Pentingnya Intervensi Pemerintahan Dalam Perekonomian: Analisis Pemikiran Sang Bapak Makroekonomi…
In the long run we are all dead
Pentingnya Intervensi Pemerintahan Dalam Perekonomian: Analisis Pemikiran Sang Bapak Makroekonomi, John Maynard Keynes

John Maynard Keynes (Sumber : Wikimedia Commons)
In the long run we are all dead
Bayangkan, pasca-Perang Dunia Pertama, dunia mengalami suatu kebangkitan baru, terutama di Amerika Serikat. Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat tumbuh pesat sebagai akibat perkembangan teknologi. Lahirnya metode produksi massal yang diciptakan oleh Henry Ford berakibat pada produksi yang semakin efisien, sehingga meningkatkan produktivitas agregat negeri Paman Sam itu.
Pada masa itu, optimisme investor bahkan masyarakat umum sedang pada puncak-puncaknya. Tidak ada yang meragukan bahwa mereka memasuki era baru yang penuh kemakmuran. Akan tetapi, tidak ada yang mampu menduga apa yang akan terjadi di masa depan adalah salah satu bencana ekonomi terbesar dalam sejarah, The Great Depression, atau Depresi Besar.
Harga saham, yang saat itu sangat tinggi sebagai akibat pembelian masif oleh para spekulan, sebenarnya tidak didukung oleh nilai intrinsik atau fundamental aset tersebut. Artinya, nilai asli saham ini jauh di bawah nilai jualnya. Para investor kebanyakan berinvestasi tidak menggunakan uangnya sendiri, melainkan meminjam ke bank.
Namun, saat harga saham sudah mencapai puncak, banyak investor menyadari bahwa kenaikan ini tidak wajar. Harga mulai goyah. Ketika harga turun sedikit, investor yang waspada mulai menjual saham mereka. Semakin banyak investor yang menjual sahamnya, harga saham pun terjun bebas.
Peristiwa yang dikenal sebagai Black Tuesday ini membuat perekonomian dunia di bawah ancaman serius. Banyak investor bangkrut dan tidak mampu membayar utangnya, sehingga banyak bank ikut bangkrut. Kondisi ekonomi semakin terpuruk dengan adanya pemecatan massal karena daya beli masyarakat jatuh. Pemecatan ini, fatalnya, semakin menghancurkan daya beli, yang berujung pada pemecatan yang semakin besar. Puncaknya, 25% penduduk di Amerika Serikat dinyatakan sebagai pengangguran.
Apa yang dilakukan oleh pemerintahan Amerika Serikat pada masa itu? Mereka tidak melakukan apa-apa. Kebanyakan pemangku kebijakan ekonomi pada masa itu beraliran neo-klasik. Para ekonom Neo-Klasik percaya bahwa pasar, atau lebih luasnya kegiatan ekonomi, tidak boleh diintervensi pemerintah. Mereka percaya bahwa pada jangka panjang, pasar mampu memperbaiki dirinya sendiri (laissez-faire).
Selagi dunia tidak mencoba melakukan apa-apa, seorang ekonom hebat dari Inggris, John Maynard Keynes, menyatakan keberatannya. Di bukunya yang paling terkenal, The General Theory of Employment, Interest Rate, and Money (1936), Keynes percaya bahwa intervensi pemerintah diperlukan, apalagi di dalam keadaan genting.
Keynes bukan sepenuhnya tidak percaya pada pasar. Namun, menurutnya, pemerintah bisa mempercepat perbaikan ini. Seperti salah satu kata-katanya yang paling terkenal, “In the long run, we’re all dead” , dalam jangka panjang, kita semua mati.
Menurut Keynes, masalah utama pada Depresi Besar adalah rendahnya permintaan agregat. Hal ini membuktikan bahwa Hukum Say (Say’s Law), yang menyatakan bahwa “penawaran akan menciptakan permintaannya sendiri”, terbukti salah. Dalam depresi besar, pabrik-pabrik masih mampu melakukan produksi, namun masalahnya tidak ada yang mampu membeli. Hal ini didasari karena pesimisme masyarakat dan karena pendapatan mereka tidak cukup atau mereka tabung demi berjaga-jaga.
Apabila terjadi penurunan permintaan agregat, maka yang bisa kita lakukan adalah melalui intervensi pemerintah, terutama kebijakan fiskal. Menurut Keynes, pada masa krisis, pemerintah tidak seharusnya melakukan pengetatan pengeluaran (austerity), namun justru harus meningkatkan pengeluaran mereka melalui proyek-proyek nasional dan juga menurunkan pajak.
Hal ini, menurut Keynes, akan meningkatkan permintaan agregat. Melalui proyek nasional, para pengangguran bisa diserap kembali menjadi tenaga kerja. Melalui penurunan pajak, masyarakat jadi lebih memiliki banyak penghasilan riil untuk dibelanjakan
Pemikiran ini disambut besar oleh banyak pemerintah, terutama Presiden Roosevelt di Amerika Serikat melalui kebijakan New Deals. Terbukti, kondisi perekonomian membaik secara perlahan. Keynes, dengan pemikiran intervensionisnya, kemudian menjadi standar utama kebijakan fiskal di banyak negara.
Walau begitu, teorinya ini bukan tanpa cacat dan mengundang banyak kritik. Kritik utama pertama datang dari Ekonom Liberal Mazhab Austria, F.A. Hayek. Ia sangat percaya bahwa pasar sama sekali tidak boleh diintervensi. Hayek percaya bahwa informasi penting dalam perekonomian, yaitu harga, datang dari jutaan informasi yang tidak mungkin bisa dibaca oleh entitas tunggal. Intervensi pemerintah artinya mendistorsi harga, yang akan melahirkan malinvestasi dan krisis baru.
Kritik kedua datang dari Milton Friedman, seorang ekonom monetaris. Ia percaya bahwa intervensi pemerintah tidak boleh berlebihan, terutama dalam kebijakan moneter. Manipulasi suku bunga akan melahirkan ekspektasi yang salah kepada para pelaku ekonomi. Pemikirannya ini terbukti pada stagflasi tahun 1970-an, kondisi di mana inflasi meroket namun perekonomian stagnan. Padahal, menurut Teori Keynes (yang dimodelkan dalam Kurva Phillips), inflasi yang tinggi seharusnya bisa menurunkan pengangguran.
Walaupun menerima banyak kritik, pemikiran Keynes tidak pernah mati. Pada momen-momen krisis seperti krisis finansial 2008 dan pada masa pandemi Covid-19, kebijakan fiskal berbau Keynesian masih masif dilakukan.
Alasan utamanya adalah karena teori ini terbukti mampu mengatasi depresi besar. Selain itu, kebijakan ekonomi Keynes diminati oleh para politikus populis. Citra pemerintah yang membantu rakyat pada masa krisis melalui penurunan pajak dan program proyek nasional terdengar menggiurkan di telinga masyarakat. Terlepas dari perdebatan itu, Teori Keynes merupakan salah satu peninggalan paling penting dalam sejarah pemikiran ekonomi.
Daftar Pustaka
- Rosul, R. D. (2024). PEMIKIRAN J.M. KEYNES, KRITIKAN KEYNES PADA TEORI KLASIK DAN PENTINGNYA PERAN PEMERINTAH PADA PEREKONOMIAN. JISIPOL | Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 8(1), 109–122.
- Wikipedia. (2023, 27 Oktober). John Maynard Keynes. Wikipedia, Ensiklopedia Bebas. Diakses pada 6 November 2025, dari https://id.wikipedia.org/wiki/John_Maynard_Keynes
- Yueh, L. (2023). Belajar dari 12 ekonom besar dunia: Bagaimana teori-teori mereka dapat membantu perekonomian masa kini. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
메타데이터
- post_id
- 03822dcb44d2
- slug
- pentingnya-intervensi-pemerintahan-dalam-perekonomian-analisis-pemikiran-sang-bapak-makroekonomi-03822dcb44d2
- url
- https://medium.com/@alhakz/pentingnya-intervensi-pemerintahan-dalam-perekonomian-analisis-pemikiran-sang-bapak-makroekonomi-03822dcb44d2
- canonical_url
- https://medium.com/@alhakz/pentingnya-intervensi-pemerintahan-dalam-perekonomian-analisis-pemikiran-sang-bapak-makroekonomi-03822dcb44d2
- author_url
- https://medium.com/@alhakz
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-15 16:22:14