← Back to list

Anak Lelaki yang Dibesarkan Tanpa Privilege

Tahun 2006, se usiaku sudah harusnya masuk jenjang sekolah dasar. Saat itu tidak ada pilihan selain aku dan kakakku dititipkan ke rumah…

Muhammad Rizal · 2026-06-28 12:05 · 0 claps · 3.1 min read
#life-lessons #motivation #movement #young #schools
Open on Medium ↗
Wiki topics: PSY · Psychology 🚀 · Self Improvement

Anak Lelaki yang Dibesarkan Tanpa Privilege

Tahun 2006, se usiaku sudah harusnya masuk jenjang sekolah dasar. Saat itu tidak ada pilihan selain aku dan kakakku dititipkan ke rumah paman, saudara kandung ayahku (kami memanggilnya etta). Mungkin kalian bertanya kenapa kami dititipkan?

Iya, karena kedua orang tua ku bekerja di Malaysia sebagai seorang TKI dan kami tidak punya akses untuk bersekolah disana karena status WNA. Buat anak kecil saat itu aku sangat senang, bisa merasakan bangku sekolah, punya banyak teman selayaknya yang ada di film laskar pelangi.

Hari pertama masuk sekolah, aku didampingi oleh ibuku persis seperti murid baru lainnya. Hari itu orang tuaku mengambil cuti bekerja beberapa hari untuk mengurus keperluan sekolah kami. Setelah itu mereka kembali merantau ke Malaysia mencari kehidupan yang lebih layak untuk kami.

Sejak saat itu aku tumbuh menjadi anak lelaki yang mandiri, anak kecil usia itu harusnya banyak belajar bersama kedua orang tuanya. Hal yang tidak dipahami oleh ayahku waktu itu bahwa anak lelaki seharusnya belajar menjadi lelaki dari ayahnya, bukan pamannya.

Aku tumbuh menjadi anak lelaki lebih cepat dari fase nya. Anak-anak seusiaku harusnya banyak bermain dan bernyanyi bersama teman sebayanya. Seperti kebanyakan orang, bagi yang hidup menumpang dirumah “orang” dan itu bukan nenek dari ayah atau ibu pasti suasanya berbeda. Rumah panggung yang tertancap kokoh ditengah bukit ini dihuni oleh banyak orang, bukan hanya aku dan pamanku, tapi juga dengan sepupu-sepupuku, cucu dan anak dari pamanku.

Ada masa saat anak-anak seperti kami berkelahi karena sekedar rebutan mainan atau makanan, dengan mudahnya mereka mengadu kepada ayah mereka. Aku hanya bisa berlari dan melepaskan emosiku sendiri. Adegan seperti itu selalu berulang dan saat itu juga kesedihan dan kekecewaanku semakin menumpuk. Saat itu komunikasi dalam jaringan tidak semudah sekarang. Apalagi lokasi rumah pamanku ditengah bukit yang apabila ingin menelfon harus mencari tempat-tempat khusus karena susahnya dapat jaringan seluler dan tempat orang tua juga di Malaysia susah jaringan.

Kelas 4 SD pamanku meninggal dunia. Setelah setahun lamanya lumpuh dan hanya tertidur di kamar karena kecelakaan mobil. Selama ini beliaulah yang cukup memberikan perhatian kepada kami. Peristiwa itu cukup membuat aku terpukul. Aku merasa hidup tidak lebih dari jurang-jurang yang memisahkan tebing bukit lainnya.

Pernah waktu itu sepulang sekolah aku berkelahi dengan teman yang sekaligus tetangga rumah. Namanya anak kecil dia akan selalu saja bertengkar meski hanya masalah kecil. Yang saya lakukan saat itu adalah bertahan karena ejekan-ejekan yang aku terima, saat sampai rumah keluarga dari teman saya mendatangi rumah paman saya dan protes. Saat itu saya hanya diam tidak ada yang membelaku, tante saya apalagi, yang ada saya yang justru dimarahi.

Aku menyadari betul selepas kepergian pamanku, rumah ini terasa lebih sesak dari biasanya. Sedikit membuat kehadiranku menjadi asing berada dirumah ini. Namun demi orang tuaku aku mencoba bertahan dengan kondisi yang ada. Beberapa hari setelah itu anak tetangga itu memanggil sepupunya dan mengeroyokku. Sialnya saat itu aku tidak bisa melawan. Untuk bagian ini aku lapor ke ibuku, mereka hanya menasehatiku dan memberikan kata-kata bijak dan menjadi sabar seolah-olah dengan menjadi sabar dan memaafkan semuanya baik-baik saja. Aku tidak pernah menerima perlakuan tidak adil kepadaku.

Selain bersekolah, setiap hari aku menghabiskan waktuku di kebun. kuakui memang kebun milih almarhum pamanku sangat luas tapi penuh dengan jurang dan terjal. Kegiatan lain yang aku kerjakan adalah mengankat air dari sumur ke rumah. di waktu itu tidak ada air PAM bahkan hingga hari ini. Untuk kebutuhan air bersih warga sekitar hanya mengandalkan air hujan dan sumur. Tiap pulang sekolah kalau tidak ada jadwal petik koko di kebun setelah makan aku langsung mengambil gelengku dan membawanya pergi ke sumur untuk diisikan air dan dibawah kembali kerumah untuk ditampung. Kadang kalo terlalu capek aku tidur dipinggir sumur, atau sekedar bercerita dengan kakakku.

“Kau anak hebat, mandiri. Meski jauh dari orang tua kau terlihat tidak pernah sedih dan selalu kuat” ucap guruku yang tahun 2019 lalu juga dipanggil pasukan Tuhan. Ucapan ini sering aku terima tidak hanya dari guruku. Aku juga heran kenapa mereka bisa bilang begitu. Padahal ada malam aku sangat rindu dengan orang tuaku lalu menangis diam-diam layaknya laki-laki dewasa.

Meski aku tidak pernah punya waktu untuk bermain dan belajar dirumah selayaknya prestasi ku disekolah selalu dapat diandalkan. Kakakku selalu peringkat 1 dikelas dan aku dibawahnya. Mungkin karena kami banyak belajar dari alam dan orang-orang yang kami temui menjadi salah satu faktornya.

Hanya ada satu yang buat aku senang dan kegirangan yaitu libur full di bulan ramadhan. Kalau sudah masuk bulan ini kami dijemput orang tua untuk ke Tawau dan berpuasa disana. Meski kebijakan itu hanya berlalu beberapa tahun saja. aku senang karena bisa tetap puasa full. Selama di Tawau aku bebas menjadi diriku sendiri. Aku menikmati semua apa yang aku inginkan serasa tidak ada beban yang harus ditanggung. Anak-anak harusnya memang seperti ini. Namun jika masa libur itu sudah habis aku sedih dan tidak mau pulang ke Sebatik. Ada banyak ketakutan dan rasa capek dikepalaku yang terus muncul.


메타데이터
post_id
005c3ebeb8ee
slug
anak-lelaki-yang-dibesarkan-tanpa-privilege-005c3ebeb8ee
url
https://medium.com/@Muhammad.Rizal/anak-lelaki-yang-dibesarkan-tanpa-privilege-005c3ebeb8ee
canonical_url
https://medium.com/@Muhammad.Rizal/anak-lelaki-yang-dibesarkan-tanpa-privilege-005c3ebeb8ee
author_url
https://medium.com/@Muhammad.Rizal
status
ok
fetched_at
2026-07-09 15:12:33