← Back to list

Semenanjung Arabia Sebelum Islam

v1:3

Fakhrul Abidi · 2025-02-07 15:16 · 0 claps · 7.4 min read
#history #culture #arabia
Open on Medium ↗
Wiki topics: HIS · History CUL · Culture & Media 🕊️ · Religion

Semenanjung Arabia Sebelum Islam

v1:3

Hampir semua orang Arab bermukim di Semenanjung Arabia. Kalau ada di antara mereka yang bermukim di luar kawasan tersebut jumlahnya amat kecil.

Kawasan Semenanjung Arabia terletak di Barat-Daya Benua Asia. Di bagian Utara berbatasan dengan Sahara Negeri Syam; bagian Timurnya berbatasan dengan Teluk Persia dan Laut Oman; bagian Selatannya berbatasan dengan Samudra Hindia; dan bagiat Baratnya berbatasan dengan Laut Merah.

Datarannya yang tertinggi terletak di bagian Barat membujur ke Timur hingga negeri Oman. Di Semenanjung Arabia tidak terdapat sungai yang mengalir terus-menerus. Yang kadang-kadang berair dan kadang-kadang kering. Di bagian tengah Semenanjung Arabia terdapat gurun sahara yang paling luas, dan keadaan alamnya di masing-masing kawasan sahara itu tidak sama.

Kawasan Sahara yang benama “Badiyatus-Samawah”, atau yang dalam zaman sekarang dikenal dengan nama “Sahara Nufud” ‘terletak di bagian Utara, membentang dari Utara ke Selatan sepanjang 140 mil, dan dari Timur ke Barat sepanjang 180 mil. Kawasan Sahaara ini pasirnya amat sukar dilalui. Di kawasan ini tidak terdapat sumur dan mata air, hanya di beberapa bagian saja yang tidak banyak jumlahnya. Kawasan Sahara ini hanya dapat dilalui dengan jerih paya luar biasa, karena angin kencang puting beliung menghemas pasir dari berbagai jurusan hingga bergunduk-gunduk serupa dengan bukit. Di musim kemarau udara amat panas dan di musim dingi ada kalanya hujan turun di beberapa tempat terpisah-pisah. Di situlah tetumbuhan sahara dapat hidup, berbunga kecil-kecil dan beraneka ragam warnyanya. Penduduk kawasan ini sebagian besar terdiri dari suku-suku Araba Badawi (Nomad). Di musim panas mereka pergi meninggalkan daerah pemukimannya kemudian kembali lagi bila musim dingin tiba, untuk mengembalakan unta dan ternak-ternak lainnya.

Kawasan Sahara yang terletak di bagian Selatan dan berbatasan dengan Sahara “Badiyatus-Samawah”, membentang dari Timur hingga ke Teluk Persia, dan luasnya diperkirakan 50.000 mil persegi. Tanah yang melandasi Padang Sahara ini pada umumnya keras, di mana-mana terdapat batu-batu kerikil dan pasirnya bergelombang. Apabila tiba musim hujan tumbuhlah berbagai jenis rerumputan. Pada musim itu orang-orang Arab Badawi berdatangan bersama keluarganya masing-masing untk menggembalakan unta, kambing dan ternak lainnya. Mereka tinggal di kawasan Sahara itu selama kurang lebih tiga bulan. Bila tiba musim panas dan semua tetumbuhan mengering mereka berbondong-bondong pulang ke daerah permukiman semula. Tanah di kawasan ini pada umumnya gersang, hanya di beberapa bagian saja yang terdapat pepohonan, seperti semak belukar, hutan dan pohon-pohon kurma. Orang Araba menyebut kawasan Sahara ini dengan berbagai nama. Bagian yang terletak antara Yaman Timur dan Hadhramaut mereka namai “Al-Ahqaf”; dan bagian yang terletak di Utara Mahara mereka namai “Ad-Dahna”. Semua kawasan Sahara itula yang dewasa ini disebut dengan nama “ArRub’ul-Khali”.

Sahara yang bernama “Al-Harrat”, jamak dari kata “Harrah” yang berarti tanah yang penuh dengan batu-batu berwarna hitam pekat seolah-olah terbakar api. Di kawasan Harrat itu terdapat banyak batu vulkanik berserakan dari Timur Hauran hingga ke Madinah. Kota Madinah sendiri terletak di antara dua Harrah. Di Semenanjung Arabia banyak terdapat Harrah, yang menurut penghitungan Yaqut di dalam “Mu’jam”-nya berjumlah 29 Harrah. Yang paling terkenal di antaranya ialah Harrah Waqin. Di Bagian inilah dahulu pernah terjadi peperangan yang disebut “Perang Harrah”.

Apabila kita singkirkan Gurun Sahara dari peta, kita menemukan dua daerah permukiman di sebalah Barat Semenanjung Arabia, yaitu Tanah Hijaz yang terletak di bagian Utara, dan Tanah Yaman yang terletak di bagian Selatan. Hijaz merupakan daerah miskin, mempunyai banyak lembah, sering dilanda banjir bila turun hujan lebat dan airnya mengalir ke laut, sekalipun tidak seberapa banyak. Beberapa bagian di daerah itu beriklim sedang, sepertidi Tha’if misalnya. Sedang di bagian-bagian yang lain udaranay sangat panas. Penduduk Hijaz pada umumnya terdiri dari orang-orang Badawi yang hidup mengembara. Jumlah mereka kurang lebih lima perenam dari jumlah semua penduduk. Yang seperenam lainnya menetap di pedusunan dan kota-kota.

Hijaz merupakan kawasan penting mengingat kedudukannya sebagai lalulintas perdaganan antara Yaman dan negeri-negeri di Utara. Jauh sebelum Islam banyak orang Yahudi berdatangan ke daerah itu, di sana mereka membuka tanah-tanah koloni seperti di Khaibar, Madinah dan lain-lain. Kota-kota di Hijaz paling terkenal ialah Makkah, sebuah dataran rendah yang tidak bertetumbuhan. Panjangnya dari Utara ke Selatan kurang lebih dua mil, dan lebarnya dari Timur ke Barat kurang lebih satu mil. Di Makkah tidak terdapat air selain sumur Zamzam. Sedangkan kota kedua, yakni Madinah, yang dahulunya bernama Yatsrib, terletak di sebalah selatan gunung Uhud. Di kota ini terdapat banyak tanaman kurma. Khaibar terletak di Timur-Laut Madinah, tanahnya baik untk bercocok tanam.

Di Selatan Hijaz terdapat negeri Yaman yang sejak dahul kala terkenal sebagi daerah subur dan kaya. Kotanya yang paling etersohor adalah Shan’a, pusat kerajaan Yaman sejak masa silam. Di dekat Shan’a terdapat Istana Ghimdan yang terkenal di mana-mana. Di bagian tenggara Yaman terdapat Kota Ma’rib, tempat Ratu Saba’ memerintah negeri itu pada zaman lampau. Kota-kota lainnya di Yaman ialah Najran dan Aden. Sejak dahulu penduduk Yaman mempunyai hubungan degan orang-oran India dan negeri-negeri Timur Dekat.

Iklim di semaenangjung Arabia pada umumnya sangat panas. Pada musim kemarau udara di daerah-daerah dataran tinggi ckup sedang, tetapi bila datangmusim dingin airnya membeku. Hembusan angin timur yang nyaman dinamai “As-Shaba”. Banyak penya;ir yang memuji-muji kesegarannya. Tiupan angin yang oleh penduduk dinamai “As-Samum” adalah sebaliknya (beberapa catatan ringkas dari “Fajrul — Islam, karangan Ahmad Amin.

Banyak ahli penelitian menyimpulkan, bahwa orang-orang Arab penduduk Semenanjung Arabia berasal dari satu keturunan. Pada Ghalibnya mereka adalah orang-orang Badawi dan sebagian besarnya hidup sebagai kabilah-kabilah pengembara, tidak berpemukiman tetap dan tidak terikat dengan tanah permukimannya, sebagaimana yang lazim berlaku di kalangan kaum tani. Mereka menantikan datangnya musim penghujan dan bila hujan turun cukup banyak mereka pergi meninggalkan permukimannya masing-masing bersama-sama anggota kerluarganya mencari-cari padang pengembalaan. Mereka tidak menghiraukan lingkungan hidup alamiah di sekitar permukimannya sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang hidup menetap di satu tempat. Mereka menggantungkan hidup semata-mata kepada bumi dan langit, bila turun hujan mereka mengembala ternak dan jika hujan yang ditunggu-tunggu tidak turun mereka anya menunggu datangnya takdir yang baik, cara hidup sepertiitu tentu tidak dapat mengantarkan mereka ke dalam kehidupan modern, karena yang dapat mengatarkan ke dalam kehidupan modern ialahcara hidup menetap di satu tempat dan menggunakan akal fikiran untuk mengatur soal-soal kehidupan.

Hidup secara Badawi itulah yang dominan di Semenanjung Arabia kendatipun di beberapa tempat terdapat cara hidup yang teratur, seperti di Yaman, misalnya.

Orang-orang ARaba Badawi terbagi dalam beberapa kabila. Kabilah merupakan suatu unit kehidupan masyarakat yang menentukan dan mengatur sendiri sistem sosialnya. Antara kabilah yang satu dan kabilah yang lain selalu terjadi pertengakaran dan pertikaian. Ada kalanya bebarap kabilah membentuk persekutuan untk menyerang atau mempertahankan diri dari serangan kabilah lain sebagaimana yang menjadi tradisi jahiliah.

Para ahli silsilah biasanaya mengatakan, bahwa orang-orang Arab yang bermukim di bagian Utara Hijaz berasal dari keturunan Nabi Isma’il bin Ibrahim -’alaihumas-salam, sedang mereka yang bermukim di bagian Selatan kawasa itu berasal dari keturuna Yaqthan yang dikenal juga dengan nama Qahthan. Karena itu orang-orang Arab penduduk bagian Selatan disebut kaum Yamaniyyun atau kaum Qahthaniyyun, sedang mereka yang bermukim di bagian Utara disebut kaum Adnaniyyun. Menurut kenyataan dua golongan penduduk itu mempunyai perbedaan dalam beberapa hal.

Pertama : Mereka yang bermukim di bagian Selatan hidup menetap dan pada umumnya telah mengenal peradaban. Mengenai hal itu Allah SWT. berfirman di dalam Al-Qur’an:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍۢ فِى مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌۭ ۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍۢ وَشِمَالٍۢ ۖ كُلُوا۟ مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لَهُۥ ۚ بَلْدَةٌۭ طَيِّبَةٌۭ وَرَبٌّ غَفُورٌۭ

“Bagi kaum Saba’ dahulu, di tempat permukiman mereka terdapat tanda kekuasaan Allah, yaitu duah buah kebun di sebalah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan) : Makanlah dari rizki yang dianugerahkan Allah Tuhan kalian dan beryukurlah kepada-Nya (yang telah menganugerahkan) negeri yang baik, dan Tuhan Maha Pengampun” (QS 34:15)

Lain halnya dengan mereka yang bermukim di bagian Utara. Pada umumnya mereka itu menempuh cara hidup Badawi dan tidak menetap.

Kedua : Mereka berbeda pula dalam hal bahasa. Bahasa Arab yang digunakan orang-orang Yaman berbeda dengan bahasa Arab yang digunakanorang-orang Hijaz, baik dalam hal susunan kalimatnya maupun dalamhal perubahan kata-katanya. Bahasa arab yang digunakan orang-orang Yaman lebih banyak kaitannya dengan bahasa Habasyah (Thiopia) dan bahasa Akkadi. Sedangkan bahasa orang-orang Hijaz lebih banyak kaitannya dengan bahasa Ibrani dan bahasa Nabathi.

Dengan mengemukakan adanya perbedaan tersebut kami tidak bermaksud mengatakan bahwa dua golonganb angsa Arab itu terpisah sama sekali, atau hendak mengatakan bahwa dua golongan itu tetap berada di kawasannya sendiri dan tidak saling berpergian ke daerah masing-masing; bahkan sebaliknya. Banyak sumber riwayat yang memberitakan, sejak lama sebelum Islam banyak orang Yaman berpergian ke Hijaz, sedangkan orang-orang Hijaz hanya sedikit yang berpergia ke Yaman. Sumber-sumber riwayat tersebut mengatakan bahwa banyak orang Yaman yang berdatangan ke Hijaz disebabkan oleh kehancuran bendungan Ma’rib di Yaman sehingga menimbulkan banjir besar dan mengakibatkan orang-orang Yaman bertebaran ke berbagi pelosok di Semenangjung Arabia. Adapun hijrahnya orang-orang Utara ke Selatan disebabkan oleh peledakan penduduk dan kesempitan tempat permukiman.

Pada zama dahulu orang-orang Arab belum mengenal laut sebagai sarana lalulintas barangn dagangan dan perjalanan jauh. Karena itu diperlukan adanya sarana lain untk mengangkut barang-barang dagangan, yang mereka anggap tidak begitu menaktukan seperti lautan. Pada masitu pertukaran barang dagangan yang terpenting ialah antara negeri-negeri yang terletak di Timur dan di Barat Semenanjung ARabia, yaitu antara Romawi dan negeri-negeri sekitarnya di satu pihak, dengan India dan negeri-negeri sekitarnya di lain pihak. Ketika itu negeri Arab telah menjadi lalulintas perniagaan bagi saudagar-saudagar dari Mesir yang mengangkut barang-barang dagangan menuju negeri-negeri di Timur melalui Teluk Persia. karena itu wajarlah kalau orang-orang Badawi penghuni Semenanjung Arabia berperan sebagi penguasa Gurun Shara. Wajar pula kalau mereka itu yang menetapkan jalu lalulintas bagi kafilah yang datan dari arah Barat dan Timru.

Seorang penulis Barat mengatakan di dalam bukunya : :Lalulintas Kafilah di Gurun Sahara Arabia tidak dibiarkan menurut kemamauan nya sendiri, tetapi telah ditentukan menurut kebiasaan. Kegersangan padang pasri yang dijelajahi banyak kafilah itu membuat setiap orang yang berpergian jauh terpaksa mencari tempat-tempat teristirahatan sepanjang perjalanan. Di tempat-tempat yang terpisah-pisah bertebaran itu mereka berteduh di bawah pohon-pohon kurma dan menyejukkan badan dengan air yang terdapat id sekitarnya. Dengan demikian mereka bersama unta-unta yang dibawanya dapat menghilangkan keletihan dan kehausan. Tempat-tempat peristirahatan itu kemdian lambat laun berubah menjadi tempat-tempat penyimbapanan barang daganan bahkan ada pula yang kemudian menjadi tempat-tempat peribadatan:.

Semenanjung Arabia semakin ramai dilalui kafilah yang berasal dari berbagai negeri. Di antar lalulintas kafilah yang terpokok ialah dua, yaitu :

Pertama, lalulintas bagi kafilah yang datang dari arah perbatasan Teluk Persia, menyelusuri sungai Tingris (Dajlah) dan menjelajah gurun Sahara menuju Syam. Karena jalan lintas itu dekat perbatasan negeri-negeri di Timur maka tepatlah kalau dinamai “Jalan Timur”.

Lalu Lintas kedua ialah menyelusuri daerah-daerah dekat Laut Merah di bagian Barat, karenya tepatlah kalau dinamai “Jalan Barat”. Dari dua jalur lalulintas perniagaan itu diangkut barang-barang hasil kerajinan di Barat ke negeri — negeri Timur dan barang-barang daganan dari Timur ke negeri-negeri di barat. Kegiata itulah yang membuat daerah-daerah Sahara yang dilewatinya menjadi ramai dan sejahtera.


메타데이터
post_id
02a3de890bb0
slug
semenanjung-arabia-sebelum-islam-02a3de890bb0
url
https://medium.com/@RulDi/semenanjung-arabia-sebelum-islam-02a3de890bb0
canonical_url
https://medium.com/@RulDi/semenanjung-arabia-sebelum-islam-02a3de890bb0
author_url
https://medium.com/@RulDi
status
ok
fetched_at
2026-07-21 01:40:58