Goa Maria Jatiningsih: Ruang Iman dan Edukasi di Tengah Alam
Goa Maria Ratu Perdamaian Sendang Jatiningsih, atau yang dikenal dengan Goa Maria, merupakan tempat peribadatan jemaah Katolik yang…
Goa Maria Jatiningsih: Ruang Iman dan Edukasi di Tengah Alam
Goa Maria Ratu Perdamaian Sendang Jatiningsih, atau yang dikenal dengan Goa Maria, merupakan tempat peribadatan jemaah Katolik yang beratapkan langit dan berlandaskan tanah. Kedamaian yang hadir membersamai jemaah dalam kekhusyukan ibadah menjadikan mereka mampu mencapai ketakwaan tertinggi. Berlokasi di Jl. Jatiningsih, Jitar Kulon, Sumberarum, Kec. Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tempat ibadah ini juga memberikan manfaat besar bagi masyarakat sebagai pusat perekonomian setempat.
Angin yang datang dari arah timur seakan membasuh lembut jiwa, mendatangkan kedamaian dan kekhusyukan dalam pengabdian. Goa Maria didedikasikan oleh aktivis Katolik untuk jemaah yang tinggal jauh dari gereja. Kilas balik dari penamaan Goa Maria berasal dari konsep penggabungan spiritual dan alam, yang berpusat pada Goa Maria pertama di negara Prancis. Berdiri pada tahun 1986, tepatnya Goa Maria ini sudah berusia 39 tahun.
“Awalnya itu kan kita, kelompok lingkungan sini, kalau bekerja kan jauh. Ya, untuk transportasi juga, kan belum begitu, kan ya? Terus, kita kalau kumpul di satu rumah, tidak mencukupi. Akhirnya, dari Buddha Ryosaka itu mengusulkan untuk kita mendirikan rumah ibadat yang beratapkan langit. Terus, dari keluarga Bapak Purwawidono itu menghibahkan tanahnya yang depan Goa Maria itu untuk didirikan tempat doa,” ujar Indri (37), sekretarian pengelola Goa Maria yang suda mengabdi selama 15 tahun.
Pepatah mengatakan, jika kita menginginkan sesuatu, maka alam akan bersatu untuk mengabulkannya. Hal tersebut sangat berlaku di tempat sembahyang ini. Perpaduan iman dan kedamaian alam menjadi pondasi kuat jemaah dalam beribadah. Tak hanya satu atau dua jam, bahkan di antara mereka ada yang dapat berdiam diri di hadapan Bunda Maria berhari-hari hingga kesaksian iman itu datang. Mereka datang dengan penuh harapan dan pergi dengan gembira, karena mereka percaya doa yang sudah disemayamkan akan bersama Ratu Perdamaian dan diteruskan pada damai itu sendiri, yaitu Yesus.
Ketika memasuki gerbang, jemaah akan disambut dengan kicauan alam yang seolah bersaksi bahwa tempat ini merupakan tempat terbaik bagi jamaahnya. Bukan sekadar tempat peribadatan, tetapi juga sebagai edukasi rohani bagi agamanya dan juga bagi lintas agama lain, dengan luas ± 500 m². Ds. Putut (53), sebagai ketua pengelola, menjelaskan bahwa pencarian tanah tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan penuh perhitungan dan perencanaan. “Ketika kita akan membangun tempat ini, bukan asal-asalan, tapi sudah ada perhitungannya. Kita menyusuri sepanjang area ini, ternyata kok pas di tempat ini damai sekali, seperti sudah diberkahi dan diberi petunjuk oleh Bunda Maria. Tempatnya damai, anginnya semilir, tenang sekali di sini,” jelasnya.
Goa Maria bukanlah sekadar pusat peribadatan, melainkan kedamaian yang dapat dicapai, bahkan melebihi ibadah di gereja. Bukan hanya umat Katolik, tetapi semua agama yang berkunjung dapat merasakannya. Goa Maria merupakan wisata rohani yang dapat didatangi oleh semua orang dari berbagai agama. Tak ada perbedaan di sini; toleransi dijunjung tinggi, saling menghargai, dan saling menjunjung tinggi keyakinan. Dalam perjalanan rohani, para jemaah akan disediakan lilin dan air suci untuk berdoa, yang tersedia di pintu masuk Goa Maria. Setelah itu, mereka akan mengisi buku kehadiran. Barulah mereka berjalan tak jauh dari situ untuk duduk di hadapan Bunda Maria yang diletakkan dalam goa. Banyak dari mereka yang meneteskan air mata saat berdoa, mengaku dosa, dan menunggu kesaksian iman.
Tak hanya patung Bunda Maria, tetapi Goa Maria juga menghadirkan edukasi rohani yang menyeluruh, seperti Tirto Wening Banyu Panguripan, Devosi Salib Milenium, Sumur Yakob, Sakramen Mahakudus, Doa Jalan Salib, Devosi Salib Golgota, Devosi Pieta, Devosi Bunda Maria Ratu Perdamaian, dan Taman Alkitab. Meski terletak di pinggir hutan dan Sungai Ponggok, tempat ini dan sekitarnya bersih dari sampah organik maupun non-organik. Dari segi bangunan pun juga terawat. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa pengelola dan masyarakat bahu-membahu dalam menjaga kelestarian serta merawat bangunan yang tak pernah mengalami perubahan sejak 39 tahun lamanya.
Bangunan besar yang berpijak pada alam ini sering dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah, bahkan dari luar Pulau Jawa. Tak hanya rombongan keluarga, tetapi juga rombongan pariwisata pun sering mendatangi tempat suci nan asri ini. Suara aliran sungai yang menjadi koneksi keterikatan batin dan Tuhan memberikan daya tarik tersendiri untuk meningkatkan nilai-nilai spiritual. Tak heran jika tempat ini menjadi salah satu tempat terbaik dalam pertemuan hamba dengan Tuhannya. Ds. Putut menjelaskan, terdapat seorang Muslim yang datang dan mengambil tidak hanya satu lilin, tetapi empat lilin dan satu air suci. Meski begitu, ia tetap berdoa sesuai keyakinannya, karena merasa bahwa di tempat ini, kedamaian dapat ditembus dengan mudah. “Pernah suatu hari ada orang Muslim yang datang bawa empat lilin dan air suci. Dia duduk bermalam di hadapan Bunda Maria, berdoa sesuai kepercayaannya, karena dia merasa nyaman kalau di sini,” ujar Ds. Putut.
Kesaksian juga hadir dari suster yoshe (55) tentang Goa Maria, “Bagi saya, alam adalah sesuatu yang dekat dengan kehidupan manusia. Jadi, istilahnya kedekatan relasi antara Allah dengan manusia itu sangat terasa sekali sehingga itu bisa menjadi pendorong, penyemangat dalam hidup saya. Bersama dengan Bunda Maria, sebagai tempat berdoa, memohon, bersyukur. Jadi, kalau berdoa tidak hanya memohon, tapi juga bersyukur dengan alam bersama dengan alam yang disini, yang sejuk, lahir maupun batin.”
Meski merupakan tempat ibadah bagi umat Katolik, tempat ini tidak diizinkan untuk menyelenggarakan ibadah sakral seperti adat pernikahan, Hari Paskah, dan Natal. Hanya kegiatan misa dan perayaan kecil lainnya yang diperbolehkan. Terdapat sebuah pesan umum yang terletak di samping kanan patung Bunda Maria, yaitu “Neng Ning Nung Nang,” yang memiliki arti: neng berarti meneng (diam), ning berarti wening (hening), nung berarti dunung (paham), dan nang berarti menang (menang). Pesan ini merupakan sebuah laku rohani dari Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo yang diambil dari kebudayaan Jawa, yang keseluruhannya berhubungan dengan proses ibadah yang menekankan keheningan eksternal, keheningan internal, kesatuan, dan kemenangan batin.
메타데이터
- post_id
- 00e0e2ce06bf
- slug
- goa-maria-jatiningsih-ruang-iman-dan-edukasi-di-tengah-alam-00e0e2ce06bf
- url
- https://medium.com/@tsaniaqonita2/goa-maria-jatiningsih-ruang-iman-dan-edukasi-di-tengah-alam-00e0e2ce06bf
- canonical_url
- https://medium.com/@tsaniaqonita2/goa-maria-jatiningsih-ruang-iman-dan-edukasi-di-tengah-alam-00e0e2ce06bf
- author_url
- https://medium.com/@tsaniaqonita2
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 15:40:36