Imaginary Friends in Early Childhood: Punya teman khayalan di masa kecil, apakah normal?
Pernahkah anda melihat anak-anak yang mengobrol sendiri dengan mainannya atau sampai melihat mereka membariskan boneka dan mainan-mainan…

Ilustrasi anak perempuan dengan “teman khayalan” boneka beruang (Source: Pinterest)
Imaginary Friends in Early Childhood: Punya teman khayalan di masa kecil, apakah normal?
Pernahkah anda melihat anak-anak yang mengobrol sendiri dengan mainannya atau sampai melihat mereka membariskan boneka dan mainan-mainan lain dan mengajari mereka matematika dan lain sebagainya? Atau justru itu kelakuan anda sendiri saat kecil?
Nah, jika iya, saya ingin mengulang memori masa kecil anda, coba ingat sosok apa yang anda bayangkan menjadi teman saat anda kecil itu? Apakah ia manusia, tokoh kartun, hewan, boneka Teddy Bear atau Barbie, atau bahkan robot-robotan dan mobil-mobilan, lalu anda ajak mereka bicara, membawa mereka kemana-mana dan bahkan menceritakan seolah mereka nyata ke orang tuamu?
Kalau ada, anda dan saya adalah salah satu orang dari sekian banyak yang punya teman khayalan/imajinasi di masa kecil. Jujur saja, saya memiliki teman khayalan laki-laki di masa kecil bernama Robin. Nah, tapi, pernah tidak sih anda berpikir, ‘ini normal ga ya? Apa aku/kita aneh?’. Tenang, ada penjelasan sains lengkapnya. (Jangan lupa juga untk membaca disclaimer di paling bawah artikel!)
Mengenal “Imaginary Friends/Imaginary Companion”
Dalam penelitian teman khayalan hingga sekarang menggunakan beberapa definisi yang berbeda-beda dari peneliti yang berbeda, ada yang mengatakan bahwa “teman tidak kasat mata” termasuk ke dalam teman khayalan, namun ada juga yang tidak menganggapnya sebagai teman khayalan. Ada juga yang cenderung kepada “personified object” atau benda-benda yang diberi sifat manusia sebagai bentuk dari teman khayalan.
Definisi paling terkenal mengenai teman khayalan adalah “sosok yang tidak terlihat, punya nama, disebut-sebut saat bicara dengan orang lain atau diajak bermain secara langsung dalam jangka waktu tertentu, setidaknya selama beberapa bulan yang di mata sang anak tampak seolah-olah nyata, tetapi tidak memiliki dasar objektif yang nyata. Definisi ini tidak mencakup bentuk permainan imajinatif ketika suatu benda dipersonifikasikan atau ketika anak sendiri mengambil peran sebagai seseorang yang ada di lingkungannya.” (Svendsen, 1934).
Di Indonesia, orang tua khawatir saat anak mulai berkhayal mengenai suatu “sosok” yang tidak nyata dan seringkali menyebut mereka “ketempelan”. Banyak kasus yang juga sering kita dengar pada masalah “spiritual” lainnya bahwa anak-anak ini akan dibawa ke “orang pintar” atau menjalankan rukyah pada mereka. Kenyataannya, penelitian berpuluh tahun menganggap ini adalah bagian dari perkembangan anak dan bahkan berperan baik dalam fase itu terutama usia 3–6 tahun bahkan lebih tua dari itu.
Biasanya, teman khayalan (imaginary friends) muncul di usia 3–4 tahun dan beberapa penelitian mengatakan ia bertahan hingga ≥9 tahun. Hal ini lebih sering terjadi pada anak tunggal atau anak yang tidak dekat dengan saudara kandung/tirinya. Penelitian terdahulu seperti oleh Singer & Singer (1990), Somers & Yawkey (1984) dan Taylor et al. (1993) bilang bahwa anak menciptakan teman khayalan untuk mengembangkan kemandirian (autonomi), meningkatkan keterampilan sosial dan bahasa, melakukan permainan peran (role-play), serta membantu mereka menghadapi dan mengatasi rasa takut yang dialami. Mereka dikatakan anak-anak yang supel dan suka kebersamaan, itu sebabnya mereka menciptakan teman-teman ini.
Harter & Chao (1992) juga mengatakan bahwa teman khayalan dapat menjadi suatu “kompensasi”, jadi mereka diciptakan sesuai dengan kebutuhan anak pada saat itu, seperti untuk melawan rasa takut (fear). Seperti hal unik yang terjadi pada ponakan seorang psikoanalis, Fraiberg (1959), yang ketika kecil punya teman khayalan yang ia namai “Laughing Tiger” karena harimau ini “suka tertawa”, ternyata ia menciptakannya karena saat itu ia sangat takut pada hewan yang bisa menggigit seperti anjing dan setelah berhasil melawan rasa takutnya, Laughing Tiger pun hilang.
Banyak penelitian yang tumpang tindih tentang peran teman khayalan (saling revisi satu sama lain). Meski begitu, temuan klasik dan cenderung konsistennya adalah teman khayalan itu bisa jadi teman yang baik; tempat curhat, tapi bisa juga “antagonis”. Ternyata ini cara anak mengembangkan perlawanannya terhadap rasa takut. Ketika menghadapi masalah, mereka akan membayangkan “karakter antagonis” dan menyelesaikan masalah dengannya yang membantunya menyelesaikan masalah interpesonal di dunia nyata.
Svendsen (1934) tadi bilang bahwa definisi teman khayalan tidak termasuk permainan imajinatif ketika suatu benda dipersonifikasikan dan atau ketika anak sendiri mengambil peran sebagai seseorang yang ada di lingkungannya. Pada masa Svendsen (1934), personified object memang belum dimasukkan ke dalam definisi. Namun penelitian modern (Taylor, 1999; Gleason, 2002; Moriguchi & Todo, 2018; Armah & Landers-Potts, 2021) menganggap personified object sebagai salah satu bentuk teman khayalan. Bentuk-bentuk teman khayalan secara umum ada yang manusia, mainan antropomorfis (memberi nyawa atau atribut atau sifat-sifat “manusia” pada benda mati, hewan, atau entitas non-manusia: Cahyadi, 2024), dan karakter TV/kartun. Bedanya, personified object adalah benda mati atau non-manusia (ada bendanya) yang diberikan sifat, emosi, tindakan, atau karakteristik seperti manusia. “Ketika anak sendiri mengambil peran sebagai seseorang yang ada di lingkungannya” adalah saat anak main dokteran-dokteran, jadi seorang Ibu dan sebagainya (permainan peran).
Anak-anak dapat memiliki lebih dari satu teman khayalan. Teman khayalan ini biasanya digambarkan sebagai sosok yang berusia lebih tua/seusia dan cenderung terjadi pada anak perempuan. Anak perempuan juga cenderung punya teman khayalan laki-laki dan anak laki-laki cenderung mengimajinasikan hewan sebagai teman khayalan (Ames & Learned, 1998; Hurlock & Burstein, 1932; Manosevitz et al., 1973; Singer & Singer, 1990). Mereka memperlakukan teman khayalan ini seakan benar-benar nyata seperti memberi “ruang” untuk mereka bermain, ruang di meja belajar atau duduk di samping di meja makan, atau tidur di sampingnya. Di Amerika, 67% teman khayalan anak <8 tahun adalah sosok tidak kasat mata, kalau di Jepang lebih ke personified object. Sayangnya, belum ada penelitian epidemiologis yang dipublikasikan mengenai ini.
Para peneliti mengatakan bahwa anak sejak usia 3 tahun sudah dapat membedakan antara entitas nyata dan entitas yang hanya khayalan. Jadi, anak sebenarnya tahu teman ini hanyalah bagian dari imajinasi saja, tetapi tetap memperlakukan mereka seakan nyata. Mengapa demikian?
- Penelitian menunjukkan bahwa anak yang sudah beranjak usia pun bisa saja ragu/sempat menurun kemampuannya dalam membedakan fantasi dan realita, sehingga bisa kembali ke “kepercayaan” fantastisnya. Ini terjadi karena mereka bingung “batasan tegas” fantasi-realita.
Contoh: Mereka tahu nenek sihir dalam hutan gelap cuma ada di film, tapi ketika mau tidur di kamarnya yang gelap, dia mulai ragu “kayaknya neneknya bakal datang deh”
-
Adanya “Imagining increases likelihood” atau ketika anak yakin sesuatu akan benar-benar terjadi karena membayangkannya.
-
Thought-Action Fusion (konsep ini biasanya digunakan dalam gangguan OCD, dalam konteks ini dapat menjadi bagian perkembangan kognitif), ini adalah ketika anak kecil percaya bahwa “membayangkan suatu hal terjadi= akan benar-benar terjadi atau mengundangnya terjadi”
Dua penelitian ini, 1) oleh Woolley & Wellman (1993), anak usia 3–4 tahun diminta melihat kotak kontainer dan membayangkan apa isinya. Hasilnya, anak yang berusia lebih muda atau ≤3 tahun-3,5 tahun yakin imajinasinya beneran ada di dalam, sedangkan yang lebih tua memilih untuk mengecek isinya saja untuk meyakinkan imajinasinya ada. Disimpulkan, anak-anak lebih tua mulai paham perbedaan nyata dan tidak.
- Sedikit berbeda dari mereka, Harris, et al. (1991): ada dua kotak, satu netral dan satu “pretend box” (kotak pura-pura), anak-anak usia 3,5–6 tahun itu memilih apakah membayangkan antara makhluk mengerikan atau bersahabat ada di dalam pretend box di depan mereka. Lalu peneliti membiarkan masing-masing sendirian dengan dua kotak itu. Saat dimonitor, lebih muda dan lebih tua, dua-duanya lebih sering mengecek “pretend box” daripada kotak netral dan pas ditanya kenapa, mereka bilang mau melihat apakah monsternya ada atau tidak. Disimpulkan, anak-anak sudah bisa membedakan nyata-tidak, tapi kadang tidak paham “batasan tegas” perbedaannya. Nah kedua penelitian di atas dijelaskan dalam Theory of Mind (anak mulai paham setiap orang termasuk dirinya punya pikiran, niat, emosi yang berbeda-beda) dan Fantasy-Reality Distinction (membedakan nyata-fantasi). Supaya kritis ya, penelitian kedua ini dikritik, karena 1) peneliti saat memulai permainan pretend box itu tidak bilang ke anak-anaknya kalau permainan sudah selesai saat meninggalkan mereka jadi mereka masih “berkhayal” karena mengira masih main, 2) tidak ada mainan di sana, jadi kemungkinan besar mereka bosan dan malah fokus terus dengan khayalan mereka dan merasa itu nyata.
Aspek lainnya yang dilihat adalah anxiety (kecemasan) pada mereka. Kalau ketakutan adalah respons adaptif tubuh akan suatu ancaman nyata, kecemasan adalah reaksi emosional kompleks terhadap situasi yang mengancam walau tidak ada bahaya nyata. Kecemasan bukanlah penyebab terbentuknya teman khayalan, melainkan karakteristik yang menyertai, dan teman khayalan justru menjadi salah satu cara anak mengelolanya (Bouldin & Pratt, 2002).
Karakteristik anak yang membuat teman khayalan yang dilaporkan:
- Keterampilan sosialnya meningkat juga dengan kontrol diri (Ames & Learned, 1946); Manosevitz et al., 1973); Singer & Singer, 1981)
- Lebih cakap bicara dengan orang dewasa dan cenderung berinteraksi dengan anak lainnya (Ames & Learned, 1946); Manosevitz et al., 1973); Singer & Singer, 1981)
- Agresivitas rendah (Manosevitz et al., 1973); Singer & Singer, 1981)
- Peningkatan kemampuan interpersonal (Ames & Learned, 1946); Manosevitz et al., 1973); Singer & Singer, 1981); Mauro, 1990)
- Peningkatan konsentrasi, terjadi karena berkhayal bisa membantu mereka menikmati proses bermain dan mengurangi rasa bosan (Singer, 1961)
- Menikmati interaksi sosial (Mauro, 1990)
Membedakan imajinasi yang masih normal atau tidak
Banyak orang tua khawatir mengenai masalah ini, bukan hanya di Indonesia tapi banyak dilaporkan di negara-negara lainnya. Meskipun secara umum, masyarakat hampir seluruh dunia mengetahui bahwa anak memiliki imajinasi yang tinggi terutama dalam masa bermain mereka, namun “sosok” yang terus dibicarakan oleh mereka menjadi keresahan sendiri pada orang tua. Tentunya dasar menilai imajinasi itu masih normal atau tidak perlu memerhatikan aspek-aspek yang mengarah pada imajinasi yang mulai janggal pada anak sebagai berikut:
- Jika pengalaman tersebut menetap, semakin sering muncul, atau tidak sesuai lagi dengan tahap perkembangan anak.
- Jika anak tidak mampu membedakan fantasi dan realitas secara konsisten, serta meyakini bahwa apa yang dilihat, didengar, atau dirasakannya benar-benar ada meskipun tanpa rangsangan nyata.
- Jika pengalaman tersebut menimbulkan distress (rasa takut, bingung, atau tertekan) atau mulai mengganggu fungsi sehari-hari, seperti sekolah, hubungan sosial, dan aktivitas harian.
- Jika muncul bersamaan dengan gejala psikopatologi lain, seperti halusinasi yang menetap, waham/delusi, trauma, gangguan disosiatif, atau penurunan fungsi yang signifikan, sehingga memerlukan evaluasi oleh profesional.
Halusinasi dilaporkan pada masa kanak-kanak dan biasanya bersifat sementara alias berada pada fase usia tertentu dan terus menurun/ menghilang seiring bertambah usia, tapi jika menetap dan terlepas dari rentang usia dia sudah mengganggu fungsi sehari-hari (sudah janggal), perlu evaluasi profesional. Jika telah masuk ke ranah halusinasi janggal (Maijer et al., 2019):
- Anak menganggap apa yang dilihat/didengar/dirasakan itu benar-benar ada, tanpa rangsangan nyata (absence of external stimuli), seperti objek yang memang murni diimajinasikan si anak adalah rangsangan nyata, namun saat jika tidak maka akan menyebabkan rasa takut/cemas pada anak tanpa alasan jelas.
- Biasanya tidak memiliki fungsi yang disadari (muncul tiba-tiba), sehingga sering menimbulkan rasa takut, bingung, atau tertekan.
- Dapat muncul bersamaan dengan kondisi klinis lain, seperti gangguan kecemasan, stres berat, trauma, depresi, maupun gangguan psikotik.
Perlu dicatat bahwa penelitian-penelitian mengenai teman khayalan masih memiliki beberapa keterbatasan, seperti penggunaan definisi dan alat ukur/skala yang belum sepenuhnya seragam sehingga beberapa temuan masih tumpang tindih. Namun, penelitian klasik maupun tinjauan literatur terbaru konsisten menunjukkan bahwa teman khayalan adalah suatu fenomena perkembangan lazim pada masa kanak-kanak dan umumnya bukan berarti gangguan psikologis.
Kesimpulannya adalah bahwa teman khayalan diciptakan pada masa kanak-kanak sebagai bagian normal dalam masa perkembangan sebagaimana dikatakan merupakan kompensasi oleh kesendirian, ketakutan, bahkan rasa cemas yang membantu anak sendiri mengatasi dan memahami dinamika hubungan interpersonalnya. Didapatkan bahwa teman imajinasi kebanyakan diciptakan anak tunggal/tidak dekat dengan saudaranya, tidak tampak adanya perbedaan kecerdasan antara mereka dan yang tidak memiliki teman imajinasi, mereka cenderung memiliki keterampilan lebih baik dalam sosial dan kreatif, juga ditemukan bahwa normal apabila menghilang setelah masa kanak-kanak tersebut menunjukkan bahwa teman imajinasi adalah bentuk konsolidasi psikologis yang membantu anak berkembang di masa selanjutnya tanpa membedakan anak-anak lainnya dengan mereka secara signifikan.
Jika “fase ini” masih berlanjut dan cenderung memiliki tanda-tanda/gejala yang mengganggu fungsi sehari-hari dapat langsung dikonsultasikan pada psikolog. Untuk membaca lebih lengkap mengenai ini terdapat pada tesis Paula Bouldin (1998) pada referensi (penulis juga akan melakukan literature review penelitian internasional mengenai ini)
Referensi:
Ames, L. B., & Learned, J. (1946). Imaginary Companions and Related Phenomena. The Pedagogical Seminary and Journal of Genetic Psychology, 69(2), 147–167. https://doi.org/10.1080/08856559.1946.10533385
Armah, A., & Landers-Potts, M. (2021). A review of imaginary companions and their implications for development. International Journal of Play, 10(1), 18–35. https://www.researchgate.net/publication/349955430_A_Review_of_Imaginary_Companions_and_Their_Implications_for_Development
Bouldin, P. M. (1998). Imaginary companions: Their role in childhood development [Doctoral dissertation]. University of Tasmania. https://figshare.utas.edu.au/articles/thesis/Imaginary_companions_their_role_in_childhood_development/23235761/1/files/40947971.pdf
Bouldin, P., & Pratt, C. (2002). A systematic assessment of the specific fears, anxiety level, and temperament of children with imaginary companions. Australian Journal of Psychology, 54(2), 79–85. https://doi.org/10.1080/00049530210001706533
Cahyadi, D. (2024). Karakter antropomorfi. Universitas Negeri Makassar.
Fraiberg, S. H. (1959). The magic years: Understanding and handling the problems of early childhood. Scribner. https://zhengdaoxinli.oss-cn-hangzhou.aliyuncs.com/document/papers-kim/reading/The%20Magic%20Years%20Understanding%20and%20Handling%20the%20Problems%20of%20Early%20Childhood.pdf
Gleason, T. R., & Kalpidou, M. (2014). Imaginary companions and young children’s coping and competence. Social Development, 23(4), 820–839. https://doi.org/10.1111/sode.12078
Harris, P. L., Brown, E., Marriott, C., Whittall, S., & Harmer. S. (1991). Monsters, ghosts, and witches: Testing the limits of the fantasy-reality distinction in young children. British Journal of Developmental Psychology, 9, 105–123. https://doi.org/10.1111/j.2044-835X.1991.tb00865.x
Harter, S., & Chao, C. (1992). The role of competence in children’s creation of imaginary friends. Merrill-Palmer Quarterly, 38(3), 350–363. https://www.jstor.org/stable/23087260
Hurlock, E. B., & Burstein, M. (1932). The imaginary playmate: A questionnaire study. Journal of Genetic Psychology, 41, 380–392. https://scispace.com/papers/the-imaginary-playmate-a-questionnaire-study-56vkhgskmw
Maijer, K., Hayward, M., Fernyhough, C., Calkins, M. E., Debbané, M., Jardri, R., Kelleher, I., Raballo, A., Rammou, A., Scott, J., Shinn, A. K., Steenhuis, L. A., Wolf, D. H., & Bartels-Velthuis, A. A. (2019). Hallucinations in children and adolescents: An updated review and practical recommendations for clinicians. Schizophrenia Bulletin, 45(Supplement_1), S5–S23. https://doi.org/10.1093/schbul/sby119
Manosevitz, M., Fling, S., & Prentice, N. M. (1977). Imaginary companions in young children: Relationships with intelligence, creativity and waiting ability. Child Psychology and Psychiatry, 18, 73–78. https://acamh.onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1469-7610.1977.tb00418.x
Mauro, J. (1990). The friend that only I can see: A longitudinal investigation of children’s imaginary companions. Unpublished doctoral dissertation, University of Oregon. (Baca di artikel Bouldin ini)
Moriguchi, Y., & Todo, N. (2018). Prevalence of imaginary companions in children: A meta-analysis. Merrill-Palmer Quarterly, 64(4), 459–482. https://doi.org/10.31234/osf.io/6kcbj
Singer, D.G., & Singer, J. L. (1990). The house of make-believe: Children’s play and the developing imagination. Cambridge, MA: Harvard University Press. https://books.google.com.gi/books?id=u0cpEAAAQBAJ&printsec=copyright#v=onepage&q&f=false
Singer, J. L. (1961). Imagination and waiting ability in young children. Journal of Personality, 29, 396–413. https://doi.org/10.1111/j.1467-6494.1961.tb01670.x
Singer, J. L., & Singer, D. G. (1981). Television imagination and aggression: A study of preschoolers. Hillsdale, NJ: Erlbaum. https://api.pageplace.de/preview/DT0400.9781135875145_A23809839/preview-9781135875145_A23809839.pdf
Somers, J. U., & Yawkey, T. D. (1984). Imaginary play companions: Contributions of creative and intellectual abilities of young children. Journal of Creative Behaviour, 18, 77–89. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/j.2162-6057.1984.tb00370.x
Svendsen, M. (1934). Children’s imaginary companions. Archives of Neurology and Psychiatry, 2, 985–999. https://jamanetwork.com/journals/archneurpsyc/fullarticle/646325
Taylor, M. (1999). Imaginary companions and the children who create them. Oxford University Press. https://books.google.co.id/books?id=KGdnDAAAQBAJ&printsec=frontcover&source=gbs_ge_summary_r&cad=0
TED-Ed. (2026). Do imaginary friends make you smarter? [Video]. YouTube. https://youtu.be/qLrnn24C3zU
Woolley, J. D., & Wellman, H. M. (1993). Origin and truth: Young children’s understanding of imaginary mental representations. Child Development, 64, 1–17. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/8436024/
메타데이터
- post_id
- 0061937d89cb
- slug
- imaginary-friends-in-early-childhood-punya-teman-khayalan-di-masa-kecil-apakah-normal-0061937d89cb
- url
- https://medium.com/@novalshabiraulya/imaginary-friends-in-early-childhood-punya-teman-khayalan-di-masa-kecil-apakah-normal-0061937d89cb
- canonical_url
- https://medium.com/@novalshabiraulya/imaginary-friends-in-early-childhood-punya-teman-khayalan-di-masa-kecil-apakah-normal-0061937d89cb
- author_url
- https://medium.com/@novalshabiraulya
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-23 08:17:54