merefleksikan problematika perpolitikan di Indonesia saat ini, terutama dengan adanya potensi kandidatur Kaesang, yang merupakan putra bungsu dari seorang presiden. Pasalnya, pencalonan Kaesang sebagai gubernur awalnya dinilai tidak etis karena tidak memenuhi syarat sebagaimana yang tercantum dalam PKPU Nomor 9 Tahun 2020. Namun, Mahkamah Agung membuat keputusan baru (Putusan MA Nomor 23 P/HUM/2024) sehingga memudahkannya untuk mencalonkan diri sebagai gubernur. Hal serupa juga terjadi pada Gibran Rakabuming Raka (putra sulung Presiden Jokowi) yang maju sebagai calon Wakil Presiden dan memenangkan pemilihan umum. Awalnya, ia tidak memenuhi syarat ketentuan usia sebagaimana diatur dalam Pasal 169 Q UU Nomor 7 Tahun 2017. Namun secara mengejutkan, Mahkamah Konstitusi memutuskan untuk mengubah aturan mengenai batas usia calon wakil presiden. Dalam hal ini, Rocky Gerung menganalogikan putra Jokowi dengan Octavianus Augustus (keponakan Julius Caesar) yang berhasil menjadi kaisar pertama Romawi dan mengobrak-abrik secara perlahan sistem republik yang telah berdiri selama ratusan tahun.
— — —
¹Edward J Watts, Mortal Republic: How Rome Feel Into Tyranny ²Konflik internal seperti: Pemberontakan Budak, Upaya Reformasi oleh Tiberius bersaudara hingga pembunuhannya, konflik antara Gaius Marius dan Sulla, serta munculnya Triumvirat I dan II
³Julius Caesar pernah menjadi seorang jendral dan menaklukkan Galia (Prancis) hingga dikagumi oleh rakyat Roma; setelah mengalahkan Pompeii yang merupakan saingannya dalam Triumvirat I dan yang sebelumnya menjabat sebagai konsul, ia akhirnya menjadi konsul hingga mengaku diri sebagai diktator, melemahkan senat, bertindak layaknya raja; ia melakukan reformasi sosial dan ekonomi, sehingga sangat populer di kalangan rakyat jelata; perjuangannya dilanjutkan oleh Octavianus Augustus (keponakan Caesar) yang kelak mengubah Republik menjadi Kekaisaran secara perlahan.
⁴Edward J Watts, Mortal Republic: How Rome Feel Into Tyranny
⁵Jason Daley, Lessons in the Decline of democracy From the Ruined Roman Republic, Smithsonian magazine
Referensi : Jason Daley. “Lessons in the Decline of democracy From the Ruined Roman Republic,” Smithsonian magazine, Last Modified November 6, 2018, https://www.smithsonianmag.com/history/lessons-decline-democracy-from-ruined-roman-republic-180970711/
Watts, Edward J. “Mortal Republic: How Rome Feel Into Tyranny,” (San Diego: Basic Books, 2018)
메타데이터
- post_id
- ff096ec54997
- slug
- dari-senat-ke-senayan-pelajaran-dari-jatuhnya-republik-romawi-kuno-bagi-keberlangsungan-demokrasi-ff096ec54997
- url
- https://medium.com/@kastahmdilmusejarahunair/dari-senat-ke-senayan-pelajaran-dari-jatuhnya-republik-romawi-kuno-bagi-keberlangsungan-demokrasi-ff096ec54997
- canonical_url
- https://medium.com/@kastahmdilmusejarahunair/dari-senat-ke-senayan-pelajaran-dari-jatuhnya-republik-romawi-kuno-bagi-keberlangsungan-demokrasi-ff096ec54997
- author_url
- https://medium.com/@kastahmdilmusejarahunair
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-22 21:01:25