Ambisi, Ya?
Dulu, abis pengumuman SNBT 2024 (as my high school graduation year), aku pernah bikin cuitan di twiter (X). “Aku mau SNBT ulang tahun…
Ambisi, Ya?
Photo by Maddy Weiss on Unsplash
Dulu, abis pengumuman SNBT 2024 (as my high school graduation year), aku pernah bikin cuitan di twiter (X). “Aku mau SNBT ulang tahun depan.” Awalnya, aku punya niat seperti ini biar aku termotivasi belajar karena emang aku jadi paus terdampar banget bulan itu.
Udahlah jadi malesan karena jadwalku agak rusak karena ada keluarga yang masuk rumah sakit, ngerasa sedih karena aku lagi ngerasa jadi independen girl itu, dan nggak ada tuh adrenalin sama sekali buat ikut mandiri karena ngerasa aman udah ada back up swasta.
Akan tetapi, lama-lama, motivasi itu jadi hilang dan timbul motivasi baru. Ayo, kita belajar di detik-detik terakhir kayak kemarin mau SNBT aja. Kamu, lho, nggak serius belajar kalau nggak punya target yang di depan mata.
Kalian tahu tahu arti dari pikiranku ini apa? Ya, motivasiku berubah jadi obsesi buat ngejar pionir UGM atau nyari buaya di TemCy, as they are my dream — sampai sekarang masih tiba-tiba galauin Undip, sih.
Selama beberapa bulan aku nggak pernah ngomong ke orang tua. Cuma ngomong ke kakakku ketika niatku masihlah karena ingin belajar karena pingin didukung untuk belajar lagi buat UTBK dan ngasah otak biar nggak tumpul.
Di akhir cerita, akhirnya aku ngomong ke ibu. Bukan serious-way sih, lebih ke, “Menurut Ibu, jadi mahasiswa penasaran itu boleh nggak, sih?”
Dan beliau jawab, “Enggak. Kasian mereka yang rangkingnya tepat paling di bawah yang lulus dan just can efford for SNBT’s UKT, tapi malah kamu geser kesempatan dia untuk itu.”
Sebenarnya aku juga pingin jawab lagi, “rezeki orang kan masing-masing, Bu.” Atau kalau nggak gitu aku pingin ngomong in serious way kalau aku mau ngejar UGM dan Undip.
Namun, aku sadar. Ibuku bukan orang yang bisa mentolerir orang dengan pendirian nggak kuat kayak gitu. Aku juga takut bikin mood ibuku makin rusak karena emang lagi masanya beliau sibuk dan capek.
Terus, di saat yang sama, aku ngerasa overwhelmed banget karena aku ketolak salah satu beasiswa yang aku apply. It’s my mistake. I know it for real. Apalagi akunya yang salah karena nggak baca pengumuman yang bikin aku nggak ngerjain task pertama.
“Bodoh banget lo. Tolol.”
Itu kata pertama yang aku ucap ke diriku. Padahal di sisi lain aku tahu kalau berbicara kotor ke diri juga nggak bagus. Astaghfirullah. Detik ketika aku sadar, aku cuma bisa banyakin istighfar.
Sedih? Iyalah pakai ditanya.
Terus aku pindah tempat setelah ngomong kayak tadi ke Ibu. Aku ngerjain tugasku kayak biasa sambil dengerin ceramah Ust Adi Hidayat. Beliau bilang kurang lebih seperti ini,
“Move on segera ketika apa yang kamu harapkan tidak sesuai dengan apa yang kamu mau. Allah pasti udah siapin yang lebih baik. Allah cuma nunggu kapan kamu mau buka mata untuk ngeliat sisi yang lebih baik itu. Tolong lihat ke belakang. Adakah masalah-masalahmu yang dulu itu nggak selesai? Semua yang sudah berlalu itukan sudah selesai entah sebesar apapun masalahnya. Jadi, kenapa masalah sekecil ini yang baru saja menyandung kamu, kamu jadi melupakan belasan atau puluhan tahun yang telah berlalu?”
Aku setelah dengerin ceramah berdurasi 4 (eh, atau 7 ya) itu, rasanya langsung pingin nangis. Ya Allah, ampuni hamba-Mu yang masih banyak mengeluh ini. Kuatkan hamba untuk menghadapi selalu masalah hamba.
Aku emang bukan orang yang terbiasa dengan kegegalan yang mutlak. Sebelum ketolak UGM, ofc. Aku bisa dapetin apa yang aku mau dengan akalku (dan kehendak Allah). Aku nggak pernah gagal masuk SMP dan SMA yang aku mau (Kalau boleh sombong sih, selalu peringkat 1 waktu pendaftaran)
Paling cuma gagal dapet rangkin 1 atau sejenisnya. Saingan terberatku dulu pas SD bestieku soalnya. Saling tahu kelebihan dan kelemahan, deh. Pokonya gagalku itu nggak kelihatan banget kalau itu kegagalan, deh.
Terus ketika lagi sedih, baru deh reflecting. Dulu, kalau aku jadi ikut OSN waktu SMA, mungkin divisiku buyar karena divisiku hampir nggak ada yang back up dan mungkin aku nggak bisa bantu temenku yang kesusahan sama divisinya juga. Kalau dulu aku maksain ikut anak-anak ke pantai, nggak mungkin tuh aku punya pengalaman nginep di hotel bintang 3 dan dapet uang untuk tulisanku — first time getting paid for my writing, hehe. Dan banyak kalau-kalau yang lain.
Setelah refleksi semua itu, aku cuma mikir. Iya, selalu ada hal baik yang bisa dilihat kalau kita mau menerima apa adanya kita saat ini. Kamu hari ini kan apa yang kamu pilih di masa lalu dan atas kehandak yang Mahatahu dan Maha Segalanya. Nggak usah nyesel. Jadiin masa lalu itu buat pelajaran aja. Nggak perlu diratapi. Sekarang, mari rancang masa depan yang lebih baik aja.
Mungkin kalau masih ada waktu, kesempatan, dan keinginan, nggak salah kalau kamu mau masuk S2 di tempat-tempat yang kamu harapkan itu. Someday,
메타데이터
- post_id
- 014c3940f84d
- slug
- ambisi-ya-014c3940f84d
- url
- https://medium.com/@AU27Lee/ambisi-ya-014c3940f84d
- canonical_url
- https://medium.com/@AU27Lee/ambisi-ya-014c3940f84d
- author_url
- https://medium.com/@AU27Lee
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-22 13:40:40