Lagu-lagu yang Tak Tercatat, dan Pustakawan yang Tak Pernah Dilahirkan
“Yang tak ada namanya, tak ada haknya. Termasuk suara. Termasuk yang menyimpannya.”
Lagu-lagu yang Tak Tercatat, dan Pustakawan yang Tak Pernah Dilahirkan
“Yang tak ada namanya, tak ada haknya. Termasuk suara. Termasuk yang menyimpannya.”
— dari memo tak resmi pustakawan yang tak resmi.
Photo by Travis Yewell on Unsplash
Lagu yang Lewat, Ingatan yang Gagal
Ia memutar lagu. Ia sendiri tak tahu mengapa. Jarinya bergerak tanpa maksud, seperti sedang menulis sesuatu yang tak pernah ingin diselesaikan. Layar menyala, suara pun muncul. Bukan ia yang memilih — mesin yang memutuskan. Katanya, itu yang cocok. Seperti nasib, yang datang tanpa aba-aba. Musik mengalir pelan, tanpa salam. Seperti tamu asing di ruang baca: duduk diam, tak bicara, tak menyapa. Tak ada sampul, tak ada judul, bahkan tak ada waktu jeda yang menandai pergantian. Ia mendengar tanpa mencatat, seperti membaca tanpa mengingat, seperti hidup tanpa jejak.
Kadang ia bertanya, apakah memang begini seharusnya? Apakah semua bisa mengalir begitu saja, tanpa perlu diingat, tanpa perlu dipahami? Tapi pertanyaan itu pun segera larut, tenggelam bersama lagu yang bahkan tak sempat dikenali. Ia menatap layar, yang terus berpindah lagu seperti kebiasaan yang tak pernah benar-benar dipilih. Di luar pikirannya, dunia tetap gaduh: notifikasi berdenting, layar berkedip, kopi mendingin. Tapi tak ada yang bertanya: suara ini milik siapa? Untuk siapa lirik ini ditulis? Lagu-lagu datang dan pergi seperti iklan yang tak perlu disimak. Dulu, musik punya jeda. Sekarang, hanya menambal sunyi yang bahkan tak sempat disadari. Ia mendengar, tapi tak tahu apa yang sedang didengar. Lagu jadi latar, seperti wallpaper yang tak pernah dilihat. Kenangan? Pikir belakangan. Hati tak tergerak. Dan saat semuanya akhirnya hening, ia tak tahu kapan musik itu berhenti. Atau apakah musiknya pernah benar-benar dimulai.
Di masa lalu, seseorang akan menulis lirik di pinggir buku pelajaran, mencatat potongan syair di belakang amplop, atau sekadar menyimpan kaset karena tahu — ada sesuatu yang layak
diingat. Kini, lagu hanya mampir. Ia tak pernah dicatat, tak pernah disalin ulang, tak pernah ditanyakan siapa penciptanya. Tak ada lagi yang merasa perlu mengingat, sebab semuanya bisa dicari nanti — walau nyatanya, tak pernah benar-benar dicari.
Zaman ini lihai mendengar, tapi malas merasa. Kita tahu caranya memutar lagu, tapi lupa rasanya mendengarkan. Playlist datang dari algoritma yang tak pernah jatuh cinta. Tak pernah patah hati. Musik mengalir seperti listrik — menyalakan suasana, tapi tak pernah menghangatkan siapa pun. Lagu-lagu berdatangan seperti hujan dalam mimpi: basah, tapi tak membekas. Dan di tengah dunia yang terus berputar, tak ada yang menunggu suara itu bicara. Karena suara tidak butuh arti. Dan pustakawan musik? Ia bahkan belum sempat dibayangkan.
Pustakawan yang Tak Dicari
Ia berpikir, mungkin karena itu tak ada lagi yang ingin menjadi pustakawan. Tak ada yang lahir dengan cita-cita menjaga apa yang tak ingin disimpan. Di perpustakaan algoritma, tak perlu ada penjaga. Buku-buku memilih pembacanya, lagu-lagu menentukan pendengarnya. Tak ada katalog. Tak ada tanya. Tak ada ingatan yang betul-betul tumbuh, hanya lintasan data yang datang dan pergi, sunyi, dan nyaris selalu gagal menempel.
Tapi ia tahu, sesuatu tak bisa benar-benar hidup jika tak pernah ditulis. Lagu yang tak dikenang akan lenyap, seperti mimpi yang tak diceritakan. Gagasan yang tak dicatat akan hilang, bahkan dari kepala yang paling cemerlang sekalipun. Barangkali itu sebabnya pustakawan dulu dianggap penting: bukan karena mereka menyimpan segalanya, tapi karena mereka percaya ada yang layak disimpan.
Sekarang, tak banyak yang menulis. Banyak yang merekam, banyak yang membagikan, tapi sedikit yang menyusun makna. Semua terburu-buru dibagikan sebelum sempat dipahami. Tulisan menjadi semacam sisa waktu, bukan pusat perhatian. Menulis kini dianggap lambat, dan karenanya, kalah. Tapi justru karena lambat itulah ia menyimpan jejak: bukan hanya apa yang dikatakan, tapi juga bagaimana manusia mencoba memahaminya.
Mungkin itu yang hilang — keinginan untuk paham, bukan sekadar tahu. Dan mungkin, karena itulah pustakawan baru tak pernah dilahirkan. Sebab siapa yang mau menjaga sesuatu yang tak ingin dipahami?
Pustakawan musik tak pernah lahir, mungkin karena tak ada lagi yang merasa musik perlu dirawat. Tak ada yang benar-benar ingin tahu siapa yang menyanyikan, mengapa lagu itu
dibuat, atau untuk siapa lirik itu ditulis. Lagu-lagu datang seperti kabar angin — didengar sebentar, lalu hilang. Tak ada yang menunggu di akhir lagu, tak ada yang menoleh ke belakang untuk berkata: “ini penting.”
Dulu, satu lagu bisa mengubah suasana satu kota. Orang menyimpannya di kepala, menyanyikannya ulang di jalan, membicarakannya di warung, di surat cinta, di radio. Seseorang bisa tahu penyanyinya hanya dari satu patah nada. Lagu dikenali karena lekat, bukan karena direkomendasikan. Tapi sekarang, siapa yang peduli? Suara datang terlalu cepat. Terlalu banyak. Terlalu ringan untuk diingat.
Dan ketika tak ada yang mau benar-benar mendengar, tak ada pula yang lahir untuk menjaga. Maka pustakawan musik tak pernah ada — bukan karena tak dibutuhkan, tapi karena tak pernah dibayangkan.
Menulis Sebagai Cara Mendengar Ulang
Menulis adalah cara paling pelan untuk melawan lupa. Tapi justru karena pelan, ia menyimpan yang tak bisa ditangkap oleh layar: jeda, ragu, dan keinginan untuk mengerti. Di zaman ketika semua ingin cepat, menulis jadi pilihan yang aneh. Tapi barangkali justru karena itu ia penting. Sebab tak semua hal bisa dipahami dalam bentuk swipe, like, atau skip.
Menulis bukan hanya mencatat apa yang terdengar, tapi juga menata ulang yang berserakan. Menulis membuat kita bertanya: dari mana suara ini berasal, dan ke mana ia ingin pergi? Di dunia yang dipenuhi gema tanpa asal-usul, menulis adalah upaya mengembalikan asal. Ia mengikat antara pencipta dan pembaca, antara penyanyi dan pendengar, antara manusia dan waktu.
Dan di tengah suara yang terus berganti tanpa jeda, yang dibutuhkan bukan sekadar pendengar baru, tapi penulis baru. Bukan orang yang bisa mengulang apa yang pernah dikatakan, tapi yang berani mencatat sesuatu yang belum tentu akan dipahami hari ini. Sebab generasi literat tidak lahir dari pengetahuan, tapi dari keberanian untuk menyusun ulang dunia dalam kata-kata.
Mungkin tugas kita sekarang bukan sekadar menjadi pendengar, tapi pembaca dari suara. Mencoba mendengar tak hanya bunyinya, tapi juga maksudnya. Siapa tahu, dari kebiasaan bertanya — tentang siapa yang menyanyi, tentang mengapa lirik terasa dekat — akan lahir seseorang yang tak hanya ingin tahu, tapi ingin menjaga.
Mungkin begitulah pustakawan musik seharusnya: bukan yang duduk di ruang sunyi, tapi yang mendengarkan lagu lebih dari sekali dan bertanya mengapa ia layak diulang. Yang menyimak jeda, bukan hanya melodi. Yang percaya bahwa suara bukan sekadar hiburan, tapi juga pengalaman yang patut dirawat.
Dan menulis tentang musik bukan berarti menjadi kritikus. Bukan untuk memberi nilai. Tapi untuk mengingat rasa, mengembalikan manusia ke dalam suara. Menulis agar lagu tak sekadar lewat, tapi tinggal. Agar seseorang yang membaca tahu bahwa suara yang ia dengar hari ini, pernah menyentuh seseorang lain, di waktu yang lain — dan itu cukup untuk membuatnya bertahan.
Di dunia yang terus menggulirkan, kita tidak lagi memilih lagu — lagu yang memilih kita. Dalam sistem semacam itu, pengalaman menjadi datar. Suara hanya muncul karena sesuai, bukan karena dicari. Lagu terasa akrab karena mirip, bukan karena benar-benar menyentuh. Kita dikelilingi keserupaan, bukan kejutan. Kita mendengar apa yang telah diputuskan, bukan apa yang kita butuhkan.
Maka menulis tentang musik hari ini bukan sekadar soal selera, tapi soal kehadiran. Menulis menjadi cara untuk keluar dari alur otomatis, untuk menyatakan bahwa kita benar-benar mendengar. Bahwa kita tak hanya melewati suara, tapi diam di dalamnya. Kita berhenti, merenung, bertanya, dan menjadikannya bagian dari hidup.
Pustakawan musik, jika pun suatu hari lahir, barangkali akan lahir dari yang semacam itu — dari mereka yang tidak puas hanya menjadi pendengar. Tapi ingin menjadi penanda. Menjadi penjawab diam. Menjadi seseorang yang, di tengah ribuan lagu yang terputar setiap hari, berani berkata: “yang ini penting. Mari kita dengarkan pelan-pelan.”
Siapa yang bisa menjadi pustakawan musik hari ini? Mungkin bukan mereka yang bekerja di lembaga budaya. Bukan yang memiliki gelar atau koleksi piringan hitam. Tapi justru mereka yang, di tengah kebisingan, masih mau berhenti dan mendengar satu lagu sampai habis. Mereka yang tidak hanya mengingat judul, tapi juga mengingat perasaan ketika lagu itu pertama kali menyentuh.
Pustakawan musik bisa saja adalah seseorang yang menulis di blog kecil tentang lagu yang tidak masuk tangga lagu. Atau seseorang yang mengirim pesan larut malam kepada temannya hanya untuk berkata: “lagu ini membuatku diam cukup lama.” Mereka tak membuat daftar putar, tapi menyusun rasa. Tak menata koleksi, tapi menjaga kenangan orang lain agar tak hilang sendirian.
Dan mungkin, mereka bahkan tak tahu bahwa yang mereka lakukan adalah kerja kepustakawanan. Mereka hanya tahu: jika tak dituliskan, maka akan hilang. Jika tak dibagikan, maka tak ada yang tahu bahwa pernah ada seseorang yang merasa ditemani oleh lagu itu. Dan bukankah itu inti dari menjadi pustakawan? Menjaga agar sesuatu yang pernah berarti, tidak tenggelam begitu saja.
Namun kita hidup dalam budaya yang semakin tak memberi ruang untuk hadir. Di era budaya algoritmik, media tak hanya memberi kita lagu — ia memberi kita cerminan dari diri sendiri. Sistem pemutar musik memilihkan soundtrack sesuai emosi. Platform sosial menyederhanakan selera menjadi tren-tren berulang. Musik lebih sering mengulang polanya sendiri daripada menghadirkan dunia baru.
Pelan dianggap usang. Yang lambat dicurigai tak relevan. Kita hidup dalam budaya yang meminta semua hal selesai dalam satu layar, satu menit, satu klik. Tulisan panjang dianggap sombong. Lagu yang tak langsung enak dianggap gagal. Dan siapa yang mau membaca tulisan tentang satu lagu, jika ada ratusan lagu lain yang bisa diputar sekarang juga?
Dunia tak sedang merayakan mereka yang menyimak. Dunia sedang berlomba siapa yang bisa melewati paling banyak. Lagu jadi statistik. Suara jadi grafik. Musik jadi latar iklan, jadi cuplikan, jadi bahan konten. Tak ada waktu untuk diam, untuk tinggal cukup lama bersama satu lirik, satu nada. Dan mungkin itu sebabnya tak banyak yang menulis. Tak banyak yang percaya bahwa suara pantas diberi kata-kata.
Tapi justru di tengah derasnya itulah tulisan menjadi penting. Karena tulisan tidak terburu-buru. Ia menunda, menimbang, dan memilih. Ia tak ingin viral. Ia hanya ingin tetap ada. Dan dalam dunia yang terus berubah, kehadiran seperti itu adalah bentuk perlawanan yang sunyi tapi kuat: memilih untuk hadir sepenuhnya, meski hanya pada satu lagu.
Dan dari tulisan-tulisan kecil seperti itu, mungkin akan lahir sebuah kebudayaan yang baru. Bukan yang menilai musik dengan angka, tapi yang merawatnya dengan perhatian. Bukan yang mengejar yang sedang tren, tapi yang tinggal cukup lama untuk mendengar yang hampir hilang. Karena hanya dari yang nyaris terlupakan, kita bisa belajar cara mengingat yang sebenarnya.
Kadang aku membayangkan seseorang yang diselamatkan oleh satu lagu. Bukan karena liriknya menyentuh, tapi karena lagu itu datang tepat saat lampu padam. Saat semua orang diam, dan hanya ada satu suara yang terdengar. Lagu itu memberinya ruang. Sejenak. Tapi
lagu seperti itu tak pernah dicatat. Tak pernah diberi tanda. Tak pernah disebut. Dan setelahnya, ia hilang. Seperti yang lain. Seperti semuanya sekarang.
Pustakawan musik tak tercatat dalam sistem kepegawaian. Tak ada kolom untuknya dalam struktur organisasi. Ia tak masuk nomenklatur negara. Tak terundang dalam rapat kebijakan, tak disebut dalam diskusi ilmiah. Tapi ia mungkin pernah ada — bukan sebagai profesi, melainkan sebagai seseorang. Seseorang yang mencatat dengan tangan, bukan sistem. Yang menyimpan dengan rasa, bukan format file. Yang tahu bahwa satu lagu tertentu tak boleh hilang, bukan karena terkenal, tapi karena pernah membuat seseorang bertahan semalam lebih lama.
Mungkin ia duduk di pojok ruang dokumentasi. Mungkin ia hanya seorang relawan yang tak pernah diberi nama dalam laporan tahunan. Tapi ia ada — atau pernah ada — dan barangkali pernah menangis diam-diam saat satu lagu lama diputar lagi setelah bertahun-tahun. Bukan karena lagu itu sedih. Tapi karena tak ada lagi yang tahu kenapa lagu itu pernah sangat penting. Dan ketika tak ada yang tahu, ia tahu: sesuatu yang besar sedang pelan-pelan dilupakan.
Kini, kita bahkan tidak menyadari apa yang hilang. Streaming menawarkan segalanya — kecuali ruang untuk diam. Lagu diputar, didengar, lalu hilang. Kadang sebelum reff, kadang bahkan sebelum kita sadar ada lagu yang sedang berjalan. Kita berpindah seperti orang yang lupa caranya duduk. Musik menjadi pelengkap, bukan pengantar. Ia tidak menemani, hanya menutupi. Ia datang seperti suara televisi hotel — menyala, tapi tidak dimiliki. Kita menyebutnya hiburan. Tapi mungkin kita hanya sedang belajar melupakan dengan cara yang lebih rapi.
Di hari-hari yang terburu-buru, lagu tidak sempat menjadi apa-apa. Ia lewat seperti nama pengungsi yang tak sempat dicatat, atau janji di kertas basah yang tak pernah dikeringkan. Kita mendengar terlalu banyak. Terlalu sering. Tapi yang tinggal hanya gema pendek, tanpa arti. Bukan karena kita lupa — tapi karena memang tidak ada yang diminta untuk tinggal. Playlist berputar, rasa berjalan, dan tak satu pun sempat duduk.
Ia memutar lagu. Kali ini ia tidak melewatinya. Tak ada niat mencatat, hanya niat diam. Ia mendengar sampai akhir, bukan karena ingin tahu judulnya — tapi karena ingin tahu apakah ia masih bisa merasakan sesuatu.
Suara yang Selamat
Esai ini bukan kesimpulan. Tidak ada yang perlu disimpulkan dari sesuatu yang belum pernah benar-benar dimulai. Ia juga bukan usulan kebijakan. Karena tak ada ruang dalam sistem untuk sesuatu yang tak punya nama jabatan. Ia hanya doa pendek. Lirih. Tak bersuara. Ditulis bukan untuk didengar, tapi untuk ditinggal di pojok ruang baca. Untuk seseorang yang tak pernah sempat bekerja. Untuk profesi yang hanya bisa kita bayangkan. Untuk pustakawan yang tak dicatat, karena musik dianggap tak perlu dijaga. Untuk lagu-lagu yang pernah menyelamatkan hidup orang, tapi tak sempat dikumpulkan oleh siapa pun. Untuk suara-suara yang datang tepat waktu, tapi tak pernah disimpan. Dan kalau nanti satu lagu muncul kembali entah dari mana, membuatmu menoleh tanpa tahu kenapa — barangkali itu suara yang selamat. Dari waktu. Dari lupa. Dari algoritma.
Referensi dan bahan bacaan penulis:
Strinati, D. (2007). Popular culture: Pengantar menuju teori budaya populer (S. Sunardi, Penerj.). Yogyakarta: Jalasutra. (Karya asli diterbitkan tahun 1995).
Sunardi, S. (2005). Wajah budaya populer: dari perlawanan sampai hiburan. Kanisius.
Adorno, tentang bagaimana industri budaya menjadikan musik sebagai komoditas yang kehilangan makna personal.
Walter Benjamin, yang mengingatkan bahwa melambat dan menulis adalah cara menyelamatkan pengalaman manusia dari pelapukan modernitas.
Roland Barthes, tentang bagaimana suara bisa menjadi teks — dan bagaimana makna tak selalu berasal dari penciptanya, tapi dari yang menghayatinya.
St. Sunardi, yang dengan jernih menulis bahwa budaya populer hari ini bukan hanya sekadar selera massa, tapi mekanisme produksi makna yang dikendalikan sistem.
메타데이터
- post_id
- 006b3cf34eab
- slug
- lagu-lagu-yang-tak-tercatat-dan-pustakawan-yang-tak-pernah-dilahirkan-006b3cf34eab
- url
- https://medium.com/@amirsetioko/lagu-lagu-yang-tak-tercatat-dan-pustakawan-yang-tak-pernah-dilahirkan-006b3cf34eab
- canonical_url
- https://medium.com/@amirsetioko/lagu-lagu-yang-tak-tercatat-dan-pustakawan-yang-tak-pernah-dilahirkan-006b3cf34eab
- author_url
- https://medium.com/@amirsetioko
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 03:39:16