← Back to list

Dosa Orba yang Sering di Lupakan

Penulis baru saja menyelesaikan sebuah buku yang berjudul ‘SORGUM: Benih Leluhur untuk Masa Depan’ karya Ahmad Arifin. Secara garis…

Fadila Rika · 2025-01-07 14:14 · 0 claps · 2.6 min read
#sorgum #lokal #orba
Open on Medium ↗

Dosa Orba yang Sering di Lupakan

Penulis baru saja menyelesaikan sebuah buku yang berjudul ‘SORGUM: Benih Leluhur untuk Masa Depan’ karya Ahmad Arifin. Secara garis besarnya dalam buku ini membahas tentang Sorgum yang merupakan sebuah varietas tanaman yang khas Nusantara yang bahkan sudah ada sejak dahulu kala, terukir dalam relief candi Borobudur, dan mudah untuk dibudidayakan bahkan di lahan yang tandus namun hilang begitu saja dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya seolah-olah dihilangkan oleh Thanos. Padahal dalam penelitian lebih lanjut Sorgum mempunyai manfaat yang begitu banyak, selain mengandung karbohidrat Sorgum juga sudah mengandung protein dan juga kaya akan Vitamin. Dan point plus nya lagi Sorgum ini gluten free dan sangat cocok untuk orang-orang yang memiliki intoleransi gluten atau penyakit. Lalu kenapa bisa sebuah tanaman yang kaya akan nutrisi dan mudah untuk dibudidayakan bisa hilang peradaban? Nah disinilah dosa ORBA yang jarang orang ketahui.

Salah satu program kerja Orba yang dinamakan Revolusi Hijau merupakan program besar Presiden Soeharto yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan melalui modernisasi pertanian. Program ini dimulai pada tahun 1968 dan berlangsung hingga 1980-an. Pemerintahan Presiden Soeharto menginvestasikan dana besar-besaran ke sektor pertanian untuk mencapai swasembada pangan, terutama beras. Dalam pelaksanaannya Revolusi Hijau di Indonesia melibatkan beberapa elemen penting, seperti: Penggunaan varietas unggul benih, Optimalisasi penggunaan pupuk, Penerapan pestisida sesuai kebutuhan, Pengembangan sistem irigasi yang efisien, dan Peningkatan teknik budidaya dan manajemen pertanian.

Efek Domino Revolusi Hijau lah yang penulis bilang ‘dosa besar orba’ yang dilupakan atau bahkan tidak ketahui oleh rakyat indonesia sendiri. Sebab dalam Revolusi Hijau petani lokal di dorong untuk hanya menanam tanaman unggul yang pemerintah mau dan dalam hal ini adalah padi, jagung, dan kedelai. Nama lainnya bisa kita sebut dengan program (Nasionalisasi Nasi atau beras-isasi), akibat dari program ini adalah masyarakat indonesia yang tadinya mengonsumsi berbagai jenis bahan pangan lokal seperti sagu, umbi-umbian, dan sorgum mengubah pola makan masyarakat indonesia yang tadinya beragam menjadi homogen.

Ketergantungan terhadap beras ini lah yang sekarang menimbulkan permasalahan pelik, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Nasional pada tahun 2023, Indonesia mengimpor sekitar 3,06 juta ton beras, yang merupakan jumlah terbesar dalam lima tahun terakhir. Impor beras ini meningkat sebesar 613,61% dibandingkan dengan tahun 2022. Negara-negara asal impor beras terbesar pada tahun 2023 adalah Thailand, Vietnam, Pakistan, dan Myanmar. Belum lagi ditambah dengan permasalahan lain yaitu perubahan iklim yang dimana sekarang cuaca tidaklah menentu. Jika dulu saat penulis masih SD guru SD penulis mengatakan bahwa musim hujan dimulai pada Bulan September berakhir pada Bulan Februari dan musim kemarau akan dimulai dari Bulan Maret sampai bulan Agustus. Namun saat ini bisa saja musim hujan hanya berlangsung hanya 3–4 bulan dan sisanya musim kemarau. Sebuah berita buruk bagi petani padi yang dimana membutuhkan air yang melimpah dalam penanamannya.

Ada hal yang menarik perhatian penulis dalam buku tersebut ialah salah satu daerah yang dulunya terdapat lahan yang ditanami Sorgum ialah daerah Kendal, sebuah kabupaten di daerah Jawa Tengah yang kebetulan adalah kampung penulis. Oleh karena itu penulis mencoba mengobrol dengan ibu penulis apakah pernah memakan olahan Sorgum atau tidak. Ibu Penulis mengatakan bahwa dia dulu menyebutnya Gondem dan bukan Sorgum, biasanya dijadikan olahan Onde-Onde, ayah penulis yang mendengar obrolan kami juga ikut nimbrung. Dalam percakapan itu penulis mendapatkan informasi tambahan terkait bahan pangan lokal yang sepertinya sudah langka dan tidak pernah dibudidayakan lagi. Ada tumbuhan Jali yang ternyata jenis biji-bijian tropis dari keluarga padi-padian, Pohon Suweg yang merupakan jenis umbi-umbian yang bisa dimakan setelah seluruh pohonnya mati sebab jika tidak akan menyebabkan gatal dimulut, dan Pohon Gadung yang juga masih jenis umbi-umbian.

Dalam hal ini penulis ingin mengatakan bahwa tidak apa jika tidak menyukai nasi sebab dahulu pun kita seberagam itu sebelum ada program laknat orba. Sudahi istilah “Belum makan namanya kalau belum makan nasi”.


메타데이터
post_id
02df4e3bc806
slug
dosa-orba-yang-sering-di-lupakan-02df4e3bc806
url
https://medium.com/@fadilarika2003/dosa-orba-yang-sering-di-lupakan-02df4e3bc806
canonical_url
https://medium.com/@fadilarika2003/dosa-orba-yang-sering-di-lupakan-02df4e3bc806
author_url
https://medium.com/@fadilarika2003
status
ok
fetched_at
2026-06-29 22:44:20