← Back to list

“Tubuh Maskulin, Gerak Gemulai” Menubuh dan Melihat Queer dalam Tari Lengger pada Film Kucumbu…

Pada bagian judul saya beranggapan bahwa tulisan ini akan langsung tertuju pada sebuah diskursus LGBTQ+ (Lesbian, Gay, Biseksual…

Rivaldi Anjar Saputra · 2025-10-23 16:27 · 0 claps · 13.8 min read
#film-reviews #spirituality #tarian #queer #opinion
Open on Medium ↗
Wiki topics: HUM · Humanities · General 🎬 · Film & Television ✊ · Equality & Identity 🧘 · Spirituality

Tubuh Maskulin, Gerak Gemulai” Menubuh dan Melihat Queer dalam Tari Lengger pada Film Kucumbu Tubuh Indahku Karya Garin Nugroho

Pada bagian judul saya beranggapan bahwa tulisan ini akan langsung tertuju pada sebuah diskursus LGBTQ+ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Queer, dll). Pokok pembahasan mengenai LGBTQ+ sendiri sesungguhnya belum menemukan titik terang hingga saat ini, terutama di Indonesia. Publik masih sangat terbiasa dengan kehidupan heteroseksual yang sudah ada sejak lama ada. Ditambah lagi dengan adanya regulasi hukum yang secara langsung menciptakan ruang sempit bagi kaum LGBTQ+ seperti Undang-undang Perkawinan (UU 1/1974) dimana ditetapkan bahwa perkawinan yang sah adalah perkawinan dua gender: laki-laki dan perempuan[1]. Dengan begitu jelas bahwa ruang lain diluar heteroseksual sangat tertutup. Pada peraturan yang lain ada di Undang-undang Administrasi Kependudukan (UU 23/2006) tentang KTP hanya mengakomodir laki-laki dan perempuan dalam identitas kelamin. Sehingga pernikahan sesama jenis masih menjadi hal yang illegal dan tidak boleh dilakukan di Indonesia secara hukum dan sosial. Dua hal tersebut mendasari sebuah pemikiran yang membuat ruang LGBTQ+ semakin dipersempit. Sedangkan dalam beberapa teori sosial maupun kesehatan jika berbicara mengenai gender dikemukakan spektrum gender berjumlah 12. Pandangan dari tradisi agama pun berbicara hal yang sama dalam memandang isu LGBTQ+. Setidaknya dalam tradisi agama Kristen dan gereja seringkali homoseksual dikaitkan dengan perilaku tidak pantas atau perilaku pendosa. Seringkali juga dikaitkan dengan kisah Allah menghukum Sodom dan Gomora (Kejadian 19 : 1–25) karena perilaku menyimpang. Sedangkan tafsir tertentu mengatakan bahwa yang membuat Allah marah adalah kekerasan seksual yang dilakukan pada konteks itu, bukan spesifik pada tindakan homoseksualitas.

Kontruksi yang dibawa secara turun temurun dan waktu yang panjang ini membuat pandangan sinisme terhadap kaum LGBTQ+ menjadi semakin masif dan susah untuk dicerahkan. Pada praktik budaya gereja bukan hanya sinisme pada LGBTQ+ saja yang muncul, memandang seksualitas manusia pun seringkali memiliki tendensi yang negatif. Seksualitas selalu dikaitkan dengan perilaku seks pria dan wanita. Sedangkan seksualitas bicara mengenai tubuh manusia secara utuh.

Dalam beberapa tahun kebelakang tradisi tertentu sudah menyatakan keterbukaan dengan LGBTQ+. Namun tetap saja mayoritas masih melihat bahwa perilaku ini adalah perilaku yang tidak baik, menyimpang dan sepenuhnya salah. Dalam memandang LGBTQ+ tidak bisa secara langsung memberikan penilaian tanpa memahami ulang seksualitas itu sendiri[2]. Meskipun sesungguhnya isu ini bukanlah sebuah isu baru melainkan sudah ada sejak berabad-abad lalu. Namun fenomena ini kian berkembang begitu juga dengan perbincangannya mengenai pro dan kontra. Dalam kebudayaan kita sendiri di Indonesia LGBTQ+ sudah ada dalam seni tradisi. Terutama dalam dunia seni peran dan seni gerak atau tari. Seringkali lakon atau tokoh yang muncul dalam tarian memiliki unsur LGBTQ+ dalam hal ini queer yang menjadi fokus. Dimana ada sebuah tarian yang penarinya adalah seorang pria melainkan memakai dan menjadi karakter wanita dalam pertunjukannya. Seringkali karakter yang dibangun melalui tarian, pertunjukan merasuk dan menjadi satu dengan karakter aktor atau penari itu sendiri diluar pertunjukan. Hingga pada kehidupan nyata diluar tarian dan pertunjukan, sang penari cenderung memiliki perilaku dan orientasi seksual yang berlawanan dari mayoritas masyakarat. Maka dari itu menarik untuk dilihat lebih dalam.

Artikel ini bertujuan untuk melihat juga menunjukan adanya perilaku yang ada sekitar isu homoseksual dan queer pada kebudayaan, seni tradisi dan sosial masyarakat di Indonesia dalam konteks orang jawa yang dikemas dalam bentuk seni tari tradisional. Artikel ini mencoba untuk melihat secara objektif nilai dan pesan apa yang terkandung dari tarian yang dikemas dalam film. Pandangan yang objektif bagi saya adalah sebagaimana penulis dan pembaca dapat melihat secara terbuka dan mengapresiasi apa saja yang muncul di dalam film dan tariannya tanpa menjustifikasi perilaku tersebut salah atau benar.

Queer, Budaya dan Film Indonesia

Queer Theory lahir dari kesadaran bahwa komunitas gay dan lesbian termasuk golongan yang terpinggirkan dari budaya dominan yang dikontruksi selama berabad-abad[3]. Queer berakar dari sebuah pandangan bahwa identitas sebagai materi tidak bersifat tetap dan stabil. Hal tersebut juga dapat dilihat teori psikologi yang mengatakan bahwa manusia adalah dinamis, ia bisa berubah sesuai dengan pengalaman dan kondisi lingkungan sosial yang ada. Identitas queer bersifat historis dan terlihat dikontruksi secara sosial dalam praktiknya bermasyarakat. Contohnya pandangan menilai salah sebuah kecenderungan seksual dengan sesama jenis dikontruksi oleh tradisi agama dan sosial bahwa itu adalah hal yang tidak baik. Dalam hal ini terlihat pada pembahasan dibawah dimana sosok penari laki-laki yang harusnya mereprentasikan maskulinitas namun memunculkan hal femininitas. Secara sosial ini bertolak belakang dan isu ini dikemas bagus melalui sebuah karya seni visual, film.

Film adalah representasi budaya pada kota-kota urban dan kebudayaan populer yang muncul sesuai kebutuhan hiburan manusia dan eksistensi budaya itu sendiri[4]. Maka pandangan masyarakat mengenai satu isu tertentu juga terkandung dalam seni visual dalam film. Film dengan munculnya transgender atau waria pertama kali pada tahun 1970 berjudul Bencong Slebor yang di sutradarai oleh Benyamin S. Film ini merupakan film pertama yang tercatat dalam sejarah yang mengusung tema transeksualitas dan transgender. Film bertemakan queer ini muncul meskipun saat itu belum ada istilah payung ini, namun muncul berdasarkan kegelisahan akan terpinggirkannya kaum waria, transpuan atau transgender. Dari film tersebut muncul semangat untuk melihat lebih terbuka kebertubuhan sesama manusia meskipun dalam balutan queer.

Budaya di Indonesia selalu memandang gender secara normatif dan melihat queer sebagai gender non-normatif. Hal ini tentu saja terpengaruh oleh kekuasaan otoritatif. Hal ini ditunjukan dari perkembangan perfilman Indonesia yang sangat pesat setelah kepemimpinan otoriter Suharto turun[5]. Sejarah menunjukan bahwa pemerintahan melahirkan pandangan yang sempit juga terhadap masyarakat. Hal tersebut karena terlalu banyak kontrol dan sensor pada segi pengkaryaan. Hingga pada tahun 2000-an media-media baru mulai mudah ditemukan dan industri film maju dengan pesat.

Film merupakan karya seni visual, dimana seperti yang saya percaya bahwa seni adalah bahasa universal, bahasa yang mampu dinikmati dan diakses siapapun. Selanjutnya kesenian adalah bahasa kebebasan, dalam hal ini kebebasan adalah bebas dari segi penciptaan atau pengkaryaannya hingga gagasan yang diusung dalam karya seni, hingga kebebasan intepretasi terhadap karya seni itu sendiri. Dalam hal ini seni yang mengandung nilai kebebasan juga memiliki tujuan untuk memberi pesan tertentu untuk penikmatnya. Film sebagai salah satu seni yang masuk dalam kategori seni visual atau seni digital memiliki kebebasan dalam menyampaikan pesan dan gagasan dari penulis kisah juga sutradara. Namun tidak semua film mampu menunjukan pesan karena keterbatasan sutradara, pemeran pada film hingga kru yang ada dalam segi pengkaryaan. Dari sisi luar pengkaryaan yang seringkali membatasi kegagalan interpretasi adalah komisi penyiaran yang bertugas mengkurasi film dan juga dari penikmat film itu sendiri.

Sampai disini di antara banyaknya film yang ada, fokus dalam tulisan ini ada film yang syarat dengan pesan budaya dan gender dibingkai jadi satu yakni film Kucumbu Tubuh Indahku. Film Kucumbu Tubuh Indahku ini merupakan film yang cukup bebas dalam menyampaikan pesan yang ada dalam kisahnya hingga penyajiannya dalam gambar.

Tari Lengger dalam Film Kucumbu Tubuh Indahku

Tari lengger adalah tarian rakyat yang berkembang di desa-desa atau daerah yang mayoritasnya adalah petani. Sebelum masuk lebih dalam pada tarian Lengger ini ada baiknya mengenal lebih dalam konteks dimana tarian ini muncul dan konteks masyarakat serta budaya sosialnya. Bagaimana sikap dan pandangan hidup suatu masyakat dan terbentuknya budaya serta kesenian sejalan dengan sejarah. Seni tari merupakan wadah kreatifitas masyarakat dengan berpatokan pada niali-nilai estetis yang di dalamnya terdapat sistem pemaknaan, karena tari merupakan hasil dari proses sosial dan bukan proses perorangan. Artinya, walau tari tersebut diciptakan oleh satu orang, namun dalam perkembangannya tari mengalami perubahan akibat tingkah laku masyarakat secara koletif terhadap tari tersebut, maka secara otomatis mengalami pemaknaan secara kolektif pula, sesuai dengan sifat masyarakat[6].

Tarian ini banyak dilihat di daerah Banyumas, tepatnya kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah[7]. Kabupaten Banyumas pada jaman kerajaan dahulu berada dalam batas kekuasaan antara keraton Mataram dan Keraton Pajajaran. Karena kekuasaan kedua keraton tersebut membuat Banyumas sendiri tidak pernah menjadi pusat dan selalu dianggap terpinggirkan mulai dari masyarakat hingga perekonomiannya. Namun kebudayaan yang ada di Banyumas cukup kental dan unik dengan ciri khas medhok dan bahasa jawa yang sedikit lebih kasar dibanding dengan daerah sekitarannya. Budaya Banyumas dikenal dengan istilah Banyumasan, dengan budaya dan mata pencaharian mereka yang mayoritas adalah petani, maka seringkali orang Banyumas dianggap orang pinggiran. Dari tempat ini lah tari Lengger muncul.

Menurut sejarah istilah Lengger sendiri masih dalam perdebatan. Setidaknya ada dua pandangan ketika berbicara mengenai asal-usul digunakannya nama Lengger ini. Pertama, dalam buku Kebudayaan Jawa yang ditulis oleh Koentjaraningrat ia menulis bahwa Lengger memiliki nama lokal Banyumasan yakni Ronggeng lebih rinci lagi dalam budaya Bagelen. Menurut Koentjoroningrat seorang penari ronggeng yang masih kecil disebut lengger, sedangkan seorang penari yang senior dan sudah menjadi gadis baru bisa disebut ronggeng. Kedua, pendapat lain yang terbaru adalah mengatakan bahwa lengger adalah sebuah akronim dari leng dan ngger . Leng artinya lubang yang seringkali diidentikan dengan Wanita. Namun jika dilihat lebih jeli jengger memiliki arti laki-laki atau jantan yang mengarah pada istilah jengger (terjulur)[8]. Diketahui juga sebelum tahun 1960 tari lengger ini dilakukan oleh pria namun berkarakter Wanita. Penulis melihat bahwa arti kedua lebih bisa diambil dikarenakan sumber yang terbaru hingga sumber-sumber lain dari dokumentasi film dan artikel yang lain seperti film yang dibuat oleh Garin Nugroho berjudul Kucumbu Tubuh Indahku. Film ini mengisahkan tentang dinamika tubuh dan perasaan yang mengarah pada homoseksualitas dan theory queer yang menjadi pembahasan utama dalam tulisan ini.

Tari Lengger ini merupakan sebuah tarian ungkapan terimakasih kepada dewa-dewi kesuburan. Ahmad Tohari mengatakan bahwa pada jaman dahulu tari Lengger ini seringkali dilakukan pada masa setelah panen sebagai rasa ucapan syukur kepada dewa yang telah melancarkan panen. Pendapat ini sesuai dengan yang dikatakan Koentjaraningrat dalam bukunya Kebudayaan Jawa. Begitu juga yang penulis temukan dalam visual yang muncul pada film Kucumbu Tubuh Indahku, tentunya dengan gerakan tokoh utama yang gemulai. Tari lengger ini juga seringkali menjadi salah satu rangkaian dari seni tari Kuda Kepang dan Topengan, biasanya kedua tarian itu diawali oleh tari Lengger[9]. Selanjutnya pembahasan akan masuk pada film yang mereprentasikan queer dan tari lengger itu sendiri.

Kucumbu Tubuh Indahku setidaknya mengusung tiga tema utama, yakni seni tari tradisional, romansa, dan sisi gelap kehidupan. Tokoh utama dalam film ini bernama Wahyu Juno dikisahkan sejak kecil tidak diasuh oleh orang tua kandungnya, melainkan oleh buliknya. Hal tersebut dikarenakan oleh trauma tragedi 1965 yang menyebabkan ayahnya memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung asalnya. Kampung tempat Wahyu Juno dikisahkan adalah tempat dimana tari Lengger berkembang. Tarian Lengger Lanang dikaitkan erat dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), anak organisasi PKI (Partai Komunis Indonesia) yang pada Orde Baru tidak luput dari pembersihan massal komunisme.

Wahyu merupakan murid SD yang tergolong biasa saja dalam segi akademis hal ini mungkin disebabkan oleh fokus dirinya yang terbagi dimana harus membantu buliknya berjualan dan membantu tetangganya dengan kemampuan uniknya untuk mengecek ayam yang hendak bertelur. Kesibukannya untuk membantu tetangganya membuat ia harus mendapatkan hukuman dari buliknya dengan menusuk jarum ke jari Wahyu, perngalaman kekerasan inilah yang muncul pertama kali pada masa kecilnya yang dikisahkan berdampak juga ketika ia dewasa.

Di sisi lain dalam film diperlihatkan bahwa sejak kecil Juno memiliki ketertatikan terhadap para rombongan penari lengger yang merupakan laki-laki namun memiliki kelenturan tubuh yang indah. Akhirnya Juno memutuskan untuk mengikuti tari tersebut dan dalam proses belajarnya ia melihat seorang Warok mencumbu guru tarinya. Setelah itu proses belajar tari ini berlangsung secara terbuka hingga Juno sendiri dengan terpaksa melihat alat kelamin guru tarinya dan guru tersebut menyebutkan bahwa lubang itu adalah “lubang kehidupan”. Dalam kisahnya ditunjukan bahwa dalam mengajar guru tarinya yang terlalu vulgar membuat warga marah dan mengeksekusi guru tari tersebut dengan tuduhan berzinah dan pelecehan seksual.

Pengalaman kekerasan juga ia lihat dari beberapa rentetan peristiwa dimana tetangganya yang seorang guru Tari Lengger membantai lelaki selingkuhan istrinya dengan menggunakan sabit. Namun di sisi lain ia mendapatkan pengalaman buruk dari guru tari lengger, ia juga mendapatkan kata-kata manis dari guru tari tersebut mengenai bentuk tubuhnya yang bagus dan lentur sehingga sangat bagus untuk menjadi penari lengger.

Gerak merupakan unsur yang paling pokok dalam sebuah tarian, hampir keseluruhan gerak dalam tari Lengger merupakan gerak maknawi, yaitu gerak tari yang mengandung makna tertentu dalam kehidupan manuisa. Gerak maknawi yang terdapat pada tari Lengger Solasih yaitu gerak laku mbobot sampur, megot, lampah nyelinguk, nyaut sampur, sembah joget, trap kuku, mencit, nepak pundhak kanan, nepak pundhak kiri, trenjel, sembah purna dan laku slender. Seperti gerak laku mbobot sampur mempunyai makna simbolik penggambaran wanita yang sedang berjalan terlihat anggun dan mempesona. Setiap ragam gerak tari memiliki arti dan makna yang terdapat didalam tari Lengger Solasih[10].

Pengalaman-pengalaman yang Juno alami membawanya kepada sebuah keputusan untuk menjadi penari lengger ketika usianya remaja. Namun semasa ia menjadi penari, kesepian terus menggerogoti dirinya sehingga ia menerima cinta dari siapapun termasuk sesama jenis yakni seorang petinju dan seorang penari warok.

Juno kemudian pergi berpindah-pindah dari satu desa ke desa yang lain sebagai penari Lengger. Dalam perjalanan di sebuah desa, tibalah ia pada sebuah desa yang sedang mengadakan Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah). Dalam tarian yang ditampilaknnya Juna memiliki kewajiban untuk menjadi “pasangan” sang bupati tersebut untuk menang Pilkada, karena syarat “tumbal” dukun sang bupati dan dititah oleh istri Bupati dan Asistennya. Namun yang terjadi selanjutnya adalah Juno menolak untuk digunakan sebagai alat untuk kemenangan dalam politik. Penolakan Juno berimbas pada pengusiran Juno berseta para kelompok penari Lengger lainnya.

Tubuh Juno digunakan sebagai media dalam pengekspresian sosok feminin ketika ia mengenakan riasan wajah dan konde sebagai atribut untuk menari Lengger. Pengalaman yang dialami Juno adalah pengalaman unik sekaligus menyakitkan, namun dari sana ia memiliki pengalaman kebertubuhan dengan baik dan mampu mengekspresikannya dengan gerakan yang kadang lembut dan nampak feminim, namun terkadang terlihat maskulin dan gagah dengan gerakan-gerakan kaku.

Dalam salah satu pandangan antroposentris dan mikrokosmos dalam falsafah jawa, tubuh manusia bukan hanya milik seorang secara pribadi, tetapi telah menjadi sistem tanda dari budaya masyarakat. Tubuh tidak lagi hanya mempunyai arti dari dirinya sendiri tetapi juga harus menuruti norma umum yang berlaku di masyarakat di mana seseorang hidup. Hal ini ditunjukan dari sejak ribuan tahun yang lalu tubuh menjadi realitas yang paradok dan selalu menjadi perdebatan hingga sekarang[11]. Olah tubuh seperti tari lengger yang mengeksploitas tubuh buktinya masih eksis hingga sekarang dan diminati masyrakat. Sedangkan pada sisi yang lain sangat kontradiksi dimana laki-laki bisa begitu gemulai melakukan tarian tersebut. Seperti yang ditunjukan dari gambaran ini. Gerak tari Lengger mengunakan kesatuan vokabuler yang sudah tertata. Vokabuler gerak ini dapat berbentuk sikap (posisi), rangkaian dari sikap gerak satu ke sikap gerak yang lain. Dilihat dari urutan geraknya di dalam tata gerak tari memiliki: maju beksan, beksan dan mundur beksan.

Maju Beksan disebut gerak pembuka yaitu gerak yang digunakan untuk mengawali rangkaian gerak pada tari Lengger Solasih, rangkain gerak pembuka terdapat pada gerak laku mbobot sampur, nyaut sampur, nyaut sampur sindir, sindir kanan, sindir kiri, ngelerek, lampah nyabet, lampah nylinguk, megot dan sigetan.

Beksan rangkaian gerak yang panjang yang mengandung suatu makna tertentu pada tari Lengger Solasih, rangkaian gerak pokok terdapat pada gerak sembah joget, trap kuku, mencit, laku papat kanan, laku papat kiri, trenjel mincek, nepak pundhak kanan, nepak pundhak kiri, nepak pundhak ngelengkeh, trenjelan, iker-iker, tempak ngiluk.

Mundur Beksan rangkaian gerak penutup yang terdapat pada tari Lengger Solasih yang biasanya digunakan untuk penutupan sembuah tarian adalah gerak sembah purna dan slender[12]. Gerakan-gerakan yang ditunjukan ini sangat terlihat bahwa gerakan ini adalah gerakan wanita yang gemulai dan luwes. Hal ini juga ditunjukan dari bagaimana pemeran Juno menunjukannya dengan begitu gemulai sedangkan tubuhnya bisa dikatakan cukup kekar dan maskulin.

Pada hal lain, Lengger sebagai tarian rakyat yang berbicara mengenai kesuburan tidak bisa dilepaskan dari erotisme. Ditunjukan dari gerakannya yang sensual dan menunjukan tonjolan-tonjolan dada, pinggul dan pantat. Hal ini juga diperlihatkan dari gerakan Juno yang meliuk-liuk ketika menarikan Lengger. Bagi orang yang tidak memahami kaitan tarian ini dengan latar belakang keyakinan mereka, akan dengan mudah memandang tarian ini sebagai tarian yang tidak senonoh. Ditambah lagi Tarian ini terlihat memang menggunakan pakaian yang cukup terbuka di bagian pundak, hal ini menunjukan nilai keseksian pada wanita meskipun dalam praktiknya penari adalah seorang pria.

Lengger di sisi lain merupakan tarian rakyat yang menjadi perangkat untuk dapat membantu para petani mengungkapkan suka cita di hadapan Sang Pencipta yang telah memberi mereka hasil panen yang baik. Gerakan-gerakan tarian lengger yang erotis sekaligus menyimbolkan perkawinan mistis para dewa yang berbuah pada panen yang melimpah.

Selanjutnya bagaimana pandangan agama dalam melihat tarian lengger yang cukup erotis ini. Pandangan masyarakat Banyumas terhadap tubuh penari dalam Lengger tidaklah monolitik. Kelompok masyarakat sendiri melihat bahwa tubuh adalah urusan masing-masing sehingga tidak perlu diurusi oleh agama. Karena hal ini menyangkut kesenian dan kesenian seringkali harus terlepas dari norma agama agar lebih bebas.

Sehingga pemaknaan tubuh tidaklah tunggal. Tubuh sendiri memiliki bagian tertentu yang bisa saja dianggap sangat plural. Begitu juga seharusnya pandangan masyarakat melihat keunikan tubuh itu sendiri. Entah dalam ranah queer atau homoseksual.

Epilog

Pengalaman-pengalaman Juno selama ia hidup membawanya ke sebuah kisah romansa homoseksual yang mungkin sampai saat ini masih belum bisa di terima oleh masyarakat Indonesia dalam tradisi modern, sedangkan dalam tradisi kuno dan kesenian kontradiksi seperti ini sangat dihargai dan seringkali muncul. Homoseksualitas dan konsep kebertubuhan terkemas dalam bingkai mistis jawa dalam sebuah tarian. Lewat monolog yang disampaikan Juno mengajak penonton menikmati kisah-kisah dan pengalaman selama hidupnya, kontradiksi yang muncul adalah secara fisik juno memiliki tubuh berotot yang sangat maskulin melainkan secara pergerakan dan bahasa tubuh Juno hingga dalam tarian menunjukan femininitas. Maskulinitas dan femininitas muncul dalam waktu yang sama. Secara tidak sadar melalui tari lengger lanang ini kita bisa melihat bahwa LGBTQ+ masih ada dalam tubuh dan kebudayaan timur dan sangat dihargai dalam kemasyarakatan juga kesenian.

Dalam film Kucumbu Tubuh Indahku ini terletak sebuah nilai untuk menghargai sebuah kebertubuhan yang utuh, tanpa melihat tendensi terhadap homoseksualitas dan LGBT secara utuh. Tarian Lengger juga menunjukan bahwa dalam kesesnian dan kebudayaan, bentuk tubuh sifat dan karakter yang ditunjukan melalui gerakan adalah sebuah karya dan bentuk dari kebertubuhan yang harus dihargai bagaiamanapun yang diperlihatkan. Perihal lain yang juga muncul dalam isu yang film ini bawa adalah kekerasan dalam rumah tangga hingga queer.

Pengalaman personal dalam tubuh penari Lengger harus dihargai. Di atas diuraikan bahwa para penari lengger menemukan yang Ilahi dalam olah tubuhnya. Karena tubuh merupakan ciptaan utuh Allah, maka harus dihargai juga secara utuh. Selanjutnya yang menjadi tantangan bagi para seniman lengger adalah bagaimana olah tubuhnya dapat membantu orang lain sampai kepada dirinya sendiri dan kepada yang mereka percayai. Para penari Lengger perlu mentranformasi diri supaya olah tubuhnya mampu membuat orang semakin mengenali tubuhnya dengan baik dan bukan pada erotisme belaka yang justru membuat orang kehilangan pengenalan akan tubuhnya sendiri. Selain upaya pemaknaan dan wacana baru yang perlu dibangun terus-menerus, juga harus ada usaha untuk membaharui gerak tari Lengger, sehingga gerak tari Lengger sesuai dengan pemaknaan atau wacana baru yang diperjuangkan.

Dengan begitu cara mengolah tubuh atau gerak tari yang sesuai dengan wacana ketubuhan yang baru tentu akan membantu masyarakat untuk mengolah tubuh, dan membuat penafsiran yang tepat sehingga orang dapat menikmati keindahan gerak tubuh tanpa adanya rasa takut untuk terjebak dalam pandangan negatif.

Sangat diperlukan penafsiran ajaran yang berkaitan dengan persoalan ketubuhan secara tepat, sesuai dengan cara tafsir yang benar dan terbuka, agar ajaran agama dapat kontektual, artinya mampu menjawab permasalahan dan tantangan jaman yang ada. Selain itu, penafsiran yang tepat juga akan membantu umat beragama untuk menerapkan ajaran agama dalam hidup di tengah masyarakat secara nyata, sehingga orang tidak hanya beragama secara formalitas. Peran dari tokoh agama, seniman dan akademisi yang kreatif sangat diperlukan dalam memahami budaya, dan penyampaiannya kepada masyarakat. Diperlukan usaha yang lebih untuk menemukan sintesis antara ajaran agama, nilai masyarakat dan nilai-nilai budaya tanpa mengurbankan salah satunya. Untuk itu, harus ada upaya untuk menghargai pengalaman spiritual atau pengalaman religiusitas para penari Lengger bahwa mereka telah menemukan dirinya sendiri melalui tari.

Adapun tiga poin utama yang menjadi kesimpulan dalam perspektif teologis mengenai orientasi seksual homoseksualitas dan queer yang muncul pada pemeran utama yang dalam film Kucumbu Tubuh Indahku sebagai penari adalah. Pertama bahwa Alkitab tidak mencatat dan tidak mengenal orientasi seksual. Sehingga tidak bisa secara langsung mengatakan bahwa queer dan homoseksualitas itu merupakan perilaku yang dosa dan salah. Kedua adalah sexsual intercourse hanya untuk tujuan prokreasi salah satu pijakan penolakan selain heterorelationship. Pemikiran kedua inilah yang seringkali menjadi bahan baku utama untuk mendiskreditkan queer dan homoseksualitas seperti yang muncul di dalam Kucumbu Tubuh Indahku. Ketiga, budaya patrialkal sangat mendominasi pada pemikiran masyarakat tentang seksualitas.

[1] Kwary, Musyahda, dan Rahmantyo, Resepsi Waria di Jawa Timur pada Isu Queer Parenting dalam Film Indonesia Kontemporer, Laporan Akhir Tahun Penelitian Terapan Unggulan Perguruan Tinggi, Surabaya: Universitas Airlangga, 2018. Hlm. 3.

[2] Didapat dalam proses belajar jarak jauh mata kuliah Spiritualitas dan Seksualitas pada pertemuan ke-11 tentang Orientasi Seksual.

[3] Alfian Raokhmansyah, Pandangan Masyarakat Terhadap Homoseksual Dalam Novel Rumah Kepompong Karya I Wayan Artika (Suatu Tinjauan Queer Theory), Jurnal Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman, Januari, 2013.

[4] Setyawan, Ilham, Representasi Embodiment Melalui Konteks Local Queer Dalam Film Kucumbu Tubuh Indahku. Masters Thesis, Master Program in Communication Science, 2021.

[5] Ibid

[6] Tri Handayani, Makna Simbolik Tari Lengger Solasih di Sanggar Satria Kabupaten Wonosobo, Jurnal Seni Tari Universitas Negeri Semarang ISSN 2301–4091 Vol 6 No 1, 2017.

[7] Robertus Suraji, Religiusitas Tari Lengger Desa Gerduren Kecamatan Purwojati Banyumas, Jurnal Media Aplikom ISSN: 20186–972x Vol 1 №2 Mei 2010. Hal. 124.

[8] Ibid

[9] Tri Handayani, Makna Simbolik Tari Lengger Solasih di Sanggar Satria Kabupaten Wonosobo, Jurnal Seni Tari Universitas Negeri Semarang ISSN 2301–4091 Vol 6 No 1, 2017

[10] Tri Handayani, Makna Simbolik Tari Lengger Solasih di Sanggar Satria Kabupaten Wonosobo, Jurnal Seni Tari Universitas Negeri Semarang ISSN 2301–4091 Vol 6 No 1, 2017

[11] Robertus Suraji, Membangun Teologi Tubuh Dari Bawah Belajar Dari Pengalaman Olah Tubuh Tari Lengger, Religious: Jurnal Studi Agama-agama dan Lintas Budaya 2, 2 2018, 127–135

[12] Tri Handayani, Makna Simbolik Tari Lengger Solasih di Sanggar Satria Kabupaten Wonosobo, Jurnal Seni Tari Universitas Negeri Semarang ISSN 2301–4091 Vol 6 No 1, 2017.


메타데이터
post_id
002aff381298
slug
tubuh-maskulin-gerak-gemulai-menubuh-dan-melihat-queer-dalam-tari-lengger-pada-film-kucumbu-002aff381298
url
https://medium.com/@valdianjar161/tubuh-maskulin-gerak-gemulai-menubuh-dan-melihat-queer-dalam-tari-lengger-pada-film-kucumbu-002aff381298
canonical_url
https://medium.com/@valdianjar161/tubuh-maskulin-gerak-gemulai-menubuh-dan-melihat-queer-dalam-tari-lengger-pada-film-kucumbu-002aff381298
author_url
https://medium.com/@valdianjar161
status
ok
fetched_at
2026-07-16 06:10:29