← Back to list

Saving Grace to Love

Ruang ganti dokter berada di ujung koridor yang lebih sunyi dari bagian rumah sakit lain. Bau antiseptik bercampur dengan kain bersih…

Eudoralogy · 2026-01-05 04:31 · 4 claps · 10.3 min read
#pondphuwin #phuwin
Open on Medium ↗
Wiki topics: PFI · Personal Finance SOC · Sociology & Politics 💑 · Relationships

Saving Grace to Love

Ruang ganti dokter berada di ujung koridor yang lebih sunyi dari bagian rumah sakit lain. Bau antiseptik bercampur dengan kain bersih, suara lemari besi dibuka-tutup terdengar teratur. Kallio berdiri di depan lokernya, mengganti kemeja dengan pakaian operasi, pikirannya sudah tersusun rapi pada jadwal hari itu.

Ada satu operasi besar dan konsultasi pasca-bedah. Laporan yang harus ditandatangani sebelum malam.

Awalnya tidak ada ruang untuk distraksi. Lalu suara Damian menyelinap masuk.

“Sayang, jangan merasa bersalah.” kata Damian, nadanya rendah tapi penuh semangat. Ia bersandar di bangku, ponsel ditempelkan ke telinga, senyum tidak bisa ia sembunyikan. “Kamu kan masih pemulihan makanya kamu pantau dari jauh. Rain sama timnya yang turun langsung pasti bisa.”

Kallio tidak menoleh. Ia melipat pakaian sipilnya dengan rapi, memasukkannya ke dalam loker.

“Iya, makanya kamu minum obatnya yang teratur. Jangan marah-marah kalau aku bilang yang bener. kan kamu kesel sekarang karena gak ikut gabung mereka,” lanjut Damian. “Aku tau kamu bosen dirumah. Nanti aku datang bawain ice cream, oke?”

Ada jeda, lalu tawanya pecah singkat. Tawa yang selalu terdengar seperti lelucon pribadi namun Damian sengaja umbar di depan Kallio.

“Sebentar lagi ada operasi. Tapi nyeremin ya bekas pabrik pembekuan ikan tua di pinggiran Akureyri. Gimana kalau ternyata buronannya gak sendiri?”

Rain.

Ia menutup loker, mengunci dengan klik pelan. Wajahnya tetap datar, seperti seseorang yang benar-benar tidak tertarik.

“Pasti, Sayang. Aku akan selalu berdoa untuk teman-teman kamu.” kata Damian di telepon, suaranya sedikit turun. “Rain itu bukan tipe ceroboh. Justru dia paling jago nangkap pelaku dari kasus yang lewat-lewat..”

Kallio berjalan ke wastafel, mencuci tangan lebih lama dari biasanya. Air dingin mengalir.

Ia tidak perlu ikut campur. Setidaknya itu yang ia katakan pada dirinya sendiri.

Damian berdiri, mondar-mandir kecil. “Psikopat sialan emang. Kenapa harus sembunyi di bekas pabrik coba.”

Kallio mengeringkan tangan, mengambil topi operasi. Kepalanya sudah kembali pada anatomi, sesuai prosedur, dengan urutan langkah yang tidak boleh salah.

Kasus kepolisian bukan urusannya.

“Tenang aja, Oska Sayang,” kata Damian lembut sekarang. “Kamu fokus sembuh aja dulu”

Ia menutup telepon, masih dengan ekspresi cemas yang tidak bisa disembunyikan saat orang yang ia cintai sedang ikut cemas.

Damian menoleh dan baru sadar Kallio sudah siap berangkat.

“Lo denger tadi?” tanyanya santai.

“Sedikit,” jawab Kallio meski nadanya tidak mengundang kelanjutan.

Damian menyeringai. “Rain lagi ngejar burona. Keren ya. Pengen ikut campur jadinya”

“Kepolisian yang menangani,” kata Kallio. “Bukan kita.”

“Gue tau,” jawab Damian. “Cuma lo nggak penasaran?”

Kallio mengambil berkas dari meja. “Tidak.”

Ia melangkah menuju pintu, sikapnya tenang, profesional. Jadwal operasi menunggunya danasien menunggunya. Kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal.

Di ambang pintu, Damian menambahkan, “Oska harusnya ada di sana kalau bukan karena luka tusuk itu. Kesayangan gue kecewa gak bisa ikut.”

Kallio berhenti. Hanya satu tarikan napas.

“Dia sedang pemulihan,” kata Kallio. “Itu keputusan yang benar.”

Damian mengangguk. “Iya. Tetap aja dia marah-marah.”

Kallio membuka pintu. “Hampir semua hal penting memang begitu.”

Ia berjalan pergi, langkahnya meninggalkan Damian yang masih antusias dengan hasil akhirnya penangkapan buronan.

“Gimana kalau mereka gak selamat?” ucap Damian untuk dirinya sendiri.

Namun di balik ketenangan itu, di sudut pikiran Kallio yang tidak ia sentuh, satu kalimat Damian tertinggal lebih lama dari yang seharusnya

“Fokus, Kallio.” Ia adalah dokter. Ia tahu batasnya.

— -

Kallio berdiri di posisinya, tangan terangkat, sarung tangan steril sudah terpasang rapi. Semua tampak sama seperti ratusan operasi sebelumnya, bau antiseptik, suara alat logam diletakkan di baki, monitor yang berdetak pelan mengikuti irama jantung pasien.

Rutinitas yang seharusnya menenangkan untuk Kallio. Namun hari ini, sesuatu tidak berada di tempatnya.

“Tekanan stabil,” ujar perawat anestesi.

“Sayatan pertama,” kata asisten bedah.

Kallio mengangguk, mengambil pisau bedah.

Tangannya mantap setidaknya terlihat begitu. Gerakannya presisi, sudut potongan tepat. Tidak ada kesalahan yang bisa ditunjuk dengan mudah. Tapi ada jeda kecil. Tidak bisa disebut ceroboh namun terlalu besar untuk diabaikan oleh orang-orang yang sudah lama bekerja bersamanya.

“Dok,” kata Soren, rekan bedah yang berdiri di seberang meja operasi. Nadanya rendah, hampir seperti bisikan di balik masker. “Kamu lambat beberapa detik.”

Kallio tidak menjawab. Ia melanjutkan pekerjaannya, fokus kembali pada jaringan di depannya, pada struktur yang harus dipisahkan tanpa merusak yang lain.

“Maaf,” katanya singkat.

Itu jarang terdengar darinya.

Monitor kembali berbunyi ritmis. Perawat menyerahkan alat berikutnya. Kallio menerimanya, tapi matanya sempat naik ke layar, bukan untuk membaca data, melainkan seperti seseorang yang sedang memastikan dirinya masih di ruangan yang sama.

Soren memperhatikannya lebih saksama sekarang.

“Semua baik-baik saja?” tanyanya.

“Ya,” jawab Kallio cepat. Operasi berlanjut. Instruksi tetap jelas, suara Kallio tetap tenang. Ia masih dokter yang sama yang dikenal dingin, efisien, hampir tak pernah ada kesalahan. Tapi di sela-sela fokusnya, pikirannya meleset.

Lorong rumah sakit. Suara Damian yang mengulang di dalam kepalanya. Dan senyuman Rain.

Kenapa ia merasa harus menuju tempat dimana Rain berada. Ini pekerjaan mereka. Rain sudah terbiasa dengan situasi itu.

“Dok,” kata Soren lagi, kali ini sedikit lebih tegas. “Retraktor.”

Kallio mengangguk, mengambil alat itu. Ia menyesuaikan sudutnya, memperbaiki posisi. Gerakannya sempurna sekarang, sedang berusaha menebus sesuatu yang tidak kasatmata.

“Kamu jarang seperti ini,” lanjut Soren setelah hening beberapa detik. “Biasanya kamu sudah tiga langkah di depan.”

“Kadang orang berhenti sebentar,” jawab Kallio. “Bukan berarti mereka benar-benar berhenti.”

“Berhenti dan benar-benar berhenti itu beda,” balas Soren tenang. “Dan aku tidak bilang kamu berhenti total. Aku bilang kamu terdistraksi.”

Kallio menarik napas perlahan. Di balik masker, rahangnya mengeras.

“Fokusku ada di sini,” katanya.

“Bagus,” ujar Soren. “Karena pasien ini butuh kamu. Hilangin pikiran yang menganggumu, dok.”

Kalimat itu tidak menghakimi. Justru karena itu, Kallio tersadar. Jika ia ingin ini cepat selesai dan segera keluarpat ini. maka Kallio harus selesaikan.

Kallio mengalihkan seluruh perhatiannya kembali ke meja operasi. Jari-jarinya bekerja seperti mesin yang kembali menemukan ritmenya. Setiap langkah berikutnya tepat seperti biasanya. Seolah apa pun yang mengganggu tadi dipaksa keluar dari ruangan.

Operasi ditutup dengan sukses. Tidak ada komplikasi. Tidak ada kesalahan yang tercatat.

Saat sarung tangan dilepas dan jas operasi digantung, Soren menepuk bahu Kallio ringan.

“Kerja bagus, Tim” katanya. “Maaf, tentang kesalahan kecil tadi.”

Semua orang di ruangan mengangguk. “Iya, dok.”

Ia berdiri sendirian sejenak di ruang cuci tangan, air mengalir deras membilas sisa darah yang bahkan tidak ada di pikirannya.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin, ia menatap dirinya. Melepaskan semua yang yang bersangkutan dengan rumah sakit. Kakinya melangkah keluar.

— -

Malam turun perlahan di pinggiran Akureyri, membawa dingin yang tidak sekadar menggigit kulit, tapi juga pikiran.

Rain berdiri di balik mobil taktis, jaketnya tertutup rapat, napasnya tenang. Di depannya, bangunan tua itu menjulang, pabrik pembekuan ikan yang sudah lama ditinggalkan. Dari luar, tempat itu tampak mati. Tidak ada lampu. Kelihatan berkarat. Tapi justru itulah yang membuatnya berbahaya.

“Tim Alfa siap,” suara Lucan terdengar di earpiece dengan profesional.

“Tim Bravo di posisi,” Oska menyusul suara yang seharusnya berada di lapangan, tapi kini hanya bisa memberi arahan dari jarak aman. Luka tusuk itu memaksanya menjauh, tapi pikirannya tetap tajam seperti biasa.

Rain mengangguk, meski tak ada yang bisa melihat. “Ingat pola,” katanya pelan. “Pelaku bukan orang yang panikan. Dia sangat suka menunggu.”

Psikopat itu sudah lama menjadi bayangan kota. Bahkan untuk mencari korban saja ia akan membuat riset, meninggalkan sedikit jejak, membuat polisi mengejarnya, tapi tidak pernah cukup untuk menangkapnya. Ia menikmati prosesnya. Menikmati diburu.

“Masuk tanpa suara,” lanjut Rain. “Jangan kejar kalau kehilangan visual. Dia suka memancing.”

Pintu besi pabrik dibuka perlahan. Engselnya berdecit kecil, seperti keluhan terakhir dari bangunan yang sudah terlalu lama dilupakan. Bau laut yang busuk bercampur dengan logam berkarat menyambut mereka.

Di dalam, gelap terasa menikam.

Lampu senter menyapu lantai yang retak, dinding dengan sisa es yang tak pernah benar-benar mencair. Setiap langkah bergema, dipantulkan berkali-kali oleh ruang kosong yang terlalu luas.

Rain bergerak paling depan. Tubuhnya rendah, senjatanya terangkat, matanya membaca ruangan seperti peta hidup. Ia tidak mencari sosok, ia mencari ketidakwajaran. Bayangan yang terlalu diam. Udara yang terlalu hangat. Keheningan yang tidak wajar.

“Jejak kaki,” bisik Lucan. “Ke arah ruang pendingin lama.”

Rain mengangkat tangan, memberi tanda berhenti.

Terlalu mudah.

Ia melangkah satu langkah lagi dan lantai di bawahnya berderit keras.

Dalam sekejap, lampu di ujung ruangan menyala.

Bukan lampu biasa. Lampu industri tua yang menyilaukan, membuat mata butuh waktu untuk menyesuaikan.

“Kontak!” teriak salah satu anggota tim.

Dari balik bayangan, sosok itu muncul.

Tingginya biasa saja. Tubuhnya kurus. Tidak ada yang istimewa kecuali matanya. Tatapan itu kosong, tapi hidup. Seperti seseorang yang sudah lama berhenti merasa bersalah. Dan juga senyumannya yang menyebalkan.

Ia bergerak cepat. Terlalu cepat untuk seseorang yang tampak santai beberapa detik lalu.

Pisau berkilat di tangannya.

Psikopat itu tidak menyerang secara frontal. Ia memanfaatkan ruang. Mesin-mesin tua. Lorong sempit. Ia menghilang, lalu muncul dari sudut yang tidak terduga, menyerang dan mundur sebelum siapa pun sempat menembak.

“Dia mengenal tempat ini!” teriak Lucan.

“Tentu,” jawab Rain. “Ini bukan tempat sembunyi. Ini sarangnya.”

Satu anggota tim tersungkur, lengannya tergores dalam. Darah mengalir, merah kontras di lantai abu-abu.

“Jangan terpisah!” perintah Rain.

Tawa terdengar dari atas. Menyebar lewat dinding logam.

Psikopat itu menikmati ini.

Ia berbicara dari balik kegelapan. “Kalian selalu datang dengan keyakinan yang sama,” katanya. “Bahwa jumlah dan senjata membuat kalian unggul.”

Rain mengarahkan senjatanya ke arah suara. “Menyerah. Ini sudah selesai.”

“Tidak,” jawabnya ringan. “Ini baru mulai.”

Ia melompat dari platform atas, mendarat di balik mesin besar. Gerakannya lincah, terlatih.

Rain mengejarnya, jantungnya berdetak keras tapi teratur. Ia tahu satu kesalahan saja cukup untuk mati. Ia juga tahu, keraguan lebih mematikan daripada pisau di tangan lawan.

Mereka berhadapan di ruang pendingin lama. Udara di sana lebih dingin, lebih sempit. Dinding besi memantulkan napas mereka.

“Kenapa kau lakukan ini?” tanya Rain, bukan untuk jawaban, melainkan untuk mengulur satu detik.

Psikopat itu tersenyum tipis. “Karena dunia terlalu bising. Dan mereka terlalu mudah dipecah.”

Ia menyerang lagi. Kali ini lebih dekat. Rain menangkis, tubuh mereka bertabrakan keras. Pisau nyaris mengenai lehernya. Ia mencium bau besi dan laut di napas lawan.

Dengan satu gerakan cepat, Rain memutar pergelangan tangan itu, menjatuhkan pisau. Tapi psikopat itu tidak berhenti ia menggigit, menendang, berusaha melukai dengan apa pun yang tersisa.

“Sekarang!” teriak Rain.

Psikopat itu tertawa pelan. “Kalian pikir ini kemenangan.”

Psikopat itu bergerak lebih cepat dari dugaan siapa pun, lebih cepat dari rasa puas sesaat karena mengira semuanya telah selesai. Saat satu anggota tim menoleh untuk memastikan korban yang terluka, saat yang lain melangkah setengah detik terlalu jauh, buronan itu memanfaatkan celah yang hanya ia sendiri yang lihat.

Satu bahu dihantam. Satu siku menghantam rahang. Dan sebelum siapa pun sempat bereaksi, tubuh itu sudah melesat ke balik lorong sempit di sisi bangunan.

“Kontak lepas!” teriak Lucan.

“Ke arah timur!” sahut yang lain.

Rain berbalik tajam. Jantungnya langsung berubah ritme lebih cepat, hawa terasa lebih dingin. “Jangan berpencar,” perintahnya. “Tetap — ”

Terlambat.

Suara langkah kaki berlarian saling tumpang tindih di earpiece. Ada yang mengejar dari kiri, ada yang memutar dari belakang. Strategi yang sejak awal disusun rapi runtuh dalam hitungan detik, karena satu hal paling berbahaya dalam pengejaran.

“Lucan, posisi?” tanya Rain sambil berlari.

“Gue,” suara itu terputus oleh desah napas berat. “Gue di lorong pendingin kedua. Gue lihat bayangannya.”

“Jangan kejar sendirian,” Rain menegaskan. “Tunggu — ”

Dentuman keras terdengar. Logam beradu. Seseorang berteriak.

“Lucan!” Rain mempercepat langkahnya, sepatu menghantam lantai licin. Senter di tangannya menyapu gelap dengan kasar.

Suara lain masuk ke earpiece. Tumpang tindih. Panik mulai merayap.

“Dia naik ke tangga luar!”

“Gue kehilangan visual!”

“Tim Bravo terpisah!”

Rain mengumpat pelan. Ini bukan sekadar pengejaran lagi, ini kekacauan. Ia tidak ingin timnya terluka tebih banyak.

Ia memilih satu arah. Selalu begitu. Saat segalanya kacau, pilih satu keputusan dan bertanggung jawab penuh.

Hujan es tipis mulai turun saat Rain keluar dari bangunan. Udara dingin menusuk paru-parunya. Bayangan berlari di kejauhan, melompat pagar besi tua dengan kelincahan yang hampir tidak manusiawi.

“Gue kejar,” kata Rain. “Semua unit,”

Satu suara menyela, terlambat dan terdistorsi. “Rain, jangan — ”

Sinyal terputus.

Radio di dadanya hanya mengeluarkan desis statis.

Rain tidak berhenti.

Ia mengejar buronan itu ke area pelabuhan lama, tempat kontainer berderet seperti labirin logam. Cahaya lampu pelabuhan menciptakan bayangan panjang yang menipu arah dan jarak.

Ia sadar, terlambat satu detik, bahwa ia sendirian.

Langkah di depannya berhenti mendadak.

Rain mengangkat senjatanya, napas tertahan. Senter menyapu, tidak menemukan apa pun.

Lalu suara itu datang dari belakang.

“Kamu selalu percaya timmu akan menyusul,” suara psikopat itu rendah, hampir tenang. “Itu kelemahanmu, Rain.”

Rain berputar. Terlambat.

Tubuhnya dihantam dari samping, punggungnya membentur kontainer keras. Udara keluar dari paru-parunya dalam satu hentakan kasar. Senjatanya terlepas, jatuh beberapa meter jauhnya.

Pisau kembali berkilat di tangan lawan.

“Kenapa kamu kejar aku sendirian?” tanya pria itu, terlalu dekat. “Karena kamu pikir kamu harus menyelesaikan semuanya sendiri?”

Rain menahan sakit, berdiri dengan susah payah. Tangannya kosong. Matanya tetap dingin.

“Karena kalau aku berhenti,” katanya pelan, “orang lain yang mati.”

Psikopat itu tersenyum, senyum orang yang merasa dipahami.

Mereka bergerak bersamaan.

Pisau menyayat udara, nyaris mengenai rusuk Rain. Ia menangkis dengan lengan, rasa panas langsung menjalar. Darah mulai merembes, tapi ia tidak peduli. Fokusnya menyempit. Dunia mengecil menjadi jarak satu lengan.

— -

Rain nyaris kehilangan keseimbangan. Darah hangat mengalir di lengannya, kontras dengan malam yang beku. Napasnya mulai berat, bukan karena takut, karena dari awal ia memutuskan pekerjaan ini, tujuannya adalah mati tanpa membunuh diri.

Psikopat itu menyadarinya.

“Kau mulai lambat,” katanya lirih, nyaris ramah. “Tubuhmu sudah gak kuat. Lemah. Memohonlah.”

Rain menahan napas, memaksa kakinya tetap kokoh. Senjatanya masih di luar jangkauan. Timnya entah di mana. Radio mati. Malam menutup rapat semua kemungkinan bantuan.

Pisau itu bergerak lagi lebih cepat, akan menusuk perut Rain. Jadi pikir Rain ini mungkin akhir dirinya. Setidaknya dia mati dalam keadaan menjadi pahlawan.

Dan saat itulah sesuatu menghantam dari samping.

Benturan keras membuat psikopat itu terlempar ke aspal, pisau terlepas dan berputar di udara sebelum jatuh beberapa meter jauhnya. Segalanya terjadi terlalu cepat untuk dipahami Rain hingga ia melihat sosok yang berdiri di antara dirinya.

Dengan jas hitam, wajah pucat. Mata yang tidak dingin biasanya.

Kallio Orion

Psikopat itu bangkit dengan tawa terkejut, sempat hendak menyerang kembali namun pukulan pertama Kallio menghantam wajahnya keras, tanpa perhitungan, sekuat tenaganya.

Pukulan seseorang yang kehilangan kendali.

“Jangan,” desis psikopat itu, masih sempat tersenyum. “Kamu harusnya tidak ikut campur, Dokter Bodoh.”

Pukulan kedua membuatnya terdiam.

Kallio meraih kerah jaket pria itu, menghantamkannya ke kontainer logam. Suara dentuman menggema di pelabuhan kosong. Darah menetes dari sudut bibir buronan itu, tapi Kallio tidak berhenti.

Rain terpaku.

Ia belum pernah melihat Kallio seperti ini.

“Berani sekali kau,” suara Kallio rendah, bergetar bukan karena takut, tapi karena amarah yang nyaris tidak dikenali. “Menyentuhnya.”

Psikopat itu mencoba melawan, tapi tubuhnya sudah melemah. Kallio menghantam lagi, dan lagi hingga akhirnya Rain tersadar dan bergerak.

“Kallio!” Rain meraih lengannya. “Cukup. Gue gak ijinin lo buat bunuh dia secepat itu. Banyak siksaan yang menunggu buat dia rasain”

Sentuhan itu membuat Kallio berhenti.

Sejenak, dunia terasa menggantung.

Napas mereka berat. Malam bergetar oleh suara sirene yang kini semakin dekat.

Kallio menoleh. Matanya bertemu mata Rain dan amarah itu runtuh, digantikan sesuatu yang lebih berbahaya, matanya yang memancarkan ketakutan.

“Kamu berdarah,” katanya pelan. Sangat pelan.

Rain tersenyum tipis, nyaris mengejek. “Lo datang nggak sesuai SOP, dok.”

Kallio mengatupkan rahang. Tangannya gemetar saat mengambil borgol dari jaket Rain dan menguncinya di pergelangan tangan psikopat itu dengan benar. Sangat benar.

“Dia hampir membunuhmu,” kata Kallio.

“Hampir,” Rain menegaskan. “Gue masih di sini.”

Lampu mobil polisi menerangi pelabuhan. Langkah kaki tim mendekat. Suara Lucan memanggil nama Rain dengan panik.

Kallio masih berdiri dekat, terlalu dekat.

“Kenapa lo di sini?” tanya Rain akhirnya.

Kallio menarik napas panjang, seolah baru sadar paru-parunya sempat lupa bekerja. “Salahin Damian yang telponan sama pacarnya dengan suara keras.” katanya jujur. “Aku jadi tahu kamu dalam bahaya.”

Rain mengernyit. “Dan itu bikin lo datang ke sini?”

“Ruanganku jadi gak tenang. aku mau mulihin ketenangan tempat kerjaku” jawab Kallio. Dan termasuk jantung Kallio.

Hening singkat menyelimuti mereka.

“Aneh. Tapi makasih, gue jadi utang nyawa sama lo. ” Ujar Rain.

“Ada tebusannya.”

“Apa cepat. Gue butuh pengobatan.” Nendang Psikopat yang tergeletak tak berdaya di lantai. “Sialan lo.” Ucap Rain pada Psikopat karena sudah menusuk lengannya.

“Jangan Jauhi aku.”

Saat tim akhirnya tiba dan mengambil alih buronan itu, Rain baru menyadari satu hal yang membuat dadanya terasa lebih sesak daripada lukanya:


메타데이터
post_id
02f6b6025d71
slug
saving-grace-to-love-02f6b6025d71
url
https://medium.com/@clairesaileen/saving-grace-to-love-02f6b6025d71
canonical_url
https://medium.com/@clairesaileen/saving-grace-to-love-02f6b6025d71
author_url
https://medium.com/@clairesaileen
status
ok
fetched_at
2026-07-13 16:27:10