Ketelanjangan di Hadapan Tuhan, Sebuah Kepulangan Eksistensial
Pada sela-sela garis takdir, tepat di bawah langit kota yang katanya beriman dan ditemani petir yang tampaknya malu mengeluarkan gemuruhnya…
Ketelanjangan di Hadapan Tuhan, Sebuah Kepulangan Eksistensial
Pada sela-sela garis takdir, tepat di bawah langit kota yang katanya beriman dan ditemani petir yang tampaknya malu mengeluarkan gemuruhnya itu. Saya dan teman saya ingin menghindar sejenak di tengah riuhnya lebaran. Entah bagaimana, tiba-tiba kita terjebak di sebuah pembicaraan tentang semacam rekalibrasi cara kami memaknai diri di hadapan Penguasa alam semesta.
Sebenarnya semua ini berangkat dari obrolan receh tentang video yang sering terlintas di medsos kami masing-masing. Video itu menampilkan seorang bapak tua yang berkata, “Maafkan aku Tuhan, hari ini aku mokel”. Mengingat video itu, saya langsung nyeletuk di tengah obrolan obrolan kami, berapa indahnya si bapak ini karena relasi dia dengan Tuhannya sangat jujur dan tanpa tedeng aling-aling. Dari sana saya melanjutkan bahwa ada yang harus kita tiru tentang cara dia bertuhan yaitu sisi ketelanjangan dia di hadapan Tuhan.
Ini tidak sedang mewajarkan sebuah kesalahan yang dilakukan di bulan puasa, melainkan ingin menyoroti relasi yang begitu jujur antara manusia dengan Tuhannya, sebuah ikatan sunyi antara seorang pecinta dan Sang Kekasih. Pada titik itu, manusia tidak lagi sibuk mencari ornamen untuk menghias jiwanya, juga tidak berhasrat untuk tampak utuh di hadapan-Nya. Keinginan untuk terlihat sempurna perlahan sirna, menyisakan keberanian untuk tampil apa adanya. Barangkali, justru di titik itulah keindahan menemukan bentuknya.
Saya jadi teringat Anne Dofourmantelle yang sering kali menyinggung tentang bagaimana manusia bisa dikatakan benar-benar hidup adalah ketika ia berani mengambil risiko. Dalam konteks ini, ketelanjangan di hadapan Tuhan bukan hanya tampak sebagai kejujuran belaka, melainkan lebih daripada itu — ada risiko yang harus ditanggung: risiko untuk membiarkan diri dilihat sepenuhnya, tanpa jaminan akan diterima atau dianggap baik; risiko merasa tidak layak; risiko kehilangan citra diri yang selama ini dibangun dengan susah payah; hingga pada akhirnya, risiko untuk melepaskan berhala ego itu sendiri.
Pada titik itu, ketelanjangan bukan lagi sebuah kehilangan besar, melainkan pembebasan dari belenggu berhala ego yang selama ini mengendap padat di dalam hati. Saya, atau bahkan kita, sering kali bersolek di hadapan Tuhan, berpolitik di hadapan-Nya, mengenakan jubah kesalehan, hanya agar merasa layak menghadap di Arsy-Nya. Padahal, bapak tua dalam video yang mengaku ‘mokel’ itu justru menyadarkan kita bahwa Tuhan tidak membutuhkan kurasi cinta, melainkan kehadiran yang jujur, tanpa kepura-puraan akan kesempurnaan.
Kepura-puraan itulah yang perlahan menjelma menjadi ego, menghambat rekahnya kelegaan hati, sekaligus menahan manusia untuk berjumpa dengan dirinya sendiri di ruang sunyi. Lalu bagaimana ia dapat menemukan Tuhannya, jika dirinya sendiri saja belum benar-benar ia temukan?
Selama ini — sadar atau tidak — kita mungkin terlalu sibuk bersolek diri. Kepala kita dipenuhi oleh bayangan tentang bagaimana dunia menuntut kita. Akibatnya, kita terus merawat peran, membangun citra diri, hingga pada akhirnya lupa pada keberadaan diri kita sendiri. Kesadaran akan ketelanjangan di hadapan Tuhan membalik semua itu.
Di titik itulah manusia mulai kembali. Ia tidak lagi sibuk menjadi sesuatu, melainkan berani hadir sebagai dirinya sendiri di hadapan hidup. Ia berani hadir sebagai manusia di hadapan-Nya. Pada dialektika hidup semacam inilah kepulangan perlahan menjadi terang. Bukan kepulangan secara fisik, bahkan bukan juga kepulangan spiritual yang normatif, melainkan kepulangan secara eksistensial: ketika manusia tidak lagi berjarak dengan dirinya sendiri, ia pun tidak lagi berjarak dengan Tuhannya.
메타데이터
- post_id
- 004cca77bfd6
- slug
- ketelanjangan-di-hadapan-tuhan-sebuah-kepulangan-eksistensial-004cca77bfd6
- url
- https://medium.com/@Chrizeva/ketelanjangan-di-hadapan-tuhan-sebuah-kepulangan-eksistensial-004cca77bfd6
- canonical_url
- https://medium.com/@Chrizeva/ketelanjangan-di-hadapan-tuhan-sebuah-kepulangan-eksistensial-004cca77bfd6
- author_url
- https://medium.com/@Chrizeva
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 20:52:00