← Back to list

Jangan Berharap pada Korporat

Albert · 2026-03-28 06:32 · 0 claps · 3.0 min read
#business-ethics #ethical-business #ethics-in-business #culture #big-tech
Open on Medium ↗
Wiki topics: PHI · Philosophy CUL · Culture & Media

Jangan Berharap pada Korporat

Christiaan Snouck Hurgronje hafal Al-Quran. Fasih berbahasa Arab, Melayu, dan Aceh. Ia masuk Islam, menikahi perempuan pribumi, membangun kepercayaan dengan ulama-ulama paling dihormati di Mekkah. Bukan sebentar — bertahun-tahun. Lalu ia gunakan semua itu untuk merancang strategi militer yang menewaskan antara 50.000 hingga 100.000 orang Aceh.

Snouck adalah akademisi cemerlang, Profesor di Universitas Leiden. Penasihat kolonial paling dihormati zamannya. Ia tidak membunuh dengan tangannya sendiri. Ia hanya menyumbangkan pengetahuannya — dengan sangat profesional — kepada mereka yang berkepentingan.

Snouck bukan individu liar yang bertindak sendiri. Ia bekerja untuk institusi yang memberinya mandat, anggaran, dan kekebalan dari konsekuensi personal.

Sebelum Snouck, ada VOC. Didirikan 1602. Dibubarkan 1799. Seratus sembilan puluh tujuh tahun. Paling tidak ada empat generasi orang Indonesia lahir, hidup, dan mati di bawahnya. Empat generasi yang tidak pernah mengenal dunia tanpa VOC.

VOC adalah salah satu korporasi global pertama di dunia dengan status badan hukum. Artinya, jauh sebelum Amerika merumuskan konsep legal personhood pada 1886, kita orang Indonesia sudah lebih dulu merasakannya — bukan sebagai teori sekolahan, tapi sebagai pengalaman hidup. Ditindas sepatu korporasi berbadan hukum paling brutal yang pernah ada.

VOC tidak naif. Ketika mereka menyarankan komunitas Jawa untuk menyelenggarakan upacara tradisi saat mengelola lahan tebu, itu bukan kebaikan hati. Itu adalah eksploitasi paling canggih yang bisa dilakukan manusia: menggunakan kepercayaan seseorang sebagai rantai untuk mengikatnya. Orang Jawa tidak merasa dieksploitasi. Mereka merasa menjalankan tradisi. Kalau ia manusia, VOC adalah psikopat paling mengerikan.

VOC akhirnya bubar. Tapi bukan karena kesadaran etis. Bukan karena korban-korbannya. Bukan karena ada yang merasa bersalah. VOC bubar karena kalkulasi berubah — institusinya tidak lagi menguntungkan bagi mereka yang mengendalikannya. Psikopat tidak berhenti karena nurani. Ia berhenti ketika tidak lagi berguna.

Di masa kini, kita mengenal Badan Hukum. Entitas legal yang bisa memiliki aset, menggugat, dan punya hak seperti manusia. Tapi tidak bisa dipenjara. Tidak bisa mati. Dan ketika melakukan kesalahan — dendanya dibayar dari kas perusahaan, bukan dari rekening pribadi CEO-nya. Direktur tetap pulang ke rumahnya. Tidur nyenyak. Besok masuk kantor lagi

Facebook tahu sejak 2016 bahwa algoritma mereka memperparah polarisasi sosial. Internal research mereka membuktikannya. Mereka tahu echo chamber berbahaya bagi demokrasi dan kesehatan mental penggunanya. Keputusan mereka? Tidak mengubah algoritma — karena polarisasi meningkatkan engagement, dan engagement adalah uang. Lalu mereka tidur seranjang dengan Cambridge Analytica, membiarkan data 87 juta pengguna digunakan untuk memanipulasi pemilu.

Perusahaan rokok tahu sejak tahun 1950an bahwa produk mereka menyebabkan kanker. Bukan dugaan. Bukan rumor. Riset internal mereka sendiri membuktikannya. Keputusan mereka? Membiayai penelitian tandingan selama empat dekade untuk menciptakan keraguan publik. Sementara itu, di Indonesia, konser musik besar berbalut kreativitas anak muda tetap disponsori perusahaan rokok sampai hari ini.

Perusahaan tambang tahu bahwa operasi mereka mencemari sungai dan menghancurkan ekosistem. Yang menarik bukan kejahatannya. Yang menarik adalah tidak ada yang berubah.

Polanya selalu sama: Tahu. Kalkulasi. Tetap jalan.

Bukan karena CEO-nya monster. Tapi karena strukturnya memang dirancang untuk mengoptimalkan keputusan itu. Karena dendanya lebih murah dari biaya perbaikannya. Karena tidak ada yang dipenjara secara personal. Karena press release yang tepat bisa meredam kemarahan publik dalam dua minggu.

Kenapa bisnis tidak beretika?

Kenapa ada profesor yang mengajarkan etika bisnis. Buku yang menulisnya. Seminar yang menjualnya. Perusahaan yang memajangnya di website mereka dalam font yang cantik di antara foto-foto karyawan yang tersenyum. Lahirlah CSR. ESG. Sustainability Report. Benefit Corporation. Stakeholder Capitalism. Semua indah. Semua perlu. Ujungnya adalah manajemen harapan publik.

Kita semua terpesona dan puas. Kita butuh dongeng, apalagi dongeng dengan akhir yang bahagia.

Mengakui bahwa korporasi tidak bisa beretika secara struktural berarti mengakui bahwa sistem yang menopang kehidupan kita sehari-hari — tempat kita bekerja, berbelanja, menyimpan uang, membeli obat — adalah sistem yang dijalankan oleh psikopat. Dan itu terlalu menakutkan untuk diakui sambil tetap harus berangkat kerja jam delapan pagi.

Bukan karena orang-orang yang menciptakannya jahat. Banyak dari mereka tulus percaya. Tapi percaya tidak mengubah arsitektur. Seorang CEO yang baik hati tetap terikat oleh kewajiban kepada pemegang saham. Ketika etika dan profit bertabrakan — hukum sudah memutuskan siapa yang menang.

Kita menemukan konsep etika bisnis bukan untuk mengubah korporasi. Kita mengajarkannya agar kita bisa tidur malam ini.

Jadi, lain kali Anda melihat kampanye CSR yang cantik — foto anak-anak sekolah, pohon yang ditanam, nelayan yang tersenyum — ingat Snouck Hurgronje.

Lain kali Anda membaca laporan ESG setebal 200 halaman dengan grafik hijau dan komitmen net-zero 2050 — ingat Snouck Hurgronje.

Lain kali Anda menonton CEO berdasi di forum internasional, pidato tentang keberlanjutan, tanggung jawab sosial, dan masa depan planet — ingat Snouck Hurgronje.

Bukan karena Snouck munafik. Tapi karena ia bekerja untuk institusi yang tidak punya nurani — dan institusi itu memberinya mandat, anggaran, dan kekebalan dari konsekuensi personal. Persis seperti korporasi hari ini.

Etika butuh manusia yang merasakannya. Korporasi bukan manusia. Dan selama hukum membiarkan manusia bersembunyi di balik badan hukum tanpa konsekuensi personal —

Jangan berharap.


메타데이터
post_id
028a5cb9fe06
slug
jangan-berharap-pada-korporat-028a5cb9fe06
url
https://medium.com/@jumatsore/jangan-berharap-pada-korporat-028a5cb9fe06
canonical_url
https://medium.com/@jumatsore/jangan-berharap-pada-korporat-028a5cb9fe06
author_url
https://medium.com/@jumatsore
status
ok
fetched_at
2026-07-24 23:06:50