mesin tik sang koresponden dan surat-suratnya
tags: kookv. domestic fluff. alternate universe. suicide attempts. latar inggris jaman baheula.
mesin tik sang koresponden dan surat-suratnya

**tags: **kookv. domestic fluff. alternate universe. suicide attempts. latar inggris jaman baheula.
Happy reading!
.
.
Rumor itu Taehyung dengar dari gadis pelayan yang bekerja di tempat Madam Bennet. Dia muncul di toko kecilnya setelah waktu makan siang, agak terburu-buru dengan rona merah di pipi, entah karena habis berlari-lari, entah karena dingin meski tanggal kalender masih menunjukan awal masuk musim gugur. Saat dia menghempaskan diri di kursi kayu di hadapan Taehyung, terpisah oleh meja mahoni dan mesin tik kolot, juga tumpukan kertas berbagai jenis dan warna, mata si gadis berkilat sumrigah. Gadis itu bernama Sophie, sudah Taehyung hafal di luar kepala.
“Anda pasti tidak percaya, Sir. Pendatang baru di kediaman Viscount Challinor rupanya pria yang tampan. Nona muda sampai mengirim saya ke sini cepat-cepat, katanya harus bergerak lebih dulu sebelum lebah-lebah lain datang!”
Sebelah alis Taehyung terangkat, merasa geli dengan istilah ‘lebah-lebah’ yang Sophie ucapkan. Sedikitnya Taehyung paham jika sudah berhubungan dengan pria tampan, pendatang baru, dan terlebih tinggal di kediaman seorang bangsawan, ‘lebah-lebah’ bisa berarti para wanita yang sama terpikatnya dengan si pria pendatang. Tidak jauh seperti Nona Muda yang menyuruh Sophie mampir ke toko Taehyung.
“Well, nona mudamu benar kalau begitu. Soalnya aku baru dengar mengenai si pria baru tampan ini. Dan sejauh ini belum ada yang memintaku menulis surat untuknya. Katakanlah, nona mudamu orang pertama.”
Sophie memekik senang. “Oh, pengamatan nona muda memang tajam!”
“Lalu, pria baru tampan itu, orangnya bagaimana?”
“Tidak terlihat seperti kebanyakan pria Eropa lainnya. Maksud saya, garis wajahnya terlihat seperti Anda, Sir.”
“Aku tampan berarti?”
Suara tawa Sophie mengudara. “Anda tampan, tapi tampan yang berbeda.” Taehyung berusaha untuk tidak mengerutkan kening mendengar komentar Sophie. Atau klasifikasi tampan menurut gadis itu. “Maksud saya, orang Asia. nona muda bilang dia adalah putra dari teman dekat Viscount Challinor. Katanya sedang menghabiskan liburan di sini setelah menyelesaikan studi di negaranya, juga membantu Viscount Challinor mengurusi manor.”
Orang Asia, baiklah, itu menarik. “Aku jauh lebih kagum dengan informasi yang kau dapat.”
“Jangan remehkan jaringan informasi nona muda,” sahut Sophie bangga, sebelah mata berkedip jenaka. “Di kota kecil seperti ini, informasi sekecil apapun bisa menyebar cepat seperti wabah. Jangankan di kalangan orang atas, informasi di antara para pelayan, di antara kami, tidak kalah cepatnya.” Gadis itu terdiam sejenak, kemudian mencondongkan tubuh ke arah Taehyung dengan sikap hati-hati. “Yang terakhir itu rahasia, jangan bilang siapa-siapa.”
Taehyung ikut mencondongkan badan dan berbisik sama pelannya. “Akan aku rahasiakan kalau nona mudamu mau menulis surat lagi untuk minggu depan.”
“Oh, dasar pria oportunis!” Sophie tergelak, tapi tidak terlihat tersinggung. “Jelas nona muda akan meminta Anda lagi untuk menulis surat pada pria yang diincarnya. Saya bahkan sampai bertanya-tanya apakah nona muda akan berhenti mengirimkan surat-surat itu setelah menikah nanti.”
“Berita buruknya, kalau nona mudamu menikah, aku akan kekurangan pelanggan setia.”
“Tidak perlu dramatis begitu, semua orang tahu pelanggan Anda itu banyak. Kekurangan satu pelanggan tidak akan berarti.”
Jari telunjuk Taehyung bergerak ke kanan dan ke kiri, kepala bergeleng pelan. “Tidak, tidak, pelanggan tetap pelanggan. Selalu ada tempat di hatiku untuk pelanggan setia seperti nona mudamu.”
“Gombal.” Saat menyadari bahwa mereka telah menghabiskan waktu sekitarnya sepuluh menit berbincang, Sophie dengan panik berkata. “Sudah cukup ceritanya, nona muda menyuruh saya kembali dengan cepat. Sekarang, bisa tolong buatkan surat kepada pria baru tampan ini, Sir?”
Ini adalah bagian menariknya, pikir Taehyung. Ia lekas memosisikan kesepuluh jemari di atas tuts mesin tik, melirik Sophie yang terlihat masih antusias seolah dia sendiri yang akan mengirimkan surat itu, lantas membiarkan kepalanya dipenuhi oleh berbagai kata, monolog, diksi, bahkan kalimat puitis jika perlu.
“Jadi, surat seperti apa yang perlu aku tulis?”
Dear Tuan Jeon Jungkook,
Sewaktu saya mendengar bahwa Wandsworth — lebih tepatnya kediaman Viscount Challinor — telah kedatangan penghuni baru, saya langsung bertanya-tanya. Karena, terus terang saja, sang Viscount jarang sekali mengundang seseorang. Kalau tidak salah, sepupunya yang jauh pernah mampir sekitar dua tahun lalu.
Tolong jangan salah paham, saya tidak bermaksud apa-apa. Viscount Challinor sudah cukup lama hidup bersama istrinya semenjak dua putranya pindah ke London, jadi kedatangan Anda kemari sepertinya akan memberikan warna baru bagi sang viscount dan viscountess. Mereka adalah pasangan yang dicintai di sini.
Lalu, kejadian unik terjadi. Apakah Anda ingat seorang perempuan yang Anda tolong karena hampir terpeleset gaunnya sendiri? Iya, kedengaran konyol dan tidak mencerminkan sikap seorang lady. Tapi berkat Anda, saya jadi tidak perlu dipermalukan di depan publik karena jatuh ke dalam danau. Dan, Anda benar, gadis itu adalah saya.
Sejak hari itu, ada tiga hal yang terus berkecamuk dalam kepala saya.
Pertama, saya berterima kasih karena Anda sudah menolong saya waktu itu.
Kedua, fakta bahwa orang yang mendiami kediaman Viscount Challinor adalah Anda, membuat saya terkejut — untuk kedua kalinya, setelah insiden hampir kecebur — dan berpikir bahwa dunia ini sempit sekali.
Ketiga, saya harap surat ini bisa menjadi awal terjalinnya komunikasi lebih lanjut lagi.
Perkenalkan, saya Clara Bennet.
Dua hari kemudian, toko Taehyung banjir pelanggan.
Ucapan Sophie mengenai lebah-lebah lain datang (yang sebenarnya istilah dari Clara dan diucapkan kembali oleh Sophie kepada Taehyung) untuk berkirim surat pada orang yang sama, bukanlah bualan semata. Termasuk ungkapan bahwa informasi bisa menyebar secepat wabah. Wanita muda, remaja dimabuk asmara, mereka yang sekadar dilanda rasa penasaran, para ibu pencari menantu, bahkan pria oportunis demi memperpanjang koneksi dengan sang viscount— meminta Taehyung untuk membuatkan surat yang akan dikirimkan kepada orang serupa.
.
Dear Sir Jeon Jungkook—
Terima kasih sudah mampir ke toko bunga kecil kami. Anda tahu, bunga anyelir merah muda yang Anda beli kemarin adalah kesukaan Viscountess. Sungguh gentleman bijak. Jika Anda memiliki pertanyaan lain mengenai bunga, Anda bisa langsung menghubungi saya selaku si wanita florist. Saya memberikan bunga kering gardenia sebagai ucapan terima kasih dan salam perkenalan dengan Anda.
Kedatangan Anda selanjutnya sangat dinantikan.
.
Dear Tuan Jeon Jungkook,
Kalau saja saya punya keberanian menyapa Anda di pesta dansa malam akhir pekan kemarin, mungkin surat ini tidak akan sampai di meja Anda. Tapi pepatah berkata bahwa surat adalah isi terdalam relung hati seseorang, selembar kertas berisi frasa untuk menyatukan orang-orang — para manusia — yang kesulitan berbahasa dengan bibirnya sendiri. Bahkan, secuil keberanian yang tidak saya dapatkan ketika di pesta dansa.
Saya harap dengan surat ini, saya bisa mengenal Anda lebih jauh lagi.
.
Yang terhormat, Tuan Jeon Jungkook,
Sungguh suatu kebahagiaan bisa bertemu dengan gentleman sebaik Anda. Tidak hanya itu, Anda juga pandai sekali membuat perbincangan jauh lebih seru. Saya pasti kalah kalau melakukan tawar-menawar dalam dunia bisnis jika lawannya Anda, hahaha.
Tapi, bukan itu inti dari surat ini. Saya ingin mengajak Anda untuk menghadiri acara pacuan kuda di akhir bulan ini. Wandsworth punya Akhal-teke tercepat! Setelahnya, saya akan kenalkan Anda dengan alkohol terbaik di kota ini. Tempatnya begitu elegan dan nomor satu.
Saya nantikan kabar baik dari Anda.
.
Dear Sir Jeon Jungkook. Kepada Tuan Jeon Jungkook. Selamat pagi, siang, malam Jeon Jungkook. Dear, dear, dear—
Dear diary, Taehyung lama-lama muak mendengar dan menulis tentang pria bernama Jeon Jungkook!
Memang, sehebat apa orang bernama Jeon Jungkook itu?
“Menurut Bibi, sehebat apa penulis asli di balik surat-surat ini?”
Viscountess Challinor mengerling pria muda yang duduk di sampingnya dengan cermat, di gazebo taman belakang manor kala langit dipenuhi warna oranye. Walau kerut di ujung mata birunya telah mencerminkan wajah itu semakin dimakan usia, tapi binar mata dan bagaimana dia menaruh minat pada pertanyaan Jeon Jungkook tadi menunjukan bahwa senar dalam otaknya masih berfungsi amat sangat baik. Kecerdasan yang diasah dalam lika-liku hidupnya belum hilang.
“Bagaimana kau bisa tahu? Kalau surat-surat itu ditulis oleh orang yang sama?”
“Aku benar, berarti?” Jungkook mengulas senyum lebar.
“Jangan terlalu percaya diri, anak muda,” tegur Viscountess Challinor, rasa geli terselip dalam nada suaranya. “Untuk orang baru sepertimu, yang jelas belum tahu seluk beluk kota ini, bisa menyadari kalau surat-surat itu ditulis oleh orang yang sama dengan hanya membacanya cukup… mengejutkan.”
“Hemm…”
Mendengar pujian secara tersirat itu, jelas hidung Jungkook semakin mengembang. Ia menopang dagu dengan satu tangan, secangkir teh persik dan separuh puding yang telah dilahapnya terlupakan sejenak, kadung terpancing dengan ucapan sang viscountess.
“Kalau diibaratkan penerima surat-suratku adalah orang lain, apa mereka sadar kalau pengirimnya bukan penulis aslinya? Bibi pasti tahu maksudku. Misal — ” Jungkook menunjuk selembar kertas sewarna salem yang mencuat dari salah satu amplop, kertas mahal dengan stempel lilin marun, “ — pengirim surat ini adalah gadis yang aku temui di pesta dansa, tapi aku juga tahu bukan dia yang benar-benar menulisnya.”
Jawaban Viscountess Challinor tidak langsung muncul. Seolah dengan sengaja memberikan jeda untuk menarik rasa penasaran Jungkook. Dia bahkan tampak begitu menikmati teh sorenya dan membiarkan Jungkook menunggu. Sementara Jungkook, tahu bahwa wanita kolot di hadapannya itu memang senang bercanda (orang bilang bercanda dengan cara elegan — pfft), dengan senang hati mengikuti permainannya.
Selang beberapa detik, suara Viscountess Challinor kembali terdengar. “Kadang tidak semua orang bisa langsung tahu, termasuk penerimanya sendiri. Sekali pun sudah jadi rahasia umum kalau di kota ini ada seseorang yang dengan cerdasnya menawarkan jasa menulis surat.”
“Maaf?”
“Kau tidak salah dengar, kok. Jasa menulis surat itu memang ada.”
“Maksud Bibi, kita membayar seseorang untuk menulis surat yang nantinya akan dikirimkan pada orang lain?”
“Memang begitu cara kerjanya.”
“Aneh.”
“Hidup memang selalu dipenuhi hal-hal aneh, mon cher. Ada orang-orang yang tidak bisa mengatakan isi hatinya secara gamblang, baik lisan maupun tulisan. Dan saat akhirnya mereka menemukan seseorang yang bisa menuliskan perasaan mereka, jasa menulis surat tidak ada salahnya.”
Jungkook tertegun. Ia tatap sekali lagi surat sewarna salem di jemarinya, mendadak teringat dengan kalimat: surat adalah isi terdalam relung hati seseorang, selembar kertas berisi frasa untuk menyatukan orang-orang — para manusia — yang kesulitan berbahasa dengan bibirnya sendiri.
“That’s beautiful.”
Kepala Jungkook refleks mendongak, tidak sadar bahwa ia menggumamkan kalimat tadi hingga sampai di telinga sang viscountess. Namun, setelahnya dia tak berkomentar apa-apa lagi, ucapan Viscountess Challinor sebelumnya murni sebagai bentuk pujian.
“Lalu, bagaimana kau bisa tahu surat-surat itu ditulis oleh orang yang sama?”
“Intuisi… penikmat cerita fiksi.” Kekeh Jungkook mengudara renyah. “Bibi tahu, itu seperti kita menyukai penulis tertentu dan karya-karyanya. Kita bisa mengenali tulisannya sekali pun si penulis menggunakan nama pena yang berbeda. Aku tahu dalam semua surat ini maksud dan isi hati pengirimnya tersampaikan, pesan mereka tersampaikan, Tapi, aku juga tahu kalau jejak penulisnya ada di sana. Meskipun tipis.” Ia berhenti sesaat, berpikir, lalu tergelak seakan menertawakan dirinya sendiri. “Aneh.”
.
“Jadi, menurut Bibi, sehebat apa penulis asli di balik surat-surat ini?”
“Dia mesin tik berjalan.”
“… maaf?”
Toko kecil di persimpangan jalan itu disebut Correspondent’s Typewriter — mesin tik milik si koresponden. Diapit oleh toko buku bekas dan toko roti di sisi kanan dan kirinya. Taehyung sendiri yang memutuskan namanya setelah semalam suntuk berpikir keras dan dengan berat hati menggeser tiga opsi lain — Letter with Taetae, Daily Envelope!!! (harus lengkap dengan tiga tanda seru, dan kalau dipikir-pikir judulnya seperti warta koran harian), dan schrijfmachine (ditulis dalam lowercase, artinya sama saja mesin tik, tapi dalam bahasa Belanda agar terdengar lebih keren). Namun, entah mengapa opsi Correspondent’s Typewriter menjadi pilihan Taehyung.
Umumnya orang akan berpikir sebuah mesin tik kolot dengan tuts-tuts bulat, warna membosankan, dan mengeluarkan bunyi tek tek tek, ting! sebagai tanda kalimat selanjutnya perlu berpindah ke paragraf baru. Akan tetapi dalam imaji Taehyung, di antara tuts mesin itu terdapat sulur-sulur tanaman hijau dengan berbagai bunga kecil; daisy, lily of valley, chamomile — dengan harapan bahwa setiap surat yang akan diketiknya bisa mengantarkan kebahagiaan bagi para penerima.
Tak lama setelah toko itu resmi dibuka bagi publik, Taehyung jadi bahan tertawaan.
Edmund, si pengantar susu di pagi hari, bilang kalau Taehyung jelek sekali dalam menentukan nama, nyaris tak ada bakat. Laki-laki jangkung berumur sembilan belas tahun itu sampai terpingkal-pingkal saat melewati toko Taehyung, satu tangannya pernah bergetar ketika memberikan sebotol susu karena menahan tawa, untung tidak sampai jatuh.
Walaupun sempat dilanda kesal, Taehyung tidak benar-benar menaruh dendam padanya. Sebab, surat pertama yang diminta Edmund untuk ia tulis dibuka dengan kalimat: ‘Yang tersayang Elle, jika cara mati seseorang bisa ditentukan, aku akan memilihkan untukmu tanpa rasa sakit.’. Setelah itu, tawa cemooh Edmund berubah menjadi tawa cerah sebagai pembuka hari.
Semula satu dua surat dalam tujuh hari, kemudian bertambah menjadi belasan, lalu puluhan, hingga ratusan setiap minggunya dan Taehyung sadar bahwa ia juga punya limit. Jadi, ketika Edmund mengusulkan ide beri batasan satu hari untuk dua puluh surat, Taehyung setuju. Karena mendengarkan keinginan pelanggan akan lebih memakan waktu ketimbang mengetik suratnya.
Terkadang, cerita-cerita yang Taehyung dengar bisa menguras tenaga bahkan sebelum surat itu ditulis.
Terkadang, meski dilanda rasa haru, kepercayaan mereka memberatkan pundak Taehyung.
“Astaga! Surat-suratku!”
Kepala macet sialan, buntu menulis sialan, juga angin kencang sialan.
Mesin tik di pangkuan Taehyung nyaris menggelinding ke dalam danau saat ia spontan berdiri untuk meraih lembaran surat yang telah ditulisnya melayang acak diterpa angin. Separuh terselamatkan, separuhnya mengapung di atas genangan air, separuhnya lagi terinjak-injak ketika Taehyung berlari kesetanan demi menyelamatkan surat-surat itu. Satu sisi ia lega karena itu bukanlah surat permintaan pelanggan, karena surat pelanggan akan selesai di tempat saat mereka datang ke toko. Namun, satu sisi lainnya, Taehyung meratap pedih karena itu adalah surat yang ditujukan untuknya. Surat yang tidak Taehyung tulis, tetapi dikirimkan kepadanya.
Sebagian besar adalah ucapan rasa terima kasih, luapan bahagia, bahkan berita sederhana bahwa salah satu pelanggan Taehyung sedang belajar juga menulis surat. Meskipun isinya tidak sepanjang surat yang pernah Taehyung tulis, tetapi pesan-pesan itu murni ungkapan hati mereka.
Taehyung sengaja menutup toko lebih cepat sore ini untuk membalasnya. Ia memilih bukit lereng rendah tak jauh dari taman kota sebagai refreshing dari rutinitas yang membuat kepalanya mumet. Pepohonan besar, danau dengan angsa-angsa di permukaan air, bangunan manor Viscount Challinor nampak megah dari kejauhan, langit oranye dengan awan keunguan hingga batas horizon. Alih-alih jernih, kepala Taehyung makin runyam.
Ia mengutuk habis-habisan sembari meraih beberapa kertas di permukaan danau, membiarkan kakinya tenggelam sampai betis. Masa bodoh dengan basah, surat-surat itu harus segera dikeringkan di dekat perapian, kemudian akan Taehyung setrika jika tinta setiap aksaranya tidak luntur. Dan kalau pun luntur, akan tetap Taehyung simpan baik-baik.
“Butuh bantuan?”
“Menurutmu?” Sadar nada suaranya terdengar ketus, pun sadar kalau rupanya ia tidak sedang sendirian, kepala Taehyung lekas mendongak. “Oh.”
Ia dihadapkan dengan seorang figur laki-laki bersetelan kemeja putih dipadu vest berwarna beige, lengan kemeja digulung hingga sebatas siku, celana khaki indigo, dan blazer sewarna celana tersampir di bahu kiri. Seorang gentleman, mungkin satu dari sekian kalangan atas, pikir Taehyung, orang kaya, tambahnya iri dengki — astaga. Wajahnya tidak terlihat terlalu jelas karena topi fedora, tapi Taehyung menebak bahwa pria di hadapannya ini asing. Atau, begitulah sejauh ingatan Taehyung.
Barangkali kebingungan karena Taehyung statis, pria itu inisiatif mengulurkan tangan padanya. Sungguh aneh bagaimana Taehyung menerima uluran itu tanpa berpikir dua kali. Atau mungkin karena prioritas utama adalah menyelamatkan surat yang basah, Taehyung jadi tidak ragu. Ia hampir terpeleset jika si pria fedora tidak mencengkram pergelangan tangan Taehyung dengan gesit, lalu menariknya keluar dari tepi danau.
“Trims — maksud saya, terima kasih.” Gentleman, kalangan atas. “Dan maaf saya tadi agak kasar, saya tidak menyadari kalau ada orang lain di sini.”
Senyum tipis. “Not to fret.”
Merasa canggung, Taehyung sengaja menyibukkan diri dengan mengambil lembaran kertas lainnya. Ia pura-pura tidak tahu begitu si pria fedora ikut membantu. Setelah surat-surat itu terkumpul, Taehyung beringsut cepat menuju mesin tik yang sempat terlupakan, teronggok kesepian. Empuknya lapisan tanah dan rumput-rumput liar tidak membuat mesin tiknya rusak karena benturan. Taehyung bernapas lega.
“Ah, penulis surat dari toko Correspondent’s Typewriter.”
Edmund benar, kalau diucapkan langsung begitu namanya jelek juga.
Taehyung terbiasa dikenali sebagai penulis surat, karena itu ia tidak begitu terkejut oleh ucapan si pria fedora. Entah karena wajah, entah karena mesin tik dan kertas telah menjadi nama tengah Taehyung.
“Suatu kehormatan bisa dikenali oleh Anda,” balas Taehyung sopan, senyum bisnis diulas lebar. “Anda mau menulis surat?”
Jeda sejenak. “Masih belum terpikirkan.”
“Kalau sudah terpikirkan, Anda tahu mencari saya di mana.”
“I know,” katanya sambil tertawa kecil. “Omong-omong, surat untuk Jeon Jungkook?”
Hei, tidak sopan! Kening Taehyung bekerut samar. Si pria fedora melirik salah satu kertas di tangan, lembaran yang dia bantu selamatkan. Sepertinya yang dia baca merupakan satu dari sekian surat dari pelanggannya yang masih membahas si pria baru tampan di kediaman Viscount Challinor. Tapi tetap saja, membaca surat orang lain tanpa izin sangatlah tidak mencerminkan sikap gentleman.
“Yah, topik terhangat saat ini. Pelanggan-pelanggan saya terus membicarakannya sampai kuping saya sakit.” Lupakan tata krama, apa pula itu tata krama. “Tapi saya menyayangi pelanggan-pelanggan saya, jadi untuk mereka, apa yang tidak?” Taehyung merasa keren mengatakan itu, haha.
“Sebegitu seringnya? Maksud saya, obrolan tentang Jeon Jungkook?”
“Jangan ditanya. Malah saya jadi bertanya-tanya ‘siapa sih sebenarnya Jeon Jungkook’. Saya cuma penasaran karena katanya pria baru tampan ini — kata seorang pelanggan, bukan kata saya — berasal dari negara kelahiran saya juga. Korea Selatan, orang Asia, dan semacamnya.”
“Kalau begitu, kenapa tidak Anda tanyakan langsung?”
Tawa Taehyung lolos dengan mudah, sesaat saja, karena kemudian ia baru kembali menoleh untuk melihat lebih jelas wajah si pria fedora. Taehyung bahkan belum sepenuhnya memproses maksud ucapan pria itu ketika topi fedora yang menutup separuh kepalanya dilepas, memperlihatkan sepasang mata gelap jernih, potongan rambut undercut rapi hingga garis tulang mandibula terlihat lebih tegas, dan definisi sesungguhnya dari pria baru tampan yang seringkali diocehkan Sophie.
“Tidak pakai surat juga tidak apa-apa, Anda bisa langsung tanyakan pada saya.” Mata berkilat jail. “Perkenalkan, saya Jeon Jungkook.”
Taehyung bahkan baru menyadari kalau sejak tadi pria itu berbicara dalam bahasa Ibunya!
Dear Sophie (teman bergunjing terbaikku),
Seumpama — andaikan, ibarat, misalkan, apa pun itu yang jelas hanya sekadar bayangan — kau meracau tentang si Pria Baru Tampan karena terlalu sering mendengar namanya sampai kupingmu sakit, dan menceritakan hal itu kepada seseorang, lalu ternyata seseorang itu adalah PRIA BARU TAMPAN itu sendiri (yang bahkan kau baru tahu setelah meracau)—
— apa yang akan kaulakukan?
Dengan hangat,
Taehyung.
.
Dear Kim Taehyung (penulis surat terbaik saya),
Jawabannya mudah, Sir.
Saya akan mengubur diri saya dalam-dalam.
Dengan penuh tawa,
Sophie.
Seakan takdir belum cukup puas untuk menertawakan Taehyung.
Pagi itu, surat undangan terbuka pesta minum teh sore di manor Viscount Challinor dialamatkan ke tokonya. Pada minggu tertentu di musim gugur, saat daun maple mulai berubah menjadi kuning, merah, kuning-kecoklatan, dan suhu belum benar-benar membuat tubuh menggigil, sang viscount membuka halaman depan manornya yang terlihat selaik bentangan padang rumput untuk dijadikan acara teh minum sore bersama warga. Ratusan kudapan disajikan, permainan festival diadakan, berbagai dansa dilakukan; folk dance, tango, samba, dan yang paling dinantikan (terutama bagi para lady) tentunya adalah waltz.
Sewaktu Taehyung memberi presentase enam puluh persen untuk menolak undangan sang viscount, selembar surat lain terselip. Surat itu terlepas dan jatuh di dekat kaki, nyaris tidak Taehyung sadari. Kertasnya tidak sebesar kertas surat pada umumnya, lebih tebal, kualitas mahal, dan selintas tercium aroma lavender. Entah mengapa mengingatkan Taehyung akan aroma kertas buku baru. Ia mendapati tulisan cantik tegak bersambung, kebalikan dari aksara kaku hasil mesin tik, dan lekas mengenali siapa pengirimnya.
.
Dear Taehyung,
Aku harap surat ini bisa sampai kepadamu sebelum kau memantapkan hati untuk menolak undangan teh minum sore di kediaman kami. Oh, jelas aku tahu apa yang kau pikirkan, mon cherie. Kau selalu berada di antara orang-orang, di setiap frasa para penerima surat, di cerita orang lain, tapi sebisa mungkin menghindari hal-hal semacam pesta.
Jadi, aku ingin memberimu penawaran menarik.
Datanglah ke acara minum teh sore minggu ini. Bukan sebagai Kim Taehyung, tapi sebagai si penulis surat. Tidak perlu menulis surat seperti yang biasanya kau lakukan, tidak perlu terlalu panjang, dan surat-surat itu akan diberikan tema khusus sehingga kau tidak akan kewalahan saat menulis.
Kau cukup menulis untuk mereka, untuk kami, untukku.
Dan tentu saja, penawaran ini tidak gratis. Tolong pertimbangkan.
Viscountess Challinor.
.
Lagi pula, orang gila mana yang akan terang-terangan menolak permintaan seorang Viscountess.
At the end of the day, kemenangan akan berpihak bagi mereka yang punya kuasa tinggi. Taehyung tersenyum kecut, ia tahu ia tidak bisa membenci pasangan Challinor sebab mereka adalah orang baik, dan Taehyung lemah terhadap orang baik.
Karena itulah ia harus bersabar dengan kemeja berenda yang dikenakannya, kerah leher tinggi, dan cravat berlapis seakan mencekik lehernya. Ia sengaja menanggalkan vest dan tuksedonya di toko, berpikir bahwa bagian baju lengan yang melonceng akan lebih memudahkan Taehyung begerak. Mengetik dengan pakaian terlalu pas membuat lengannya jadi cepat pegal.
Viscountess Challinor adalah wanita tua yang cerdas (kalau tidak ingin disebut punya selera humor tersendiri, atau jail) dan nampaknya dengan sengaja menempatkan Taehyung tak jauh dari gazebo di mana sang viscountess menikmati teh sorenya. Ia diberikan sebuah patio kecil, lengkap dengan meja putih untuk menaruh mesin tik bersama ratusan lembar kertas yang Taehyung sediakan, sebuah kursi kayu, teko teh dengan cangkir cantik dan berbagai macam kudapan manis di atas meja bundar yang lebih kecil. Seolah-olah terdapat palang imajiner: ‘Ingin menulis surat tapi tidak tahu caranya? Atau kesulitan mengungkapkan isi hati? Datanglah kepada Kim Taehyung! Si penulis surat sebagai solusi terbaik.’
Dan benar saja, tidak sampai satu jam Taehyung memosisikan diri, berbondong-bondong pengunjung memenuhi pationya sampai membentuk barisan panjang. Kebanyakan dari mereka adalah para lady (parfumnya membuat kepala Taehyung pening), meski tak jarang juga laki-laki muda, remaja penasaran, bahkan wanita atau pria yang sudah berkeriput ikut meramaikan patio Taehyung.
Kepada masa lalu, katanya, tema khusus yang dipilihan Viscountess Challinor. Pengunjung diminta untuk memikirkan apa yang akan mereka katakan untuk diri mereka di masa lalu, atau sesuatu yang tidak sempat tersampaikan kala itu. Kertas suratnya sengaja dibuat lebih minimalis dibandingkan kertas surat pada umumnya, sehingga Taehyung tidak akan kelimpungan. Terus terang saja, keputusan sang viscountess soal tema adalah pilihan yang sangat tepat. Terlepas dari fakta bahwa cara itu lebih efisien bagi Taehyung untuk membuat surat, ia seakan diberi sudut pandang berbeda.
Selama ini, ia mendengarkan setiap cerita para pelanggannya dengan sepenuh hati, dan paham benar bahwa kata-kata yang tidak sanggup mereka ucapkan ditujukan kepada orang lain. Surat adalah komunikasi secara mutual, ungkapan antara pengirim dan penerima. Walau tidak bisa diucapkan secara lisan, tetapi setiap aksara yang tertulis membentuk kata, terangkai menjadi kalimat, dan menegas dalam makna tetap tersampaikan bagi mereka yang membacanya.
Namun, siapa yang akan menduga menulis surat kepada diri sendiri rupanya jauh lebih sulit dibandingkan menulis untuk orang lain?
.
Musim gugur tiga tahun silam,
Kau akan baik-baik saja tiga tahun dari sekarang. Orang yang sudah mati tidak akan kembali lagi, tapi waktu akan terus berjalan bagi mereka yang ditinggalkan.
.
Kepada kau di hari ulang tahun ketujuh belas,
Maafkan Ayah lebih cepat. Di masa depan kesempatan itu tidak akan ada.
.
Si Bodoh empat tahun lalu,
Lamar dia, jangan pernah ragu. Sehingga wajahnya tidak akan penuh lebam karena orang lain. Pernikahan adalah komitmen seumur hidup.
“Kau oke?”
Tidak, Taehyung tidak sanggup. Ia lupa kejam secara diam-diam bisa menjadi nama tengah sang viscountess, kalau wanita tua itu mau melakukannya. Seperti sekarang ini. Beruntung Taehyung seorang professional, pegal yang menjalari setiap jarinya hingga keriting menjadi bukti bahwa ia berhasil mengetik seratus surat selama acara minum teh berlangsung. Sebelum akhirnya ia menyerah dan segera mengasingkan diri ke hutan kecil di belakang manor. Ketika Taehyung menemukan lahan rerumputan cukup luas dipenuhi bunga daisy yang mulai mengering, tubuhnya spontan telentang bebas.
Itu adalah sepuluh menit dipenuhi keheningan yang menyenangkan sebelum interupsi muncul.
Saat Taehyung membuka mata, wajah Jeon Jungkook terpampang jelas. Laki-laki itu mengulas senyum kecil, postur tubuhnya yang membungkuk sambil memandangi Taehyung terlihat selaik payung parasol untuk melindungi dari terik sinar matahari. Menyebalkan, dia tampan sekali. Benar kata Sophie. Meski langit sore mulai menggelap menjadi lembayung dan bintang pertama perlahan-lahan muncul.
“Menurutmu?” balas Taehyung ketus, lalu teringat masa ketika mereka bertemu di kali pertama. Astaga, momen memalukan itu. “Sori. Dan tidak, aku tidak oke. Aku capek. Tanganku sakit sekali.”
“Mau aku pijati?”
“Tidak.”
“Oke.”
Alih-alih menghilang dari pandangan, Jungkook lekas beringsut dan mengambil posisi duduk di sampingnya. Taehyung biarkan tubuhnya tetap telentang di atas rumput, sesekali jarinya bermain-main dengan tumpukan bunga daisy.
“Apa jasa menulis suratnya masih dibuka?”
“Oh, astaga. Kau meledekku.” Taehyung berdecak, lalu mengerang sebal. “Kenapa tidak minta dibuatkan dari tadi?”
“Antreannya panjang sekali, aku tidak kebagian.”
“Meh. Kau kan tuan rumahnya, sekali jentikan jari jalan terbuka untukmu.”
“Begitu?” Jempol dan jari tengah Jungkook berjentik nyaring. “Ayo buatkan aku surat.”
“Ish!”
Humornya garing sekali, tetapi entah mengapa Taehyung terbahak spontan sembari memberi pukulan ringan di bahu Jungkook. Dalam momentum kecil itu, ingatan Taehyung kembali berkenala pada dua minggu yang lalu. Bukan main terkejutnya ketika tahu bahwa ia mengeluhkan seseorang di depan orangnya langsung. Dan terasa semakin memalukan mendapati reaksi Jungkook berupa senyum geli diselip tawa renyah, tak menunjukkan rasa tersinggung sedikit pun.
Pertemuan pertama mereka terjadi begitu singkat. Usai membantu Taehyung mengumpulkan surat, Jungkook terpaksa harus pamit lebih dulu sebab dia telah punya janji dengan Viscount Challinor. Pria itu berkata bahwa tawaran bertanya langsung mengenai dirinya dibandingkan menggunakan surat masih berlaku (entah hanya sekadar gurauan, entah karena dia narsistik). Alih-alih merasa terhormat (barangkali para lady akan berteriak kegirangan) Taehyung lebih ingin kabur ke ujung dunia. Benar kata Sophie, sebaiknya ia mengubur diri dalam-dalam.
Setelahnya, wajah Jeon Jungkook muncul di mana-mana.
Pria itu akan menyempatkan mampir setengah jam sebelum toko tutup, ketika Taehyung menawarinya untuk dibuatkan surat, Jungkook menolak. Dia berkata bertemu dan berbicara dengan seseorang yang mengerti bahasa Ibunya membuat Jungkook merasa tidak terlalu sendiri di negara asing. Keberadaan Taehyung mengingatkan Jungkook akan rumah. Taehyung paham maksud kalimat itu bernada platonik; tidak lebih, tidak kurang.
Semulah teh sore dan bincang ngalor-ngidul, tak lama frekuensi pertemuan bertambah hingga langit berubah menjadi gelap, titik-titik bintangnya mengintip malu-malu. Hingga kata saya dan anda tak lagi berlaku. Teh sore dan kudapan ringan menjadi makan malam bersama. Jungkook bilang kimchi buatan Taehyung terlalu asin, memang jujur itu pahit.
“Taehyung, kau masih bersamaku?”
Pecahan memori dalam kepala Taehyung buyar. “He-em.”
“Sepertinya kau benar-benar capek,”
“Aku memang capek,” tekan Taehyung, kemudian bergerak untuk mengambil posisi duduk. “Tapi kalau kau ingin dibuatkan surat — ”
“Tidak perlu.” Bahu Taehyung didorong agar ia kembali telentang. “Masih ada lain kali.” Telapak tangan Jungkook berpindah menuju kening, menutupi kedua mata Taehyung sepenuhnya. “Kau bisa istirahat di sini, aku akan berjaga, tenang saja.”
Taehyung tak kuasa menepis tangan hangat itu, ia biarkan pandangannya menggelap. “Berjaga dari apa?
“Penggemar-penggemarmu.”
“Aku tidak punya penggemar,”
“Koreksi, pelanggan setiamu.”
“Kalau sampai Lady Challinor tahu, habis sudah. Aku dibayar mahal, lho.”
“Istirahat.” Taehyung tidak mengerti bagaimana bisa Jungkook mengatakannya dengan begitu lembut. “Beri waktu untuk tubumu sendiri, Taehyung.”
Rasanya mudah, mudah sekali, membiarkan seseorang menentukan apa yang seharusnya ia lakukan.
Ingatan terakhir Taehyung adalah suara ketikan dari mesin tik, bunga daisy yang mengering, puding persik yang sempat ia cicipi, dan surat terakhir kepada masa lalu yang ia tulis atas permintaan seorang pria tua.
.
Saya di masa muda,
Tidak perlu terburu-buru menjalani hidup. Kau sudah lebih dari cukup.
“Aku tidak mengerti bagaimana kau melakukannya.”
“Lakukan apa?”
“Menulis surat berdasarkan isi hati orang lain.”
Nyala pijar lilin di atas meja menari-nari, separuh wajah Jungkook yang tidak tersinari cahaya tampak misterius, tetapi juga artistik. Jari Taehyung di atas tuts mesin tik berhenti, rangakaian kata dalam benaknya buyar dalam sekejap. Jam berdentang pukul sepuluh malam, belum ada tanda-tanda pemadaman listrik akan segera berakhir sehingga Taehyung harus bersabar lebih lama lagi. Ia harap persediaan lilinnya tidak akan habis malam ini. Begini kalau hidup di lingkungan pertokoan, penggunaan listrik akan jauh lebih besar dan berebut dengan toko orang lain, akibatnya diadakan pemadaman sementara untuk penghematan.
Lebih lucu lagi, Jeon Jungkook muncul di saat yang tidak tepat.
Dia duduk dengan santai di kursi seberang Taehyung, jarak mereka hanya terpisah satu buah meja dan mesin tik andalan si penulis surat. Terpisah oleh satu batang lilin dengan remang-remang oranye. Kedua lengan Jungkook terlipat di atas meja dan separuh wajahnya terbenam di antara lipatan lengan. Taehyung agak ngeri jika api dari lilin mengenai ujung rambut Jungkook.
“Kau cukup mendengarkan,” ujar Taehyung memecah hening, diam-diam ia merasa ditarik oleh tatapan Jungkook. “Tidak menyela, tidak bandingkan dengan kehidupan orang lain, dan yang paling penting, tidak menghakimi. Apalagi sembarangan mengumbar kisah orang lain.”
“Tidak boleh mengumbar, tapi bergunjing boleh?”
Tawa Taehyung mengudara. “Itu beda, aku tidak pakai cerita kehidupan pelangganku untuk bergunjing.”
“Tapi kau bergunjing tentangku, tuh,”
“Sophie memancingku. Dan banyak orang bicara tentang kau, jadi mulutku gatal.”
“Siapa Sophie?”
“Seseorang.” Ketika ia mendapati kerutan dalam di dahi Jungkook, Taehyung buru-buru menambahkan. “Gadis pelayan yang seringkali dimintai nona mudanya untuk menulis surat padaku. Dan seorang informan handal.” Sebelah mata berkedip jail.
Tanggapan Jungkook datar, secara gamblang menganggap sosok bernama Sophie hanya sekadar angin lalu. Tidak sopan.
“Kau tidak lelah?”
“Kalau yang kau maksud setiap hari harus mengetik surat, jelas lah.”
“Maksudku, mendengarkan cerita orang lain.”
Taehyung biarkan hening itu menyelinap masuk, batang lilin di antara mereka sudah kandas setengah, meninggalkan bercak lelehan yang mengeras. Pijar nyalanya tetap bertahan.
“Meski lelah, aku mencintai pekerjaanku.”
Satu tangan Jungkook terjulur, sejenak menyisir halus poni di sekitar kening Taehyung, kemudian menyelipkan beberapa helai rambut di belakang telinganya, sebelum ujung jemari yang terasa bagai titik hujan dan embun di pagi hari itu — dingin, sebab mati lampu membuat penghangat ruangan ikut tidak berfungsi — berpindah ke pipi kanan Taehyung dan berhenti di sana.
Ah, Taehyung kini paham mengapa para lady begitu tergila-gila pada Jeon Jungkook. Taehyung bahkan nyaris menjadi gila sungguhan.
“Mau aku buatkan surat, Sir?” Ia tahu bercanda pada saat seperti ini rasanya tolol, tapi Taehyung perlu menyingkirkan gugup yang mulai menggerogoti setiap jengkal kulitnya. “Aku berikan gratis.”
Jungkook terkekeh pelan. “Aku tidak mengerti kenapa kau ngotot sekali mau membuatkan surat untukku.”
“Aku juga tidak mengerti kenapa kau selalu menghindar setiap aku menawarkan jasa menulis surat untukmu.”
“Ups,” bisik Jungkook, pura-pura terkejut. “Ketahuan.”
“Aku tidak memaksa, kok.”
“Tidak, aku terima tawaran yang sekarang.”
Senyum Taehyung terulas simpul kala ibu jari Jungkook menyentuh ujung bibirnya. “Kau yakin?”
“Kau bisa menjaga rahasiaku, kan?”
“Jangan ragukan keahlianku, Jungkook. Jangan ragukan.”
Ketika Jungkook beringsut dan mencondongkan tubuh untuk menciumnya, Taehyung tidak menolak.
.
Untuk Jeon Jungkook, masa di mana hidup seperti kereta berjalan tanpa arah,
Kalau punya keberanian untuk melompat saat itu, walau gagal dan tidak jadi dilakukan, gunakan juga keberanian itu untuk menjalani hidup.
“Apa Taehyung pernah membuatkan surat untuk Bibi?”
Viscountess Challinor mengalihkan fokus dari berbagai macam barang lelang untuk membantu acara amal bulanan di panti asuhan yang dikelola dirinya dan sang suami, dan menemukan Jungkook berdiri di sampingnya, entah sejak kapan. Tatapan pria itu tidak balas menatap mata biru sang viscountess, tetapi tertuju pada titik lain. Di mana Kim Taehyung berdiri di antara kerumunan para bocah yang terlihat asyik menyaksikan drama teater dadakan.
“Blast that Peter Pan!” Taehyung mengayunkan tangannya, topi segitiga berbahan kertas bertengger di atas kepala. Sebuah hanger baju sebagai ganti pengait tergenggam erat, si penulis surat kini sedang menjadi Kapten Hook. “If I could only find his hideout, I’d trap him in his lair.”
Seorang anak laki-laki berlagak melawan Taehyung, dilihat dari topi hijau dan pedang di tangan (yang terbuat dari kardus), sepertinya dia adalah si pemeran utama Peter Pan.
Suara Taehyung kembali menggelegar, kali ini sengaja dibuat lebih berat. “Oh, I hate being disappointed, Smee. And I hate living in this flawed body. And I hate living in Neverland. And I hate… I hate… I hate Peter Pan!” Taehyung belari mengejar, kerumunan bocah di sekelilingnya berlari memencar. Berteriak riang dan tertawa bebas, begitu ramai memenuhi taman luas belakang gedung panti.
Begitu hangat di mata Jungkook.
“Pernah, tentu saja.” Pertanyaan Jungkook tadi dijawab sang viscountess. “Surat itu berhasil mempertahankan pernikahan kami.” Dia dan suaminya. “Dan membuatku menerima kepergian Anne.” Sang adik tercinta.
Balasan Jungkook nihil, barulah saat itu ia melepaskan pandangan dari sosok Taehyung — ada kaki-kaki kecil sedang mengejarnya — dan membalas tatapan Viscountess Challinor yang telah lebih dulu menatapnya penuh arti. Jungkook berusaha untuk tidak menebak apa yang sedang dipikirkan wanita tua itu. Atau bagaimana senyum sendu yang membuat Jungkook selaik buku terbuka, mudah dibaca.
“Senang melihatmu hidup, mon cher.”
Cengir Jungkook terbit setelahnya, tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi dan lekas berlalu pergi. Teburu-buru mendekati Taehyung sembari berseru keras ke arah kumpulan para bocah.
“Ha ha! All the world is made of faith, and trust, and pixie dust!”
Peter Pan kecil berubah menjadi Peter Pan besar. Musim gugur semakin mendingin dan rasanya Jungkook ingin memeluk Taehyung seerat mungkin.
.
.
[selesai]
메타데이터
- post_id
- 026e8cb3798f
- slug
- mesin-tik-sang-koresponden-dan-surat-suratnya-026e8cb3798f
- url
- https://medium.com/@cakuechan.31/mesin-tik-sang-koresponden-dan-surat-suratnya-026e8cb3798f
- canonical_url
- https://medium.com/@cakuechan.31/mesin-tik-sang-koresponden-dan-surat-suratnya-026e8cb3798f
- author_url
- https://medium.com/@cakuechan.31
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-27 07:40:21