Di sana, Kita Merajut Asa
“Enigma benang kusut itu ternyata memang terlalu rumit, ya?”
— Di sana, Kita Merajut Asa

“Enigma benang kusut itu ternyata memang terlalu rumit, ya?”
Malam itu, di bawah terang sang rembulan, netraku terpaku pada rangkaian kata — yang selama ini aku inginkan kehadirannya. Jari-jemariku kaku, lidahku kelu, nafasku tak beraturan, beriringan dengan detak jantung yang tak bisa aku kendalikan.
Sungguh, aku tak percaya dengan segala yang terjadi.
Menatap langit yang terhias ribuan bintang, anganku menjerit dalam hening, ingin sekali raga ini meminta waktu untuk berhenti sejenak, sekadar menikmati kesenangan milikku — lebih lama lagi.
Sejak kapan radarmu berhasil menemukan denyut nadiku? Sejak kapan jiwa ini disadari oleh kedua bola mata yang selalu menjadi titik kagumku? Sejak kapan ragamu yang kokoh itu mempersilahkan diriku untuk memasuki luasnya semestamu? Sejak kapan… Aku bahkan benar-benar tak pernah menyadari.
Rasanya seperti… aku baru saja menyelesaikan enigma benang kusut yang selama ini tak pernah sanggup untuk kupecahkan. Segala tanda tanya seolah menemukan titik-titik jawaban yang kian lama kian terangkai dengan indah. Segala harapan yang tumbuh setiap harinya, seolah mulai berbunga dengan cantik — hari demi hari, padahal aku pun tak ingat perihal kapan terakhir kali aku menyirami harapan yang selalu tumbuh.
Entahlah, semua ini terasa membingungkan, terjadi secara tiba-tiba, tanpa peringatan yang jelas.
Apakah… halusinasiku berhasil menguasai? Atau justru… semesta memang ingin memberikan jawaban tanpa pernah aku duga?
Perjalanan panjang ini ingin sekali aku abadikan, keindahan yang tercipta di dalamnya seakan nyata, memenuhi ruang kosongku yang sudah lama berdebu.
Aku bisa mendengar tawamu dengan jelas, aku bisa mendengar alunan suaramu yang menenangkan riuhku, aku bisa menatap tubuh jenjangmu tepat di hadapan jiwaku yang lemah, aku bisa merasakan sentuhanmu yang tak pernah aku bayangkan akan terjadi, dan… aku bisa dengan bebas berinteraksi dengan sosokmu yang dari dulu ingin sekali aku ajak menelusuri setiap sudut ruangku.
Aku tak ingin menyudahinya, sungguh.
Aku ingin abadi bersama rasa ini.
Namun… ketika perlahan netraku mulai terbuka, mengapa justru aku kehilangan semesta yang indah itu? Mengapa, Tuhan? Mengapa Engkau tak mengizinkan aku untuk abadi bersamanya? Aku ingin menetap di sana, asa yang kami rajut belum utuh, kepingan yang kami susun belum terangkai sepenuhnya.
Tolong kembalikan aku pada dunia yang semu itu, Tuhan…
Aku ingin berada di sana lebih lama lagi.
Sebab, dari awal aku mengerti, bahwa aku takkan pernah mampu meraihnya. Maka, bawalah aku pada fatamorgana yang indah itu — sekali lagi.
메타데이터
- post_id
- 0289c1eef79e
- slug
- di-sana-kita-merajut-asa-0289c1eef79e
- url
- https://medium.com/@anggitataaa_/di-sana-kita-merajut-asa-0289c1eef79e
- canonical_url
- https://medium.com/@anggitataaa_/di-sana-kita-merajut-asa-0289c1eef79e
- author_url
- https://medium.com/@anggitataaa_
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-21 07:44:09